Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Mas & Dek
Resepsi pun telah usai. "Gus, aku ke kamar dulu ya. Capek berdiri terus," kata Zira sambil berpamitan. "Iya, aku masih mau ngobrol sama teman-teman," balas Gus Nathan santai.
Zira pun mengajak kedua sahabatnya, "Ayo, kalian ikut ke kamar. Aku mau ngobrol sama kalian." Tanpa ragu, mereka bertiga berangkat menuju kamar Zira.
Setibanya di kamar, Zira langsung dihujani berbagai pertanyaan oleh kedua sahabatnya. Akhirnya, dengan perlahan, ia mencoba menjelaskan. "Iya, aku bakal cerita. Kalian masih ingat kan acara pesta bokapnya Zita? Saat itu aku ke toilet untuk buang air kecil. Di sana, aku melihat Gus Aryan seperti sedang kesakitan. Aku refleks nolongin dia dan memesankan kamar supaya dia bisa istirahat. Tapi saat aku mau pergi dari situ, dia malah menarikku... dan akhirnya kejadian itu terjadi..." ucap Zira dengan suara bergetar, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku dan Zita mengira kamu sudah pulang lebih dulu. Gak nyangka ternyata terjadi insiden ini," ujar Aliya. Kira-kira siapa ya yang menaruh obat di makanan atau minuman Pak Nathan? "lanjutnya.
"Siapa lagi kalau bukan Meli, rekan kerjanya Pak Nathan, "sahut Zita.
"Aku juga curiga sama dia, "tambah Zira.
"Kalau memang benar, ini sih bukan cinta lagi, tapi sudah obsesi. Ngeri banget", kata Aliya.
Aliya berkata dengan nada lembut, "Sudah, Zir, jangan menangis terus. Kalau ada apa-apa, kasih tahu gue atau Zita ya, oke? Oh ya, by the way, Pak Nathan ganteng banget."
Zita langsung mengomentari, "Gila lo, ngomong kayak gitu di depan istrinya sendiri."
Aliya pun melanjutkan, "Ya sudah, gue sama Zita pulang dulu, ya. Udah malam juga, siapa tahu lo mau istirahat."
"Iya, Zir. Kalau bisa malam pertamanya ditunda aja, ya. Kelihatan banget tadi lo capek, berdiri dua jam nonstop tuh kasihan," tambah Zita.
Zira tertawa kecil sambil menjawab, "Dasar kalian ini. Ya sudah, hati-hati di jalan, ya. Jangan mampir-mampir lagi. Terima kasih sudah nemenin gue dari akad sampai resepsi. Eh, by the way, ini udah malam kedua gue, tahu."
Zita dan Aliya pun berpamitan seraya bercanda ringan, "Bye-bye!"
Mereka berjalan turun ke lantai bawah, di mana keluarga Zira dan Gus Nathan sedang asyik berbincang. Zita lalu menyapa dengan sopan, "Om, Tante, kami pamit pulang dulu ya. Udah malam."
Mama Sarah menanggapi dengan ramah, "Lho, kenapa nggak nginep aja di sini? Pulangnya besok aja."
Aliya menjawab sambil tersenyum, "Nggak usah dulu, Tante. Takut malah ngerepotin Zira. Lain kali aja."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Atau mau dianter sama Pak Yanto?" tanya Mama Sarah.
"Nggak perlu repot, Tante. Kami bawa mobil kok," jawab Zita memastikan.
"Kalau begitu langsung pulang ya, jangan mampir-mampir," ujar Mama Sarah penuh perhatian.
"Siap, Tan. Assalamualaikum semua," ucap Aliya dan Zita bersamaan.
Mama Sarah melihat Nathan kelelahan karna seharian menyambut tamu. iterlihat sedikit khawatir dengan kondisi menantunya . "Nathan, mungkin kamu sudah lelah. Bagaimana kalau kamu istirahat sekarang?" ujar Mama Sarah dengan lembut. Nathan pun langsung merespons, "Iya, Ma.ini sekarang aku mau ke kamar Zira untuk istirahat. Assalamualaikum." Setelah mengucapkan salam, Mama Sarah membalas dengan suara penuh kasih, "Waalaikumsalam."
