NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Merelakan

Pertempuran telah benar-benar usai. Tidak ada lagi suara benturan, tidak ada lagi raungan panjang yang menggema di antara pepohonan. Hanya sisa-sisa kehancuran yang tertinggal—tanah yang retak, batang pohon yang patah, dan udara yang masih dipenuhi aroma darah serta energi yang belum sepenuhnya lenyap. Malam terasa lebih sunyi dari sebelumnya, namun sunyi itu justru terasa berat.

Di kejauhan, perisai pelindung yang selama ini menyelimuti gua mulai memudar perlahan. Cahaya transparan itu berdenyut lemah, lalu satu per satu menghilang seperti kabut yang tertiup angin. Jalur menuju luar kini terbuka sepenuhnya.

Di dalam gua, Arlan yang sejak tadi gelisah langsung menyadari perubahan itu. Ia berdiri dengan cepat, matanya melebar. “Perisainya… hilang…” gumamnya pelan, namun cukup untuk membuat paman, bibi, dan kakek menoleh.

Tanpa menunggu lebih lama, Arlan langsung berlari keluar. “Alana!” teriaknya, suaranya menggema penuh kecemasan. Ia tidak peduli lagi dengan apa pun di sekitarnya—yang ada di pikirannya hanya satu: memastikan Alana selamat.

Paman dan bibi saling berpandangan sesaat, lalu segera menyusul. Bibi sudah hampir menangis sejak tadi, sementara paman berusaha tetap tenang meskipun wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran. Kakek berjalan paling belakang, langkahnya lebih lambat, namun matanya tajam mengamati keadaan.

Saat mereka keluar dari area gua, langkah mereka perlahan melambat.

Pemandangan di depan mereka membuat semuanya terdiam.

Hutan yang dulu mereka kenal kini berubah menjadi medan perang yang porak-poranda. Tanah terbelah, pohon tumbang, dan jejak pertempuran terlihat jelas di mana-mana.

Dan di tengah itu Alana berdiri bersama Edward.

“Alana…!” bibi langsung berlari, memeluknya erat begitu sampai. “Kau tidak apa-apa?!” suaranya bergetar, air mata tak terbendung lagi.

“Aku tidak apa-apa, Bi…” jawab Alana pelan sambil membalas pelukan itu.

Paman mendekat, menepuk bahu Alana dengan pelan. “Syukurlah…” gumamnya.

Namun perhatian mereka segera beralih.

Ke Edward.

Yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Dengan tubuh yang jelas terluka.

Arlan sudah lebih dulu berada di depan, berdiri di antara Alana dan Edward. Tatapannya tajam, penuh waspada. “Kau terluka,” katanya dingin, meskipun nadanya juga menyimpan kekhawatiran yang tidak ia sadari.

Edward tidak menjawab langsung. Ia hanya berdiri, sedikit tertatih, namun tetap menjaga wibawanya. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah maju satu langkah.

Suasana langsung berubah hening.

“Aku…” suaranya berat, namun tetap jelas, “…meminta izin.”

Semua mata tertuju padanya.

“Untuk membawa Alana… ke duniaku.”

Kalimat itu jatuh seperti beban besar.

Arlan langsung bereaksi. “Tidak,” jawabnya cepat, tanpa ragu. Ia melangkah lebih maju, seolah menjadi penghalang. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Alana menatapnya, sedikit terkejut, namun tidak mengatakan apa-apa.

Edward menatap Arlan dengan tenang. “Ini bukan tentang keinginan,” katanya pelan. “Ini tentang apa yang akan terjadi ke depan.”

“Dan kau pikir aku akan percaya begitu saja?” balas Arlan dengan emosi yang mulai naik. “Kami bisa menjaganya di sini!”

“Kalian tidak tahu apa yang sedang mendekat,” jawab Edward, kali ini lebih tegas. “Malam ini bukan akhir. Ini baru permulaan.”

Arlan mengepalkan tangannya. “Aku tidak peduli! Dia tetap di sini!”

Ketegangan semakin terasa.

Namun saat itulah—

“Arlan.”

Suara kakek terdengar.

Tenang.

Namun cukup untuk menghentikan semuanya.

Arlan menoleh. “Kakek… kita tidak bisa membiarkannya pergi…”

Kakek menatapnya dalam. “Tenangkan dirimu.”

Arlan menggeleng. “Bagaimana aku bisa tenang?! Kita hampir kehilangannya! Dan sekarang dia akan pergi begitu saja?!”

Kakek melangkah mendekat. “Dengarkan aku baik-baik,” katanya pelan namun tegas. “Ini bukan tentang kehilangan. Ini tentang pilihan.”

Arlan terdiam, meskipun napasnya masih berat.

Kakek lalu menoleh ke Edward. “Jika ia pergi bersamamu… apakah ia benar-benar aman?”

Edward menjawab tanpa ragu. “Aku akan melindunginya, dengan apa pun yang kumiliki.”

Kakek mengangguk pelan.

Lalu kembali ke Arlan.

“Kau mendengarnya,” katanya lembut. “Dan kau juga tahu… Alana bukan lagi gadis yang sama seperti sebelumnya.”

Arlan menunduk. Ia tahu itu.

Namun tetap saja hatinya menolak.

“Alana…” suaranya melemah, “…kau tidak harus pergi…”

Semua kembali hening Alana menarik napas pelan lalu melangkah maju.

“Aku harus,” katanya lembut.

