NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...

Dunia di balik kelopak mata ku tidak pernah terasa senyata ini. Dalam tidur ku yang lelap di pelukan Dimas, jiwa ku melayang ke sebuah tempat yang tidak memiliki batas waktu, sebuah padang rumput hijau yang luas, di mana bunga-bunga liar menari mengikuti irama angin yang membawa aroma tanah basah dan kebebasan.

Aku tidak sendirian di sana.

Di kejauhan, aku melihat seorang pria yang sangat aku kenal. Punggungnya tegap, mengenakan kemeja katun ringan yang berkibar ditiup angin. Dimas. Namun, dia tidak sedang memegang laporan logistik atau ponsel kantor. Dia sedang berlutut di atas rumput, merentangkan tangannya lebar-lebar dengan tawa yang begitu lepas, tawa yang jarang sekali aku dengar di dunia nyata yang penuh tekanan.

Lalu, aku melihatnya. Sesosok mungil yang berlari kencang menuju pelukan Dimas.

“Oh, jantung ku...” batin ku dalam mimpi itu, suara ku bergema seperti bisikan di antara pepohonan. “Siapa dia? Kenapa dia terlihat begitu familiar?”

Anak itu mengenakan kaus putih kecil dan celana pendek. Rambutnya hitam legam, persis seperti milik Dimas, namun memiliki tekstur yang sedikit lebih halus. Dan saat dia menoleh ke arah ku, aku merasa dunia ku berhenti berputar. Matanya hijau jernih, persis seperti mata ku. Di atas kepalanya, menyembul dua telinga cokelat kecil yang berbulu halus, telinga rubah yang berkedut lincah setiap kali dia mendengar suara burung. Di belakangnya, sebuah ekor tebal yang masih pendek mengibas-ngibas dengan penuh kegembiraan.

"Mama! Lihat, Papa menangkap ku!" suara kekanakan itu memanggil ku, membelah keheningan padang rumput.

Aku terpaku. Kaki ku terasa berat, namun hati ku terasa ringan seolah-olah bisa terbang. Aku melangkah mendekat, dan setiap langkahku membuat rumput-rumput itu berubah menjadi kelopak bunga melati. Aku berlutut di samping mereka, menyentuh pipi gembul anak itu yang kemerahan karena sinar matahari.

"Kau... anak ku?" bisik ku, air mata mulai menggenang di mata ku yang terpejam dalam tidur.

"Namanya Elkan, Linda," Dimas dalam mimpi ku menjawab. Ia menatap ku dengan tatapan paling lembut yang pernah ada, tatapan yang mengakui bahwa keajaiban ini adalah milik kami berdua. "Lihat, dia punya hidung mu. Tapi dia punya cara ku tersenyum."

Elkan kecil tertawa, lalu ia menarik telinga rubah ku yang juga muncul di dalam mimpi itu. "Mama cantik! Telinga Mama besar, Elkan mau besar seperti Mama!"

Aku memeluknya. Aku bisa merasakan kehangatan tubuh kecilnya, aroma susunya yang bercampur dengan wangi hutan, dan detak jantungnya yang seirama dengan detak jantung ku. Inilah puncak dari segala keinginan yang selama ini aku pendam di sudut tergelap jiwaku. Sebuah perpaduan antara dua dunia yang berbeda, dunia manusia yang fana dan dunia siluman yang abadi.

“Jika ini adalah mimpi, aku tidak ingin bangun,” batin ku, membenamkan wajah ku di rambut hitamnya. “Aku ingin di sini saja. Di sini, tidak ada yang akan menyebutnya monster. Di sini, tidak ada yang akan menatapnya dengan takut. Di sini, dia hanyalah bukti nyata bahwa cinta ku pada seorang manusia bisa menghasilkan sesuatu yang begitu suci.”

Namun, cahaya matahari dalam mimpi itu mulai memudar, berubah menjadi remang-remang lampu kamar apartemen nomor 404. Aku merasa tarikan gravitasi kembali menarik jiwa ku ke dalam tubuh fisik ku.

"Jangan pergi..." gumam ku dalam tidur.

