NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Jendela besar di ruang tamu apartemen Felysha memantulkan wajahnya yang tampak pucat di bawah cahaya lampu ruang yang sengaja ia buat remang-remang. Ia baru saja mengganti mantel hitamnya dengan sweter rajut abu-abu yang longgar, mencoba menghalau sisa-sisa dingin yang masih menempel di kulit lengannya setelah jalan-jalan malam tadi. Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi teh chamomile yang sudah tidak lagi mengepulkan uap ia pegang erat, memberikan sedikit kehangatan pada telapak tangannya yang masih terasa kaku.

Ia melangkah pelan menuju balkon, namun tidak membukanya. Ia hanya berdiri di balik kaca, menatap ke arah Menara Eiffel yang kini sedang melakukan pertunjukan cahaya lampunya yang berkelap-kelip setiap jam. Pemandangan itu seharusnya sangat indah, tipe pemandangan yang akan membuat ribuan orang di bawah sana bersorak atau mengambil foto dengan pasangan mereka. Namun, bagi Felysha, kerlip lampu itu terasa seperti pengingat akan kesunyian yang mencekik di dalam apartemen seluas seratus meter persegi ini.

Ia menyesap tehnya yang kini terasa hambar di lidah. Pikirannya melayang pada pasangan yang ia lihat di tepi sungai Seine tadi—cara pria itu membenarkan posisi syal si wanita, atau bagaimana mereka tertawa tanpa beban. Felysha menyentuh lehernya sendiri, meraba kalung emas putih pemberian Julian yang melingkar di sana. Kalung itu terasa berat, bukan karena logamnya, tapi karena makna di baliknya. Ia merasa seperti manekin di butik yang ia lewati tadi; dipakaikan perhiasan mahal, diletakkan di tempat paling strategis, namun tidak memiliki nyawa untuk berbicara.

Felysha berbalik, berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi oleh tumpukan kain muslin dan penggaris pola. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas tatakan kayu, lalu menarik kursi kerjanya yang empuk. Ia meraih sebuah pensil sketsa, mencoba menggambar sesuatu untuk mengalihkan rasa sepi yang mulai merayap naik ke tenggorokannya. Namun, setiap kali ujung pensilnya menyentuh kertas, bayangan Julian yang sedang tersenyum sinis di layar ponsel selalu muncul sebagai penghalang. Ia membanting pensil itu ke meja, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.

Suara detak jam dinding di ruang tamu terdengar sangat dominan, seolah sedang menghitung setiap detik kesepian yang ia lalui. Felysha bangkit lagi, merasa tidak tahan dengan kesunyian di dalam kamar. Ia berjalan menuju dapur, membuka kulkas, dan menatap deretan botol jus organik yang tersusun rapi. Semuanya berlabel harga yang mahal, semuanya pilihan Julian. Ia tidak mengambil apa pun, hanya menutup kembali pintu kulkas dengan bunyi deb yang solid, yang bergema di seluruh ruangan.

Ia memutuskan untuk menyalakan televisi, berharap suara dari layar bisa mengisi kekosongan di sekelilingnya. Layar datar itu menampilkan sebuah film romantis Prancis tanpa terjemahan. Felysha tidak mengerti semua dialognya, namun ia bisa menangkap emosi dari tatapan mata para pemerannya. Ia melihat mereka makan malam di sebuah bistro kecil dengan meja kayu yang sempit, tertawa sambil minum wine murah. Felysha menatap meja makannya sendiri yang terbuat dari marmer Italia, luas dan bersih, namun tidak pernah ada suara tawa di sana.

Rasa sesak itu kembali muncul. Felysha mematikan televisi dengan sekali tekan, kembali melemparkan remote ke atas sofa beludru. Ia merasa Paris sedang mengkhianatinya. Kota ini katanya adalah kota paling romantis di dunia, namun baginya, Paris hanyalah sebuah sangkar kaca yang sangat megah. Semakin banyak ia melihat keindahan di luar sana, semakin ia menyadari betapa hampa hidup yang ia jalani saat ini. Ia merasa seperti orang yang sedang berada di tengah pesta pora namun tidak diizinkan untuk mencicipi setetes pun minuman.

