Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 35
Waktu mengalir bagaikan sungai yang tenang namun tak tertahankan, mengikis sisa-basi masa kecil dan menggantinya dengan struktur kedewasaan yang keras.
Lima tahun telah berlalu sejak insiden di tepi danau dan perdebatan filosofis di bawah pohon cedar gereja.
Lima tahun yang bagi sebagian orang adalah waktu untuk tumbuh, namun bagi keluarga Eldersheath, ini adalah masa tenang sebelum badai besar bernama **Pelatihan Inti** menerjang.
--------
Di ruangan kerja yang dipenuhi aroma kertas tua dan kayu ek, Robert Eldersheath duduk tegak.
Rambutnya kini telah memutih sepenuhnya, namun sorot matanya justru semakin tajam, mencerminkan otoritas yang tak tergoyahkan.
Suasana hening itu pecah ketika pintu kayu berat terbuka tanpa ketukan yang sopan.
Aris melangkah masuk dengan gaya santai yang khas, tangan kirinya bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya.
"Kau memanggilku, Patriark? Kuharap ini bukan soal anggaran logistik lagi," ucapnya setengah berseloroh.
Robert tidak tertawa.
Ia meletakkan pena bulunya dan menatap instrukturnya itu dengan serius. "Waktunya sudah tiba, Aris. Lima tahun masa tunggu telah lewat. Aku ingin kau mengaktifkan protokol Pelatihan Inti sekarang juga."
Aris tertegun sejenak.
Ingatannya melayang pada janji lima tahun lalu tentang anak-anak generasi baru yang akan ditempa menjadi pedang klan. "Ah... sudah lima tahun ya? Waktu berlalu sangat cepat hingga aku hampir lupa bocah-bocah itu sekarang sudah mulai tumbuh gigi taring."
"Siapkan lokasinya. Kirimkan surat panggilan kepada semua kandidat tanpa terkecuali," perintah Robert dengan nada dingin.
"Siapa pun yang gagal dalam pelatihan ini tidak akan memiliki tempat di klan ini. Aku tidak butuh pewaris, aku butuh pemenang."
"Baiklah, Patriark. Akan aku laksanakan segera," jawab Aris.
Ia membungkuk singkat sebelum berbalik pergi, jubah perangnya berkibar, membawa aura ketegangan yang mulai menyebar ke seluruh kediaman.
---
Di sisi lain ibu kota, di dalam ruang latihan pribadi milik keluarga Hugo, suara dentingan logam yang beradu bergema tanpa henti.
Udara di dalam ruangan itu terasa jauh lebih dingin daripada di luar, seolah-olah embun beku menyelimuti setiap sudutnya.
Clara, yang kini telah menginjak usia 12 tahun, bergerak dengan kelincahan yang mengerikan.
Ia bukan lagi gadis kecil yang linglung. Visualnya kini telah berkembang menjadi seorang gadis muda yang sangat cantik; rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi, menonjolkan leher jenjang dan kulitnya yang putih pucat bagaikan porselen.
Matanya yang berwarna biru es berkilat tajam, fokus sepenuhnya pada lawan di hadapannya.
Ia mengenakan pakaian latihan ketat berwarna biru tua yang memudahkan pergerakannya.
Dengan sepasang pedang pendek, ia meluncur di atas lantai marmer, melancarkan serangkaian serangan cepat yang mengincar celah pertahanan gurunya, seorang ksatria paruh baya yang ahli dalam teknik pedang cepat.
*Clang! Clang! Slash!*
"Bagus, Nona Clara! Kecepatanmu meningkat drastis!" seru sang guru sambil menangkis tebasan silang Clara.
Clara tidak menjawab.
Ia memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk melakukan tendangan memutar yang dilapisi mana es tipis.
Namun, sang guru hanya tersenyum.
Dalam sekejap, pria itu mempercepat langkahnya, menghilang dari pandangan Clara selama sepersekian detik.
