Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burung kecil
Di kediaman megah keluarga Wijaya, suasana yang biasanya penuh keangkuhan kini berubah menjadi mencekam. Gion duduk di sofa ruang tamu dengan rambut berantakan, dasi yang sudah ditarik lepas, dan tumpukan surat peringatan dari bank yang berserakan di atas meja marmer.
"Gion! Bagaimana bisa?!" pekik Mama Ratih, suaranya melengking tinggi hingga terdengar ke seluruh penjuru rumah. "Pihak Sinar Pradipta baru saja menelepon. Mereka menarik semua investasi! Bukan cuma satu proyek, Gion, tapi SEMUA kerja sama! Mereka bilang manajemen kita buruk dan penyalahgunaan wewenang. Apa-apaan ini?!"
Gion memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Aku tidak tahu, Ma! Tiba-tiba saja ada restrukturisasi di sana. Zayn Malik tidak mau mengangkat teleponku. Dia bilang semua keputusan ada di tangan Direktur Utama yang baru."
"Lalu cari Direktur itu! Sujud di kakinya kalau perlu! Kita bisa bangkrut kalau dana mereka ditarik sekarang. Cicilan rumah ini, mobil sport kamu, koleksi tas Mama... semuanya dalam jaminan!" teriak Mama Ratih frustrasi.
Baru saja Gion hendak menjawab, suara deru mobil-mobil hitam terdengar berhenti tepat di depan gerbang. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka kasar. Sepuluh orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal masuk tanpa permisi. Langkah sepatu pantofel mereka yang berat menggema di lantai granit, menciptakan aura intimidasi yang luar biasa.
"Siapa kalian?! Beraninya masuk ke rumah orang tanpa izin!" bentak Mama Ratih, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya.
Pria yang berdiri paling depan, seorang pengacara dengan tatapan dingin, melangkah maju dan meletakkan sebuah map kulit di atas meja. Di belakangnya, sembilan pria lainnya berdiri diam dengan tangan terlipat di depan, membentuk barisan yang menutup jalan keluar.
"Tuan Gion Wijaya," ucap pengacara itu dengan nada datar. "Saya di sini mewakili Nyonya Laila Pradipta."
Gion tersentak. "Laila? Maksudmu... istriku? Dan apa tadi kamu bilang? Pradipta?"
"Mantan istri Anda, tepatnya," ralat pengacara itu dengan senyum tipis yang meremehkan. "Di dalam map ini adalah surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh klien kami. Beliau meminta Anda menandatanganinya sekarang juga. Tanpa syarat, tanpa harta gono-gini dari pihaknya, dan tanpa drama."
Mama Ratih tertawa sinis, meski suaranya sedikit bergetar. "Laila? Si yatim piatu itu? Dia mengirim preman-preman ini? Heh, bilang pada wanita tidak tahu diri itu, kami tidak akan melepaskannya sebelum dia mengganti rugi semua biaya hidup yang kami berikan selama ini!"
Salah satu pria berjas hitam maju selangkah, membuat Mama Ratih menciut. Pengacara itu kembali bicara, "Nyonya Ratih, saya sarankan Anda diam. Klien kami tidak lagi menggunakan nama Wijaya. Dia telah kembali ke keluarga aslinya, pemilik tunggal Sinar Pradipta Corporation. Jika Anda menolak tanda tangan ini, maka besok pagi, surat penyitaan aset atas nama gagal bayar hutang akan tiba lebih dulu daripada kopi pagi Anda."
Gion terpaku. Otaknya mencoba mencerna informasi itu. Laila... Pradipta... Sinar Pradipta.
"Jadi... Direktur Utama baru yang mencabut semua investasiku... itu Laila?" gumam Gion dengan wajah pucat pasi.
"Benar. Dan beliau berpesan," pengacara itu membungkuk sedikit ke arah Gion, "bahwa kerikil yang dulu Anda injak-injak, kini telah menjadi gunung yang akan menenggelamkan bisnis Anda jika Anda tidak kooperatif."
Gion gemetar. Ia menatap surat di depannya. Pena itu terasa sangat berat. Di bawah tatapan sepuluh pria misterius itu, Gion tidak punya pilihan. Dengan tangan yang menggigil, ia membubuhkan tanda tangannya. Satu goresan yang secara resmi mengakhiri statusnya sebagai suami Laila, sekaligus mengakhiri masa kejayaan keluarga Wijaya.
