Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Cara menatap bintang-bintang yang bersinar terang malam ini, mengingatkannya akan kehidupannya yang miskin. Dulu setiap harinya, Sarah hanya merenung dan menatap langit malam, meratapi kehidupannya yang menyedihkan.
Orang tuanya menjadi sering bertengkar ketika mereka telah jatuh miskin. Ayahnya jarang sekali pulang dan ibunya selalu menyendiri karena stres. Meskipun begitu, orang tuanya masih berusaha untuk memenuhi kehidupan Sarah.
Cara sendiri bekerja sebagai waiters cafe yang gajinya tak seberapa. Begitu mengingat kembali masa-masa itu, membuat sarang menyadari betapa beruntung hidupnya saat ini. Sarah jadi tahu apa arti bersyukur yang sesungguhnya.
Tapi,,,
"Kenapa gue bisa kembali ke masa lalu ya? Gue pikir hal yang seperti ini cuma terjadi di film, novel dan sinetron aja,"gumam Sarah tak habis pikir.
Sarah akhirnya menggeleng tidak mau berpikir terlalu banyak, apapun alasannya, Sarah akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik. Ia akan menjadi wanita yang sukses dan bisa menghasilkan uang sendiri, lalu kemudian melanjutkan perusahaan papanya atau bahkan membuka bisnis sendiri. Kalau yang kedua, dirinya akan berusaha melupakan Marvin dan hidup fokus untuk dirinya sendiri dan juga orang tuanya.
Tapi sebelumnya ia memikirkan langkah hidup selanjutnya, pertama-tama dia harus mengisi perutnya yang sudah kosong.
"Makan Ketoprak enak kali ya!"
Sarah keluar untuk mencari makanan yang ingin ia makan, dengan hanya memakai kaos hitam kebesaran dan celana pendek berwarna abu-abu, rambutnya dia cepol asal sehingga menyisakan anak rambut di tengkuk dan pelipisnya.
"Mau kemana kamu, Sarah?"tanya mamanya begitu melihat Sarah berjalan melewati mamahnya itu di ruang tv.
"Aku mau beli ketoprak, mah. Mamah mau? Biar aku beli sekalian."
"Gak usah, kamu yakin mau keluar pakai pakaian kayak gitu?" Tanya mamahnya sambil menelisik pakaian Sarah.
"Iya mah. Lagi pula aku cuma sebentar kok, Aku mau beli ketoprak di depan komplek sana."
"Oh, yasudah, kamu hati-hati ya."
Setelah mendapatkan izin dari ibunya, segera Sarah beranjak pergi keluar rumah.
...
"Bang, ketoprak nya satunya. Gak pedes ya bang."
Setelah memesan makanannya, Sarah pun berjalan ke tempat duduk yang disediakan oleh sang penjual yang ingin makan di tempat. Sembari menunggu pesanannya, cara membuka sosial medianya, melihat-lihat apa yang sedang trending di masa ini. Dia juga meninjau hal-hal yang mungkin bisa ia manfaatkan. Saking fokusnya, Sarah sampai tidak memperhatikan sekitarnya.
Begitu ada sebuah piring yang berisi satu porsi ketoprak diletakkan di dekatnya, Sarah segera menarik piring tersebut agar lebih dekat ke arahnya. Cara mengira jika makanan tersebut merupakan pesananya, tanpa melepas fokus dari ponselnya, Sarah langsung melahap ketoprak yang ada di depannya.
"Ya ampun,," Sarah terkejut begitu lidahnya terasa terbakar karena ketoprak yang dia lahap sangat pedas.
"Bang, ini kok Ketoprak pesanan saya pedes banget?" tanya Sarah seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulutnya yang kepedasan.
"Loh, mbak itu bukan ketoprak pesanan mbak, itu ketoprak punya mas yang di depan mbak," ucap Abang ketoprak.
Seakan menyadari sesuatu, Sarah segera mendoakan kepalanya dan menatap seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di depannya.
"M-Marvin?"
Sarah terkejut Bukan main melihat kehadiran Marvin yang memakai pakaian serba hitam, sialnya dengan tampilan Marvin yang seperti itu membuatnya semakin terlihat menawan.
Sedangkan Marvin hanya diam saja menatap Sarah yang terkejut saat melihat keberadaannya.
Sarah menggelengkan kepalanya lantas menatap ke arah Marvin." A-aku, sumpah,,ngikutin lo. Eh? Maksudnya gak ngikutin lo." Sarah memukul pelan bibirnya sendiri karena bicaranya yang terlihat gugup. Ia melirik ke arah Marvin sekilas untuk melihat reaksi laki-laki itu, dia takut jika laki-laki itu mengira bahwa dirinya mengikuti laki-laki itu.