*Brak!*
Sebelum Clara bisa bereaksi, ujung pedang tumpul sang guru sudah berada di lehernya, sementara kaki pria itu menyapu tumpuan Clara hingga ia terjatuh terduduk di lantai yang dingin.
"Hah... hah..." Clara menghela napas panjang, peluh membasahi dahinya.
Ia menyeka keringat dengan punggung tangannya, menatap gurunya dengan tatapan yang masih penuh ambisi.
"Kelebihanmu adalah koordinasi antara mana dan gerakan fisik yang sangat sinkron. Kau sangat lincah," puji sang guru sambil mengulurkan tangan untuk membantu Clara berdiri.
"Namun kekurangannya, kau terlalu fokus pada serangan beruntun hingga melupakan pertahanan saat lawan melakukan *counter-burst* dengan kecepatan lebih tinggi. Ingat, seorang *Magic Sword* harus bisa membaca ritme lawan, bukan hanya menciptakan ritmanya sendiri."
"Aku mengerti... akan aku perbaiki di sesi berikutnya," jawab Clara dengan napas yang mulai teratur.
Tiba-tiba, seorang pelayan perempuan datang mendekat dengan terburu-buru, membawa nampan perak berisi sebuah surat dengan segel lilin merah berlambang kepala serigala klan Eldersheath.
"Nona Clara, maaf mengganggu latihan Anda. Ada surat undangan mendesak dari kediaman utama," ucap pelayan itu.
Clara menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan.
Begitu ia memecah segel dan membaca isinya, matanya melebar. "Lima tahun... ternyata benar-benar sudah tiba waktunya. Pelatihan Inti."
Senyum tipis muncul di wajah cantiknya. Inilah momen yang ia nantikan untuk membuktikan bahwa ia adalah calon *Magic Sword* terhebat di keluarga ini.
---
Jauh dari kemewahan pusat kota, di halaman belakang sebuah rumah yang sunyi, seorang pemuda bergerak bagaikan bayangan.
Ia memegang sebilah dagger hitam yang seolah-olah menyatu dengan telapak tangannya.
Gerakannya tidak seperti ksatria yang menggunakan tenaga besar; ia bergerak dengan efisiensi mematikan, melakukan tusukan dan putaran dagger yang begitu gesit hingga mata telanjang hampir tak bisa mengikutinya.
Setiap gerakannya membelah udara dengan suara *fush-fush* yang tajam.
Setelah melakukan satu putaran akrobatik terakhir, pemuda itu berhenti. Ia berdiri tegak, membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.
"Tuan Muda Ilwa..."
Lina berjalan mendekat dari balik pohon cedar.
Selama lima tahun ini, Lina telah tumbuh menjadi wanita muda yang tangguh, namun ia tetap setia menjalankan perannya sebagai pelayan sekaligus informan Ilwa.
Di tangannya, ia memegang surat yang sama dengan yang diterima Clara.
Ilwa membalikkan badannya.
Perubahan pada dirinya selama lima tahun ini sangatlah drastis. Ia bukan lagi bocah mungil yang terlihat sekarat.
Tubuhnya kini lebih tinggi dan atletis, meskipun tetap terlihat ramping.
Visualnya sangat menawan namun menyimpan aura misterius; rambutnya yang sedikit berantakan membingkai wajah dengan rahang yang tegas, dan rambut abu-abunya kini tampak seperti telaga yang tak berdasar, menyimpan kebijaksanaan ribuan tahun.
Meskipun penyakit *Aura-Lock* masih menyumbat sebagian besar sirkuit mananya, namun aura di sekitarnya terasa jauh lebih padat dan tenang.
"Kediaman utama?" Ilwa bertanya, suaranya kini lebih dalam dan berat, penuh dengan wibawa yang tenang.
"Benar, Tuan Muda. Panggilan untuk Pelatihan Inti telah tiba," jawab Lina sambil menyerahkan surat itu.
