Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Sore itu datang dengan cara yang lebih lembut dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Langit tidak lagi mendung seperti kemarin. Tidak juga terlalu terang. Warna jingga tipis mulai menyentuh ujung-ujung gedung tinggi di sekitar rumah sakit, memberi kesan hangat yang tenang—seolah hari itu akhirnya memberi jeda setelah segala kesibukan yang sejak pagi tidak berhenti.
Di dalam ruang praktiknya, Yusallia berdiri di depan meja, merapikan beberapa berkas terakhir.
Tangannya bergerak pelan. Tidak terburu-buru seperti siang tadi.
Hari ini… panjang.
Tapi tidak seberat kemarin.
Mungkin karena pagi tadi ia sempat memberi dirinya waktu. Atau mungkin… karena ada sesuatu yang tanpa sadar membuat harinya terasa lebih ringan.
Ia tidak memikirkannya terlalu jauh.
Hanya menyelesaikan pekerjaannya satu per satu.
Tasnya sudah berada di kursi. Jas dokternya ia rapikan. Rambut yang sejak pagi diikat mulai sedikit berantakan, tapi ia tidak terlalu peduli.
Ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh.
“Dok, sudah selesai?” tanya perawat asistennya.
Yusallia mengangguk kecil. “Iya. Ini terakhir.”
Perawat itu tersenyum. “Akhirnya ya, dok. Hari ini lumayan santai juga.”
Yusallia tersenyum tipis. “Lumayan.”
Ia mengambil tasnya, lalu berjalan keluar dari ruangan.
Koridor rumah sakit sudah terlihat lebih sepi dibandingkan siang tadi. Meskipun masih terdapat banyak pasien yang lalu-lalang. Tapi, suasana terasa lebih tenang, walau tetap menyisakan aroma khas rumah sakit yang tidak pernah benar-benar hilang.
Langkah Yusallia terdengar pelan saat ia berjalan menuju pintu keluar.
Setiap langkah terasa lebih ringan.
Hari kerja selesai.
Dan untuk pertama kalinya hari ini, ia benar-benar bisa menarik napas tanpa harus memikirkan pasien berikutnya.
____________________________________________
Begitu keluar dari pintu utama rumah sakit, udara sore langsung menyambutnya.
Lebih hangat dari pagi.
Sedikit lembap.
Dan… tenang.
Area depan rumah sakit tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk di kursi tunggu, beberapa lainnya berdiri sambil menunggu kendaraan.
Yusallia berhenti sebentar di dekat area tunggu.
Tangannya merogoh ponsel dari dalam tas.
Ia membuka aplikasi taxi online.
Rencananya sederhana—
Pergi ke bengkel.
Ambil mobilnya.
Lalu pulang.
Hari ini cukup panjang. Ia tidak ingin memperpanjangnya lagi.
Namun, sebelum ia sempat benar-benar memesan taxi online, seseorang memanggilnya.
“Yusa?”
Suara itu datang dari belakang.
Pelan.
Tapi cukup jelas.
Dan… terlalu familiar.
Yusallia langsung berhenti.
Alisnya sedikit mengernyit.
Perlahan, ia menoleh.
Dan dalam satu detik. Matanya langsung membesar.
“Bryan…?”
Nada suaranya bercampur antara kaget dan tidak percaya.
Di sana, berdiri beberapa langkah di belakangnya, seorang pria dengan kemeja kasual dan senyum yang sama seperti yang ia ingat sejak dulu.
Tidak banyak berubah.
Hanya… terlihat lebih dewasa.
Lebih matang.
Tapi tetap sama.
Bryan tersenyum lebar. “Akhirnya lo noleh juga.”
Yusallia tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya beberapa detik.
Seolah memastikan bahwa ini bukan halusinasi.
Tiga tahun.
Tanpa pertemuan.
Dan tiba-tiba… muncul di depannya seperti ini.
Tanpa peringatan.
Tanpa rencana.
Tanpa kabar langsung.
“Lo…” Yusallia mendekat satu langkah. “Seriusan ini lo?”
Bryan tertawa kecil. “Kalau bukan gue, siapa lagi?”
Dan tanpa sadar, Yusallia langsung memeluknya.
Tidak lama. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar kaget sekaligus… senang.
Bryan membalas pelukan itu dengan ringan.
“Gila… lo beneran balik lagi kesini?” suara Yusallia sedikit tertahan, masih tidak sepenuhnya percaya.
“Iya,” jawab Bryan santai. “Baru beberapa hari.”
Yusallia melepas pelukannya, menatapnya lagi dari dekat.“Kenapa nggak bilang?”
Bryan mengangkat bahu. “Pengen ngejutin.”
Yusallia langsung menghela napas kecil, lalu memukul ringan bahunya. “Nyebelin.”
Bryan tertawa. “Reaksi lo worth it.”
Yusallia menggeleng, tapi senyumnya tidak hilang.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Masih menyesuaikan.
Masih mencerna kenyataan bahwa… orang yang selama ini kabarnya hanya ia dapat dari telpon, sekarang berdiri di depan matanya.
Bryan yang pertama memecah keheningan. “Lo habis kerja?”
Yusallia mengangguk. “Iya. Baru selesai.”
“Capek?” tanya Bryan.
“Lumayan,” jawabnya jujur.
Bryan mengangguk pelan. Lalu melirik ponsel di tangan Yusallia.
“Mau ke mana?” Tanya Bryan basa-baai.
Yusallia ikut melirik ponselnya, lalu menjawab, “Mau ke bengkel.”
“Bengkel?” tanya Bryan lagi bingung.
