Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Dua hari telah berlalu. Hari ini adalah jadwal keberangkatan Aksa ke Bali. Di ruang makan, Jasmine sedang sibuk menata piring di atas meja untuk sarapan.
Langkah kaki terdengar mendekat. Aksa muncul dengan kemeja yang sudah terbuka kancing atasnya. Ia menatap Jasmine lekat-lekat.
"Jasmine, setelah ini segera ke kamarku. Siapkan pakaianku yang akan dibawa ke Bali nanti. Masukkan kemeja linen dan beberapa baju santai saja," perintah Aksa dengan suara berat.
"Satu lagi, aku akan mandi sebentar. Pastikan kopermu juga sudah siap."
"Baik, Tuan," jawabnya pelan.
Aksa tidak langsung pergi. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka terkikis habis. Ia mengangkat dagu Jasmine, memaksa wanita itu menatap matanya.
"Jangan sampai ada yang tertinggal. Di Bali nanti, aku tidak ingin kamu jauh-jauh dariku," bisik Aksa posesif sebelum berbalik menuju kamar mandi.
Begitu suara shower terdengar, Jasmine segera masuk ke kamar utama. Ia langsung membuka koper titanium milik Aksa dan memasukkan beberapa pakaian dengan rapi.
Jasmine segera merapikan sisa pakaian di dalam koper, lalu menutupnya dengan rapat. Ia menghela napas lega dan melangkah keluar kamar. Namun, baru saja ia mencapai ambang pintu, suara berat Aksa kembali memanggil dari dalam kamar mandi.
"Jasmine!"
Jasmine menghentikan langkahnya.
"Huh, kenapa lagi sih?" batinnya sedikit jengkel, namun ia tetap berbalik arah.
"Ada apa, Tuan?" tanya Jasmine.
"Pakaian yang akan aku pakai hari ini jangan lupa?"
Jasmine membelalakkan matanya, menyadari kekeliruannya. "Oh, saya kira hanya yang akan dimasukkan ke dalam koper saja, Tuan. Sebentar saya ambilkan. Tuan mau pakai yang mana?"
"Yang navy saja," jawab Aksa singkat.
Jasmine segera melangkah menuju walk-in closet. Ia mengambil kemeja berwarna biru dongker yang sudah disetrika rapi, lengkap dengan celana kain senada. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di atas tempat tidur agar mudah dijangkau Aksa saat keluar nanti.
"Sudah saya siapkan di atas tempat tidur, Tuan," seru Jasmine.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Aksa keluar dengan uap air yang masih mengikuti tubuhnya, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang.
"Pakaikan padaku," ucap Aksa santai sambil merentangkan tangannya sedikit.
Jasmine membelalak, "Apa? Kenapa saya yang harus pakaikan? Anda punya tangan sendiri, Tuan!"
Aksa justru melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Jasmine bisa merasakan hawa hangat dari tubuh pria yang baru selesai mandi itu. Ia menunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Jasmine dengan suara serak yang menggoda.
"Kenapa? Kamu takut tergoda melihatku?"
"Ngapain saya tergoda denganmu, Tuan? Anda terlalu percaya diri," cetusnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.
Aksa terkekeh rendah, Tanpa peringatan, Aksa mencengkeram bahu Jasmine dan memutar tubuh wanita itu hingga menghadap cermin besar di sudut kamar.
"Hah, ucapanmu tak bisa berbohong, Jasmine. Lihat," bisik Aksa tepat di telinganya sambil menunjuk pantulan mereka di kaca.
"Wajahmu memerah hanya melihatku menggunakan handuk saja. Bukannya kamu sudah pernah melihat lebih dari ini?"
"Itu... itu karena uap air dari kamar mandi, Tuan! Bukan karena Anda!" kilah Jasmine.
Aksa semakin merapatkan tubuhnya ke punggung Jasmine, membiarkan Jasmine merasakan detak jantungnya yang tenang. "Benarkah? Lalu kenapa jantungmu berdegup sangat kencang sampai aku bisa merasakannya di punggungku?"
