Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sore itu, rumah terasa sangat sepi. Hanya suara detak jam dinding di ruang tengah yang menemani langkah Ziva menuruni tangga. Niatnya sederhana: ia ingin mencari air dingin dan mungkin sedikit camilan untuk meredakan kepalanya yang masih pening karena kejadian di kantor polisi tadi siang.
Baskara sedang berada di halaman belakang, mungkin sedang membersihkan sisa-sisa air di jemuran atau mengecek mesin pompa, meninggalkan ponsel dinasnya tergeletak begitu saja di atas meja kopi ruang tengah. Ziva melirik ponsel hitam itu dengan sinis. Ia teringat bagaimana pria itu menyita ponselnya sendiri di kantin tadi.
Ting!
Layar ponsel Baskara menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk. Ziva awalnya berniat mengabaikannya—ia bukan tipe orang yang suka mengintip privasi orang lain. Namun, matanya menangkap sebuah kata kunci di baris pertama notifikasi tersebut: "Update Lamaran Kerja - Zivanya Aurora."
Darah Ziva seolah berhenti mengalir. Rasa kepo yang awalnya tipis mendadak meledak menjadi api yang membara. Dengan tangan gemetar, ia mendekati meja dan mengintip layar yang masih menyala itu.
HRD Bank Nasional: "Selamat sore, Pak Baskara. Sesuai instruksi Anda sebelumnya, berkas lamaran atas nama Zivanya Aurora sudah kami masukkan ke daftar blacklist internal untuk posisi analis. Kami akan memberikan alasan administratif standar jika yang bersangkutan bertanya. Terima kasih atas kerja samanya."
Ziva mematung. Kepalanya terasa kosong sejenak sebelum akhirnya dipenuhi oleh suara dengungan kemarahan yang luar biasa. Selama berminggu-minggu ini, ia merasa menjadi kegagalan terbesar. Ia, lulusan ekonomi terbaik, harus menelan pil pahit ditolak oleh belasan perusahaan tanpa alasan yang jelas. Ia bahkan sempat menangis diam-diam karena merasa gelarnya tidak berguna.
Dan ternyata... dalangnya adalah orang yang tidur di bawah atap yang sama dengannya.
"Maksudnya om-om ini apaan coba!" desis Ziva, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.
Tepat saat itu, pintu belakang terbuka. Baskara melangkah masuk sambil menyeka tangannya dengan handuk kecil. Ia berhenti saat melihat Ziva berdiri di depan meja kopi dengan mata yang berkilat marah dan wajah yang seputih kapas.
"Ziva? Kamu sudah bangun?" tanya Baskara datar, belum menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar.
Ziva menunjuk ponsel di meja dengan telunjuk yang gemetar hebat. "Lo... lo bener-bener gila ya, Kak? Lo mau sabotase hidup gue ya?! Setelah lo bikin kakak gue mati, sekarang lo mau bikin gue mati pelan-pelan dengan cara bikin gue nggak punya masa depan?!"
Baskara tertegun. Ia melirik ponselnya, lalu kembali menatap Ziva. Ekspresinya yang kaku kini berubah menjadi sedikit panik, meski ia mencoba menutupinya dengan ketenangan palsu. "Ziva, dengerin dulu. Aku bisa jelasin—"
"Jelasin apa?! Jelasin kalau lo pake koneksi polisi lo buat blacklist nama gue di semua perusahaan?" teriak Ziva. Air mata amarah mulai mengalir deras di pipinya. "Kenapa, Kak? Kenapa lo lakuin ini? Lo mau gue selamanya jadi tawanan di rumah ini? Lo mau gue bergantung terus sama uang lo supaya lo ngerasa udah nebus dosa lo ke Kak Kirana?!"
Baskara melangkah maju, mencoba meraih bahu Ziva, namun gadis itu mundur dengan jijik. "Aku cuma mau kamu aman, Ziva! Pekerjaan yang kamu lamar itu jam kerjanya berantakan, lokasinya di daerah rawan, dan aku nggak bisa jagain kamu dua puluh empat jam kalau kamu kerja di sana!"
