NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama

Pagi hari datang seperti pagi biasa di rumah itu—terlalu biasa untuk sebuah tempat yang menampung begitu banyak ketegangan. Langkah para staf terdengar teratur di lorong-lorong luas. Dan di luar sana, pergantian penjaga terjadi begitu teratur, hanya dengan isyarat singkat dan tatapan yang saling memahami. Rumah itu bekerja seperti mesin yang sudah lama disetel dengan begitu presisi.

Pagi ini Rachel bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena bunyi alarm, juga bukan karena sebuah panggilan telepon, melainkan karena tubuhnya tidak bisa lagi mempercayai pagi sebagai sesuatu yang netral. Ia duduk di tepi ranjang beberapa detik, menenangkan napasnya, lalu mengingat kembali posisi barunya. Pagi ini, ia akan menjalani hari pertamanya sebagai seorang pelayan di rumah itu.

Ia berdiri, lalu merapikan tempat tidur—sebuah refleks lama yang datang dari hidup yang selalu menuntutnya siap dalam kondisi apapun. Dan ketika akhirnya terdengar suara pintu yang diketuk pelan, Rachel merasa sudah siap dengan apapun yang akan dihadapinya hari ini.

Mrs. Cassel berdiri di balik pintu yang terbuka di depan sana, dengan wajahnya yang tampak tenang seperti biasa. Di tangannya ada setumpuk pakaian yang dilipat rapi yang tampak seperti sebuah seragam yang persis tengah dikenakan Mrs. Cassel. “Pagi, Rachel,” katanya, tersenyum ramah.

Pakaian yang dibawa Mrs. Cassel itu tampak sederhana, berupa kemeja berwarna abu-abu dengan celana panjang yang nyaman dan sepatu berwarna hitam. Semuanya tampak bersih, layak, dan tidak mencolok. Rachel pun menerimanya dengan anggukan kecil.

“Ini… seragam kerjamu, Rachel. Tuan Smith memintaku mengantarkannya padamu.” kata Mrs. Cassel, memilih kata dengan hati-hati. “Setelah berganti baju, aku akan menunjukkanmu beberapa hal dan aturan dasar menjadi pelayan di rumah ini.”

Rachel mengangguk lagi, tanpa bertanya. Ia tidak menanyakan jam kerja, juga tidak menanyakan daftar tugas. Dalam benaknya, satu kalimat berulang bahwa hari ini ia bukanlah tamu lagi di rumah ini. Tapi ia juga belum sepenuhnya tahu, ia akan diperlakukan sebagai apa.

Setelah berganti pakaian, Rachel turun ke lantai bawah, menatap ruang makan yang sudah ditata setengah jadi. Ia langsung mendekat, lalu membantu menata piring dan peralatan makan. Tangannya bergerak hati-hati, tidak ingin mengubah susunan yang mungkin sudah ditentukan. Lalu ia ikut membantu para pelayan lainnya membersihkan meja yang sebenarnya sudah bersih, merapikan kursi, dan menyeka permukaan marmer dengan kain lembut.

Di dapur, ia membantu memotong bahan makanan di bawah arahan singkat pelayan lain. Tidak ada pelayan yang tampak memberinya perintah langsung. Tidak ada yang mengatakan ia harus melakukan apa. Mereka hanya memberinya ruang yang cukup dekat untuk bekerja bersama-sama.

Rachel bekerja tanpa banyak bicara. Ia tidak bertanya secara berlebihan, juga tidak mencoba mengambil inisiatif yang terlalu besar. Ia lebih memilih untuk menunggu arahan, sekecil apa pun itu. Diamnya itu bukan karena pasrah, tapi karena kehati-hatian. Ia paham betul bahwa kesalahan sekecil apa pun di rumah ini bisa dibaca sebagai ketidaktahuan—atau pelanggaran.

Tatapan para pelayan lainnya sering tertuju padanya, meskipun dengan cepat segera dialihkan begitu Rachel menangkap basah mereka . Tatapan itu lebih bersifat terlalu sopan dan sedikit canggung. Beberapa pelayan bahkan memanggilnya “Nona Rachel”, dengan jeda kecil seolah menimbang apakah panggilan itu tepat. Tidak ada yang memanggil hanya dengan namanya. Tidak ada pula yang menyapanya seperti pelayan biasa.

Seorang pelayan muda sempat membuka mulut, lalu menutupnya kembali—ia akhirnya lebih memilih meminta bantuan Mrs. Cassel daripada memberi instruksi langsung pada Rachel. Rachel menangkap semua itu, mencatatnya tanpa bereaksi. Posisi abu-abu ini terasa nyata—ia ada, tapi tidak sepenuhnya memiliki tempat yang jelas.

Rachel menyadari satu hal yang mengganggu, bahwa posisinya di rumah itu tidak memiliki nama. Dan justru karena itu, semua orang terasa menjaga jarak.

Menjelang siang, Mrs. Cassel menghampirinya lagi. “Ada beberapa batasan yang perlu kau tahu, Rachel.” katanya dengan nada lembut, seolah sedang menjelaskan aturan rumah biasa, bukan garis kekuasaan yang tak terlihat.

Ia menyebut area-area yang boleh dibersihkan dan disentuh, seperti ruang tamu, ruang makan, dapur, dan beberapa kamar tamu. Lalu, dengan suara yang sedikit lebih rendah, ia menjelaskan sebuah aturan tentang kamar pribadi Liam.

“Tidak perlu masuk ke sana,” kata Mrs. Cassel singkat. “Kecuali jika Tuan sendiri yang meminta.”

“Baik,” jawab Rachel tanpa ragu.

