Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
“Perhatian untuk seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9.” Sebuah pengumuman mengejutkan keluar dari pengeras suara sekolah.
“Mulai hari ini, kegiatan ekstrakurikuler yang berlangsung di luar jam belajar akan diawasi oleh bagian bimbingan konseling.”
Xiao Han membelalak ke arah pengumuman itu berasal. Mu Qingyao, kah? Pikirnya. Suara yang jernih ini, sudah jelas pasti dia.
“Semua siswa wajib melaporkan kehadiran dan nilai akademik mereka setiap minggu.” Dialeknya bahkan hampir sedikit manis, tapi menusuk. “Ekskul yang tidak menunjukkan peningkatan nilai dalam satu bulan akan ditinjau ulang kelayakannya.”
Dua hari setelah rapat, tekanan yang semula hanya kata-kata di ruang guru, mulai berubah menjadi tindakan nyata. Xiao Han baru saja selesai mengajari Li Wei teknik dasar kontrol bola menggunakan paha yang ternyata lebih sulit diajarkan daripada yang ia bayangkan.
Li Wei menghentikan latihannya. “Pak Han, itu … untuk kita, ya?” tanyanya, bola di kakinya berhenti menggelinding.
Xiao Han menatap pengeras suara di tiang listrik dekat lapangan. “Lanjutkan latihan.” Lalu menghela napas. “Jangan biarkan hal di luar lapangan mengganggu fokus.”
Tapi ia tahu, ini baru permulaan.
***
Di dalam ruang BK, tepat di lantai dua bangunan utama Hangzhou Xuejun, Mu Qingyao merapikan berkas-berkas yang baru saja ia cetak.
Daftar hadir ekstrakurikuler semester lalu, nilai rapor siswa anggota ekskul sepak bola, dan satu lembar kosong untuk mencatat perkembangan satu bulan ke depan.
“Kau benar-benar serius, ya?” Pak Zhang berdiri di ambang pintu, tangan memegang mug keramik bertuliskan Math is Life.
Mu Qingyao menoleh. “Aku hanya melakukan tugas,” jawabnya datar. “Sebagai guru BK, aku bertanggung jawab atas akademik siswa. Jika ekskul memang mengganggu, itu sudah urusanku.”
Tapak kaki Pak Zhang melangkah masuk. “Kau tahu? Chen Hao sudah tiga tahun di sini.” Sesampainya di dalam ruangan, dirinya duduk di kursi tamu. “Tidak pernah ada yang berani menekannya seperti ini semenjak dia bekerja di sini.”
“Maka sekarang saatnya.” Mu Qingyao menyandarkan punggung pada bangku. “Sepak bola bukan investasi masa depan. Berapa banyak pemain sepak bola China yang benar-benar sukses? Sementara nilai matematika yang buruk akan menutup pintu universitas.”
“Keluargamu ... keluarga psikologi pendidikan, kan?“ tanya Pak Zhang, lebih seperti vonis. “Apa dulu kau mungkin punya mimpi sendiri yang tidak kesampaian?”
“Itu tidak relevan.” timpal Mu Qingyao.
“Relevan atau tidak.” Pak Zhang berdiri, menepuk celananya beberapa kali. “Aku hanya ingin nilai mata pelajaran matematikaku naik standar, dan tentu gajiku akan ikut naik. Aku tidak peduli caramu mencapainya.”
Derap Pak Zhang bergegas menuju pintu keluar. “Tapi ...” Dia berhenti sesaat, kepalanya berputar sedikit. “Hati-hati, Mu Qingyao. Orang yang terlalu keras memadamkan api kadang ikut terbakar.” Lalu pergi, melanjutkan langkahnya.
Sreeettt ...
Decit suara pintu.
Bak.
Pintu tertutup pelan, namun suaranya meninggalkan bekas yang mengganggu. Mu Qingyao sekejap terdiam, tangannya menggenggam pena lebih erat hingga jemarinya memerah.
“Andai kau tahu! Bukan mimpiku saja yang pupus!” kata Mu Qingyao lebih kepada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak keluar. Dia mendekapkan wajahnya di atas meja, di antara kedua tangannya. “Lagi pula ... Aku hanya guru magang, ini tahun keduaku!”
Dirinya mendecih. “Guru-guru di sini bodoh. Aku mempelajari psikologi bukan karena aku suka, tapi karena keluargaku!”