NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Frustrasi

Dua hari sejak Bram pulang, rumah Menteng terasa seperti ruangan yang semakin sempit.

Yuni bergerak di dapur dengan kecurigaan yang tidak pernah diucapkan. Ardi melihatnya—cara Yuni memperhatikan ketika mereka berada di ruangan yang sama, cara matanya mengikuti tanpa terlihat mengikuti, cara dia tiba-tiba muncul di lorong tepat ketika mereka sedang bicara pelan.

Bram tidak melihat. Atau memilih tidak melihat. Ayahnya sibuk dengan telepon, sibuk dengan laptop di ruang keluarga, sibuk menjadi Bram Hartono yang tidak pernah benar-benar hadir.

Tapi Yuni melihat.

Dan Ardi merasakannya seperti duri yang tidak bisa dicabut.

Pagi itu, Ardi turun lebih lambat dari biasanya.

Yuni sudah selesai menyiapkan sarapan. Maya duduk di meja dengan secangkir kopi hitam, menatap taman di luar jendela. Bram sudah ke kantor sejak subuh.

"Pagi," sapa Ardi.

Maya menoleh. "Pagi. Yuni buat bubur ayam."

Ardi mengambil mangkuk, mulai makan. Yuni berdiri di dekat wastafel, membasuh piring. Tapi Ardi tahu wanita itu mendengarkan—telinganya seperti antena yang selalu menghadap ke arah yang paling perlu didengarkan.

"Bram ke kantor?" tanya Ardi.

"Iya. Ada rapat dengan investor."

"Sampai malam?"

"Mungkin makan malam di luar."

Ardi menghela napas—pelan, tidak terlihat. Malam ini mereka akan sendirian. Tapi Yuni masih di sini.

"Bu Maya," Yuni memecah keheningan, suaranya ramah seperti biasa. "Kemarin saya lihat Ibu beli sayur di Pasar Baru. Saya biasanya belanja di Pasar Minggu, lebih murah."

"Iya. Lain kali kita ke Pasar Minggu."

"Ibu suka jalan-jalan sendiri?" Yuni tidak menoleh dari piringnya, tapi pertanyaannya tepat sasaran.

"Kadang."

"Jangan sendiri, Bu. Nanti saya temani."

Ardi menatap Yuni dari balik mangkuk. Wajahnya ramah, tidak ada yang aneh. Tapi di balik kata-kata itu ada sesuatu yang terasa seperti peringatan—atau jebakan.

"Pak Ardi," Yuni berganti sasaran.

"Ya?"

"Sarapan Bapak kurang? Saya tambah?"

"Tidak, makasih."

Yuni mengangguk, kembali ke wastafelnya.

Ardi menghabiskan bubur cepat, berdiri. "Aku ke kantor."

"Hati-hati," kata Maya, tanpa menoleh.

Di lorong, Ardi mengambil jaket. Dari balik pintu dapur, terdengar suara Yuni: "Pak Ardi rajin sekali ya, Bu. Setiap pagi berangkat pagi."

"Iya. Dia bertanggung jawab."

"Mirip ayahnya."

Maya tidak menjawab.

Ardi tidak menunggu. Dia keluar, masuk mobil, melaju meninggalkan rumah dengan sesuatu yang tidak nyaman mengganjal di dadanya sepanjang jalan.

Kantor tidak memberikan ketenangan.

Grafik penjualan di layar masuk akal, tapi pikirannya tidak. Ponselnya bergetar.

Yuni mulai bertanya tentang kamu.

Ardi mengetik: Apa yang dia tanya?

Kapan kamu pulang, apakah kamu makan malam di rumah, apakah kamu punya pacar.

Kamu jawab apa?

Jujur. Aku bilang kamu punya Sari.

Lalu?

Dia bilang, "Baguslah, Pak Ardi punya pendamping."

Ardi menghela napas. Pesan lain masuk sebelum dia sempat membalas.

Ardi, aku takut. Dia melihat kita. Aku yakin.

Kita belum melakukan apa-apa di depannya.

Tapi cara aku melihatmu. Cara kamu melihatku. Itu sudah cukup.

Ardi ingin membantah. Tapi dia tahu Maya benar—dia tidak bisa menyembunyikan cara matanya selalu mencari Maya di setiap ruangan, cara senyumnya berbeda ketika Maya yang bicara, cara tubuhnya tanpa sadar condong ke arahnya.

Kita harus lebih hati-hati.

Atau kita berhenti.

Ardi berhenti. Jari-jarinya menggantung di atas layar.

Berhenti. Kata yang mudah diketik, mustahil dilakukan.

Kamu bisa berhenti? tulisnya.

Maya tidak membalas. Lima menit. Sepuluh menit. Layar tidak berubah.

Ardi membuka jurnal di laci.