Aku terbangun dengan napas yang memburu. Mata ku terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang gelap. Di samping ku, aku merasakan napas Dimas yang teratur. Lengan besarnya masih melingkar protektif di pinggang ku, dan aku merasa ekor ku masih membelit kakinya di bawah selimut.

Aku tidak bergerak. Aku takut jika aku bergerak, sisa-sisa aroma Elkan kecil di mimpi ku akan menguap. Air mata yang tadi aku rasakan di mimpi kini benar-benar mengalir membasahi bantal.

“Dia sangat nyata,” bisik ku dalam hati. “Telinga kecil itu... cara dia tertawa... dia adalah segalanya yang aku inginkan.”

Aku berbalik pelan, menatap wajah Dimas yang sedang tertidur lelap. Di bawah sinar rembulan yang masuk dari jendela, dia terlihat begitu tenang. Aku menyentuh rahangnya dengan ujung jari, menelusuri garis wajah yang ingin aku berikan pada anak kami nanti.

"Dimas..." panggil ku sangat pelan, hampir berupa desahan.

Dimas mengerang sedikit, lalu matanya terbuka perlahan. "Linda? Ada apa? Kau mimpi buruk?" suaranya serak, penuh dengan kekhawatiran yang tulus.

Aku menggeleng, menyembunyikan wajah ku di dadanya yang hangat. "Bukan mimpi buruk. Justru mimpi yang terlalu indah."

"Mimpi apa?" Dimas mengusap punggung ku, jemarinya memberikan rasa aman yang selalu aku butuhkan.

"Aku bermimpi tentang seorang anak laki-laki," aku mendongak, menatap matanya dalam-dalam. "Dia memiliki wajah mu, Dimas. Rambut hitam mu yang sedikit berantakan itu. Tapi dia memiliki mata ku... dan dia memiliki telinga cokelat kecil di kepalanya."

Tangan Dimas yang sedang mengusap ku berhenti sejenak. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. "Anak kita?"

"Iya," aku mengangguk cepat, air mata kembali jatuh. "Dia memanggil mu Papa. Dia berlari di rumput dan dia terlihat sangat bahagia. Dia tidak takut pada dirinya sendiri. Dia tidak merasa berbeda."

Aku merasakan pelukan Dimas mengencang. "Linda..."

"Aku ingin dia, Dimas," suara ku mulai bergetar karena keinginan yang memuncak. "Aku ingin 'Si Kecil' itu menjadi nyata. Selama ini aku takut. Aku takut jika dia lahir, dia akan dikucilkan. Aku takut dia tidak akan bisa diterima oleh dunia mu, atau dunia ku. Tapi setelah mimpi itu... aku merasa ketakutan ku kalah oleh rasa cinta ku."

“Aku lelah hanya menjaga wilayah sendirian,” batin ku sambil mencengkeram kemeja kaus yang dipakai Dimas. “Aku ingin sarang ini penuh dengan suara tawa. Aku ingin melihat mu mengajarinya cara menjadi pria yang baik, sementara aku mengajarinya cara mengendalikan instingnya. Aku ingin keluarga yang utuh, Dimas.”

Dimas terdiam cukup lama, menatap langit-langit kamar seolah sedang membayangkan hal yang sama. "Kau tahu itu tidak akan mudah, kan? Dia akan menjadi makhluk unik. Kita harus melindunginya lebih dari apapun di dunia ini."

"Aku tahu," jawab ku tegas. "Aku akan menggunakan seluruh sihir ku, seluruh nyawa ku, untuk memastikan tidak ada yang menyentuhnya. Aku akan menjadi ibu paling posesif di seluruh dunia jika itu perlu."

Dimas terkekeh kecil, namun nadanya penuh haru. "Aku tidak meragukan itu. Kau sudah cukup posesif pada ku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau pada anak kita nanti."

Ia mencium kening ku, lalu turun ke hidung ku, dan akhirnya berhenti di bibir ku. Ciumannya kali ini tidak penuh dengan gairah liar seperti biasanya, melainkan penuh dengan janji dan harapan.

"Jika itu yang kau inginkan, Linda," bisik Dimas di depan bibir ku. "Maka aku juga menginginkannya. Aku tidak peduli dia punya telinga rubah, ekor sepuluh, atau apa pun. Dia adalah anak kita. Dan aku akan menjadi Papa paling bangga di dunia."

