(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 106: Tarian Pisau di Balik Malam
Di dalam kemegahan Istana Kerajaan Zhao, ketegangan akibat serangan binatang buas di perbatasan membuat pengamanan dilipatgandakan. Namun, bagi Zhao Xuan yang kini berusia dua belas tahun, penjagaan paling ketat dan sulit ditembus bukanlah dari ribuan Prajurit Lapis Baja, melainkan dari Sang Ratu.
Malam itu, di kamar tidur Zhao Xuan, udara terasa hangat bahkan terlalu hangat.
Sang Ratu sedang melilitkan selendang bulu rubah tebal ke leher Zhao Xuan, menutupi jubah tidurnya yang sudah berlapis tiga. Di meja samping tempat tidur, semangkuk sup akar teratai penenang jiwa masih mengepulkan asap.
"Ibunda... ini sudah musim semi," Zhao Xuan mencoba memprotes dengan nada sedatar mungkin, wajah tampannya nyaris tenggelam di balik tumpukan bulu rubah. "Aku tidak akan kedinginan. Dan aku sudah dua belas tahun."
"Tiga belas tahun di musim gugur nanti, dan kau masih bayiku yang paling kecil," Sang Ratu mencubit pipi Zhao Xuan dengan lembut namun penuh kekhawatiran. Matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. "Kakak Sulungmu sedang bertaruh nyawa di perbatasan utara melawan monster-monster gila itu. Ayahandamu tidak tidur berhari-hari di Aula militer. Ibunda tidak akan membiarkanmu keluar dari paviliun ini setelah matahari terbenam. Kau mengerti, Xuan'er?"
Di ambang pintu, Kakak Keduanya, Zhao Ling, bersandar sambil cekikikan menutupi mulutnya melihat adik bungsunya yang biasanya kaku kini diperlakukan layaknya boneka porselen.
Sebagai mantan penguasa Jalan Asura, Zhao Xuan pernah menatap wajah kematian tanpa berkedip. Namun, menghadapi tatapan cemas dan kasih sayang tulus dari ibunya, Niat Membunuh di dalam jiwanya bahkan tidak berani bergetar sedikit pun. Ia sama sekali tidak berdaya.
"Baik, Ibunda," Zhao Xuan menghela napas pasrah.
Sang Ratu tersenyum lega, mengusap kepala Zhao Xuan, lalu memaksa putranya itu menelan dua suap sup sebelum akhirnya keluar dari kamar bersama Zhao Ling. "Tidurlah yang nyenyak, sayang. Ibunda akan mengecek kamarmu lagi tengah malam nanti."
Pintu kamar ditutup rapat. Dua pengawal elit langsung berjaga di luar jendelanya.
Zhao Xuan segera melepaskan lilitan bulu rubah itu dan melompat turun dari tempat tidur. Waktunya sangat sempit. Ia tahu ibunya benar-benar akan kembali tengah malam nanti untuk memeriksa selimutnya. Jika ia ketahuan menghilang, seluruh istana akan gempar dan operasi sekte bayangannya akan hancur berantakan.
Zhao Xuan berjalan ke arah pembakar dupa di sudut ruangan. Ia merogoh kantong kecil di balik sabuknya dan menaburkan sejumput serbuk akar Mimpi Kupu-Kupu sebuah racikan fana yang tidak berbahaya, namun wanginya yang terbawa angin malam ke kamar Sang Ratu akan memastikan ibunya tertidur pulas hingga ayam berkokok tanpa terbangun sedikit pun.
Selanjutnya, Zhao Xuan menyusun guling dan bantal di bawah selimutnya sedemikian rupa, menirukan postur tubuhnya yang sedang meringkuk. Setelah memastikan segalanya sempurna, Zhao Xuan mengenakan jubah sutra hitam polos, menutupi wajah bagian bawahnya, dan menyelinap keluar melalui atap tanpa menimbulkan suara sedetik pun.
Sementara itu, ratusan mil dari Ibukota, angin malam di Lembah Kabut Perbatasan Utara membawa bau anyir darah yang sangat pekat.