Jasmine terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia ingin menjauh, tapi tangan Aksa sudah beralih melingkar di pinggangnya, mengunci posisinya di depan cermin.
"Cepat pakaikan kemejanya, Jasmine. Atau aku akan menganggap kamu memang ingin berlama-lama menatapku seperti ini," goda Aksa lagi, kali ini dengan tatapan yang sangat dalam melalui pantulan cermin.
Jasmine menghentakkan kakinya kesal saat melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia segera menutup pintu dengan bantingan keras, lalu bersandar di sana sambil memegang dadanya yang masih berdegup tidak karuan.
"Dasar bos gila! Percaya diri sekali dia!" gerutu Jasmine, mulutnya tak henti-henti mengomel. "Apa dia pikir semua wanita akan pingsan hanya melihatnya handukan begitu? Menyebalkan!"
Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit, sesekali menendang udara kosong seolah sedang meluapkan kekesalannya pada sosok Aksa.
"Kalau saja bukan karena kontrak sialan itu, aku sudah pergi dari sini dan menghilang jauh-jauh! Tidak sudi aku melayani pria pemaksa seperti dia," umpatnya lagi dengan suara tertahan.
"Sabar, Jasmine... Sabar. Ini demi melunasi semuanya," bisiknya menenangkan diri sendiri. "Begitu kontrak ini selesai, aku akan pergi ke tempat yang tidak bisa dia temukan. Lihat saja nanti!"
Jasmine segera menyambar tas kecilnya dan memastikan semua kebutuhannya untuk ke Bali sudah masuk ke dalam koper. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria itu. Namun, baru saja ia hendak membuka pintu kamar, suara ketukan keras terdengar dari luar.
"Jasmine! Sudah selesai mengomelnya? Cepat keluar, kita sarapan. Bara sebentar lagi sampai!" teriak Aksa dari balik pintu, suaranya terdengar sangat puas seolah ia tahu apa yang sedang dilakukan Jasmine di dalam kamar.
Sarapan pagi itu dilewati Jasmine dengan perasaan campur aduk. Ia hanya menunduk dalam, mencoba mengabaikan tatapan intens Aksa yang seolah terus menguliti ekspresi wajahnya. Setelah memastikan semua piring bersih, Aksa berdiri dan merapikan kemeja navy yang tadi dipakaikan Jasmine.
"Ayo, Bara sudah menunggu di lobi," ucap Aksa singkat namun penuh wibawa.
Mereka pun turun ke bawah menggunakan lift pribadi yang langsung menuju area parkir VIP. Jasmine berjalan selangkah di belakang Aksa, menyeret kopernya sendiri dengan langkah yang masih terasa berat.
Begitu pintu lift terbuka, hawa dingin dari area parkir menyambut mereka. Sebuah mobil mewah hitam mengkilap sudah terparkir di sana dengan mesin yang menyala halus. Bara berdiri di samping pintu penumpang, tampak gagah dengan kacamata hitam dan tablet di tangannya.
"Semua sudah siap, Sa?" tanya Bara sambil menyambut koper yang dibawa Aksa.
Aksa hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia kemudian menoleh ke arah Jasmine, lalu membukakan pintu mobil untuknya.
"Masuklah," perintah Aksa.
Jasmine sempat ragu sejenak, menatap kursi belakang yang mewah itu. "Tapi Tuan, saya bisa duduk di depan bersama..."
"Masuk, Jasmine. Jangan membuatku mengulang perintahku dua kali," potong Aksa dengan nada yang tak terbantahkan.
Jasmine akhirnya masuk ke dalam, disusul oleh Aksa yang duduk tepat di sampingnya, membuat ruang kabin yang luas itu mendadak terasa sempit karena keberadaan pria itu. Bara segera masuk ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil keluar dari gedung penthouse.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....