NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Nyawa Orang Lain

Di London, suasana makan malam di penthouse Emrys terasa seperti sebuah perjamuan di dalam makam. Ruang makan yang megah dengan meja panjang dari kayu ek gelap itu biasanya menjadi pusat diskusi bisnis yang tajam, namun malam ini, denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng kematian yang lambat.

Emrys duduk di ujung meja, wajahnya tampak lebih tirus dari setahun yang lalu. Di sampingnya, Victor (ayahnya) yang biasanya berwibawa kini tampak lebih sering menunduk, memutar-mutar gelas wine tanpa berniat meminumnya.

Di hadapan mereka, Melton dan Gemini, orang tua Gaby, duduk dengan guratan duka yang tak bisa lagi disembunyikan oleh bedak atau pakaian mahal. Gemini hampir tidak menyentuh hidangannya. Matanya sembab, sebuah pemandangan yang menjadi rutin bagi siapa pun yang melihatnya setahun terakhir ini.

Mereka memang seringkali berkunjung ke Oxford-London hanya untuk menemani Emrys atau membahas perkembangan soal Gaby.

"Polisi di Swiss baru saja mengirimkan laporan nihil lagi, Victor," suara Melton pecah, memecah keheningan yang menyesakkan. "Mereka menyisir vila-vila terpencil di pegunungan, tapi tidak ada tanda-tanda Gaby pernah di sana."

Victor menghela napas berat, melirik putranya. "Emrys sudah mengerahkan tim intelijen swasta tambahan dari Rusia, Melton. Kita tidak akan berhenti. Kita punya semua sumber daya di dunia ini."

Emrys meletakkan garpunya. Ia tidak tahan melihat bibinya, Gemini, yang mulai terisak pelan. "Bibi, aku berjanji," suara Emrys rendah namun penuh penekanan yang bergetar. "Siapa pun yang membawanya, dia tidak hanya menculik seorang gadis. Dia menculik separuh dari nyawa keluarga ini. Aku akan menemukannya, meski aku harus membalikkan setiap jengkal tanah di Eropa."

Gemini menatap keponakannya itu dengan tatapan memohon. "Emrys, setahun ini... apa dia masih makan dengan baik? Apa dia kedinginan? Gaby-ku tidak bisa tidur tanpa lampu kecil yang menyala..."

.

.

.

Makan malam itu berakhir tanpa solusi, hanya meninggalkan rasa pahit yang semakin mendalam.

Suasana di London sangat kontras dengan kemewahan pulau tempat Gaby disekap.

Di pulau terpencil itu, makan malam bukanlah sekadar pengisi perut, melainkan sebuah pertunjukan kekuasaan yang dibungkus dengan kemewahan.

Cahaya lilin aromatik beraroma sandalwood dan amber menari-nari di atas meja marmer panjang. Di hadapan Gaby, tersaji Wagyu Rossini dengan siraman saus truffle hitam yang aromanya memenuhi ruangan. Namun, bagi Gaby, aroma itu selalu terasa seperti bau besi, bau darah koki Prancis yang tewas enam bulan lalu.

Sama seperti makan siang, Melvin tidak membiarkan Gaby duduk di kursinya sendiri. Pria itu menarik kursi utamanya, lalu memberikan isyarat dagu yang tak terbantahkan.

Gaby melangkah mendekat, gaun tidurnya yang berbahan sutra tipis menyapu lantai kayu. Dengan gerakan mekanis yang sudah terlatih selama setahun, ia duduk di pangkuan Melvin. Pria itu melingkarkan satu lengannya di pinggang Gaby, menariknya hingga punggung gadis itu menempel sempurna di dada bidang Melvin.

"Kau tampak pucat malam ini, Gaby girl," bisik Melvin. Rambut putihnya yang sedikit berantakan menyentuh pipi Gaby. "Apa kelinci tadi sore membuatmu terlalu lelah?"

Melvin mengambil pisau perak, memotong daging dengan presisi seorang seniman, lalu mengarahkannya ke bibir Gaby. "Buka mulutmu."

Gaby membuka mulutnya, menerima suapan itu tanpa ekspresi. Ia mengunyah pelan, merasakan tekstur daging yang sempurna di lidahnya, namun hatinya terasa kosong.

"Enak?" tanya Melvin, menatap Gaby dengan intensitas yang memabukkan.

"Iya," jawab Gaby singkat. Ia tahu, satu kata 'tidak' bisa berujung pada nyawa pelayan atau koki yang sedang gemetar di dapur sana.