Maya bilang kita harus berhenti. Aku tidak tahu dia serius atau hanya menguji. Tapi aku takut. Bukan takut ketahuan—aku takut dia benar-benar pergi. Yuni sudah curiga. Aku melihatnya setiap pagi. Sementara Bram tidak melihat apa-apa. Atau memilih tidak melihat. Mungkin lebih mudah berpura-pura semuanya normal. Seperti aku. Seperti kita semua.

Dia menutup jurnal. Di luar jendela, langit Jakarta mendung—gelap yang menggantung, tidak mau jadi hujan, tidak mau pergi.

Ardi pulang lebih cepat dari biasanya.

Pukul enam. Yuni masih di dapur. Maya di ruang keluarga, membaca buku. Ketika Ardi masuk, matanya sebentar terangkat, lalu turun lagi.

"Pulang cepat," katanya.

"Kerjaan selesai." Ardi meletakkan jaket, duduk di seberang. "Yuni masih lama?"

"Sampai delapan."

Diam. Dari dapur, suara panci mendidih, pisau di talenan, air mengalir. Suara rumah yang normal. Tapi Ardi merasakan setiap menitnya seperti sesuatu yang dihitung.

"Kamu belum jawab pesanku," bisiknya.

Maya menutup buku, meletakkannya di meja samping. "Apa yang harus aku jawab? Kamu tahu aku tidak bisa berhenti."

"Aku juga."

Maya menatapnya, matanya lelah. "Tapi kita tidak bisa terus begini. Yuni sudah curiga. Suatu hari Bram akan tahu—"

"Aku yang akan tanggung."

"Kau tidak bisa menanggung semuanya sendiri." Suaranya berbisik, tapi nadanya tidak. "Ini hidupku juga. Jika skandal ini pecah, aku yang dihakimi lebih dulu. Istri yang selingkuh dengan anak tiri. Aku yang akan jadi sampah di mata semua orang."

Ardi meraih tangannya. Dingin. Sedikit gemetar. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi."

"Kau tidak bisa mengendalikan semua orang."

"Aku akan bicara dengan Yuni."

Maya menarik tangannya. "Jangan. Itu akan membuatnya semakin curiga."

"Maya—"

"Kita harus lebih pintar." Suaranya patah di ujung. "Tidak bertemu berdua di siang hari. Tidak saling memandang terlalu lama. Tidak—" Maya berhenti. "Tidak tersenyum setiap kali melihat satu sama lain."

Ardi menatapnya. Di bawah lampu ruang tamu yang redup, Maya cantik dengan cara yang menyakitkan—mata basah, bibir digigit menahan tangis. Dia ingin memeluknya. Tapi Yuni hanya beberapa meter dari mereka, dengan telinga yang tidak pernah benar-benar sibuk.

"Aku tidak bisa berhenti tersenyum padamu," bisik Ardi.

Maya menutup mata. Air mata jatuh tanpa suara. "Kita bodoh."

"Aku tahu."

"Kita monster."

"Aku tahu."

Maya membuka mata, menatap Ardi dengan kelelahan yang tidak punya dasar lagi. "Malam ini. Setelah Yuni pulang."

Ardi mengangguk.

Tidak perlu bertanya apa maksudnya.

Yuni pulang pukul delapan.

Suara pintu dapur. Kunci diputar. Langkah kaki yang menjauh. Lalu sunyi.

Ardi menunggu di ruang keluarga, mendengar langkah Maya di lantai atas—bolak-balik, seperti seseorang yang tidak bisa diam. Dia menaiki tangga, menghindari papan lantai yang berdecit.

Pintu kamar Maya setengah terbuka.

Ardi masuk tanpa mengetuk.

Maya berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap pintu. Rambutnya tergerai, bajunya putih dan tipis, tembus cahaya bulan. Di meja samping, lilin aromaterapi menyala—lavender mengisi ruangan, samar tapi ada.

Ardi menutup pintu. Menguncinya.

Maya tidak bergerak. "Yuni pulang?"

"Iya."

"Dia tanya kenapa aku tidak makan malam."

"Kamu jawab apa?"

"Sakit kepala."

Ardi berjalan mendekat, berhenti satu langkah di belakangnya. Wangi sampo Maya—bunga dan sesuatu yang manis, familiar sekarang, terlalu familiar.

"Ardi," bisik Maya tanpa menoleh.

"Hm?"

"Apa yang kita lakukan?"

Pertanyaan yang sama. Tapi nadanya berbeda dari malam di lorong dulu—bukan panik, bukan kemarahan. Hanya kelelahan yang dibungkus kata tanya.

"Kita mencari sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan di tempat lain," jawab Ardi pelan—mengulang kata-katanya sendiri dari malam yang lain.

Maya berbalik. Matanya basah, pipinya merah, bibirnya sedikit menggigit. Di bawah cahaya lilin, dia terlihat rapuh sekaligus kuat—kuat dengan cara yang membuat Ardi ingin melindunginya, meski dia tahu dialah yang paling berbahaya untuk Maya.