“Iya. Mobil gue kemarin sempat mogok. Sekarang udah selesai, jadi mau gue ambil.”
Bryan mengangguk lagi. “Oh…”
Ia diam sebentar. Lalu tersenyum tipis.
“Baru mau pesen taxi?” tanya Bryan lagi kepada Yusallia.
Yusallia mengangguk. “Iya.”
Bryan langsung menggeleng ringan. “Ngapain?”
Yusallia mengernyit. “Hah?”
“Gue anter aja.” saran Bryan.
Jawaban itu datang santai. Seolah itu hal paling biasa di dunia.
Yusallia menatapnya beberapa detik. “Serius?”
Bryan mengangkat alis. “Kenapa? Nggak boleh?”
“Bukan gitu…” Yusallia tertawa kecil. “Cuma… ya udah lama banget, tiba-tiba langsung jadi supir gue aja?”
Bryan nyengir. “Sekalian lah. Gue juga pengen ngobrol sama lo.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup jujur.
Dan entah kenapa… Yusallia tidak menemukan alasan untuk menolak.
Ia mengangguk kecil. “Yaudah.”
Bryan langsung menunjuk ke arah parkiran. “Mobil gue di sana.”
____________________________________________
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil.
Interior mobil terasa nyaman. Tidak terlalu mewah, tapi rapi dan bersih.
Bryan menyalakan mesin, lalu melirik ke arah Yusallia yang duduk di sampingnya.
“Alamat bengkelnya masih yang biasa?” tanya Bryan.
Yusallia mengangguk. “Iya.”
“Oke.” balas Bryan singkat.
Mobil mulai bergerak. Keluar dari area rumah sakit. Masuk ke jalan raya.
Dan suasana di dalam mobil… terasa berbeda. Tidak canggung. Tapi juga tidak langsung cair sepenuhnya.
Masih ada jarak waktu tiga tahun yang belum sepenuhnya terisi.
Bryan yang mulai duluan. “Lo nggak berubah ya.”
Yusallia menoleh. “Maksud lo?”
“Masih sibuk banget sama kerjaan lo.” kata Bryan.
Yusallia tertawa kecil. “Namanya juga kerja.”
“Dulu juga gitu,” sahut Bryan.
Yusallia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Lo sendiri gimana? Tiga tahun di luar negeri… betah?”
Bryan menghela napas kecil. “Betah sih… tapi ya capek juga.”
“Kerjaannya berat?” tanya Yusallia.
“Lumayan,” jawab Bryan santai. “Tapi seru.”
Yusallia mengangguk pelan. “Kenapa balik?”
Bryan diam sebentar.
Lalu menjawab dengan nada lebih ringan, “Tugas gue disana sudah selesai dan gue juga kangen.”
Yusallia menatapnya sekilas. “Kangen apa?”
Bryan meliriknya, lalu tersenyum kecil. “Banyak.”
Yusallia menggeleng kecil. “Nggak jelas.”
Bryan tertawa pelan.
Suasana mulai lebih santai. Lebih cair. Seperti dulu.
“Lo sendiri gimana?” tanya Bryan lagi. “Masih sama?”
“Maksudnya?” tanya Yusallia bingung.
“Masih jadi tempat orang-orang cerita,” jawab Bryan.
Yusallia tersenyum tipis. “Iya.”
“Capek nggak?” tanya Bryan.
Yusallia diam sebentar.
Lalu menjawab jujur, “Kadang.”
Bryan mengangguk pelan. “Ya… lo emang gitu dari dulu.”
“Gimana?” tanya Yusallia.
“Terlalu peduli.” kata Bryan.
Yusallia tidak langsung menjawab. Hanya tersenyum kecil.
“Dan lo?” balasnya. “Masih suka sok kuat?”
Bryan tertawa. “Nggak berubah juga lo.”
“Ya kan emang gitu,” jawab Yusallia santai.
Mobil terus melaju. Percakapan mereka mengalir. Dari hal kecil ke hal lain. Tentang masa lalu. Tentang kehidupan sekarang. Tentang hal-hal yang dulu biasa mereka bicarakan, dan sekarang terasa sedikit berbeda. Tapi tetap… familiar.
Sampai akhirnya, mobil mulai melambat.
Bryan melirik ke depan. “Udah deket.”
Yusallia ikut melihat ke luar.
Bengkel itu terlihat tidak jauh di depan. Tempat yang sudah sangat ia kenal.
Mobil berhenti. Mesin dimatikan.
Beberapa detik hening.
Yusallia membuka seatbelt.
Lalu menoleh ke arah Bryan.“Thanks ya.”
Bryan mengangkat bahu santai. “Santai.”
Yusallia tersenyum kecil.
Tapi sebelum ia benar-benar turun, Bryan berkata pelan,“Yusa.”
Yusallia berhenti. “Hm?”
Bryan menatap ke depan beberapa detik. Lalu berkata dengan nada yang lebih serius, tapi tetap ringan, “Seneng bisa ketemu lo lagi.”
Yusallia terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu tersenyum. Kali ini… sedikit lebih dalam.
“Iya,” jawabnya pelan. “Gue juga.”
Dan tanpa perlu banyak kata lagi—Ia membuka pintu mobil.
Turun.
Melangkah menuju bengkel.
Sementara Bryan masih duduk di dalam mobil beberapa detik. Menatap ke arah Yusallia yang berjalan menjauh.
Dan entah kenapa—Pertemuan itu terasa… seperti awal dari sesuatu yang belum selesai.
Bukan sesuatu yang baru. Tapi sesuatu yang… kembali.