Melvin tersenyum puas. Ia meletakkan pisaunya, lalu jemarinya mulai bermain di leher Gaby, menelusuri garis rahangnya dengan ujung kuku yang dingin. "Kau tahu, Emrys sedang makan malam dengan orang tuamu saat ini di London. Sangat menyedihkan. Mereka makan dalam kegelapan, sementara kau di sini, bersinar di bawah cahayaku."

Gaby tersentak pelan mendengar nama kakaknya disebut. Melvin menyadari reaksi itu. Ia memutar tubuh Gaby agar menghadapnya, membuat posisi mereka menjadi sangat intim. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Melvin mulai mencium Gaby. Sebuah ciuman yang penuh dengan klaim kepemilikan. Napas Melvin memburu, tangannya meremas pinggang Gaby hingga gadis itu mengerang kecil. Gaby bisa merasakan hasrat yang berkobar dari tubuh pria itu, sebuah api yang siap melahapnya kapan saja.

Namun, seperti malam-malam sebelumnya, Melvin tiba-tiba berhenti. Ia melepaskan bibir Gaby, lalu menyandarkan keningnya di kening gadis itu. Napasnya tidak beraturan, namun ia tidak melanjutkan lebih jauh.

"Belum saatnya, Gaby," bisik Melvin dengan suara serak yang penuh penekanan. "Aku ingin kau menyerah seutuhnya padaku. Bukan karena takut, tapi karena kau sadar bahwa hanya aku yang ada untukmu di dunia ini."

Gaby hanya terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia bersyukur sekaligus waspada. Selama Melvin masih memiliki "permainan mental" ini, ia masih aman. Namun ia tahu, kesabaran seorang Melvin Jabulani-Blackwood memiliki batas yang sangat tipis.

Malam di pulau itu tidak pernah benar-benar sunyi. Suara ombak yang menghantam tebing di kejauhan terdengar seperti detak jantung raksasa yang gelisah. Di dalam kamar utama yang luas, cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah gorden beludru, menyinari sosok Gaby yang meringkuk di bawah selimut sutra abu-abu.

Melvin belum tidur. Pria itu duduk di kursi berlengan tepat di samping tempat tidur, masih mengenakan kemeja hitamnya yang separuh kancingnya terbuka. Ia hanya diam, menyesap segelas whisky tanpa es, sambil memandangi Gaby yang sedang terlelap. Baginya, melihat Gaby tidur adalah bentuk meditasi. Melihat satu-satunya benda di dunia ini yang tidak bisa ia beli sepenuhnya.

Napas Gaby yang tadinya teratur mulai berubah pendek dan tersengal. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Di balik kelopak matanya, memori setahun lalu berputar kacau. Dimana ia menangis histeris saat Melvin membawanya dengan mobil SUV, menjauh dari kota Oxford.

"Kak..." suara Gaby keluar, nyaris seperti bisikan angin.

Melvin meletakkan gelasnya. Ia mencondongkan tubuh, matanya yang sebiru es menyipit dalam kegelapan. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Gaby, seolah ingin menangkap setiap getaran udara yang keluar dari sana.

"Emrys..." rintih Gaby lebih jelas kali ini. Air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam. "Emrys... jemput aku... tolong..."

Ruangan itu mendadak terasa membeku. Nama itu...nama yang paling dibenci Melvin terucap dengan penuh kerinduan dari bibir gadis yang telah ia simpan selama 365 hari. Setahun ia memberikan kemewahan, setahun ia menahan hasratnya, setahun ia memberikan "keamanan", namun di dalam lubuk hati terdalam Gaby, pria itu masih menjadi satu-satunya penyelamat.

Melvin tidak berteriak. Ia tidak membanting gelasnya. Namun, jemarinya mencengkeram lengan kursi kayu hingga terdengar bunyi retakan halus.

Ia mengulurkan tangan, mengusap air mata di pipi Gaby dengan ibu jarinya yang kasar. Sentuhannya tidak lagi lembut. Ada tekanan yang menuntut di sana hingga Gaby tersentak bangun dengan napas memburu.

Mata Gaby terbuka lebar, pupilnya membesar saat melihat wajah Melvin hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Kegelapan di mata pria itu jauh lebih menakutkan daripada mimpi buruk mana pun.

"Kau memanggilnya lagi, Gaby," suara Melvin terdengar seperti gesekan pisau di atas batu. Dingin dan mematikan.

Gaby membeku, jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. "M-Melvin... aku..."

"Setelah setahun? Setelah semua yang kuberikan?" Melvin merayap naik ke atas tempat tidur, mengurung tubuh Gaby di bawahnya. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Gaby dan menahannya di atas kepala gadis itu.

