Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Bel istirahat menggema ke seluruh koridor Universitas Arthemis, terdengar seperti melodi kemenangan bagi Valerie. Gadis itu menghela napas panjang, akhirnya ia berhasil melewati dua jam penuh perjuangan melawan kantuk yang luar biasa.
Setelah merapikan buku-bukunya, Valerie segera bangkit. Ia teringat janji pada Aiden untuk datang ke "markas", namun perutnya yang sudah keroncongan menuntut prioritas.
"Makan dulu, baru ke Legacy," gumamnya pelan sambil melangkah menuju kantin.
Sementara itu, di sisi barat universitas, suasana jauh lebih santai. Sebuah ruangan eksklusif dengan pintu kayu solid berdiri tegak, di atasnya tertempel plakat elegan bertuliskan Legacy Club.
Ini bukan sekadar klub kampus biasa; ini adalah tempat berkumpulnya para pemuda paling berpengaruh di Arthemis.
Di dalam ruangan yang sejuk dan beraroma maskulin itu, keempat anggota Legacy nampak sedang menikmati waktu istirahat mereka. Ruangan itu dilengkapi dengan fasilitas mewah yang tidak dimiliki organisasi mahasiswa lain.
* Ezra, si jenius dengan kacamata bertengger di hidungnya, nampak asyik dengan laptopnya, mungkin sedang meretas sesuatu atau mengerjakan proyek kode yang rumit.
* Leon, atlet kebanggaan universitas yang baru saja memenangkan turnamen nasional, terlihat sedang rebahan santai sambil mendengarkan musik lewat headphone.
* Adrian, sang konglomerat muda yang hobinya mengoleksi barang mewah, nampak asyik memainkan ponselnya, sesekali memamerkan jam tangan barunya.
Suasana di dalam ruangan Legacy Club yang semula sunyi pun pecah oleh suara tawa. Adrian, yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa mewah, melirik Aiden yang masih terlihat terlalu serius dengan majalah otomotif di tangannya.
"Tumben sekali kau hanya duduk manis di sini, Aiden," celetuk Adrian sambil memutar-mutar ponsel mahalnya. "Biasanya kalau bel istirahat bunyi, kau sudah seperti detektif yang berkeliling kampus mencari di mana posisi Valerie."
Aiden hanya membalik halaman majalahnya dengan gerakan santai, tanpa mengalihkan pandangan. "Tidak perlu repot-repot hari ini. Sebentar lagi dia juga akan datang ke sini."
Mendengar itu, Adrian langsung duduk tegak dengan senyum penuh maksud. "Oh, jadi Valerie mau datang ke sini? Itu artinya sebentar lagi kita bakalan di usir nih,!"
Ezra yang sedang mengetik di laptop dan Leon yang sedang rebahan langsung saling pandang.
Mereka teringat kejadian minggu lalu saat Aiden tanpa perasaan meminta mereka 'mencari udara segar' di luar hanya karena ia ingin berduaan dengan Valerie di markas.
Aiden mendecak pelan, namun sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Ya, sebelum aku benar-benar mengusir kalian, minimal pekalah sedikit. Anggap saja ini kontribusi kalian untuk kebahagiaan ketuanya," sahut Aiden santai, memberikan jawaban yang setengah bercanda namun tetap terasa dominan.
Adrian tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Aiden. "Guys, lihat ini! Beginilah jadinya kalau ketua kita yang hebat sudah jadi budak cinta. Kita yang sudah menemani dari awal semester malah diangguri."
Ezra hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, sementara Leon kembali memakai headphone-nya seolah sudah pasrah dengan nasib mereka sebagai 'pengganggu' di mata Aiden jika sudah menyangkut Valerie.
Aiden sendiri hanya bisa mendecak mendengar ledekan sahabat-sahabatnya, matanya sesekali melirik ke arah pintu, menanti sosok gadis kesayangannya itu.
Suasana hangat persahabatan di dalam markas Legacy Club itu terinterupsi oleh ketukan pelan di pintu kayu yang kokoh. Begitu pintu terbuka, sosok Valerie muncul dengan gaya santainya, membuat atensi semua orang di ruangan itu beralih sepenuhnya padanya.
Mata Aiden seketika berbinar. Majalah otomotif yang sedari tadi dipegangnya langsung diletakkan begitu saja.
Valerie masuk dengan tas kecil tersampir di bahu dan sebuah kantong plastik besar di tangannya. "Hai, semuanya," sapa Valerie ramah.
"Wah, apa itu?" tanya Adrian dengan mata melirik kantong plastik tersebut.
