Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Pertempuran di Atas Awan
Tujuh kilat cahaya yang membelah langit malam di atas Hutan Bambu Ungu bukanlah bintang jatuh. Mereka adalah tujuh ahli ranah Inti Emas (Golden Core) dari faksi Teratai Berdarah, masing-masing membawa niat membunuh yang cukup untuk membekukan udara.
Li Chen merasakan berat tubuh Yue Yin di punggungnya. Napas wanita itu tersengal, dan suhu tubuhnya terus menurun akibat luka dalam yang parah.
"Pegang erat-erat, Yue Yin. Jangan lepaskan, apa pun yang terjadi," bisik Li Chen. Suaranya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan kegembiraan predator yang akhirnya menemukan mangsa yang layak.
"Nak, tujuh Inti Emas sekaligus adalah kegilaan bahkan bagi kultivator ranah yang sama," Kaisar Pedang memperingatkan. "Kau baru saja menyentuh ambang Inti Emas. Tubuhmu belum sepenuhnya beradaptasi dengan ledakan energi dari Penatua Ghost!"
"Kalau begitu, aku akan memaksa tubuh ini beradaptasi di tengah badai!" balas Li Chen dalam hati.
Li Chen menghentakkan kakinya. Tanah di bawahnya meledak, melontarkannya ke angkasa seperti peluru hitam. Ia tidak melarikan diri ke dalam hutan; ia justru terbang tinggi menembus lapisan awan ungu yang menyelimuti Kota Awan Jatuh.
Tujuh pengejar itu tertegun sejenak melihat keberanian Li Chen, namun segera mengikuti dengan kecepatan penuh.
"Bocah sombong! Kau pikir kau bisa lari ke langit?" teriak pemimpin pengejar, seorang pria kekar dengan kapak raksasa bernama Penatua Ba.
Di atas awan, dunia terasa berbeda. Cahaya bulan purnama menyinari hamparan awan yang putih bersih, menciptakan pemandangan yang damai namun mematikan. Li Chen berhenti di tengah udara, berbalik menghadap tujuh pengejarnya.
"Siapa yang bilang aku lari?" Li Chen mengangkat pedang Penelan Surga. Bilah patahnya mulai bergetar, menyedot energi bulan yang murni. "Aku hanya memilih tempat pemakaman yang luas untuk kalian."
"Mati kau!" Penatua Ba mengayunkan kapaknya. Gelombang energi berwarna merah darah berbentuk sabit raksasa melesat, membelah awan di jalurnya.
Li Chen tidak menghindar. Ia menggunakan tangan kirinya untuk melindungi Yue Yin, sementara tangan kanannya mengayunkan pedang patahnya dengan gerakan melingkar.
"Seni Penelan Bintang: Lubang Hitam Pembalik!"
Sebuah pusaran kegelapan muncul di depan Li Chen. Serangan kapak yang mematikan itu bukannya menghancurkan Li Chen, malah tersedot masuk ke dalam pusaran tersebut. Detik berikutnya, Li Chen memutar pedangnya dan memuntahkan kembali energi itu ke arah penyerang lainnya.
DUARRRR!
Dua ahli Inti Emas tahap awal yang tidak siap terlempar mundur, pakaian mereka terbakar oleh energi pemimpin mereka sendiri.
"Ilmu hitam macam apa ini?!" teriak salah satu dari mereka.
"Jangan beri dia waktu untuk bernapas! Gunakan Formasi Tujuh Bintang Berdarah!" perintah Penatua Ba.
Ketujuh orang itu segera berpindah posisi, mengelilingi Li Chen dari segala arah. Mereka menghubungkan Qi mereka, menciptakan jaring cahaya merah yang mengunci ruang di atas awan. Tekanan gravitasi meningkat seratus kali lipat secara tiba-tiba. Li Chen merasa tulang-tulangnya mulai berderak di bawah tekanan formasi tersebut.
Yue Yin meringis kesakitan di punggung Li Chen. "Li... Chen... lepaskan aku. Jika kau sendiri, kau bisa menembus ini..."
"Diam," potong Li Chen tegas. "Aku tidak pernah meninggalkan apa yang sudah menjadi milikku."
Li Chen merasakan Inti Hitam di Dantiannya berdenyut kencang. Energi dari Penatua Ghost yang belum sepenuhnya dicerna mulai memberontak. Alih-alih menekannya, Li Chen justru membuka seluruh gerbang energinya.
"Jika satu Inti Emas tidak cukup untuk menghancurkan kalian, maka aku akan membuka Gerbang berikutnya!"
Li Chen memegang gagang pedangnya dengan dua tangan, meskipun satu tangannya harus menahan posisi Yue Yin. Ia menarik napas yang seolah menyedot seluruh udara di sekitarnya.
"Gerbang Kelima: Pemakan Cakrawala!"