Tidak ada penjelasan lanjutan tentang alasan larangan yang baru saja Mrs. Cassel sebutkan. Dan Rachel pun menerima begitu saja tanpa ingin bertanya lagi. Sebab, ia merasa sudah cukup belajar bahwa di rumah ini, bahwa pertanyaan bukan alat tawar-menawar.

Saat Mrs. Cassel pergi, Rachel berdiri sejenak di lorong, memandangi pintu-pintu yang tertutup. Bahkan ketika pemilik rumah tidak terlihat, ia bisa merasakan kehadirannya di setiap sudut—di dalam cara rumah ini bergerak, orang-orang berbicara, juga batas-batas yang ditarik tanpa perlu dijelaskan.

Rachel menarik napas pelan, lalu kembali bekerja. Hari pertamanya belum selesai, dan ia tahu bahwa ini baru permulaan dari hidup yang diatur oleh aturan-aturan tak tertulis—aturan yang dibuat oleh seseorang yang bahkan tidak perlu hadir untuk memastikan semuanya berjalan sesuai kehendaknya.

Lalu, langkah kaki itu terdengar lebih dulu daripada kehadirannya yang terlihat. Ritmenya terdengar tenang, pasti, dan tidak tergesa—seperti langkah seseorang yang tahu ke mana ia pergi dan apa yang ia kendalikan. Rachel sedang menata baki di ruang makan ketika Liam muncul, menuruni anak tangga dari lantai atas.

Ia berpakaian rapi, dengan kemeja berwarna gelap, lengan digulung sebatas siku, dan jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya tampak datar dan bersih dari ekspresi yang berlebihan. Bahkan di sana, tidak ada sisa malam sebelumnya yang bisa dibaca dari sorot matanya. Tidak ada ketegangan yang terlihat, juga tidak ada kehangatan yang terpancar. Yang ada hanya profesionalisme yang dingin—seolah pertemuan mereka selalu berada di wilayah ini sejak awal.

Liam mengangguk singkat kepada para pelayan, lalu pandangannya jatuh pada Rachel. Hanya sepersekian detik—cukup untuk memastikan keberadaannya, tidak lebih.

“Pagi,” katanya, dengan nada datar.

“Pagi, Tuan Smith,” jawab Rachel. Suaranya terdengar tenang.

“Sarapan disajikan jam tujuh. Setelah itu, kau ikut Mrs. Cassel untuk jadwal hari ini.” Ia melirik jam tangannya. “Sore, aku akan keluar. Rumah harus siap sebelum pukul lima.”

“Baik,” kata Rachel.

Itu saja. Tidak ada penyinggungan tentang negosiasi. Tidak ada pengakuan atas percakapan yang gagal. Juga tidak ada sisa ketegangan yang dibiarkan mengambang di antara mereka. Liam sengaja menutup semua celah yang bersifat personal. Ia berbicara seperti pemilik rumah yang sedang memberi instruksi kepada stafnya, dengan jelas, ringkas, dan tanpa ruang untuk menawar.

Sementara itu, Rachel menangkapnya seperti apa adanya, yakni sebuah dinding yang sedang dibangun, dengan rapi, tinggi, dan tanpa retak yang terlihat. Setelah Liam menyelesaikan sarapannya, ia langsung bergegas menuju keluar rumah bersama beberapa penjaga yang mengikutinya—ia berlalu begitu saja, tanpa ada kata-kata yang ia sampaikan lagi pada Rachel.

Hari pun berjalan dengan ritme yang cepat dan tertib. Rachel menjalankan tugasnya sebaik mungkin—seolah ia telah bekerja di rumah seperti ini selama bertahun-tahun. Ia menyelesaikan satu pekerjaan sebelum berpindah ke pekerjaan lain, menunggu instruksi berikutnya, juga mencatat di kepalanya tentang batasan-batasan yang tidak diucapkan tapi jelas terasa.

Saat sore menjelang dan rumah kembali tenang, Rachel menyadari sesuatu yang penting bahwa ia masih punya kendali atas dirinya sendiri. Bukan kendali penuh—tapi cukup agar tidak runtuh. Ia sudah berhasil untuk tidak menyerahkan tubuhnya, bahkan ia juga tidak menundukkan martabatnya. Ia telah menukar kebebasan tertentu dengan keamanan yang nyata, dan ia tahu persis harga yang sedang ia bayar.

Ketika Liam akhirnya kembali ke rumah, suasana pun seolah tidak berubah. Rumah tetap berjalan seperti biasa, baik dengan atau tanpa kehadiran Liam di dalamnya. Rachel menyelesaikan tugas terakhirnya, yakni membersihkan meja, mematikan lampu-lampu yang tidak diperlukan, dan memastikan semuanya kembali ke tempatnya.

Rachel kembali ke kamarnya dengan langkah yang terasa lebih berat dari pagi tadi. Ia memang sedang lelah secara fisik dan mental. Di luar, ia tampak tenang, namun di dalam, pikirannya penuh oleh kesimpulan-kesimpulan kecil yang ia kumpulkan sepanjang hari.

Rachel duduk di tepi ranjang, melepas sepatu kerjanya, dan membiarkan keheningan kamar menyambutnya. Tidak ada rasa ingin menangis, juga tidak ada dorongan untuk lari. Di sana hanya ada kesadaran yang jujur, bahwa hidupnya kini berada dalam orbit seseorang yang memilih jarak sebagai alat kendali.

Saat ini Liam telah berhasil menjaga jarak darinya. Sementara Rachel tampak sedang berusaha untuk bertahan dengan ruang yang sengaja diciptakan untuknya. Dan justru karena itu, hubungan mereka kini berdiri di fondasi yang lebih berbahaya, yakni sebuah kendali tanpa kedekatan—sebuah keseimbangan dingin yang bisa bertahan lama, dan atau runtuh hanya dengan satu kesalahan kecil.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!