Mendengar kata-kata itu, keinginan ku yang tadi terasa seperti beban mendadak berubah menjadi energi yang meluap-luap. Aku merapatkan tubuh ku padanya, membiarkan ekor ku mengembang besar karena emosi yang meluap.

"Sekarang?" tanya ku dengan nada yang mulai menggoda, meski mata ku masih basah.

Dimas tersenyum, senyum nakal yang aku cintai. "Bukankah kau yang bilang tadi malam bahwa setiap menit berharga?"

"Mimpi itu harus jadi nyata, Dimas," aku berbisik, jemari ku mulai membuka kancing pakaiannya. "Aku tidak ingin menunggu sampai hari Sabtu lagi. Aku ingin memulai masa depan kita... di sini, malam ini."

Malam itu, apartemen nomor 404 menjadi saksi bisu dari doa yang dipanjatkan bukan melalui kata-kata, melainkan melalui penyatuan dua raga. Setiap sentuhan terasa lebih bermakna, setiap desahan terasa seperti bisikan harapan untuk jiwa baru yang kami harapkan segera hadir di antara kami.

“Datanglah, Elkan kecil,” batin ku di tengah keintiman kami yang mendalam. “Mama dan Papa menunggu mu. Kami sudah menyiapkan sarang yang paling hangat. Kami sudah menyiapkan cinta yang paling posesif untuk mu. Datanglah dan lengkapi dunia ku.”

Aku bisa merasakan energi spiritual ku bersinggungan dengan energi kehidupan Dimas, menciptakan sebuah harmoni yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sebagai siluman rubah, aku bisa merasakan kemungkinan-kemungkinan masa depan, dan malam ini, masa depan itu terasa sangat dekat, seperti aroma hujan yang akan segera turun.

Beberapa jam kemudian, saat kami berdua terbaring lemas dalam keheningan yang damai, Dimas membelai telinga rubah ku yang lemas karena kelelahan.

"Linda?"

"Hmm?"

"Kalau nanti dia benar-benar lahir dan punya telinga seperti mu... apa kita harus membelikannya topi yang banyak?"

Aku tertawa, tawa yang tulus dan ringan. "Tentu saja. Dan kita akan bilang pada orang-orang bahwa itu adalah tren fashion terbaru dari pegalaman Jawa."

"Atau kita pindah ke rumah di pinggir hutan," tambah Dimas. "Di mana dia bisa berlari bebas tanpa harus menyembunyikan ekornya."

"Aku suka ide itu," aku memejamkan mata, membayangkan rumah kayu kecil dengan halaman luas yang dipenuhi bunga melati. "Di sana, hanya ada kita. Keluarga kecil rubah dan manusia pengurusnya."

"Hei, aku bukan pengurus! Aku kepala keluarga," protes Dimas main-main.

Aku menggigit bahunya pelan. "Di rumah ini, aku yang memegang kendali, Manajer. Jangan lupakan itu."

Dimas hanya bisa pasrah, menarik selimut untuk menutupi kami berdua. "Tidur, Linda. Besok Senin, dan istri mu yang posesif ini pasti akan mengamuk kalau aku terlambat bangun untuk bekerja."

"Aku tidak akan mengamuk," gumam ku sambil mulai memasuki alam mimpi lagi. "Selama kau ingat bahwa kau bekerja untuk masa depan 'Si Kecil', aku akan membiarkan mu pergi dengan tenang."

Malam itu berakhir dengan janji yang terukir di dalam hati kami masing-masing. Mimpi tentang Elkan bukan lagi sekadar bunga tidur, melainkan kompas yang akan mengarahkan hidup kami selanjutnya. Apartemen nomor 404 tidak lagi hanya menjadi tempat persembunyian seorang siluman dan suaminya, tapi menjadi rahim bagi sebuah keajaiban yang akan mengubah segalanya.

Aku tertidur dengan senyum di bibir ku, dan di dalam mimpi ku yang baru, aku melihat anak itu lagi. Kali ini, dia tidak berlari. Dia sedang tertidur di antara kami berdua, ekor kecilnya membelit jempol ku, dan telinga cokelatnya bergerak lembut mengikuti suara napas kami yang menyatu.

“Segera, Sayang. Segera.”

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!