Pasukan Kavaleri Lapis Baja Perak dari Kerajaan Zhao yang dipimpin oleh Putra Mahkota Zhao Tian, kini terjebak dalam formasi bertahan yang putus asa. Dari seribu prajurit, hanya tersisa kurang dari tiga ratus orang.
"Tahan formasi perisai! Jangan biarkan mereka memecah barisan!" raung Zhao Tian. Zirah peraknya penyok, dan sebuah luka cakar menganga di bahu kirinya.
Di sekeliling mereka, ratusan serigala bermata merah menyala seukuran lembu jantan sedang menggeram. Panah baja fana memantul dari bulu mereka yang telah mengeras. Ini adalah Binatang Iblis yang mulai bermutasi akibat kebocoran Qi.
Di atas sebuah tebing batu yang menghadap langsung ke lembah pembantaian itu, berdirilah seorang pria berjubah abu-abu. Ia memegang sebuah seruling tulang. Pria itu adalah utusan rahasia Kerajaan Yan, seorang kultivator yang baru mencapai Tahap Ketiga Pengumpulan Qi (Qi Condensation).
"Menyedihkan sekali, Pangeran Zhao," pria berjubah abu-abu itu tertawa, suaranya diperkuat oleh Qi hingga menggema. "Setelah kalian semua terkoyak malam ini, pasukan Yan akan berjalan santai mengambil alih Ibukota kalian!"
Pria itu mengangkat seruling tulangnya ke bibir, bersiap meniup nada tinggi untuk memicu serangan penghabisan.
Namun, di atas dahan pohon pinus raksasa di belakang tebing itu, kegelapan malam tampak sedikit bergeser.
Zhao Xuan berjongkok dengan tenang di atas dahan. Di bawahnya, lima siluet remaja berpakaian hitam ketat berlutut dalam diam. Mereka memegang belati melengkung. Pemimpin mereka adalah Jue Ying (Bayangan Pemutus), mantan ketua pengemis dari Lorong Tikus Hitam.
Zhao Xuan menatap kultivator dari Kerajaan Yan itu. Ia bisa saja memenggal kepala pria itu sendiri dalam seperseribu detik. Namun, Sekte Langit Asura tidak didirikan untuk menjadi penonton.
"Enam bulan yang lalu, kalian berebut roti berjamur di selokan," bisik Zhao Xuan, suaranya yang datar membuat darah kelima remaja itu berdesir panas. "Malam ini, kalian berhadapan dengan seseorang yang menganggap dirinya memiliki keajaiban langit. Buktikan padaku bahwa Seni Pembongkar Tulang yang kutanamkan di otot kalian sanggup merobek langit itu."
Zhao Xuan melirik Jue Ying. "Ujian kalian dimulai. Bunuh pawangnya. Sisakan mayatnya utuh untuk kupelajari meridiannya. Gunakan bayangan, momentum. Aku hanya akan menonton."
"Sesuai kehendak Asura," jawab Jue Ying tanpa suara.
Kelima bayangan itu melesat turun dari pohon pinus. Modifikasi brutal Zhao Xuan terhadap cara mereka memijak bumi membuat gerakan mereka tidak memicu hembusan angin sedikit pun.
Di ujung tebing, kultivator Kerajaan Yan baru saja menarik napas panjang.
Insting spiritualnya tiba-tiba merasakan bahaya. Ia segera memutar tubuhnya dan memadatkan sisa Qi di telapak tangannya untuk membentuk tameng angin tipis.
Dua murid Sekte Langit Asura melesat dari kiri dan kanan, menusukkan belati mereka.
"Hmph! Tikus pembunuh bayaran fana?!" kultivator Yan itu mendengus sinis saat tameng anginnya menahan ujung belati. "Senjata fana tidak akan bisa menembus perisai Qi—"
Namun, kedua bayangan itu tidak memaksakan dorongan pisau mereka. Sesuai ajaran Zhao Xuan, jika energi lawan lebih besar, gunakan momentum lawan untuk menghancurkannya. Mereka melepaskan gagang belati, menjatuhkan tubuh ke tanah, dan menyapu pergelangan kaki sang kultivator dengan tendangan memutar!
KRAK!