Ledakan energi hitam murni keluar dari pori-pori kulit Li Chen. Rambut hitamnya berdiri tegak, dan matanya berubah menjadi merah menyala sepenuhnya. Bayangan raksasa Kaisar Pedang muncul di belakangnya, memegang pedang ilusi yang besarnya mencapai puluhan meter.
"Tebasan... Kehampaan!"
Li Chen mengayunkan pedangnya. Kali ini, tidak ada suara. Tidak ada ledakan. Hanya ada garis hitam yang meluncur sangat lambat, namun membelah segala sesuatu yang dilewatinya—awan, cahaya bulan, bahkan jaring formasi merah itu sendiri.
KRAK!
Formasi Tujuh Bintang hancur berkeping-keping. Tiga ahli Inti Emas yang berada di jalur tebasan itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara sebelum tubuh mereka menguap menjadi abu hitam. Inti Emas mereka meledak, namun energinya tidak menyebar; energi itu ditarik paksa masuk ke dalam pedang Li Chen.
"Tiga lagi," gumam Li Chen, suaranya kini terdengar ganda—suaranya sendiri dan suara parau Kaisar Pedang.
Penatua Ba gemetar hebat. Tangannya yang memegang kapak tidak bisa berhenti bergetar. "Kau... kau adalah reinkarnasi Iblis Langit..."
"Tebakan yang bagus. Tapi hadiahmu adalah kematian," Li Chen muncul di depan Penatua Ba dalam sekejap mata.
Ia tidak menggunakan pedang. Ia memukul dada Penatua Ba dengan telapak tangan terbuka.
"Telapak Penelan Roh!"
Penatua Ba merasakan seluruh kultivasi yang ia bangun selama dua ratus tahun mengalir keluar seperti air bah. Wajahnya yang garang menyusut, otot-ototnya layu, dan dalam hitungan detik, ia hanya menjadi kerangka yang dibalut kulit, jatuh dari langit menembus awan.
Tiga pengikut yang tersisa benar-benar kehilangan nyali. Mereka memutar arah dan melarikan diri ke arah yang berbeda.
Li Chen tidak mengejar mereka. Ia merasakan dadanya panas. Tubuhnya telah mencapai batas maksimal penyerapan. Jika ia menyerap satu tetes energi lagi sekarang, tubuhnya akan meledak.
"Ugh..." Li Chen berlutut di atas awan yang mulai padat karena energinya. Ia memuntahkan darah hitam yang bercampur dengan percikan listrik merah.
"Li Chen!" Yue Yin turun dari punggungnya dengan susah payah, memegang pundak pemuda itu. "Jangan serap lagi! Kau akan hancur!"
Li Chen menatap Yue Yin. Di bawah cahaya bulan, wajah wanita itu tampak penuh kecemasan. Li Chen tersenyum tipis, tangannya menyentuh wajah Yue Yin yang ternoda darah.
"Aku... aku baik-baik saja," bisik Li Chen.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa dingin bergema dari kejauhan, jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah Li Chen hadapi sebelumnya.
"Luar biasa. Seorang pemuda Pembentukan Pondasi membantai tujuh Inti Emas. Jika aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya."
Sesosok pria mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman pedang emas di punggungnya muncul dari balik awan. Ia berdiri di atas pedang terbang yang memancarkan aura suci yang luar biasa.
Utusan Sekte Pedang Langit, Penatua Ling. Ahli ranah Jiwa Baru (Nascent Soul).
Li Chen mencoba berdiri, namun kakinya gemetar. Tekanan dari seorang ahli Jiwa Baru berada di level yang sepenuhnya berbeda. Hanya dengan berdiri di sana, Penatua Ling membuat ruang di sekitar Li Chen membeku.
"Berikan wanita itu dan Kunci Inti Teratai padaku, anak muda," kata Penatua Ling dengan nada meremehkan. "Kau memiliki bakat yang mengerikan. Jika kau menyerah sekarang, aku mungkin akan membawamu kembali ke Sekte Pedang Langit sebagai murid budak. Itu lebih baik daripada mati di sini."
Li Chen tertawa kecil, meskipun darah terus mengalir dari mulutnya. "Murid budak? Aku baru saja menelan tujuh anjing, dan sekarang seekor burung putih datang meminta makan?"
Mata Penatua Ling menyipit. "Kau mencari mati."
Ia mengangkat jarinya. Sebuah pedang kecil dari cahaya emas terbentuk di udara, siap untuk menembus dahi Li Chen.
Namun, sebelum pedang itu meluncur, Yue Yin melangkah ke depan Li Chen. Ia mengeluarkan sebuah bola kristal hitam dari balik bajunya—Kunci Inti Teratai.
"Penatua Ling! Jika kau maju satu langkah lagi, aku akan menghancurkan kunci ini! Kau tahu bahwa tanpa kunci ini, gerbang makam tidak akan pernah bisa dibuka!" teriak Yue Yin.
Penatua Ling berhenti. Wajahnya menjadi gelap. "Kau tidak akan berani, Yue Yin."