"Gue nggak butuh dijagain! Gue butuh hidup gue balik!" Ziva memukul dada bidang Baskara dengan kepalan tangannya yang kecil. "Lo jahat! Gue makin benci sama lo, Baskara! Lo pikir dengan nahan gue di sini, Kak Kirana bakal hidup lagi? Enggak! Lo cuma bikin gue makin ngerasa lo itu monster!"
Baskara terdiam, ia menerima pukulan-pukulan lemah Ziva tanpa membalas. "Aku kehilangan Kirana karena aku lalai menjaganya hari itu, Ziva. Aku nggak akan membiarkan hal yang sama terjadi sama kamu, meskipun kamu harus benci aku selamanya."
"Lalai menjaganya?" Ziva tertawa getir di tengah tangisnya. "Lo bukan lalai menjaganya, Kak. Lo selamat di saat dia nggak! Dan sekarang lo mau bayar rasa bersalah lo dengan cara ngebunuh mimpi-mimpi gue?"
Ziva merenggut tas kecilnya yang ada di sofa, memberikan tatapan paling benci yang pernah ia miliki kepada Baskara. "Lo bukan suami gue. Lo cuma penjaga penjara yang pake seragam polisi."
Tanpa menunggu balasan lagi, Ziva langsung berlari menaiki tangga. Suara langkah kakinya yang berdebam diikuti oleh suara pintu kamar yang dibanting sangat keras.
BRAKK!
Cklek!
Ziva mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia merosot di balik pintu, membenamkan wajahnya di lutut dan menangis sejadi-jadinya. Rasa kecewa, marah, dan terkhianati bercampur menjadi satu. Ia merasa seluruh dunianya telah dirampas. Pertama kakaknya, lalu kebebasannya, dan sekarang kariernya.
Di bawah, Baskara berdiri terpaku di tengah ruang tengah yang kini terasa sangat dingin. Ia mengambil ponselnya, menatap pesan dari HRD itu dengan penyesalan yang mendalam. Ia tahu ia telah melangkah terlalu jauh. Ia bermaksud melindungi, namun yang ia lakukan justru menghancurkan satu-satunya harga diri yang masih dimiliki Ziva.
Baskara mengusap wajahnya kasar. Malam ini, jarak antara mereka yang sempat mencair karena es jeruk dan pelukan singkat kemarin, kembali membeku menjadi gunung es yang jauh lebih tinggi dan lebih sulit untuk dihancurkan.
***
Pukul dua dini hari. Rumah itu terasa seperti sebuah peti es—hening, kaku, dan membekukan. Ziva terbangun dengan tenggorokan yang terasa seperti terbakar, sisa dari tangis hebat dan amarah yang meledak sore tadi. Matanya masih bengkak dan perih, namun rasa haus yang mencekik memaksanya untuk bangkit dari tempat tidur.
Ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara kriet yang bisa memicu kehadiran pria yang sangat ia benci saat ini. Dengan langkah berjinjit di atas lantai parket yang dingin, Ziva menuruni anak tangga satu per satu. Cahaya di rumah itu sudah dipadamkan, hanya menyisakan lampu remang-remang dari arah dapur dan bias lampu jalan yang masuk melalui jendela atas.
Namun, begitu kakinya menginjak lantai dasar, langkah Ziva tertahan.
Di sana, di tengah kegelapan ruang tamu, ia melihat siluet tegap yang sangat familiar. Baskara masih duduk di sofa, tempat yang sama sejak keributan sore tadi. Pria itu tidak sedang menonton televisi, tidak juga sedang bermain ponsel. Ia hanya duduk tegak, kedua tangannya bertumpu di lutut, menatap kosong ke arah pintu depan yang terkunci rapat.
Ziva merasakan dadanya kembali sesak. Amarahnya kembali menyulut, namun ia terlalu lelah untuk berteriak lagi. Ia memutuskan untuk menganggap pria itu tidak ada—seperti bayangan hitam yang tidak sengaja lewat di depan mata.
Dengan dagu terangkat dan ekspresi sedingin es, Ziva melewati sofa tersebut. Ia berjalan tepat di depan Baskara tanpa melirik sedikit pun, seolah-olah kursi itu kosong. Ia bisa merasakan tatapan mata Baskara mengikuti gerakannya, namun ia tetap melangkah lurus menuju dapur.