"Dengar baik-baik, Gabriella," bisik Melvin tepat di depan bibir Gaby. "Untukmu. Emrys Aetherion Kaito sudah mati di dunia ini. Dia tidak akan pernah datang. Dia tidak bisa melihatmu. Bahkan jika dia membakar seluruh London, dia tidak akan pernah menemukan titik koordinat tempat ini."

Melvin mencium leher Gaby dengan kasar, meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok. Sebuah klaim paksa yang ingin ia tunjukkan pada dunia jika saja dunia bisa melihatnya.

"Mulai besok," lanjut Melvin sembari menatap tajam ke dalam mata Gaby yang berkaca-kaca, "aku tidak ingin mendengar nama itu lagi. Jika aku mendengarnya sekali lagi, bahkan dalam tidurmu... aku akan memastikan robotku mengirimkan paket berisi jari manis koki baru kita ke kantor pusat Aetherion di London. Kau mengerti?"

Gaby hanya bisa mengangguk lemah, membiarkan air matanya jatuh membasahi bantal, menyadari bahwa di pulau ini, bahkan mimpinya pun tidak lagi menjadi miliknya.

Melvin perlahan melepaskan Gaby, sebuah gerakan yang terasa seperti rantai yang dilepaskan namun menyisakan rasa dingin yang mendadak. Ia bangkit dari kasur tanpa suara, tidak menoleh sedikit pun pada Gaby yang mematung.

Gaby tetap pada posisinya, berbaring telentang dengan napas yang tertahan. Matanya terbuka lebar, menatap kosong langit-langit kamar yang dihiasi ukiran klasik yang rumit. Di matanya, ukiran itu tampak seperti labirin tanpa jalan keluar. Persis seperti hidup yang sedang ia jalani saat ini. Ia tidak bergerak, bahkan ketika ia mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

Di balik pintu kaca buram, Melvin menyalakan shower.

Bunyi gemericik air yang menghantam lantai marmer menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian malam. Melvin berdiri di bawah guyuran air hangat, membiarkan uap panas memenuhi ruangan hingga pandangannya mengabur. Selama lima menit penuh, ia hanya diam membiarkan air membasahi rambut putihnya dan mengalir menyusuri otot punggungnya yang tegang.

Ia seolah sedang mencoba membasuh sisa-sisa amarah atau mungkin rasa frustrasi karena menyadari bahwa meski ia memiliki tubuh Gaby dalam pelukannya setiap malam, hati gadis itu masih berkelana ribuan mil jauhnya, mencari sosok pria lain dalam mimpinya.

Uap air hangat masih mengepul dari tubuh Melvin saat ia melangkah keluar dari kamar mandi, menyisakan aroma sabun maskulin yang tajam dan dingin. Rambut putihnya yang basah jatuh berantakan di dahi, membuatnya tampak sedikit lebih manusiawi, namun tetap saja predator.

Gaby memunggungi sisi tempat tidur, memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengatur napasnya agar terdengar berat dan teratur, mencoba meyakinkan pria di belakangnya bahwa ia telah tenggelam kembali ke alam bawah sadar. Jantungnya berdentum keras di balik rusuk, seolah takut detaknya akan mengkhianati sandiwara kecilnya.

Kasur itu melesak pelan saat Melvin merangkak naik. Gaby merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh pria itu, kontras dengan seprai sutra yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, lengan kokoh Melvin melingkar di pinggang Gaby, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada dadanya yang masih sedikit lembap.

Melvin membenamkan wajahnya di antara rambut Gaby, menghirup aromanya dengan tarikan napas panjang yang terdengar sangat posesif.

"Aku tahu kau tidak tidur, Gaby," bisik Melvin, suaranya kini rendah, serak, dan berbahaya.

Gaby tetap bergeming, namun jemarinya mencengkeram ujung selimut di bawah sana. Ia bisa merasakan kecupan dingin Melvin di bahunya yang terbuka, sebuah sentuhan yang terasa seperti tanda klaim permanen.

"Tidurlah," lanjut Melvin, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun penuh penekanan. "Bermimpilah tentangku. Karena di luar pulau ini, duniamu sudah runtuh. Hanya di sini, di bawah perlindunganku, kau tetap utuh."

Melvin mengeratkan pelukannya, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Gaby akan menguap menjadi debu. Gaby hanya bisa pasrah, merasakan napas Melvin yang mulai stabil di tengkuknya.

Setahun berlalu, dan setiap malam selalu berakhir seperti ini. Sebuah pelukan yang seharusnya terasa seperti perlindungan, namun bagi Gaby, itu adalah rantai yang paling berat untuk dipikul. Ia terjaga dalam kegelapan, menatap dinding kamar yang mewah, menyadari bahwa satu kesalahan lagi, satu igauan lagi bisa berarti nyawa bagi orang lain di rumah ini.

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!