Nathan melangkah menuju tangga yang akan membawanya ke lantai atas, di mana kamar sang istri berada. Pikiran berkecamuk di benaknya saat ia sampai di hadapan pintu kamar Zira. Dengan ragu namun penuh niat baik, ia mengetuk pintu. "Assalamualaikum," ucap Nathan pelan. Zira yang tengah sibuk memenuhi rutinitas malamnya, mengenakan skincare di wajahnya, terkejut mendengar suara Nathan. Ia segera menghampiri pintu dan menjawab sambil membuka pintu, "Waalaikumsalam."
Nathan memandang Zira sejenak sebelum berbicara dengan nada hati-hati, "Zira, sebelum kita melangkah lebih jauh dalam hubungan ini, aku ingin menyampaikan sesuatu. Mohon maaf atas semua yang telah terjadi sebelumnya. Aku ingin memastikan bahwa kita memulai perjalanan ini tanpa ada masalah yang menggantung dan belum terselesaikan." Zira terdiam sejenak mendengar kata-kata Nathan sebelum memberikan balasan yang tulus, "Iya... Mungkin memang takdir kita harus melalui jalur seperti ini. Aku sudah memaafkan apa yang terjadi sebelumnya, tetapi untuk menjalankan kewajiban sebagai istri yang seharusnya aku belum siap."
Nathan memahami perasaan sang istri dan tidak berniat memaksanya. Dengan nada menenangkan, ia berkata, "Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu dalam hal ini." Nathan kemudian melanjutkan dengan pertanyaan yang terkesan sederhana namun bermakna, "Apakah kamu punya selimut tambahan untukku?" Zira agak terkejut dengan permintaannya dan bertanya kembali, "Eh... Ada sih. Tapi buat apa selimut tambahan?" Nathan menjelaskan dengan penuh pengertian, "Karena kamu bilang kita sebaiknya tetap menjaga batas sebagai suami istri untuk sekarang, aku rasa kita tidur di tempat terpisah malam ini." Zira mengangguk ringan sambil beranjak ke lemari untuk mengambil selimut tambahan.
Saat menyerahkan selimut pada Nathan, Zira bertanya sedikit cemas, "Apa gak papa kalau Gus, tidur di sofa malam ini?" Nathan tersenyum kecil sebelum menjawab dengan tenang, "Tidak apa-apa kok, Dek. Ini demi kenyamanan kamu juga." Mendengar panggilan 'Dek' dari suaminya membuat dada Zira terasa hangat, ia seolah ingin terbang ke awan rasanya. Nathan kemudian bertanya lagi dengan nada lembut, "Maaf ya... Boleh aku panggil kamu 'Dek'? Rasanya nyaman seperti itu." Zira langsung menjawab meski agak malu-malu, "Boleh kok, Gus."
Namun Nathan tiba-tiba memberikan permintaan lain yang membuat Zira sedikit gugup, "Dek... Boleh aku meminta satu hal lagi? Aku tahu biasanya orang memanggilku 'Gus', tapi aku ingin sesuatu yang berbeda darimu. Kalau kamu bisa, panggil aku 'Mas' saja." Zira sempat tergagap sebelum akhirnya mengangguk dan bergumam lirih dengan nada malu, "Baiklah... Mas."
Mengetahui bahwa sudah malam, Nathan pun mengajak Zira untuk segera beristirahat. Dengan senyum hangat ia berkata, "Kalau begitu sudah malam. Selamat malam ya, Dek." Zira pun menjawab pelan sambil menyembunyikan rasa gejolak di hatinya, "Malam Mas." Setelah itu ia segera berlari kecil menuju tempat tidurnya dan membenamkan tubuh di balik selimut. Namun matanya sulit untuk terpejam karena pikiran tentang perkataan dan sikap manis suaminya terus berputar dalam kepala.
Sementara itu, Nathan terlihat sudah terlelap di sofa, tidurnya begitu nyenyak tanpa terganggu sedikit pun. Dari tempat tidurnya, Zira melirik ke arahnya dengan hati yang resah. Dalam keheningan malam itu, pikirannya tidak henti-hentinya bergulat. Ia memandang Nathan dari kejauhan sambil bertanya-tanya dalam diam, bagaimana mungkin pria itu bisa tidur dengan begitu mudah sementara dirinya masih terus memikirkan setiap kata dan tindakan Nathan sebelumnya? Benarkah dia selalu bersikap semanis ini? Perasaan hangat yang aneh mulai menjalari hati Zira, bercampur dengan kegelisahan yang sulit ia pahami.