"AAARGH!" Kultivator itu menjerit. Tulang kering kanannya retak karena hantaman presisi pada titik butanya. Keseimbangannya hancur, dan tameng anginnya memudar seketika.
Tepat saat tameng itu menghilang, bayangan ketiga menendang pergelangan tangan sang kultivator, membuat seruling tulang itu terlempar ke udara. Bayangan keempat menangkap seruling itu dan meremukkannya di atas lutut.
"B-Beraninya kalian!" Kultivator itu meraung panik, mencoba merapal mantra bola api dengan tangan kirinya.
Namun, Jue Ying telah melesat dari atas, memanfaatkan gravitasi malam, dan mendarat tepat di punggung sang kultivator. Jue Ying tidak menggunakan pisau. Dengan akurasi bedah yang ditanamkan melalui latihan neraka, ia menusukkan buku jarinya ke dua titik saraf di pangkal bahu dan leher sang kultivator secara bersamaan.
Seni Pembongkar Tulang: Pengunci Meridian.
JLEB!
"Ukkk!!" Mata kultivator itu membelalak. Aliran Qi di tubuhnya bertabrakan karena sarafnya dikunci paksa. Bola api yang baru setengah terbentuk meledak ke dalam, membakar telapak tangannya sendiri.
Sebelum pria itu bisa merintih, Jue Ying mengunci leher sang kultivator dengan lengannya dari belakang, memiringkannya pada sudut yang fatal, dan memberikan satu sentakan yang tajam.
KRAAAK.
Bunyi patahan tulang leher menandai akhir dari sang kultivator sombong. Ia tewas seketika, dieksekusi oleh lima remaja fana yatim piatu dalam waktu kurang dari tujuh detik. Mayatnya utuh, tanpa setetes darah pun yang terbuang sia-sia.
Di lembah bawah, seiring matinya sang pawang, serigala-serigala raksasa itu kehilangan arahan dan kembali menjadi hewan liar pengecut yang lari terbirit-birit ke dalam hutan. Pasukan Kerajaan Zhao dan Kakak Sulungnya selamat.
Di atas tebing, Jue Ying dan keempat bayangan lainnya segera mengikat mayat utuh itu dan berlutut ke arah pohon pinus.
Zhao Xuan tidak turun dari dahannya. Matanya yang keemasan di balik bayangan mengawasi mereka dengan tingkat kepuasan yang dingin.
"Kalian lulus," bisik Zhao Xuan ke dalam malam. "Bawa mayat itu ke markas rahasia. Aku akan menyusul setelah urusanku di istana selesai."
Tanpa menunggu balasan, tubuh Zhao Xuan melesat kembali ke arah Ibukota. Malam semakin larut, dan ia memiliki batas waktu yang jauh lebih menakutkan daripada pasukan Kerajaan Yan: ia harus kembali ke tempat tidurnya sebelum pagi tiba.
Menjelang fajar, pintu kamar Pangeran Ketiga di Istana Kerajaan Zhao berderit pelan. Sang Ratu, yang baru saja terbangun dengan perasaan sangat segar berkat dupa Mimpi Kupu-Kupu, melangkah masuk dengan berjinjit.
Ia tersenyum hangat melihat gundukan selimut di atas tempat tidur. Ia merapikan ujung selimut itu, menatap wajah Zhao Xuan yang sedang "tertidur" dengan napas teratur, pipinya sedikit memerah. Sang Ratu tidak tahu bahwa putranya itu baru saja berlari melintasi ratusan mil dan memandu pembantaian di perbatasan.
"Mimpi indah, bayi kecilku," bisik Sang Ratu, mengecup lembut dahi Zhao Xuan sebelum keluar menutup pintu.
Di bawah selimut, Zhao Xuan perlahan membuka mata hitamnya. Jantungnya yang tadinya memompa darah dengan kecepatan tinggi akibat berlari kini telah kembali tenang. Ia menghela napas panjang, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Dunia luar mungkin mulai bergejolak dengan darah dan kultivasi, namun selama Ibundanya bisa tidur nyenyak dan tersenyum tanpa rasa takut, sang Asura rela bermain menjadi "bayi kecil" di siang hari, dan menjadi dewa kematian di malam hari.