"Gue gak ngikutin lo, sumpah,"ujar Sarah lagi sambil mengacungkan dua jarinya. Tapi laki-laki yang ada di hadapannya tetap diam dan hanya menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tidak lama, ketoprak yang dipesan Sarah sudah datang. Tapi sayangnya keinginannya untuk menyantap makanan itu sudah tidak ada sejak kehadiran Marvin di depannya.
"Lo lagi hindarin gue ya?"
Sarah sontak mendongak kembali, sesaat dia menatap lurus ke arah kedua mata Marvin, kemudian dia segera mengalihkan pandangannya karena merasa takut.
"Engga."
Marvin menyeringai kecil." Lo lagi main tarik ulur kan?"
"Enggak." Ucap Sarah kembali menatap Marvin dengan tatapan yang meyakinkan, dia takut jika laki-laki itu salah paham. Tanpa sadar tangan Sarah bergetar karena takut jika harus berurusan dengan Marvin lagi, takut rencananya untuk melupakan laki-laki itu gagal dan akan kembali melukai Marvin seperti di kehidupannya yang sebelumnya.
"Gue-gue.."cara menelan salivanya." Gue mau pulang."
Sarah segera beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan Marvin dan pergi dari tempat itu setelah membayar ketoprak yang sama sekali belum dia nikmati. Lagi-lagi ia harus menahan lapar hanya untuk menghindari Marvin. Tapi tanpa diduga, tangannya ditahan oleh laki-laki itu.
"Lo kenapa hindarin gue?"Marvin menahan tangan Sarah sehingga membuat gadis itu bergeming.
"Bu-buk.." baru saja Sarah akan membuka suara, tiba-tiba dering telepon menginstruksi ucapannya.
Telepon Marvin berdering, laki-laki itu kemudian mengangkat teleponnya.
"Apa?"
"Oke, tunggu gue lima menit lagi." Hujannya kemudian telepon tersebut ditutup secara sepihak.
Martin melepas cengkramannya dari tangan Sarah, kemudian berjalan mendekat ke arah gadis itu. Cara perlahan mundur, tapi pinggangnya ditahan oleh laki-laki itu supaya dirinya tidak menghindar lagi. Tampan juga Marvin mengikatkan jaketnya di pinggang Sarah.
Marvin menyeringai tipis lalu pergi meninggalkan Sarah yang masih terpaku di tempatnya.
"Gila! Marvin Gila!"
...
Saat ini Sarah sedang bersih dekat di depan rak-rak gitu yang menjulang tinggi sembari berpikir. Sepertinya buku tentang bisnis menjadi salah satu list bacaan yang harus dia baca. Selanjutnya buku tentang berbagai jurusan yang dapat membantunya menjadi orang sukses di masa depan.
"Apapun yang terjadi gue harus tetap punya uang yang banyak!"ucap Sarah bertekad.
Sarah pun mulai membaca satu persatu tumpukan buku yang telah dia pilih sebelumnya. Beberapa saat kemudian, dirinya merasa kepalanya sedikit terasa pusing. Sejak dulu Sarah tidak menyukai yang namanya belajar, bahkan di kehidupan sebelumnya Setelah orang tuanya bangkrut sekalipun dia memilih untuk mencari kerja dan menghasilkan uang.
"Huh! Kenapa sih gue nggak paham-paham!"ujar Sarah kesal pada dirinya sendiri.
Dadanya naik turun karena kesal, di saat dirinya sedang berusaha untuk mencegah kebangkrutan orang tuanya di masa depan dengan belajar bisnis, tapi otaknya yang mungil ini malah tidak bisa diajak kompromi.
Sarah rasanya ingin menangis.
"Tumben banget lo baca buku?"
Sarah mendongak menatap ke arah sumber suara. Terlihat laki-laki dengan pakaian rapi layaknya siswa teladan pada umumnya. Laki-laki itu bersandar dengan santai di ujung rak buku sembari bersedekap dengan buku yang ada di tangan kirinya.
"Bisnis?" Ucap laki-laki itu ketika sudah berdiri di seberang meja yang ditempati Sarah.
"Nih, earphone Lo. Ketuker sama punya gue."
Sarah menelan ludah, earphone milik Fabian tak sengaja ia tinggalkan di rooftop. Sarah mana berani naik lagi ke atas sana apalagi jika di sana ada Marvin, laki-laki yang paling ingin ia hindari.
