bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(kayak) suami istri
Pintu ruang perawatan kembali terbuka pelan.
Suasana yang tadi dipenuhi emosi perlahan berubah saat dua sosok masuk dengan langkah hati-hati.
Rafi… dan Althea.
“Permisi…”
Suara Althea lembut, tapi cukup untuk menarik perhatian semua orang di dalam ruangan.
Bella yang masih duduk di samping ranjang menoleh.
Matanya masih sembab.
Althea langsung menghampiri.
Tanpa banyak kata—
ia memeluk Bella erat.
“Lo kenapa nggak ngabarin…” bisiknya pelan.
Bella tidak menjawab.
Hanya membalas pelukan itu dengan lemah.
Sementara itu, Rafi berjalan mendekat ke arah ranjang.
Melihat kondisi Yoga yang terbaring pucat.
“Gila… baru kali ini gue liat lo tumbang begini, bro…” gumamnya pelan.
Yoga membuka mata sedikit.
Melihat Rafi.
“Sok kuat…” jawabnya lemah, hampir tidak terdengar.
Rafi tersenyum tipis.
“Masih sempet nyindir…”
Althea melepas pelukannya, lalu duduk di samping Bella.
Tangannya masih menggenggam tangan sahabatnya itu.
“Lo udah makan?”
Bella menggeleng pelan.
“Belum lapar…”
Rafi langsung menaruh kantong makanan di meja kecil.
“Gue udah tau jawabannya bakal gini,” katanya sambil membuka bungkusnya.
Aroma makanan hangat mulai tercium.
Namun Bella tetap diam.
“Ayo makan dulu,” ujar Althea lembut.
Bella menggeleng lagi.
“Aku nggak bisa…”
Ibu Ratna yang sejak tadi memperhatikan akhirnya angkat bicara.
“Bella…”
Nada suaranya lembut, tapi tegas.
Bella menoleh pelan.
“Kalau kamu ikut sakit…”
Ibu Ratna menggenggam tangan Bella.
“Siapa yang mau jaga Yoga?”
Kalimat itu membuat Bella terdiam.
Matanya perlahan beralih ke arah Yoga.
Yoga juga sedang menatapnya.
Meski lemah…
tatapannya tetap hangat.
Perlahan…
Yoga mengangguk kecil.
Seolah berkata—
“Makan.”
Bella menelan ludah.
Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
“Aku…”
Ia masih ragu.
Yoga menggerakkan tangannya sedikit.
Masih lemah…
tapi cukup untuk menggenggam tangan Bella.
“Dengerin…”
Suaranya pelan.
“Sekali ini…”
Ia berhenti sejenak, menarik napas.
“jangan keras kepala…”
Rafi langsung nyengir kecil.
“Wah, akhirnya ada yang berani ngomong gitu ke dia.”
Althea menyikut Rafi pelan.
“Diam lo.”
Bella menatap Yoga.
Lalu… perlahan mengangguk.
“Yaudah…”
Suaranya pelan.
Rafi langsung gesit mengambil makanan.
“NAH gitu dong.”
Althea membantu membuka dan menyiapkan.
Bella duduk lebih dekat ke meja kecil.
Namun tangannya masih gemetar.
Althea mengambil sendok.
“Mau gue suapin?”
Bella menggeleng pelan.
“Aku bisa…”
Ia mulai makan.
Perlahan.
Meski tidak banyak.
Yoga memperhatikan dari ranjang.
Matanya sedikit lebih tenang.
“Bagus…” gumamnya lemah.
Bella menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Di tengah ruangan yang penuh orang…
di tengah rasa sakit dan lelah—
ada sesuatu yang terasa sederhana…
tapi penting.
mereka saling menjaga.
Rafi bersandar santai.
“Gini dong… pasangan sehat.”
Althea tersenyum kecil.
Ibu Ratna menghela napas lega.
...----------------...
Bella menghabiskan makanannya meski tidak banyak.
Setelah sendok terakhir diletakkan, ia langsung menoleh ke arah Yoga.
Wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya sudah lebih tenang.
“Kamu juga harus makan,” ucap Bella pelan.
Ibu Ratna yang tadi sudah bersiap mengambil alih langsung tersenyum.
“Biar ibu saja—”
“Biar aku, Bu…”
Bella menyela dengan lembut.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Bella sedikit salah tingkah, tapi tetap berdiri dari kursinya dan mengambil makanan yang tadi dibawa Rafi.
Ia duduk di sisi ranjang.
Dekat.
Sangat dekat.
Yoga menatapnya lemah, tapi ada senyum tipis di sana.
“Kamu yakin?”
Bella mengangguk.
“Iya.”
Dengan pelan, Bella mengambil satu sendok nasi.
Tangannya masih sedikit gemetar… tapi ia berusaha tenang.
“Buka…”
Suaranya lirih.
Yoga menurut.
Pelan.
Bella menyuapi dengan hati-hati.
Tidak terburu-buru.
Seolah takut menyakiti.
Beberapa butir nasi sempat menempel di sudut bibir Yoga.
Bella refleks mendekat.
Dengan ujung jari—
ia membersihkannya pelan.
Yoga langsung terdiam.
Tatapannya berubah.
Bella tidak menyadari.
Ia terlalu fokus.
“Pelan makannya…” gumamnya.
Setelah beberapa suap—
Bella mengambil air minum.
“Minum dulu.”
Ia membantu Yoga memegang gelas.
Menopangnya agar tidak tumpah.
Setelah itu, Bella mengambil obat.
“Ini juga harus diminum.”
Yoga menurut lagi.
Tanpa protes.
Di sudut ruangan—
Rafi mulai menyenggol Althea.
“Gue ganggu nggak ya kalau gue bilang ini manis banget?”
Althea menahan tawa.
“Udah kayak pasangan suami istri.”
Kania langsung ikut nimbrung.
“Bukan lagi… ini mah udah level ‘istri sah’ banget.”
Bella langsung tersentak.
Pipinya memerah seketika.
“Apaan sih kalian…”
Rafi makin menjadi.
“Yoga, lo enak banget ya… sakit aja dilayanin segitunya.”
Kania ikut menimpali.
“Coba gue yang sakit, siapa yang nyuapin gue ya?”
Althea pura-pura mikir.
“Kayaknya… nggak ada.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
Bella makin salah tingkah.
Ia menunduk, wajahnya benar-benar merah sekarang.
Refleks—
ia menutup wajahnya…
dan tanpa sadar…
bersandar di dada Yoga.
Semua langsung makin heboh.
“NAH LOH!”
“Udah mulai nyaman tuh!”
“Wah makin parah nih…”
Bella semakin malu.
“Berisik!”
Yoga yang sejak tadi diam akhirnya menghela napas lemah.
Tapi ada senyum kecil di wajahnya.
“Udah…”
Suaranya pelan, tapi cukup membuat mereka berhenti.
Rafi masih nyengir.
“Apaan?”
Yoga menatap mereka satu per satu.
Meski lemah…
tatapannya tetap tajam.
“Gue lagi sakit…”
Ia berhenti sejenak.
“Bukan tontonan.”
Hening sepersekian detik.
Lalu—
Kania terkikik.
“Galak juga masih ya.”
Althea tertawa kecil.
“Udah, udah… kita diem.”
Rafi mengangkat tangan.
“Oke, gue kalah.”
Suasana kembali sedikit tenang.
Bella perlahan menjauh dari dada Yoga.
Masih malu.
Masih merah.
Yoga menatapnya.
Lalu berkata pelan,
“Terima kasih…”
Bella menoleh.
“Untuk apa?”
Yoga tersenyum tipis.
“Udah jagain aku…”
Bella terdiam.
Matanya sedikit berkaca-kaca.
Ia menggenggam tangan Yoga lagi.
Kali ini lebih erat.
Dan di tengah canda, rasa malu, dan sisa rasa sakit—
mereka tetap menemukan satu hal yang sama.
perhatian yang tulus.