seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Retak di Balik Cahaya
Gerimis tipis membasahi bangku kayu di taman rumah sakit saat jarum jam menunjukkan tepat pukul 13:30. Shafira duduk terpaku, jemarinya menggenggam erat sebuah amplop cokelat tanpa nama yang baru saja diletakkan seorang kurir misterius di sampingnya.
Di dalamnya terdapat selembar foto usang dan beberapa dokumen digital yang telah dicetak. Foto itu memperlihatkan Dave muda, sekitar sepuluh tahun lalu, berdiri di tengah sebuah pesta liar dengan tangan memegang botol minuman dan merangkul seorang wanita dalam keadaan setengah sadar.
Namun, yang membuat jantung Shafira serasa berhenti berdetak adalah dokumen di bawahnya: sebuah bukti transfer besar dari rekening Dave kepada seorang pria yang diklaim sebagai korban tabrak lari yang identitasnya disembunyikan.
Dunia seolah melambat saat Shafira melihat sosok Dave muncul dari kejauhan. Pria itu datang tanpa setelan jas mahalnya. Ia mengenakan kemeja katun biasa dengan lengan yang digulung hingga siku, membawa sebuah kantong plastik berisi makanan kecil untuk Pak Rahman. Tidak ada lagi mobil mewah yang mengawal, tidak ada lagi sorot mata angkuh. Namun, ketenangan yang Dave bawa justru terasa mengintimidasi Shafira saat ini.
Dave berhenti tepat di depan Shafira. Ia menyadari ada yang salah saat melihat wajah Shafira yang pucat dan mata yang memerah. Pandangannya jatuh pada foto yang tergeletak di pangkuan wanita itu. Seketika, senyum hangat yang baru saja Dave pelajari menghilang, digantikan oleh guncangan hebat di dadanya.
"Shafira, aku bisa menjelaskan ini," suara Dave rendah, hampir berbisik, namun sarat akan kepedihan.
Shafira berdiri perlahan, membiarkan foto itu jatuh ke atas tanah yang basah.
"Apakah pria di foto ini adalah pria yang sama dengan pria yang bersujud di depan Ayah saya kemarin? Apakah semua kelembutan ini hanya cara Bapak untuk menebus dosa masa lalu yang begitu gelap? Bapak menolong Ayah saya... atau Bapak sebenarnya sedang membayar utang rasa bersalah atas nyawa orang lain yang pernah Bapak hancurkan?"
Dave menarik napas panjang, matanya tidak beralih dari mata Shafira. Perjuangan gigihnya untuk berubah kini dihadapkan pada cermin masa lalunya yang paling busuk.
"Pria di foto itu adalah aku yang dulu, Shafira. Pria yang dibentuk oleh kebencian ibuku dan kekosongan jiwaku. Aku tidak akan menyangkal bahwa aku pernah tersesat. Tapi soal transfer uang itu... itu adalah fitnah terakhir ibuku. Dia memanipulasi catatan keuangan lama untuk membuatku terlihat seperti kriminal."
Dave melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa melihat butiran air hujan di jilbab Shafira.
"Aku datang ke sini hari ini bukan sebagai CEO yang memiliki segalanya. Aku datang sebagai pria yang baru saja kehilangan kantornya, hartanya, dan mungkin sebentar lagi... kehilangan harapan satu-satunya. Jika kau ingin aku pergi karena masa laluku, aku akan pergi. Tapi jangan pernah ragukan satu hal: perasaanku padamu bukan bagian dari penebusan dosa. Kamu adalah alasan kenapa aku ingin berhenti menjadi monster."
Shafira menggeleng, air matanya kini luruh menyatu dengan rintik hujan.
"Bagaimana saya bisa tahu mana yang nyata, Dave? Bapak sangat mahir dalam negosiasi. Bapak sangat hebat dalam menyusun strategi. Bagaimana jika saya hanya salah satu strategi Bapak untuk terlihat seperti 'orang baik' di mata publik?"
"Lihat mataku, Shafira!" suara Dave meninggi karena emosi, namun ia segera menahan diri. Ia kembali merendahkan suaranya, penuh dengan kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Di duniaku, semuanya adalah transaksi. Tapi saat aku melihatmu shalat di ruang sempit kantorku, saat aku melihatmu tetap tegar meskipun dihina, aku menyadari ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan saham. Aku sedang berjuang, Shafira. Berjuang melawan diriku sendiri, melawan ibuku, dan sekarang... berjuang meyakinkanmu bahwa aku benar-benar mencintaimu dengan cara yang paling terhormat yang aku bisa."
Dave berlutut di atas tanah yang becek, tepat di depan Shafira. Ia tidak peduli jika celana mahalnya kotor atau jika ada pasien lain yang melihat. Tindakan ini adalah bentuk penyerahan diri yang paling elegan. Ia tidak menyentuh Shafira, ia hanya menatapnya dari bawah.
"Aku tidak punya takhta lagi untuk diberikan padamu. Aku hanya punya janji ini: jika kau mengizinkanku tetap di sampingmu, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan kau tidak pernah menyesal telah mempercayaiku. Jika kau butuh bukti, tanyakan pada hatimu, bukan pada kertas yang dikirim oleh orang yang ingin menghancurkan kita."
Shafira tertegun melihat Dave yang berlutut. Keangkuhan yang dulu menjadi ciri khas pria itu telah lumat sepenuhnya. Di hadapannya kini hanyalah seorang manusia yang sedang memohon pengampunan dan kesempatan.
Perjuangan Dave yang begitu gigih, mulai dari masjid hingga ke tanah basah ini, menunjukkan bahwa ketertarikannya bukan lagi sekadar obsesi, melainkan sebuah pengabdian.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru memecah suasana. Rio datang dengan napas tersengal.
"Pak Dave! Maaf mengganggu, tapi Ibu Sarah... beliau baru saja dilarikan ke ICU. Beliau mencoba mengakhiri hidupnya di dalam sel setelah mendengar Bapak menyerahkan seluruh aset pribadi untuk karyawan. Beliau meninggalkan sebuah surat... untuk Nona Shafira."
Shafira dan Dave saling berpandangan. Labirin kesetiaan mereka kembali diguncang oleh intrik yang lebih gelap. Bu Sarah tidak berhenti dengan fitnah; ia kini menggunakan nyawanya sendiri sebagai senjata terakhir untuk memisahkan mereka.
Dave berdiri perlahan, ia membantu Shafira mengambil kembali foto yang terjatuh tanpa menyentuh tangannya.
"Kejarlah kebenarannya, Shafira. Pergilah ke rumah sakit tempat Ibuku berada. Aku akan di sini, menjaga Ayahmu. Jika setelah membaca surat itu kau tetap ingin aku pergi... aku akan menghilang dari hidupmu selamanya."
Shafira menatap Dave untuk terakhir kalinya sebelum berlari menuju mobil Rio. Ia menyadari bahwa cinta Dave bukan hanya soal kata-kata, tapi soal kerelaan untuk melepaskan jika itu memang yang terbaik untuk wanitanya.
.