Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA-MATA DI TENGAH KITA
Seminggu setelah serangan malam itu...
Desa Qinghe perlahan kembali normal. Pagar yang rusak diperbaiki. Pemuda yang terluka dirawat. Pos jaga diperkuat dengan lebih banyak orang.
Tapi Wei Chen tidak tenang.
Duduk di kantornya, dia menatap laporan kerusakan. Angkanya lumayan: 50.000 koin perak untuk perbaikan, pengobatan, dan santunan keluarga yang terluka.
Lim Xiu masuk, meletakkan secangkir teh di mejanya.
"Masih pusing mikirin uang?"
"Bukan uang." Wei Chen menghela napas. "Tapi Hartono. Dia tidak akan berhenti."
Lim Xiu duduk. "Kau curiga dia akan serang lagi?"
"Pasti. Tapi mungkin tidak dengan cara yang sama." Wei Chen menatapnya. "Dia pintar. Dia akan cari cara lain."
"Cara apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus waspada."
Lim Xiu mengangguk. "Aku akan perintahkan anak buah untuk lebih awas."
---
Sore harinya, Wei Chen pergi ke klinik Guru Anta.
Guru Anta sedang meracik obat, seperti biasa. Tapi wajahnya lebih cerah dari biasanya.
"Wei Chen." Dia tersenyum. "Lihat ini."
Dia menunjukkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Apa itu?"
"Ramuan percobaan. Campuran Embun Giok dengan beberapa bahan lain." Matanya berbinar. "Kalau berhasil, ini bisa jadi dasar Pil Pemurni."
Wei Chen mengambil botol itu. Memandanginya.
"Sudah dicoba?"
"Belum. Takut salah." Guru Anta menghela napas. "Ini pertama kalinya aku meracik bahan sekelas ini."
Wei Chen mengangguk. "Kita harus hati-hati."
"Iya. Tapi setidaknya kita punya harapan."
Mereka diam. Lalu Wei Chen bertanya, "Guru, kau tahu soal Hartono?"
Guru Anta mengangguk. "Aku dengar dari Mei Ling."
"Dia akan serang lagi. Mungkin dengan cara berbeda."
"Kau curiga apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi di bumi, dia ahli dalam... infiltrasi."
"Infiltrasi?"
"Menyusupkan orang ke dalam. Memata-matai. Mencari kelemahan." Wei Chen menatapnya. "Dia tidak akan serang dari luar kalau tahu kita kuat. Dia akan cari cara masuk ke dalam."
Guru Anta diam. Lalu, "Kau curiga ada mata-mata di desa?"
"Mungkin. Aku tidak tahu."
Guru Anta menghela napas. "Ini rumit."
"Iya. Tapi kita harus siap."
---
Malam harinya, Wei Chen duduk bersama Mei Ling di beranda.
Dia cerita tentang kekhawatirannya.
Mei Ling mendengar dengan serius. Lalu bertanya, "Kau curiga pada siapa?"
"Tidak ada. Itu masalahnya." Wei Chen menggeleng. "Semua orang di sini baik. Tapi Hartono pintar. Dia bisa kirim orang yang pura-pura baik."
Mei Ling diam. Lalu, "Bagaimana kalau kita pasang jebakan?"
"Jebakan?"
"Iya. Kita sebarkan informasi palsu. Lihat siapa yang bocor."
Wei Chen menatapnya. Ide itu... brilian.
"Kau belajar dari mana?"
"Dari kau." Mei Ling tersenyum. "Aku perhatikan caramu berpikir."
Wei Chen tersenyum tipis. "Kau murid yang baik."
Mereka tersenyum. Rencana mulai terbentuk.
---
Dua hari kemudian, Wei Chen mengadakan pertemuan.
Di kantor pusat, berkumpul semua orang penting: Lim Xiu, Toke Wijaya, Kakek Li, Guru Anta, Budi, Joko, dan beberapa kepala bagian.
Wei Chen mengumumkan, "Aku akan pergi ke utara. Ada urusan dengan Klan Naga Hitam. Mungkin seminggu."
Lim Xiu mengerutkan kening. "Seminggu? Lama sekali."
"Perlu negosiasi kontrak baru." Wei Chen menatapnya. "Kau pegang komando selama aku pergi."
Lim Xiu mengangguk. "Siap."
Yang lain juga mengangguk. Tidak ada yang curiga.
Tapi Wei Chen tidak pergi ke mana-mana.
Dia bersembunyi di rumah Kakek Tio, di ujung desa. Mengawasi.
---
Tiga hari kemudian, kabar bocor.