Ilwa menerima surat itu tanpa membacanya, ia hanya menatap lambang keluarga di segelnya dengan tatapan dingin yang sarat akan makna.
"Lima tahun ya... raga ini sudah cukup sabar menunggu. Akhirnya, panggung untuk menghancurkan mereka semua sudah disiapkan."
------
Asap cerutu yang pekat menyelimuti ruang kerja Marc yang megah di kediaman utama keluarga Eldersheath.
Cahaya senja yang masuk dari jendela besar hanya menyisakan bayangan panjang yang kaku di atas karpet beludru merah.
Marc duduk di kursi kebesarannya, menatap selembar surat resmi mengenai aktivasi **Pelatihan Inti** yang baru saja ia terima. Namun, alih-alih merasa bangga akan perkembangan Leo, putra kebanggaannya, matanya justru berkilat dengan amarah yang tertahan.
Ia meraih bel perak di atas mejanya dan membunyikannya dengan sentakan kasar.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Kepala pelayan pribadinya melangkah masuk dengan kepala menunduk, langkah kakinya nyaris tak terdengar, namun bahunya tampak menegang.
"Bagaimana kondisi rencana kita di lapangan?" tanya Marc tanpa basa-basi, suaranya berat dan penuh tekanan.
"Katakan padaku bahwa ada kemajuan sebelum aku kehilangan kesabaran."
Kepala pelayan itu menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
Ia ragu sejenak, jemarinya terkepal di balik punggung. "M-melapor, Tuan Marc... mengenai proyek ekspedisi mandiri kita di wilayah tersebut... selama dua tahun terakhir, rencana kita terus menemui kegagalan."
*Brak!*
Marc menggebrak meja mahoganinya hingga cangkir porselen di atasnya berdenting keras. Ia berdiri, wajahnya memerah karena murka. "Dua tahun! Ini sudah dua tahun sejak aku memutuskan untuk bergerak sendiri, dan kau berani mengatakan tidak ada hasil? Kenapa bisa gagal?! Apakah menelusuri hutan tandus itu sesulit menembus benteng kerajaan lawan?!"
Ingatan Marc melayang kembali ke perdebatan sengit dengan adiknya, Hugo, lima tahun yang lalu.
Hugo, dengan segala kehati-hatiannya yang membosankan, menolak untuk mendanai penggalian di **Lembah Veridia**.
Hugo mengkhawatirkan diplomatik dengan Kerajaan Spade dan rumor tentang monster tingkat tinggi.
Namun bagi Marc, itu semua hanyalah alasan pengecut.
Sejak saat itu, Marc memutuskan untuk menguras pundi-pundi cadangannya sendiri untuk membuktikan bahwa dialah yang benar.
Ia tidak peduli jika harus memicu gesekan di perbatasan; yang ia inginkan hanyalah kristal mana murni yang terkubur di sana.
"Tuan, wilayah itu... hutan Veridia seolah memiliki kehendak sendiri," kepala pelayan itu mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.
"Tim yang kita kirim tidak pernah kembali utuh. Mereka yang selamat hanya menceritakan tentang kabut yang menyesatkan dan suara-suara yang menghancurkan mental. Bahkan peralatan pendeteksi mana yang paling canggih sekalipun mendadak mati saat memasuki zona dalam."
"Aku tidak butuh alasan!" bentak Marc, ia berjalan menghampiri bawahannya itu dan mencengkeram kerah bajunya. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan menerima kegagalan lagi. Jika satu kelompok *mercenary* mati, sewa sepuluh kelompok lagi! Jika satu tim peneliti hilang, kirim seratus orang lagi! Gunakan keping emas terakhir jika perlu, tapi bawakan aku bukti kristal itu!"
