Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Dispensasi yang Mencurigakan
Sama dengan pagi sebelumnya, Bandung mode paling romantis; gerimis tipis, kabut nyelip di sela bangunan hotel, dan udara dingin yang bikin manusia normal mana pun pengen gulung badan lebih lama di balik selimut. Tapi gue bukan manusia normal kalau urusan perut sudah memanggil.
Alih-alih standby di ruang seminar tepat waktu, gue malah terjebak misi suci di gang kecil samping hotel. Target gue? Kedai seblak legendaris yang uap pedasnya sudah manggil-manggil jiwa gue dari subuh.
"Aduh, Mang! Ekstra kencur ya, kerupuknya yang lembek, makaroninya jangan pelit!" seru gue sambil sesekali lirik jam tangan.
Jantung gue deg-degan parah. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena gue sudah telat hampir tiga puluh menit dari jadwal "apel pagi" yang ditetapkan si Diktator Aksara Muda, alias Genta. Bayangan Genta berdiri sambil lipat tangan, natap tajam dari balik kacamata sambil ngasih ceramah soal "integritas waktu", sudah terbayang jelas di kepala gue.
Mati gue. Bakal kena geprek beneran nih setelah kemarin bikin karakter dia hampir bangkrut di novel, batin gue sambil nyambar plastik seblak panas itu.
Gue sampai di kantor sementara dengan napas putus-putus. Gue coba masuk lewat pintu samping, ngendap-endap kayak ninja yang gagal diet. Sialnya, bau kencur yang menyengat dari plastik gue ini berasa kayak bau pengkhianatan.
Pas sampai di meja, gue lihat punggung tegap Genta sudah berdiri di sana. Dia lagi bolak-balik naskah, posisinya strategis banget buat nyegat siapa pun yang telat.
Gue mematung. Mental sudah gue siapin buat dihujat habis-habisan. Satu... dua... tiga... silakan ngomel, Pak Monster!
Genta menoleh. Matanya turun ke plastik di tangan gue, terus naik ke muka gue yang sudah keringat dingin. "Baru datang?" tanya Genta pendek.
"I-iya, Pak. Maaf, tadi... tadi ada kendala teknis di jalan. Ban sepatu saya kempes, eh maksudnya... jalannya licin banget, Pak! Sumpah!" Gue merutuki mulut gue yang mendadak gagap. "Bapak mau marahin saya? Silakan, Pak. Saya pasrah. Mau dipotong gaji atau disuruh revisi kamus bahasa Indonesia juga saya jabanin."
Gue merem, nunggu "bom" meledak.
Tapi yang kedengaran malah suara helaan napas lembut. Bukan desah kesel, tapi kayak... maklum?
"Nggak apa-apa," ucap Genta datar.
Gue buka mata sebelah. "Hah?"
"Saya bilang nggak apa-apa, Aruna. Simpan seblak kamu itu, baunya memenuhi ruangan. Saya sudah siapkan ringkasan rapat internal tadi pagi di meja kamu. Kamu tinggal baca dan buat poin-poinnya buat laporan ke pusat."
Gue melongo. Mulut gue sedikit kebuka, pasti muka gue kelihatan conge banget. Gue tempelin punggung tangan ke dahi sendiri, terus—dengan nekat gue mendekat dan coba nempel tangan ke dahi Genta.
"Pak Genta... Bapak beneran sehat? Apa Bapak habis kepentok pintu hotel tadi pagi? Kok Bapak jadi baik? Ini bukan gaya Bapak banget!" seru gue curiga. "Biasanya telat lima menit saja Bapak ceramahnya ngalahin pemuka agama!"
Genta gercep nepis tangan gue, mukanya agak merah, mungkin kesel, atau mungkin yang lain. Dia benerin posisi kacamatanya dengan cepat.
"Saya cuma mau kerjaan cepat selesai, Aruna. Kalau saya buang waktu sepuluh menit buat marahin kamu, artinya kita kehilangan sepuluh menit produktivitas. Itu nggak efisien," dalih Genta, balik ke mode "efisiensi" andalannya.
"Tapi Bapak sampai buatin ringkasan buat saya? Bapak itu bos saya, bukan sekretaris saya," gue masih nggak percaya. "Bapak pasti lagi ngerencanain sesuatu yang jahat ya? Kayak... mau mecat saya pas kita balik ke Jakarta?"
Genta nggak jawab. Dia cuma mendengus pelan dan balik ke mejanya sendiri. Tapi, pas gue duduk dan mulai buka plastik seblak dengan perasaan was-was, Genta diam-diam rogoh HP di saku kemejanya.
Di bawah meja, Genta buka aplikasi NovelToon. Di layar HPnya, muncul pesan baru dari akun Senja_Sastra.
Senja_Sastra: Kaka's... gue lagi laper banget tapi mager kerja. Mana ada bau seblak enak banget lagi di deket hotel. Kayaknya kalau gue nggak makan seblak itu sekarang, otak gue bakal mogok nulis dan tokoh 'Kastara' bakal gue bikin kecelakaan masuk selokan di bab depan. Doain gue nggak dibunuh sama bos gue yang super monster itu ya karena telat.
Genta natap layar itu dengan senyum tipis yang sukat banget ditebak. Jarinya ngetik balasan singkat.
Kaka’s: Makan aja seblaknya. Mungkin bos lo lagi dalam suasana hati yang baik. Dan tolong, jangan masukkan adegan selokan itu. Kastara sudah cukup menderita dengan nasib 'robot' yang lo kasih kemarin.
Genta naruh HP-nya lagi. Dia melirik gue yang sekarang lagi asyik nyeruput kuah seblak dengan muka bahagia, pipi gue menggembung, dan sesekali ngusap hidung yang merah karena pedas.
"Pedas?" tanya Genta tiba-tiba, bikin gue tersedak kerupuk.
"Uhuk! I-iya, Pak. Banget! Bapak mau?" gue nawarin basa-basi yang sangat tidak tulus.
"Tidak. Saya nggak suka makanan yang nggak terorganisir kayak gitu," jawab Genta ketus, tapi matanya tetap merhatiin gue. "Habiskan dalam lima menit, terus mulai kerja. Jangan sampai ada noda merah di naskah saya."
Gue mencibir, tapi dalam hati gue heran banget. Aneh. Sejak kapan 'Monster' ini punya toleransi tinggi sama bau kencur? Gue balik nyuap seblak, nggak sadar kalau di seberang sana, si "Monster" sebenarnya lagi menikmati pemandangan paling manis yang pernah dia lihat, penulis favoritnya lagi makan lahap, tanpa tahu kalau orang yang dia sebut monster itulah yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari amukan... dirinya sendiri.
Dispensasi ini nggak gratis, Aruna, batin Genta sambil balik fokus ke laptopnya. Harganya adalah keberadaan kamu di sini, tetap berisik dan tetap makan seblak, supaya saya tahu kalau dunia nyata ternyata lebih indah daripada fiksi yang kita tulis.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