"Cobalah aku!" Yue Yin menempelkan jarinya pada kristal itu, memicu segel penghancur diri.
Suasana menjadi tegang. Li Chen menatap punggung Yue Yin. Ia merasa benci karena harus dilindungi, namun ia juga tahu bahwa saat ini ia butuh waktu beberapa menit untuk menstabilkan energinya.
"Nak, gunakan waktu ini! Masukkan energi yang bergejolak itu ke dalam pedangmu! Jangan biarkan tubuhmu menanggungnya sendiri!" instruksi Kaisar Pedang.
Li Chen segera bermeditasi sambil berdiri. Ia mengalihkan aliran energi liar dari Dantiannya menuju pedang Penelan Surga. Pedang itu mulai mengeluarkan aura merah yang semakin pekat, hampir menyerupai cairan darah.
Penatua Ling melihat apa yang dilakukan Li Chen. "Cukup sandiwara ini! Yue Yin, kau pikir aku tidak bisa mengambil kunci itu dari mayatmu sebelum ia hancur?"
Penatua Ling bergerak secepat kilat. Tapi tepat saat ia akan meraih Yue Yin, Li Chen membuka matanya.
"Bukan hari ini, Pak Tua!"
Li Chen melemparkan pedang patahnya ke arah Penatua Ling. Pedang itu tidak terbang lurus, melainkan menciptakan robekan ruang. Penatua Ling terpaksa menghindar, namun pedang itu kembali mengejarnya seperti memiliki nyawanya sendiri.
"Ayo pergi!" Li Chen menyambar pinggang Yue Yin.
Ia mengeluarkan sebuah jimat pelarian kuno yang ia ambil dari perbendaharaan Sekte Azure—Jimat Perpindahan Ribuan Mil. Ini adalah barang sekali pakai yang sangat berharga.
"Kau tidak akan lari!" teriak Penatua Ling, menebas pedang cahaya ke arah mereka.
BZZZZZT!
Cahaya putih menelan Li Chen dan Yue Yin tepat saat serangan Penatua Ling menghantam tempat mereka berdiri. Saat cahaya memudar, mereka telah menghilang. Hanya tersisa pedang patah Li Chen yang tertancap di gumpalan awan sebelum akhirnya pedang itu juga lenyap, kembali ke pemiliknya melalui ikatan darah.
Penatua Ling berdiri sendirian di atas awan, wajahnya merah padam karena murka. "Cari mereka! Tutup seluruh perbatasan selatan! Siapa pun yang menemukan mereka, hidup atau mati, akan diberikan hadiah sepuluh ribu batu energi tingkat tinggi!"
Sementara itu, ribuan mil jauhnya, di sebuah gua yang lembap dan gelap di kaki pegunungan terlarang, dua sosok muncul dari udara hampa.
Li Chen jatuh tersungkur, napasnya berat. Penggunaan jimat perpindahan dikombinasikan dengan luka-lukanya membuat kultivasinya hampir runtuh. Namun, ia merasa Inti Hitam di dalam dirinya kini benar-benar padat.
"Kita... kita selamat?" tanya Yue Yin lirih, mencoba memeriksa luka Li Chen.
"Untuk sekarang," jawab Li Chen. Ia menatap ke arah luar gua, di mana kabut beracun berwarna hijau menyelimuti hutan di bawah mereka. "Kita berada di Lembah Racun Kematian. Bahkan sekte besar pun tidak akan berani masuk ke sini sembarangan."
Li Chen menyandarkan punggungnya ke dinding gua. Ia menatap pedang patahnya yang kini kembali ke tangannya. Bilahnya kini memiliki retakan emas, tanda bahwa ia telah mulai mencerna energi Inti Emas para pengejar tadi.
Yue Yin duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Li Chen. "Kenapa kau melakukan ini semua, Li Chen? Kau bisa saja pergi membawa harta Azure dan hidup tenang di suatu tempat."
Li Chen menatap langit malam yang terlihat dari mulut gua. "Karena di dunia ini, ketenangan hanyalah ilusi bagi mereka yang lemah. Aku tidak ingin tenang, Yue Yin. Aku ingin mencapai puncak di mana tidak ada lagi orang yang bisa mengatur takdirku."
Ia menatap Yue Yin, dan untuk pertama kalinya, ada kelembutan di matanya yang merah. "Dan kau... kau adalah orang pertama yang memandangku sebagai manusia saat semua orang memanggilku sampah. Itu adalah hutang yang tidak bisa dibayar dengan batu energi."
Yue Yin tersenyum, lalu perlahan tertidur karena kelelahan. Li Chen tetap terjaga, menjaga wanita itu sambil mulai menyerap miasma beracun dari udara lembah untuk memulihkan kekuatannya. Di kegelapan itu, sang predator sedang memulihkan diri, siap untuk menjadi lebih menakutkan saat matahari terbit nanti.