Valerie tersenyum tipis dan mengeluarkan beberapa camilan serta minuman dingin. Ia membagikannya satu per satu kepada Leon, Ezra, dan Adrian. "Aku tadi mampir ke kantin dulu karena lapar, jadi sekalian saja aku belikan ini untuk kalian."
"Nah, ini baru namanya calon ibu ketua yang pengertian!" seru Leon sambil menyambar keripik kentang favoritnya. Ezra dan Adrian pun menyambut pemberian itu dengan antusias, memuji kebaikan hati Valerie yang jarang-jarang membawakan mereka makanan.
Namun, atmosfir di ruangan itu berubah dalam sekejap saat mereka melihat kode dari tatapan mata Aiden. Sebagai sahabat yang sudah sangat mengenal satu sama lain, mereka tahu bahwa waktu 'kontribusi' untuk kebahagiaan ketua mereka telah tiba.
"Eh, Ezra... kau tadi bilang mau menunjukkan algoritma baru itu di perpustakaan, kan? Ayo sekarang!" ucap Adrian tiba-tiba sambil berdiri dan menarik lengan Ezra.
"Oh, iya! Aku hampir lupa. Ayo, ayo," sahut Ezra cepat sambil menutup laptopnya dengan terburu-buru.
Leon pun tak mau kalah. Ia langsung bangkit dan memakai headphone-nya kembali. "Aku juga ada janji latihan tambahan di gor. Duluan ya, Val, Den!"
Hanya dalam hitungan detik, dengan berbagai alasan yang nampak dibuat-buat, ketiga anggota Legacy itu menghilang dari balik pintu, meninggalkan kesunyian yang tiba-tiba di dalam ruangan.
Aiden bergeser lebih dekat, tangannya bergerak lembut membelai ujung rambut Valerie yang halus. "Gimana? Kantuknya sudah hilang, hm?" tanya Aiden dengan nada suara yang rendah dan penuh perhatian.
Valerie menghela napas, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih sedikit kacau. "Sudah mendingan, kok," jawabnya singkat.
Namun, Aiden yang sangat mengenal Valerie tidak berhenti di situ. Ia menatap lekat mata kekasihnya, mencari jawaban atas rasa penasaran yang mengganjal sejak pagi. "Memangnya apa yang kamu lakukan semalam sampai kurang tidur begitu? kamu belajar sampai begadang ya?,"
Uhukk!
Valerie tersedak minuman dinginnya. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di ulu hati. Untuk menutupi keterkejutannya agar tidak terlihat mencurigakan, Valerie buru-buru mengangguk sambil mengusap bibirnya. "I-iya, semalam aku terlalu fokus membaca materi sampai lupa waktu."
Aiden tersenyum tipis, tangannya beralih mengusap pipi Valerie dengan sangat lembut. "Jangan begadang lagi ya, Sayang. Aku tidak mau kamu jatuh sakit nanti."
"Iya, kamu tidak perlu khawatir," sahut Valerie, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski hatinya merasa bersalah karena telah berbohong.
Karena suhu udara di dalam ruangan terasa sedikit pengap baginya—atau mungkin karena ia merasa terdesak oleh kebohongan itu—Valerie mulai merasa kegerahan.
Ia melepas jas almamater birunya, lalu melemaskan dasi pita yang melingkar di lehernya. Merasa masih tercekik, ia membuka dua kancing paling atas kemeja putihnya agar bisa bernapas lebih lega.
"Gerah ya?" tanya Aiden sambil terus memperhatikan setiap gerak-gerik gadisnya.
"Iya, nih. Leherku juga terasa sedikit geli dan tidak nyaman," sahut Valerie tanpa sadar sambil mengusap area lehernya.
Aiden menatap leher putih Valerie yang terlihat jenjang dan indah di bawah lampu ruangan. Namun, matanya yang tajam tiba-tiba menangkap sesuatu.
Di balik kerah kemeja yang baru saja terbuka itu, terdapat sebuah tanda merah samar yang kontras dengan kulit pucat Valerie.
Dahi Aiden berkerut dalam. Ia memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka. "Tunggu... tanda apa itu di lehermu, Val?"
Valerie tersentak, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. "Tanda? Tanda apaan?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba bersikap acuh.
"Seperti bekas kissmark... tapi agak samar," gumam Aiden, suaranya kini terdengar lebih dingin dan menuntut penjelasan.
Mata Valerie membelalak sempurna. Ingatannya langsung terlempar kembali ke kamar 120 semalam—saat pria asing bernama Damian itu menciumi lehernya dengan liar dan rakus sebelum jatuh pingsan.
Sial, ia lupa memeriksa area itu di cermin pagi tadi karena terlalu terburu-buru!