"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kafe malam itu terasa sangat sesak, bukan karena pengunjung yang ramai, tapi karena atmosfer di mejaku yang mendadak membeku. Kaila dan Alif duduk di depanku, asyik mengobrol seolah dunia baik-baik saja. Sementara di samping Alif, Guntur duduk dengan wajah datarnya, menatap ke arah jalanan dari balik kaca kafe.
Aku duduk hanya berjarak dua meter darinya. Jarak yang sangat dekat, namun terasa seperti ribuan kilometer.
"Tur, dicoba gih kopinya. Enak lho," ujar Alif mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Guntur hanya mengangguk tipis, menyesap kopinya tanpa sepatah kata pun. Dia bahkan tidak melirik ke arahku. Aku merasa seperti bayangan yang tak terlihat. Untuk menutupi rasa canggung, aku berkali-kali membuka ponselku, membalas chat dari Bintang yang terus bertanya apa yang sedang kulakukan.
“Lagi kumpul sama Kaila,” balasku singkat.
Hatiku mencelos. Aku sedang duduk di depan orang yang sangat aku damba, tapi aku malah sibuk membalas pesan dari orang yang menjadikanku "pelarian".
Tiba-tiba, sebuah kerikil kecil atau mungkin hiasan meja dilempar oleh Alif ke arahku. Aku tersentak. Alif memberikan kode dengan matanya, menyuruhku untuk mendekat atau setidaknya mengajak Guntur bicara. Teman-temannya di meja sebelah bahkan mulai bersiul kecil, mencoba memanas-manasi keadaan.
Aku menggigit bibir bawahku. Sebagai perempuan, ada ego yang menahanku. Aku ingin dia yang memulai. Aku ingin dia yang bertanya, "Gimana Bandung?" atau sekadar menyapa namaku. Tapi Guntur tetaplah Guntur. Dia tetap diam seperti patung, seolah-olah seluruh keramaian di sekitarnya tidak ada hubungannya dengan dia.
Keheningan itu membunuhku pelan-pelan. Hingga akhirnya, aku tidak tahan lagi.
"Kai, aku ke toilet bentar ya," pamitku dengan suara bergetar.
Di balik pintu toilet, aku menyandarkan tubuhku dan menarik napas panjang. Air mataku hampir jatuh. Betapa menyakitkan berada di dekatnya namun tetap merasa kesepian. Di saat itulah, ponselku bergetar lagi.
Bintang: "Jangan lupa makan ya, Fis. Aku nggak mau kamu sakit. I love you."
Tiga kata terakhir dari Bintang itu terasa seperti hantaman. Di saat Guntur memberiku kedinginan yang membekukan, Bintang memberiku kehangatan yang tulus—meskipun aku tahu, kehangatan itu hanya kuterima karena aku tidak punya pilihan lain untuk mengobati luka ini.
Malam itu, aku pulang dengan satu kesimpulan pahit: Guntur tidak akan pernah datang mengejarku. Dan di titik itulah, aku memutuskan untuk benar-benar menerima Bintang sebagai kekasihku secara backstreet, memulai sebuah hubungan yang didasari oleh pelarian dan kebohongan pada diri sendiri.
Minggu sore. Langit berwarna jingga keunguan, memberikan kesan melankolis yang seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Sebuah pesan singkat dari Guntur membawaku ke taman kota yang sepi.
Guntur: "Bisa ketemu sebentar? Berdua saja."
Aku datang dengan detak jantung yang tak beraturan. Harapan gila itu muncul lagi; apakah dia akan menarik semua kedinginannya? Apakah dia akan menjelaskan segalanya?
Guntur sudah di sana, duduk di bangku kayu di bawah pohon besar. Wajahnya datar, menatap kosong ke arah kolam. Aku duduk di sampingnya, membiarkan keheningan menyelimuti kami selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya.
"Kenapa, Kak?" aku akhirnya memberanikan diri membuka suara.
Guntur menoleh sedikit, matanya yang tajam menatapku dalam-dalam. "Aku cuma mau tanya satu hal, Fis. Alasan apa yang bikin kamu menaruh hati ke aku?"
Pertanyaan itu membuatku tertegun. Aku menatap matanya, mencari binar yang dulu pernah ada di sana saat kita saling bertukar chat hingga dini hari. "Kenapa Kakak tanya itu sekarang?"
"Karena aku nggak paham," jawabnya rendah, suaranya terdengar sangat lelah. "Kenapa kamu harus bersusah payah mendekatiku? Kenapa kamu begitu gigih mencairkan es yang bahkan aku sendiri nggak tahu cara mencairkannya?"
"Karena aku sayang, Kak! Aku peduli!" suaraku mulai bergetar. "Tapi Kakak selalu naruh dinding yang tinggi. Bahkan setelah kita sedekat itu lewat ponsel, di sekolah Kakak tetap anggap aku orang asing. Dan soal Jogja... aku benar-benar minta maaf. Aku harus ke Bandung buat sekolah."
Guntur tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit. "Sekolah... iya, sekolah. Tapi kamu nggak tahu kan betapa besarnya keberanian yang aku kumpulin buat ngajak kamu hari itu? Buat aku, itu bukan cuma konser, Fis. Itu adalah cara aku buat bilang kalau aku pengen kita resmi."
"Tapi Kakak nggak pernah bilang! Kakak cuma diam!" air mataku mulai jatuh.
"Diam adalah caraku melindungi diri, Fis. Dan sekarang aku sadar, mungkin kita memang nggak ditakdirkan untuk saling paham," ucapnya final. Ia berdiri, menatap ke arah lain seolah tak sanggup melihat wajahku yang basah oleh air mata.
"Kita selesaikan di sini ya? Sebelum kita benar-benar jadi pasangan dan malah saling menyakiti lebih jauh."
"Kak, jangan..."
"Maafin aku yang kaku ini, Fis. Kamu pantas dapat yang lebih 'hangat' dari aku," ucapnya tanpa menoleh lagi.
Dia melangkah pergi, meninggalkan aku yang hancur berkeping-keping di bangku taman itu. Kata-katanya bukan hanya mengakhiri hubungan kami, tapi juga menghancurkan harga diriku. Dia melepaskanku bahkan sebelum kita sempat memulai. Dia membiarkanku jatuh sendirian dalam lubang penyesalan yang dia gali sendiri.
Malam itu, aku pulang dengan jiwa yang benar-benar kosong. Dan di tengah kehancuran itu, aku mencari pelampiasan. Aku butuh seseorang untuk menambal lubang di hatiku, meskipun itu berarti aku harus bersikap jahat pada laki-laki tulus seperti Bintang yang selalu ada untukku.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2