Setelah tanda tangan didapat, pengacara itu mengambil mapnya kembali. "Terima kasih atas kerja samanya. Oh, satu lagi. Kosongkan rumah ini dalam 24 jam. Tanah ini sudah beralih kepemilikan atas nama Laila Pradipta sebagai kompensasi kerugian perusahaan."
Para pria berbaju hitam itu berbalik dan keluar secepat mereka datang, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.
Mama Ratih jatuh terduduk di lantai. Ia menatap sekeliling rumah mewahnya—lampu kristal, lukisan mahal, dan pilar-pilar besar. Air matanya jatuh bukan karena sedih kehilangan menantu, tapi karena sadar bahwa dalam hitungan jam, dia akan menjadi gelandangan.
"Gion... apa yang sudah kita lakukan?" bisik Mama Ratih lirih. "Kenapa kita menyiksa putri dari orang paling berkuasa di negeri ini selama lima tahun?"
Gion tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya yang kosong. Ia baru saja membuang berlian demi sebuah kerikil bernama Sarah, dan sekarang, berlian itu kembali untuk menghancurkan hidupnya.
Sore itu, di balkon kantornya yang tinggi, Laila berdiri menatap matahari terbenam. Angin sepoi-sepoi memainkan rambutnya yang terurai. Di belakangnya, Zayn berdiri sambil membawa dua gelas jus jeruk.
"Sudah selesai. Gion sudah tanda tangan. Rumah itu sekarang milikmu kembali," ucap Zayn lembut sambil menyerahkan satu gelas pada Laila.
Laila menerimanya dan menyesapnya pelan. "Rasanya aneh ya, Zayn. Dulu aku menangis memohon agar tidak diusir dari rumah itu. Sekarang, aku yang mengusir mereka hanya dengan satu lembar kertas."
Zayn berdiri di sampingnya, memandang ke arah yang sama. "Itu namanya keadilan, Queen. Kau tidak mengusir mereka karena jahat, kau hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu sejak awal."
Laila tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih ringan. "Lalu, bagaimana dengan Sarah? Aku dengar ayahnya sedang sibuk mencari pinjaman ke sana-sini."
"Pak Surya sudah habis," jawab Zayn santai. "Tidak ada bank yang mau memberikan pinjaman pada orang yang sudah masuk daftar hitam Sinar Pradipta. Sarah? Dia pasti akan meninggalkan Gion dalam waktu singkat begitu tahu Gion tidak punya apa-apa lagi. Wanita seperti dia hanya setia pada angka di rekening, bukan pada orangnya."
Laila terkekeh. "Kau benar. Itu akan menjadi hukuman paling menyakitkan bagi Gion. Ditinggalkan oleh orang yang dia pilih di atas segalanya."
Tiba-tiba, ponsel Laila berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Laila tahu siapa pengirimnya.
Laila, maafkan aku. Tolong beri aku kesempatan bicara. Aku khilaf. — Gion.
Laila hanya menatap pesan itu tanpa ekspresi, lalu menekan tombol block dengan gerakan mantap. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku.
"Ada apa?" tanya Zayn penasaran.
"Hanya seekor serangga yang mencoba masuk kembali ke taman yang salah," jawab Laila santai.
Zayn tertawa renyah, suaranya terdengar sangat merdu di telinga Laila. "Bagus. Aku suka caramu menangani masalah. Jadi, karena hari ini adalah hari kebebasanmu yang resmi, bagaimana kalau kita merayakannya? Ada restoran baru yang koki-nya didatangkan langsung dari Italia."
Laila menoleh, menatap wajah Zayn yang tampan di bawah semburat cahaya oranye matahari. "Boleh. Tapi dengan satu syarat."
"Apa pun untukmu, Queen."
"Berhenti memanggilku burung kecil yang nakal di depan umum. Aku sekarang Direktur Utama," ucap Laila sambil menjulurkan lidahnya sedikit, sisi cerianya kembali muncul.
Zayn tertawa geli, lalu secara spontan merangkul bahu Laila. "Baiklah, Ibu Direktur Utama. Ayo, sebelum aku berubah pikiran dan mencubit hidungmu lagi di sini."
Laila tertawa, perasaan hangat itu kembali menjalar di hatinya. Ternyata benar, setelah badai yang begitu hebat, pelangi yang muncul jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan. Bersama Zayn, ia merasa tidak hanya memiliki kekuatan, tapi juga memiliki tempat untuk pulang.