Ia berjalan menuju kamar tidurnya, menanggalkan sweternya dan menggantinya dengan piama sutra berwarna biru tua—warna favoritnya, namun kini warna itu hanya mengingatkannya pada judul hidupnya sendiri. Ia merayap masuk ke bawah selimut yang tebal, merasakan tekstur seprai yang sangat halus namun dingin. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, dihiasi oleh ukiran gips yang rumit. Di tengah kemewahan ini, Felysha merasa seperti butiran debu yang tidak berarti.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Ada satu pesan masuk dari Julian yang belum ia baca dari dua jam yang lalu.

Julian: Kamu sudah tidur? Aku baru saja selesai rapat. Ingat besok Andre akan menjemputmu lebih awal untuk fitting gaun di butik Madame Vionnet. Aku ingin kamu terlihat paling menonjol di acara kedutaan nanti.

Felysha tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya kembali dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia menarik selimutnya hingga menutupi telinga, mencoba menulikan rungu dari suara deru angin yang sesekali menghantam jendela apartemennya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi bantal sutranya. Ia menangis tanpa suara, hanya bahunya yang sesekali bergetar hebat. Rasa sepi ini bukan karena ia tidak punya siapa-siapa, tapi karena ia memiliki seseorang yang tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Julian mencintai "ide" tentang Felysha—mahasiswi berprestasi, calon istri yang patuh, objek yang bisa dipamerkan. Namun Julian tidak pernah tahu tentang kegemaran Felysha pada aroma buku tua, atau bagaimana ia merasa sangat tenang saat melihat hujan turun di atas sungai Seine. Julian mencintai Felysha sebagai sebuah trofi, bukan sebagai manusia. Dan di tengah Paris yang romantis ini, kesadaran itu memukulnya jauh lebih keras daripada dinginnya musim gugur.

Felysha merubah posisi tidurnya menjadi miring, memeluk bantalnya erat-erat seolah bantal itu bisa memberikan pelukan yang ia butuhkan. Ia menatap ke arah celah tirai yang membiarkan sedikit cahaya lampu kota masuk. Di kejauhan, ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara sirene atau klakson mobil. Di luar sana, ribuan orang sedang menjalani hidup mereka, berinteraksi, dan merasakan koneksi satu sama lain. Sementara di sini, di lantai lima gedung mewah ini, Felysha Anindhita hanyalah sebuah nama dalam jadwal harian Julian.

Ia mencoba memejamkan mata, memaksa pikirannya untuk kembali ke kenangan masa kecil di Jakarta, saat ayahnya masih ada. Ia ingat bagaimana ayahnya akan membawakan martabak manis setiap pulang kerja, dan mereka akan makan bersama di meja makan kayu yang sederhana. Tidak ada marmer, tidak ada sutra, tapi ada suara. Ada kehidupan. Kehangatan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh seluruh kekayaan Julian, dan kenyataan itu membuat tangis Felysha semakin pecah.

Malam semakin larut, dan suhu di dalam kamar terasa semakin turun meskipun pemanas ruangan sudah menyala. Felysha masih terjaga, matanya yang sembap menatap kosong ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Ia merasa terjebak dalam sebuah naskah film yang ia benci, namun ia dipaksa untuk terus berakting sampai babak terakhir. Ia menyadari bahwa perjalanannya malam tadi tidak memberikan kebebasan yang sesungguhnya, hanya memberikan cicipan singkat yang membuat rasa laparnya akan hidup yang nyata menjadi semakin menyakitkan.

Di tengah kesunyian yang mencekam, Felysha akhirnya mulai memejamkan matanya karena kelelahan emosional. Ia berharap besok pagi ia akan bangun dengan perasaan yang lebih kuat, meskipun ia tahu bahwa saat matahari terbit, ia harus kembali memakai topengnya. Ia harus kembali menjadi tunangan yang sempurna, mahasiswi yang rajin, dan boneka cantik di dalam sangkar emas Paris. Ia membiarkan kegelapan malam menyeretnya masuk ke dalam tidur yang gelisah, di mana dalam mimpinya, ia masih berjalan sendirian di atas aspal basah Paris, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apakah masih bisa ia temukan.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!