Kepala pelayan itu membelalakkan matanya. "Tuan... jika kita melakukan itu lagi secara besar-besaran, bukankah Tuan Hugo akan mulai curiga? Beliau adalah pengawas anggaran keluarga. Jika terlalu banyak aliran dana yang tidak jelas untuk menyewa tentara bayaran, beliau pasti akan menanyakan alasannya."
Marc melepaskan cengkeramannya dengan kasar, mendorong pelayan itu hingga terhuyung.
Ia berbalik dan menatap peta wilayah perbatasan yang terpajang di dinding.
"Aku tidak peduli pada Hugo dan ketakutannya!" desis Marc dengan suara yang sarat akan kebencian.
"Lakukan saja apa yang aku katakan. Biarkan aku yang berurusan dengan si penghitung keping emas itu jika dia berani bertanya. Sekarang pergi, dan pastikan kontrak tentara bayaran baru sudah ditandatangani sebelum matahari terbit besok!"
Kepala pelayan itu membungkuk dalam, wajahnya pucat pasi saat ia pamit undur diri dari ruangan yang penuh aura kegilaan itu.
---
Sementara itu, di paviliun pribadi Ilwa, suasana terasa jauh lebih tenang namun memiliki ketajaman yang berbeda.
Ilwa baru saja selesai mandi; rambut abu-abunya masih basah, helai-helainya menempel di dahi dan lehernya yang kini terlihat lebih jenjang.
Ia mengenakan jubah tidur sutra berwarna hitam yang memperlihatkan postur tubuhnya yang mulai terbentuk—ramping, namun menyimpan kekuatan yang tersembunyi di bawah sirkuit mana yang tersumbat.
Lina berdiri di dekat jendela, wajahnya yang kini lebih dewasa tampak serius saat ia memberikan laporan rutin kepada tuannya.
"Lembah Veridia?" Ilwa mengulang nama itu, alisnya terangkat sedikit. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, gerakannya tenang dan terukur.
"Ada apa dengan wilayah itu, Lina? Seingatku itu hanya daerah perbatasan yang tidak menarik."
"Benar, Tuan Muda. Namun informasi di kediaman utama melaporkan bahwa Tuan Marc telah melakukan ekspedisi rahasia ke sana selama dua tahun terakhir," Lina menjelaskan, suaranya tetap rendah agar tidak terdengar ke luar kamar.
"Dia telah mengirimkan banyak kelompok tentara bayaran secara berkala. Anehnya, tak satu pun dari ekspedisi itu yang membawa hasil publik, dan banyak dari mereka yang dikabarkan menghilang tanpa jejak."
Ilwa terdiam sejenak, matanya yang berwarna abu-abu menatap kosong ke arah lilin yang menyala di sudut ruangan.
Pikirannya melayang kembali ke ribuan tahun yang lalu, mencoba mencari fragmen memori tentang wilayah Veridia.
"Ekspedisi rahasia di perbatasan Kerajaan Spade..." Ilwa bergumam, sebuah senyum tipis yang misterius muncul di sudut bibirnya.
"Marc bukan orang yang akan membuang-buang uang hanya untuk berburu monster tingkat rendah. Dia pasti mencium sesuatu di sana. Entah itu kekayaan, atau mungkin kekuatan kuno yang ia pikir bisa ia kendalikan."
Ilwa merasa heran. Dalam ingatannya sebagai Albus, wilayah itu memang dikenal memiliki anomali mana, namun ia tidak pernah menganggapnya sebagai hal yang krusial.
Namun, melihat betapa gigihnya Marc menghamburkan sumber daya keluarga selama dua tahun ini, Ilwa menyadari ada variabel baru yang tidak ia ketahui.
"Menarik," ucap Ilwa pelan. "Lina, terus awasi pergerakan pengiriman tentara bayaran itu. Jangan biarkan satu pun detail terlewat. Jika Marc begitu terobsesi pada Veridia, mungkin kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya membuat disana".
**BERSAMBUNG.**