Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di balik kemilau kaca gedung-gedung pencakar langit Manhattan, nama Michael Brown adalah sebuah teka-teki yang dibungkus dengan kesombongan.
Dunia bisnis mengenalnya sebagai "Kay"—sebuah nama kecil yang awalnya digunakan untuk mempermudah transaksi internasional keluarganya, namun perlahan menjadi identitas yang melekat. Sebagai pewaris tunggal Brown Group, kekuasaan dan kekayaan keluarganya berdiri sejajar dengan dinasti Russo. Jika Luciano adalah emas yang dipoles, maka Kay adalah baja hitam yang tajam.
Rumor tentang dirinya sebagai playboy kelas atas yang bergonta-ganti wanita di klub malam adalah sebuah kebohongan yang ia pelihara dengan sangat rapi. Faktanya, Kay tidak pernah benar-benar menjalin hubungan.
Di dunia bisnis yang penuh musuh dalam selimut, memiliki "kelemahan" berupa perasaan tulus adalah hal yang berbahaya. Maka, ia memilih untuk memakai gelar playboy itu seperti jubah pelindung. Biarkan orang mengira ia sibuk dengan wanita, agar mereka tidak tahu bahwa pikirannya sedang memetakan strategi akuisisi perusahaan.
Hobi Kay jauh dari buku kalkulus atau debat formal. Setiap akhir pekan, di bawah restu orang tuanya, ia akan memacu motor sport-nya dalam balap liar di jalanan pinggiran Queens atau Brooklyn. Deru mesin adalah satu-satunya suara yang bisa menenggelamkan tuntutan dunia di kepalanya. Bagi Kay, kecepatan adalah kebebasan.
.
.
Hari ini, di koridor St. Jude’s, motornya tidak bisa membawanya lari dari rasa muak yang menyesakkan dada.
Kay berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah halaman sekolah di mana siswa-siswi mulai berkeliaran. Matanya yang tajam menangkap sosok Paris Desmon yang hari ini tampak berbeda—lebih berani, lebih terbuka. Dan itu justru membuatnya merasa sesak.
Sejak pertama kali masuk ke sekolah ini, Kay sudah memperhatikan Paris. Bukan sebagai subjek eksperimen seperti yang dilakukan Luciano, melainkan sebagai sebuah anomali yang menenangkan.
Paris adalah satu-satunya hal yang tidak mencoba untuk "menjual diri" di sekolah elit ini. Keberadaan Paris yang tertutup dan tenang sering kali menjadi titik fokus mata Kay saat ia merasa muak dengan kepalsuan teman-teman sekelasnya. Ia merasa nyaman melihat Paris dari kejauhan, sebuah rahasia kecil yang bahkan tidak ia ceritakan pada Luciano maupun Max.
Mendengar pengakuan Luciano di kantin tadi tentang "dua kali pelepasan"—membuat darah Kay mendidih.
Bagaimana mungkin gadis itu dirusak? batin Kay sambil mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
Ia tahu Luciano. Ia tahu bahwa bagi Luciano, perasaan hanyalah sekumpulan data primer untuk memahami jati diri. Tapi menggunakan Paris? Meniduri gadis yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri di depan publik? Itu melampaui batas moral yang bisa diterima Kay.
"Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang, Kay," sebuah suara berat menginterupsi lamunannya.
Kay menoleh. Max berdiri di sana dengan senyum miringnya yang menjijikkan. "Oh, ayolah. Jangan terlalu serius. Luciano hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan laki-laki. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dan gadis itu mendapatkan pangeran impiannya. Semua orang menang, bukan?"
"Kau adalah racun, Max," desis Kay tanpa menoleh lagi.
"Kau menghasutnya dengan kegilaanmu. Kau tahu Luciano tidak pernah bisa membedakan antara rasa ingin tahu dan empati."
Max tertawa, suara yang terdengar sangat ringan di tengah atmosfir yang berat. "Aku hanya memberinya kunci untuk membuka pintu yang selama ini dia kunci rapat. Dan lihatlah sekarang, dia merasa nyaman. Bukankah itu yang paling penting?"
Kay tidak menjawab. Ia tidak ingin ikut campur. Keluarganya selalu mengajarkan bahwa urusan orang lain adalah investasi yang buruk. Namun, melihat Paris yang tersenyum di bawah sana, tidak menyadari bahwa dirinya telah dijadikan bahan bualan di meja makan, membuat Kay merasa seperti pecundang karena hanya diam.
***
Sore itu, saat Kay sedang bersiap untuk berangkat ke sirkuit balap liar, ia berpapasan dengan Paris di parkiran. Paris sedang berjalan menuju halte bus, tampak sedikit terburu-buru.
Kay sengaja menghalangi jalannya dengan motor besarnya. Ia melepas helm, menunjukkan rambutnya yang sedikit berantakan dan tatapan mata yang penuh intensitas.
"Desmon," panggilnya singkat.
Paris berhenti, tampak terkejut. "Ya, Kay?"
Kay menatap gadis itu lekat-lekat. Ia ingin berteriak, 'Luciano berbohong! Dia mempermainkan mu!' Namun, lidahnya terasa kelu. Ia melihat binar di mata Paris yang tidak pernah ada sebelumnya—binar kebahagiaan yang ia tahu bersumber dari Luciano. Jika ia menghancurkannya sekarang, ia akan menjadi orang yang merenggut kebahagiaan itu.
"Hanya... hati-hati di jalan," ucap Kay akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Paris mengerutkan kening, tampak bingung dengan perhatian mendadak dari sang bad boy sekolah. "Terima kasih, Kay. Kau juga, hati-hati dengan motormu."
Paris berjalan pergi, dan Kay hanya bisa menatap punggungnya dengan rasa bersalah yang tidak seharusnya ia miliki. Ia memasang helmnya kembali, menutup kaca pelindungnya, dan menghidupkan mesin dengan raungan yang memecah kesunyian parkiran.
Malam itu, di lintasan balap, Kay memacu motornya lebih gila dari biasanya. Ia melewati tikungan-tikungan tajam dengan kemiringan yang berbahaya, mencoba membuang bayangan wajah tulus Paris dari kepalanya.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar tawa Max di kantin dan nada datar Luciano tentang "malam panas" mereka.
Kay berhenti di pinggir jalan setapak yang gelap setelah memenangkan balapan. Ia melepas helm, membiarkan angin malam New York menerpa wajahnya. Ia merogoh ponselnya, melihat profil media sosial Paris yang tidak pernah diperbarui.
"Gadis bodoh," gumamnya pada kegelapan. "Kau mencintai seorang pria yang hanya melihatmu sebagai variabel dalam persamaannya."
Kay tahu ia tidak ingin ikut campur. Ia memiliki Brown Group yang harus ia kelola, ia memiliki reputasi yang harus ia jaga.
Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah benih pemberontakan mulai tumbuh. Jika Luciano adalah pilar yang kokoh namun manipulatif, dan Max adalah api yang menghanguskan, maka Kay menyadari bahwa ia mungkin adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan kebenaran pada Paris—meskipun kebenaran itu akan menghancurkan segalanya.
Untuk saat ini, Kay memilih untuk tetap menjadi penonton dalam bayang-bayang. Ia akan menunggu hingga kebohongan Luciano meledak dengan sendirinya. Karena di New York, tidak ada rahasia yang bisa terkubur selamanya, apalagi rahasia yang melibatkan hati seorang gadis yang tulus.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