NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARGA SEBUAH GENGSI

Kamu? Lihat baju kamu, itu baju mahal kan? tanya pria itu curiga.

Hafiz tersinggung, ia membusungkan dadanya, "Saya butuh uang tunai hari ini. Saya bisa kerja lebih cepat dari orang-orang Anda."

Pria itu tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sangat meremehkan di telinga Hafiz yang sensitif.

"Bicara kamu tinggi sekali, Mas. Kamu pikir ini kantor AC? Ini angkat karung beras 50 kilo, bukan angkat pulpen!"

Hafiz mengepalkan tangannya, "Kasih saya satu karung. Saya buktikan kalau saya sanggup."

Pria tambun itu menyeringai, ia menunjuk ke arah tumpukan karung yang ada di bak truk yang tinggi.

"Oke, coba kamu angkat satu itu ke gudang di dalam. Kalau sanggup, saya kasih kerjaan buat hari ini."

Hafiz melangkah menuju truk, ia mencoba memanjat bak truk dengan susah payah karena kemejanya yang sempit membatasi geraknya.

Ia memegang karung goni yang kasar dan berdebu itu, mencoba memanggulnya ke bahu kirinya seperti yang dilakukan kuli lain.

"Argh!" Hafiz mengerang, karung itu terasa seperti batu besar yang menindih seluruh tubuhnya.

Baru dua langkah ia berjalan, kakinya yang lemas gemetar hebat, dan matanya mulai berkunang-kunang karena beban yang luar biasa.

Tiba-tiba, suara klakson motor yang nyaring mengejutkannya dari arah belakang, membuatnya kehilangan keseimbangan.

Hafiz terjerembap di atas aspal yang mulai memanas, tertindih karung beras seberat 50 kilogram yang terasa seperti satu ton dosa.

Aroma debu goni dan apek beras masuk ke hidungnya, memicu batuk yang membuatnya semakin sulit bernapas.

"Loh, bukannya itu Hafiz? Si raja properti yang katanya paling hebat sejagat raya?"

Suara sinis itu menusuk telinga Hafiz lebih tajam daripada rasa sakit di punggungnya.

Hafiz menoleh perlahan, debu menempel di pipinya yang basah oleh keringat dingin.

Di dalam mobil sedan mewah itu, duduk Pratama, pria yang sebulan lalu ia maki "pecundang" di depan dewan komisaris.

Pratama menurunkan kacamata hitamnya, menatap Hafiz yang bersimbah peluh dengan binar mata penuh kemenangan.

"Wah, Fiz. Strategi baru ya? Undercover Boss atau memang sudah jadi kuli panggul beneran?" sindir Pratama, lalu tertawa terbahak-bahak.

Hafiz mengepalkan tangannya di atas aspal, urat lehernya menegang menahan amarah yang membuncah.

"Pergi lo! Jangan campuri urusan gue!" teriak Hafiz, suaranya parau dan bergetar karena beban di punggungnya.

Pratama memberi isyarat pada supirnya, lalu melemparkan selembar uang seratus ribu ke arah Hafiz.

Uang merah itu mendarat tepat di atas genangan air becek di dekat wajah Hafiz.

"Buat beli sabun, Fiz. Biar bau miskin lo nggak nular ke aspal. Kasihan pemilik ruko ini kalau dagangannya jadi bau gembel," ucap Pratama sebelum menutup kaca mobil.

Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap knalpot yang membuat Hafiz tersedak hebat.

Pria tambun pemilik ruko mendekat, lalu menendang pelan karung yang masih menindih Hafiz.

"Sudah, bangun! Jangan bikin kotor depan ruko saya! Angkat karungnya atau pergi!" bentak pria itu.

Hafiz mengerang, mencoba mendorong karung itu ke samping dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Dengan susah payah, ia bangkit berdiri, kemejanya kini sobek di bagian siku dan berlumuran noda hitam aspal.

"Gue sanggup kerja. Gue bakal pindahin semuanya!" ucap Hafiz, mencoba kembali memasang wajah angkuhnya yang sudah retak.

Si pemilik ruko meludah ke samping, ia menatap Hafiz dengan tatapan muak.

"Gaya lo selangit, Mas. Orang kalau mau kerja kasar itu tahu diri, bukan malah sok perintah atau teriak-teriak."

"Denger ya, kuli saya yang lain itu nurut, nggak banyak gaya kayak lo yang pake baju sisa orang kaya!"

"Saya pimpin ribuan orang! Saya tahu cara kerja efektif!" bantah Hafiz, telunjuknya mengacung ke arah si pemilik ruko.

Pria tambun itu tertawa sinis, ia merampas karung yang tadi dijatuhkan Hafiz seolah itu seringan bantal.

"Di sini nggak butuh CEO, di sini butuh tenaga! Sana pergi! Cari kerja di gedung tinggi sana, kalau mereka masih mau terima kayak lo!"

Hafiz terpaku. Ia berbalik, berjalan gontai menjauhi ruko itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Rasa lapar kembali menyerang perutnya, perihnya terasa seperti sedang diiris-iris sembilu.

Ia terus berjalan menyusuri trotoar, melewati deretan warung makan yang aromanya membuat air liurnya menetes.

Hafiz berhenti di depan sebuah bengkel motor yang cukup ramai, melihat seorang montir yang sedang sibuk membongkar mesin.