Seorang pedagang dari ibu kota datang ke desa. Katanya mau beli produk Garuda. Tapi dia bertanya terlalu banyak — tentang Wei Chen, tentang jadwal, tentang keamanan.
Lim Xiu curiga. Dia laporkan ke Wei Chen.
Wei Chen tersenyum. "Biarkan dia. Awasi."
Malam harinya, pedagang itu diam-diam bertemu seseorang.
Jarwo. Pemuda desa yang paling menonjol dalam latihan.
Wei Chen melihat dari kejauhan. Hatinya hancur.
Jarwo?
---
Esok paginya, Wei Chen memanggil Jarwo ke kantor.
Jarwo datang dengan wajah ceria, tidak curiga.
"Tuan Wei, ada perlu?"
Wei Chen menatapnya lama. Lalu, "Kau tahu siapa pedagang itu?"
Jarwo membeku. Wajahnya berubah.
"Tu—Tuan?"
"Aku tahu kau bertemu dia tadi malam."
Jarwo diam. Tangannya gemetar.
"Kenapa, Jarwo?" suara Wei Chen pelan. "Apa kurang gajimu? Apa perlakuanku tidak baik?"
Jarwo menunduk. Air matanya jatuh.
"Maaf, Tuan... mereka... mereka ancam keluargaku..."
Wei Chen diam. Keluarga? Jarwo tinggal dengan ibu dan adiknya di desa.
"Siapa?"
"Hartono. Dia kirim orang. Ancam bunuh ibu dan adikku kalau aku tidak bantu." Jarwo terisak. "Aku terpaksa, Tuan. Aku tidak punya pilihan."
Wei Chen diam lama. Marah? Kecewa? Sedih? Semua bercampur.
Akhirnya dia berkata, "Duduk."
Jarwo duduk, gemetar.
"Aku tidak akan hukum kau." Wei Chen menatapnya. "Tapi kau harus bantu kami."
Jarwo mengangkat kepala. "Bantu?"
"Kau jadi mata-mata ganda. Laporkan pada Hartono informasi palsu. Tapi beri kami informasi tentang dia."
Jarwo diam. Lalu mengangguk.
"Aku lakukan, Tuan. Apa pun untuk tebus kesalahanku."
Wei Chen mengangguk. "Pergi. Dan ingat, aku tahu di mana keluargamu. Mereka akan aman."
Jarwo pergi. Lega, tapi juga takut.
Setelah dia pergi, Lim Xiu masuk dari ruang belakang.
"Kau percaya dia?"
"Tidak sepenuhnya." Wei Chen menghela napas. "Tapi dia bisa berguna."
Lim Xiu mengangguk. "Kau benar. Hartono pintar, tapi kau lebih pintar."
Wei Chen tersenyum tipis. "Aku CEO. Pintar itu wajib."
---
Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.
Dia mendengar dengan sedih.
"Kasihan Jarwo. Dia anak baik."
"Aku tahu. Tapi dia terpaksa."
Mei Ling memeluknya. "Kau benar tidak hukum dia?"
"Tidak. Dia korban, bukan pelaku utama."
Mei Ling menghela napas. "Hartono benar-benar jahat."
"Iya. Tapi kita akan lawan."
Mereka diam. Berpelukan.
Di luar, angin malam berembus dingin.
---
Sementara itu, di ibu kota...
Hartono menerima laporan dari Jarwo — laporan palsu yang dibuat Wei Chen.
Dia tersenyum.
"Wei Chen pergi ke utara. Seminggu." Dia bergumam. "Ini kesempatan."
Mei Hua, utusannya, bertanya, "Kita serang lagi, Tuan?"
"Tidak." Hartono menggeleng. "Kita tunggu dia pulang. Lalu kita serang saat dia lengah."
Mei Hua mengangguk. "Cerdas, Tuan."
Hartono tersenyum. Senyum predator.
Kali ini, Wei Chen. Kau tidak akan selamat.
---
Di Desa Qinghe, Wei Chen duduk di beranda.
Mei Ling di sampingnya. Mereka menatap bintang.
"Chen... kau pikir Hartono akan percaya?"
"Untuk sementara." Wei Chen menghela napas. "Tapi cepat atau lambat dia tahu."
"Terus?"
"Kita siap."
Mei Ling menggenggam tangannya. "Aku di sini."
Wei Chen menoleh. Wajahnya lembut.
"Aku tahu. Dan itu yang membuatku kuat."
Mereka tersenyum. Malam itu, mereka berdua merasa lebih dekat dari sebelumnya.
---
Chapter 26 END.
---