"Aku takut," bisik Maya.

"Takut apa?"

"Takut suatu hari kau lelah. Lelah menyembunyikan, lelah berbohong. Dan kau memilih Sari."

Ardi menyentuh pipinya. Hangat, sedikit basah. "Aku tidak akan lelah."

"Kau bilang begitu sekarang. Tapi nanti? Setahun lagi?"

Ardi tidak menjawab.

Karena dia tidak tahu. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setahun lagi—apakah Bram akan tetap buta, apakah Yuni akan terus diam, apakah mereka masih bisa menyembunyikan ini atau apakah semua ini sudah terlalu besar untuk disembunyikan.

Tapi malam ini, dia tidak ingin memikirkan itu.

Dia mencium Maya.

Bukan ciuman putus asa seperti di lorong. Bukan yang pelan di depan jendela. Ini lapar—ciuman yang sudah tertahan terlalu lama, ciuman orang yang tahu waktu mereka tidak tak terbatas.

Maya membalasnya dengan intensitas yang sama. Tangannya meraih kerah kemeja Ardi, mendorongnya mundur sampai punggungnya membentur dinding.

"Aku ingin kau," bisiknya di antara napas.

"Aku juga."

Maya melepaskan kemejanya kancing per kancing. Ardi membiarkan, tangannya mendorong baju tipis Maya naik, merasakan hangatnya di bawah telapak tangan.

Maya menggigit bibir bawah Ardi—tidak keras, hanya cukup. "Kau tidak bisa berhenti, kan?"

"Tidak."

"Aku juga."

Maya menuntunnya ke ranjang, mendorongnya duduk di tepi. Ardi menatap dari bawah—cahaya lilin membentuk bayangan di tubuhnya, rambutnya terurai, matanya gelap dengan sesuatu yang tidak punya nama.

Maya berlutut di depannya, membuka sabuk Ardi dengan jari-jari yang gemetar.

"Maya—"

"Diam." Pelan, tapi tegas. "Malam ini aku yang memutuskan."

Ardi tidak membantah.

Dia membiarkan segalanya—tangan Maya yang dingin di kulitnya, malam yang tidak bisa dia hentikan, pilihan yang sudah tidak terasa seperti pilihan lagi.

Karena malam ini, dia juga tidak ingin berpikir.

Setelahnya, mereka berbaring di ranjang yang kusut.

Maya di dada Ardi, jari-jarinya menggambar lingkaran. Lilin masih menyala—meleleh perlahan, menggenang di tempatnya.

"Yuni tahu," bisik Maya.

"Kita tidak tahu pasti."

"Aku tahu." Maya mendongak. "Hari ini, setelah kamu pergi, dia bilang, 'Ibu, jaga jarak dengan Pak Ardi.'"

Ardi menegang. "Dia bilang itu?"

"Aku tanya kenapa. Dia bilang, 'Saya lihat Ibu dan Pak Ardi terlalu akrab. Orang bisa salah lihat.'" Maya tersenyum pahit. "Sopan. Tapi maksudnya jelas."

Ardi menutup mata. Yuni yang selalu tersenyum, yang selalu bertanya dengan nada peduli. Ternyata lebih tajam dari yang mereka kira.

"Kita harus berhenti," kata Ardi.

Maya mendongak, mencari sesuatu di wajahnya. "Kamu yakin?"

"Tidak." Dia membuka mata, menatap langit-langit. "Tapi sepertinya kita tidak punya pilihan."

Maya tidak menjawab. Dia meletakkan kepala di dada Ardi lagi, menggenggam tangannya erat.

"Besok," bisiknya. "Kita putuskan besok."

"Malam ini?"

"Malam ini aku tidak mau memikirkan itu."

Ardi membalikkan badan, menghadap Maya. Di cahaya lilin yang mulai padam, wajahnya lembut, matanya setengah tertutup.

"Aku mencintaimu," bisik Ardi. Untuk pertama kalinya—tanpa jeda, tanpa hitung-hitungan.

Maya membuka mata. Air mata mengalir, jatuh ke bantal. "Kenapa baru bilang sekarang?"

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Jika aku mengakuinya, aku tidak akan bisa berpura-pura lagi."

Maya tersenyum—basah, patah. "Kita tidak perlu berpura-pura di sini."

Ardi mencium keningnya. "Aku juga mencintaimu," bisik Maya di dadanya.

Malam itu mereka tertidur dalam pelukan. Lilin padam satu per satu. Rumah Menteng sunyi—hanya napas mereka dan detak jam di lorong yang terus bergerak, tidak peduli.

Tapi besok, Yuni akan datang.

Besok, mereka harus berpura-pura lagi.

Besok, keputusan yang tidak pernah bisa mereka buat akan menunggu—sama sabarnya, sama tanpa ampunnya.

Malam ini, mereka memilih untuk tidak memikirkan itu.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!