Arlan mengangkat kepalanya, matanya penuh emosi. “Kenapa…?”

Alana menatapnya dalam. “Karena tempat asliku bukan disini dan terlalu bahaya jika aku tetap disini,"

Ia menoleh ke arah hutan yang gelap. “Dan lain kali… mungkin bukan hanya aku yang terluka tapi bisa jadi kalian bahkan para warga aku tidak ingin itu terjadi,"

Kata-kata itu membuat semua orang terdiam.

Bibi kembali menunduk, menahan tangis yang mendalam dan Paman menghela napas panjang seolah sudah merelakan Alana untuk pergi dadi kehidupan mereka

Arlan tidak bisa berkata apa-apa lagi Arlan menggertakkan giginya, lalu menunduk perlahan ia mengangguk meski berat.

Edward yang melihat itu kemudian berbicara lagi. “Aku tidak akan meninggalkan desa ini tanpa perlindungan.”

Ia menoleh ke arah pasukannya. “Enam vampir akan tetap di sini.”

Henry langsung melangkah maju. “Kami akan mengatur penjagaan.”

Edward mengangguk. “Pastikan tidak ada satu pun serigala yang mendekat.”

“Dipahami.”

Arlan menatap mereka, masih dengan perasaan campur aduk. “Jika terjadi sesuatu…” katanya pelan.

“Tidak akan terjadi,” potong Edward tegas.

Kali ini, Arlan tidak membantah.

Kakek menghela napas panjang. “Kalau begitu… kami percaya padamu.”

“Kakek…” suara Alana pelan saat ia mendekat.

Kakek menatapnya dalam, lalu tersenyum tipis. “Kau sudah tahu semuanya, bukan?”

Alana mengangguk pelan. “Iya… bahkan lebih dari yang aku kira.”

“Dan kau tetap memilih pergi?” tanya kakek lembut.

Alana menunduk sejenak, lalu kembali menatapnya. “Aku harus… bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua orang di sini.”

Kakek menghela napas panjang, namun senyumnya tidak hilang. “Sejak kecil, aku tahu… kau bukan anak biasa.”

Alana sedikit terkejut. “Kakek tahu?”

“Tidak sepenuhnya,” jawabnya pelan. “Tapi aku tahu suatu hari… kau akan pergi.”

Alana menggenggam tangan kakek. “Maaf… aku tidak bisa tinggal.”

Kakek menggeleng. “Jangan minta maaf. Pergilah… dan jadilah dirimu yang sebenarnya.”

Air mata mulai menggenang di mata Alana. “Aku akan kembali… Kakek.”

Kakek mengangguk. “Kami akan menunggumu.”

“Alana…” bibi langsung memeluknya erat. “Kau harus jaga diri di sana… makan yang cukup… jangan memaksakan diri…”

Alana tersenyum kecil di tengah pelukan. “Iya, Bi… aku akan baik-baik saja.”

Bibi menangis pelan. “Kami akan merindukanmu…”

“Aku juga…” jawab Alana lirih

Paman berdiri di depan Alana, menatapnya dengan serius namun hangat. “Kau sudah memilih jalanmu.”

Alana mengangguk.

Paman menghela napas, lalu menepuk bahunya. “Jangan ragu. Apa pun yang terjadi… ingat siapa dirimu.”

“Aku akan ingat,” jawab Alana.

“Dan…” paman sedikit tersenyum, “jika ada yang menyakitimu…”

Alana tersenyum kecil. “Aku tahu… paman pasti akan mencarinya.”

Paman tertawa pelan. “Benar.”

Arlan berdiri paling belakang diam

Alana mendekat perlahan. “Arlan…”

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata, “Kau benar-benar akan pergi…”

Alana mengangguk pelan.

Arlan menghela napas panjang, lalu menatapnya. Matanya sedikit memerah. “Aku tidak bisa menghentikan mu… kan?”

Alana menggeleng pelan.

Arlan tersenyum tipis, meskipun jelas terasa berat. “Kalau begitu… jangan kalah.”

Alana sedikit terkejut.

“Apa pun yang kau hadapi di sana… kau harus kembali,” lanjutnya.

Alana tersenyum hangat. “Aku akan kembali.”

Arlan mengangguk. “Aku akan menunggumu… jadi jangan terlalu lama.”

Alana menahan air matanya. “Iya…”

Kakek kembali berkata pelan, “Pergilah, Alana.”

Paman menambahkan, “Kami akan menjaga rumah ini.”

Bibi menggenggam tangannya erat. “Dan kami akan selalu mendoakan mu.”

Arlan menatapnya untuk terakhir kali. “Jangan lupa jalan pulang.”

Alana tersenyum di tengah air matanya. “Aku tidak akan pernah lupa."

“Aku akan.”

Alana kembali menatap Arlan tidak ada kata namun semuanya terasa.

“Aku akan kembali,” katanya pelan.

Arlan menatapnya lama.

Lalu akhirnya berkata, “Aku akan menunggumu.”

Senyum kecil muncul di wajah Alana.

Edward melangkah mendekat. “Kita harus pergi.”

Alana mengangguk.

Namun sebelum benar-benar pergi ia menoleh sekali lagi melihat keluarga nya

Dan di dalam hatinya ia berjanji bahwa ini bukan akhir melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar.

Lebih berbahaya Namun juga lebih berarti dan perlahan ia melangkah pergi bersama Edward meninggalkan Hutan menuju takdirnya yang sebenarnya.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!