"Woi, Bos! Butuh orang nggak buat cuci motor atau angkat-angkat ban?" tanya Hafiz tanpa basa-basi.

Pemilik bengkel, seorang pria dengan tangan penuh oli, menoleh dengan dahi berkerut.

"Woi? Sopan dikit napa kalau nanya kerjaan. Nama gue Bang Jaka, bukan Woi," sahut pria itu ketus.

Hafiz mendengus, ia berkacak pinggang di depan bengkel yang sempit itu.

"Terserah. Pokoknya gue butuh duit sekarang. Gue kasih tahu ya, gue ini cepat belajar, hitungan menit gue bisa bongkar itu mesin."

Bang Jaka meletakkan kuncinya, ia menatap Hafiz dari bawah sampai ke atas dengan senyum mengejek.

"Bisa bongkar mesin? Lo pegang obeng aja kayaknya gemeteran. Tangan lo halus banget, Mas. Tangan manja."

"Gue nggak manja! Gue cuma butuh kesempatan!" bentak Hafiz, suaranya meninggi membuat beberapa pelanggan bengkel menoleh.

"Duh, mending lo pergi deh. Gue nggak mau punya karyawan yang lebih galak dari bosnya. Bisa kabur pelanggan gue," usir Bang Jaka.

Hafiz menendang sebuah kaleng bekas di jalanan dengan penuh amarah.

"Sial! Semuanya nggak ada yang bener! Dasar orang-orang rendahan nggak tahu potensi!" maki Hafiz pada angin lalu.

Ia terus berjalan hingga kakinya melepuh dan panas matahari yang membakar kulit.

Ia sampai di sebuah pasar tradisional yang becek. Di sana, ia melihat seorang ibu tua yang kewalahan membawa belanjaan sayur yang sangat banyak.

Hafiz menghampiri ibu itu, bukan dengan niat menolong yang tulus, melainkan melihat peluang uang.

"Bu, biar saya bawa sampai ke parkiran. Tapi bayar saya sepuluh ribu ya," ucap Hafiz dengan nada yang kaku.

Ibu itu menatap Hafiz dengan ragu, "Aduh Mas, kok mintanya sepuluh ribu? Biasanya tukang panggul di sini cuma minta dua ribu atau lima ribu seikhlasnya."

Hafiz mendengus, ia merebut kantong plastik besar itu dari tangan si ibu dengan paksa.

"Waktu saya mahal, Bu. Sepuluh ribu itu sudah murah buat tenaga saya. Ayo cepat jalan!" perintah Hafiz.

Si ibu tua itu tampak ketakutan melihat mata Hafiz yang tajam dan bicaranya yang kasar.

"Nggak usah, Mas! Nggak jadi! Biar saya bawa sendiri saja!" Ibu itu merampas kembali plastiknya dan setengah berlari menjauh.

Hafiz berdiri mematung di tengah pasar, dikerumuni bau amis ikan dan teriakan pedagang.

Ia merasa dunia sedang berkomplot untuk mempermalukannya, padahal ia merasa sudah menurunkan derajatnya untuk "bekerja".

"Apa susahnya sih kasih gue kerjaan?!" teriaknya frustrasi, membuat orang-orang di pasar menyingkir karena menganggapnya gila.

Ia berjalan menuju sebuah taman kota yang sepi, lalu duduk di bawah pohon beringin yang rindang.

Hafiz menatap tangannya yang kini lecet dan kotor oleh noda aspal dan debu pasar.

Dulu, tangan ini hanya menyentuh pulpen mahal dan kemudi mobil mewah.

Kini, tangan ini bahkan tidak bisa mendapatkan selembar uang sepuluh ribu rupiah untuk membeli air minum.

Hafiz menyandarkan kepalanya ke batang pohon, matanya terasa panas.

"Ibu... Hafiz lapar, Bu..." bisiknya lirih, air mata kembali menetes melewati pipinya yang kusam.

Ia merogoh saku jasnya, mencari-cari apakah ada benda berharga yang tertinggal untuk dijual.

Hanya ada sebuah sapu tangan sutra pemberian Cindy yang kini sudah kumal dan bau keringat.

Hafiz melempar sapu tangan itu ke tanah, lalu menginjak-injaknya dengan penuh kebencian.

"Semuanya palsu! Cindy, Robi... semuanya sampah!"

Tiba-tiba, perutnya kembali melilit hebat, kali ini rasa sakitnya disertai dengan rasa mual yang luar biasa.

Ia mencoba berdiri, namun kepalanya berputar hebat, seolah-olah taman itu sedang diguncang gempa bumi.

Hafiz berjalan terhuyung-huyung keluar dari taman, tujuannya hanya satu: ia harus kembali ke masjid tempat ia tidur semalam.

Setidaknya di sana ada air gratis dan tidak ada orang yang memandangnya seperti buronan kelas kakap.

Saat ia berjalan melewati sebuah gang sempit, ia melihat seorang pria paruh baya sedang mencuci piring di belakang warung makan sederhana.

"Pak... boleh saya bantu cuci piring? Kasih saya sisa makanan saja, saya nggak butuh uang," ucap Hafiz, kali ini suaranya lebih rendah, hampir seperti memohon

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!