"Oh, iya?"
Fabian mengangguk." Mana earphone punya gue?"
"Eum,,anu.." Sarah tidak bisa menjawab, tidak mungkin kan kalau dia jujur dimana earphone laki-laki itu berada sekarang.
Fabian menatap Sarah, menunggu gadis itu untuk berbicara. Karena sudah bingung mau membuat alasan apa, akhirnya Sarah langsung meraih tangan laki-laki itu. " Earphone Lo ilang, maaf ya. Sebagai gantinya, earphone gue buat Lo aja," ujar Sarah lirih.
Fabian melepaskan genggaman tangan Sarah, kemudian menatap ke arah gadis yang ada dihadapannya itu. Sarah, gadis yang dia kenal sebagai seseorang yang arogan dan semaunya tiba-tiba meminta maaf?
"Kenapa? Lo nggak suka earphone nya ya? Atau kalau mau kita beli yang baru aja ya sebagai ganti earphone yang gue ilangin?"
Fabian menggeleng." Gak usah. Gua bisa beli yang baru sendiri." Tolak nya dengan halus, dia lalu menyodorkan earphone milik Sarah." Nih punya Lo."
"Eum,,buat Lo aja, gue gak enak soalnya udah ilangin earphone Lo."
"Gak perlu, earphone gue yang ilang lupain aja."
Fabian kemudian duduk berhadapan dengan Sarah.
"Mau ngapain?" Tanya Sarah bingung melihat Fabian yang melihat satu persatu buku yang ada di meja.
"Kenapa Lo tiba-tiba belajar bisnis?"
"Belajar cari duit lah."
"Lo jatuh miskin?"
Pertanyaan telak Fabian membuat tenggorokan Sarah tiba-tiba menjadi kering.
"Eum,,gak lah."
"Kenapa Lo hal jadi model aja? Lo kan cantik."
Sarah menatap wajah Fabian kemudian memalingkannya dengan cepat. Pipi Sarah terasa hangat setelah Fabian memujinya. Meskipun Sarah sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa dirinya cantik, tapi sampai saat ini belum ada yang mengatakannya secara langsung di hadapannya, dan Fabian lah orang yang pertama memujinya secara langsung.
"Pertama kalinya," cicit Sarah dengan suara yang hampir tidak bisa didengar.
"Apa?"
"Ini pertama kalinya ada yang bilang gue cantik."
Fabian terpaku sebentar lalau tersenyum, baru kali ini laki-laki itu melihat sisi imut dari Sarah yang arogan.
"Oh ya? Pantes muka Lo merah sampai telinga tuh."
Mendengar hal itu Sarah segera menutup kedua telinganya sembari menatap kesal ke arah Fabian.
"Lo cantik," ucap Fabian lagi dengan senyuman jahilnya.
"Udah stop ya Fabian! Dasar Lo buaya darat."
Fabian tertawa melihat wajah Sarah yang bertambah merah karena menahan kesal.
"Fabian! Sialan Lo!" Umpat Sarah kesal, ia memukul lengan laki-laki itu.
"Iya, maaf." Ucap Fanian menghapus setitik air mata yang keluar dari ujung matanya karena tertawa.
Fabian meudian mengeluarkan ponselnya, lalu mengarahkan lensa kameranya ke arah Sarah dan saat itu terdengar suara bidikan tanda bahwa laki-laki itu sedang memotret nya.
"Apaan si Lo?!"
"Jangan marah dulu, nih liat hasil fotonya. Bagus kan?" Ujar Fabian membalikkan layar ponselnya menghadap ke arah Sarah, supaya gadis itu bisa meliha hasil jepretannya.
"Tapi gue kurang tinggi, jadi gak bisa kalau jadi model."
"Gak perlu jadi model yang harus runaway, jadi model foto biasa jugakan bisa."
Sarah baru sadar, diamkan bisa menjadi selebritis sosial media. Di masa sekarang orang-orang sudah banyak yang memakai sosial media. Harusnya Sarah memanfaatkan hal itu, siapa tau dia bisa menjadi terkenal dan mendapatkan pemasukan dari sana, setelahnya dia akan membangun bisnis di bidang fashion atau ke cantikan.
"Benar juga, kenapa gue baru kepikiran ya," guman Sarah.
"Makasih banyak ya idenya." Ujar Sarah sembari tersenyum cerah. Ia pun pergi meninggalkan Fabian tanpa merapihkan buku-buku yang diambilnya.
"Sarah kampret!"