Cklek.
Ziva membuka kulkas, membiarkan cahaya putih dari dalam kulkas menyinari wajahnya yang pucat. Ia mengambil botol air mineral dingin, meneguknya langsung dengan kasar hingga airnya sedikit menetes ke dagu dan piyama beruangnya. Rasa dingin itu meresap ke dadanya, namun tidak mampu memadamkan bara api yang menyala di sana.
Setelah selesai, Ziva menutup kulkas dengan bunyi dentum pelan. Saat ia berbalik untuk kembali ke kamar, ia mendapati Baskara sudah berdiri di ambang pintu dapur, menghalangi jalannya. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi sore, hanya saja sekarang kemejanya sudah tidak terkancing di bagian atas, dan wajahnya terlihat sangat kuyu.
Ziva tidak berhenti. Ia terus berjalan maju, berharap Baskara akan menyingkir. Namun, pria itu tetap bergeming.
"Ziva, kita perlu bicara," suara Baskara terdengar sangat parau, seolah-olah ia juga baru saja menelan pasir.
Ziva tetap bungkam. Ia mencoba melewati celah di antara tubuh Baskara dan kusen pintu, namun Baskara sedikit menggeser badannya, mengunci pergerakan Ziva.
"Gue mau tidur. Minggir," ucap Ziva pendek, suaranya sangat dingin, tanpa emosi sama sekali.
"Soal lamaran itu... aku akan menarik semuanya besok pagi. Aku akan menelepon semua HRD yang aku hubungi dan membersihkan namamu," ucap Baskara cepat, seolah takut Ziva akan lari sebelum ia sempat menyelesaikannya.
Ziva tertawa getir, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat menyakitkan. Ia akhirnya mendongak, menatap mata Baskara yang kini tampak penuh penyesalan. "Lucu ya, Kak. Lo pikir dengan narik itu semua, rasa benci gue bakal ilang? Lo udah nunjukkin siapa lo sebenernya. Lo itu manipulator yang pake topeng pahlawan."
"Aku cuma takut kehilangan kamu dengan cara yang sama seperti aku kehilangan Kirana, Ziva! Apa itu salah?!" Baskara sedikit meninggikan suaranya, frustrasi yang ia pendam seharian akhirnya pecah.
"Salah! Karena gue bukan Kak Kirana!" teriak Ziva balik, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari dada Baskara. "Kak Kirana itu lembut, dia penurut. Tapi gue? Gue punya hidup sendiri! Lo nggak berhak sabotase masa depan gue cuma buat nenangin rasa bersalah lo yang nggak bakal pernah lunas itu!"
Ziva mendorong dada Baskara dengan telapak tangannya. "Minggir. Jangan pernah lo pikir permintaan maaf lo bakal ngerubah fakta kalau lo itu monster di hidup gue."
Baskara terhuyung selangkah ke belakang, memberikan celah yang cukup bagi Ziva untuk melesat pergi. Ia tidak mengejar. Ia hanya berdiri di dapur yang kini kembali gelap setelah Ziva mematikan lampunya dengan kasar.
Ziva menaiki tangga dengan napas memburu. Begitu sampai di kamar, ia kembali mengunci pintu dan melempar botol airnya ke sudut ruangan. Ia meringkuk di atas kasur, menatap langit-langit.
Rumah ini bukan lagi tempat tinggal. Ini adalah medan perang. Dan di tengah malam yang sunyi itu, Ziva membuat keputusan: Jika Baskara ingin bermain dengan cara sabotase, maka Ziva akan bermain dengan cara pelarian. Ia tidak akan membiarkan satu tahun ini berjalan sesuai rencana pria itu.
Di bawah, Baskara kembali ke sofa. Ia menatap telapak tangannya yang tadi sempat tersentuh oleh tangan Ziva saat gadis itu mendorongnya. Terasa dingin, sedingin es jeruk yang tumpah malam itu. Ia menyadari bahwa memenangkan maaf dari Ziva jauh lebih sulit daripada menangkap penjahat paling licin sekalipun. Dan yang lebih menakutkan, ia mulai sadar bahwa ia mungkin sedang kehilangan Ziva sebelum ia benar-benar memilikinya.