NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Pertemuan yang Tak Terduga

Pagi di kantor selalu dimulai dengan kesibukan yang sama, para karyawan berjalan cepat membawa dokumen, suara telepon dan ketikan keyboard terdengar hampir di setiap sudut ruangan.

Ardila duduk di mejanya sambil memeriksa beberapa laporan yang baru saja dikirim dari bagian keuangan, ia menghela napas pelan lalu merapikan beberapa berkas yang sudah selesai ia periksa.

Hari itu sebenarnya terasa seperti hari kerja biasa. Namun tidak lama kemudian ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari atasannya muncul di layar.

“Ardila, tolong datang ke ruang rapat sekarang.”

Ardila sedikit mengernyit.

Biasanya ia jarang dipanggil langsung ke ruang rapat. Ia berdiri lalu membawa beberapa dokumen sebelum berjalan menuju ruangan yang dimaksud.

Ketika pintu ruang rapat dibuka, beberapa orang sudah duduk di sana. Di antaranya adalah ayahnya sendiri, Pak Arhan.

Ardila sedikit terkejut melihatnya. “Papa?”

Pak Arhan tersenyum tipis. “Masuk dulu.”

Ardila duduk di kursi kosong di sampingnya.

“Kenapa Papa ada di sini?” Pak Arhan menyandarkan tubuhnya di kursi. “Perusahaan sedang merencanakan kerja sama baru.”

Ardila memperhatikan beberapa dokumen yang ada di meja. “Kita akan bekerja sama dengan perusahaan besar,” lanjut Pak Arhan.

“Perusahaan apa?” Pak Arhan membuka salah satu berkas di depannya.

“PT Viresta Global Corporation.”

Nama itu terdengar cukup familiar di dunia bisnis. Ardila pernah mendengarnya beberapa kali. Salah satu perusahaan yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

“Siapa yang akan memimpin kerja sama itu?” tanya Ardila.

Pak Arhan menatapnya sebentar.

“Kamu.”

Ardila terdiam. “Aku?”

Pak Arhan mengangguk. “Kamu yang akan mewakili perusahaan kita dalam pertemuan awal.” Ardila sedikit ragu.

“Tapi aku hanya staf biasa di sini.”

Pak Arhan tersenyum kecil.

“Kamu tahu bisnis ini lebih dari yang orang lain kira.”

Beberapa orang di ruang rapat ikut mengangguk setuju. Ardila akhirnya tidak bisa menolak.

“Baik.”

Beberapa jam kemudian Ardila sudah berada di dalam mobil menuju gedung tempat perusahaan itu berada. Gedung tinggi berlapis kaca berdiri megah di hadapannya.

PT Viresta Global Corporation.

Ardila turun dari mobil sambil merapikan jas kerjanya. Ia berjalan masuk ke dalam lobby dengan langkah tenang, meskipun di dalam hatinya ada sedikit rasa gugup. Seorang resepsionis menyambutnya dengan sopan.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Ardila Syafa dari perusahaan Arhan Group, saya ada janji pertemuan bisnis hari ini.”

Resepsionis itu langsung mengangguk. “Silakan ke lantai atas, ruang rapat sudah disiapkan.”

Ardila mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke dalam lift. Beberapa menit kemudian ia sudah berdiri di depan ruang rapat besar. Ia mengetuk pintu perlahan sebelum akhirnya masuk.

Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang yang duduk mengelilingi meja. Namun perhatian Ardila langsung tertuju pada satu sosok yang duduk di ujung meja. Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang terlihat sangat rapi.

Ekspresinya dingin.

Tatapannya tajam.

Ardila membeku di tempatnya.

Pria itu juga menatapnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa sangat panjang.

Areksa Putera Wijaya.

Nama itu muncul begitu saja di dalam pikirannya. Ardila tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi.

Terlebih dalam situasi seperti ini. Areksa akhirnya berdiri dari kursinya.

“Silakan duduk.”Suaranya tetap tenang.

Namun bagi Ardila, suara itu terasa begitu familiar. Ia berjalan perlahan menuju kursi yang disiapkan.

Suasana ruang rapat terasa sedikit tegang.

Beberapa orang di ruangan itu mulai membicarakan rencana kerja sama perusahaan mereka.

Namun perhatian Ardila masih tertuju pada pria di hadapannya.Areksa terlihat sangat berbeda dari yang ia ingat.

Lebih dewasa.

Lebih dingin.

Dan jauh lebih sulit dibaca.

Beberapa tahun lalu, pria itu pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Areksa adalah seseorang yang pernah sangat dekat dengannya. Seseorang yang pernah menyatakan perasaannya.

Namun saat itu Ardila memilih menolaknya.Ia ingin fokus pada kariernya dan tidak ingin terikat dengan hubungan yang menurutnya bisa mengganggu masa depannya.

Keputusan itu terasa sangat sederhana saat itu. Namun sekarang, bertemu kembali dengan Areksa membuat kenangan lama muncul tanpa ia inginkan.

Sementara itu Areksa terlihat tetap tenang.Ia membaca beberapa dokumen di depannya sebelum akhirnya menatap Ardila.

“Jadi kamu yang mewakili perusahaan ini?”Nada suaranya terdengar datar.

Ardila mencoba bersikap profesional.

“Iya.”

Areksa mengangguk pelan.

“Baik.”

Ia kemudian mulai membicarakan rencana kerja sama itu dengan sikap yang sangat serius. Tidak ada tanda bahwa pertemuan mereka memiliki sejarah di masa lalu.

Semua berjalan seperti pertemuan bisnis biasa. Namun bagi Ardila, duduk di ruangan yang sama dengan Areksa terasa sangat aneh.

Pria yang dulu pernah ia tolak kini duduk di depannya sebagai CEO perusahaan besar. Dan tatapan dingin di matanya membuat Ardila merasa seolah sedang berbicara dengan orang yang benar-benar berbeda dari yang ia kenal dulu.

Rapat itu akhirnya berjalan cukup lancar.Beberapa kesepakatan awal mulai dibicarakan. Ketika semua orang mulai membereskan dokumen mereka, Ardila berdiri dari kursinya.

Ia berpikir pertemuan itu sudah selesai. Namun saat ia hendak keluar dari ruangan, suara Areksa tiba-tiba menghentikannya.

“Ardila.”

Ardila berhenti melangkah.

Ia menoleh perlahan.

Areksa menatapnya dengan ekspresi yang tetap sulit ditebak. Beberapa detik mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.

Pertemuan itu mungkin terlihat seperti pertemuan bisnis biasa bagi orang lain.

Namun bagi mereka berdua, pertemuan itu adalah sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar urusan pekerjaan. Dan tanpa mereka sadari, pertemuan hari itu hanyalah awal dari sesuatu yang akan mengubah kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!