Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Menteng
Kereta api Senja Utama yang membawa Nina kembali ke Yogyakarta terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Suara gesekan roda besi dengan rel yang biasanya terdengar seperti irama perkusi yang menenangkan, kini terdengar seperti ejekan yang terus mengulang kata-kata Ibu Lastri: Sadar diri... Sadar diri...
Nina duduk menyandar di dekat jendela, menatap kegelapan malam Jawa Tengah yang sesekali ditembus lampu-lampu pemukiman penduduk. Arya tidak bisa mengantarnya pulang. Sebuah surat tugas mendadak turun, menetapkan Arya untuk berdinas di Mabes TNI Jakarta sebagai staf operasi—sebuah posisi strategis yang sangat diinginkan setiap perwira, namun menjadi penjara bagi rencana mereka untuk kembali ke Jogja bersama.
Nina merasa separuh nyawanya tertinggal di Jakarta, namun separuh lainnya hancur lebur di ruang tamu rumah Menteng itu. Ia tidak menceritakan detail penghinaan Ibu Lastri kepada Arya saat berpamitan di stasiun tadi siang. Ia hanya mengatakan bahwa ia butuh waktu untuk fokus pada festival tari. Arya, dengan raut wajah penuh penyesalan dan amarah yang tertahan pada situasi keluarganya, hanya bisa mencium kening Nina lama sekali, seolah takut jika ia melepaskannya, Nina tidak akan pernah kembali.
*
Sesampainya di Yogyakarta, Nina disambut oleh udara pagi yang lembap. Ia menyeret kopernya menuju asrama Korem dengan sisa tenaga yang ada. Begitu melihat wajah Fatimah yang tersenyum di ambang pintu, Nina ingin sekali tumpah dan menangis di pangkuan ibunya. Namun, melihat tangan ibunya yang masih memegang gunting kain dan mata yang tampak lelah karena pesanan jahitan yang menumpuk, Nina menelan kembali semua pahit itu.
Aku tidak boleh menambah beban Ibu, tekad Nina dalam hati.
"Bagaimana Jakarta, Nin? Mas Arya sehat?" tanya Fatimah lembut saat Nina mencium tangannya.
"Sehat, Bu. Kak Arya sekarang dinas di Jakarta, jadi mungkin tidak bisa sering ke Jogja seperti kemarin," jawab Nina sesingkat mungkin. Ia segera masuk ke kamar sebelum ibunya melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Nina tahu, terpuruk adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Ia memiliki tanggung jawab. Festival Tari Internasional Yogyakarta tinggal tiga minggu lagi. Ia telah terpilih sebagai salah satu koreografer muda yang mewakili Indonesia untuk berkolaborasi dengan penari dari Jepang dan Belanda. Ini bukan hanya soal karier, tapi soal martabat yang dihina Ibu Lastri.
Hari-hari Nina berubah menjadi maraton fisik dan mental. Dari pukul delapan pagi hingga lima sore, ia berada di sanggar, melatih otot-ototnya hingga batas maksimal. Malamnya, ia bergabung dengan tim festival di pusat kebudayaan untuk mendiskusikan konsep panggung. Tubuhnya lelah, kakinya seringkali kram, namun itu jauh lebih baik daripada membiarkan pikirannya melayang ke ruang makan di Menteng.
Arya tetap intens menghubunginya. Pesan-pesan singkat berisi kerinduan dan dukungan terus mengalir, namun Nina membalasnya dengan lebih hati-hati. Ada ketakutan bahwa setiap kata cinta yang ia kirimkan akan menjadi bumerang yang semakin merusak hubungan Arya dengan ibunya.
***
Suatu malam, jam di dinding sanggar sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Latihan kolaborasi dengan penari Belanda baru saja selesai karena perbedaan zona waktu yang membuat diskusi daring dilakukan hingga larut. Nina mengayuh motor matic-nya menembus kesunyian jalanan Jogja yang mulai berkabut.
Pikiran Nina berkecamuk. Tadi sore, ia tanpa sengaja melihat unggahan di media sosial salah satu sepupu Arya—sebuah foto makan malam keluarga besar yang juga dihadiri oleh Maura. Di foto itu, Arya tampak duduk di ujung meja dengan wajah datar, sementara Maminya merangkul bahu Maura dengan bangga.
Nina sampai di rumah dengan perasaan yang luar biasa letih. Ia mengira ibunya sudah tidur, namun ia melihat cahaya temaram dari arah dapur. Begitu ia membuka pintu belakang, aroma harum bawang putih dan kecap yang digoreng menyapa indra penciumannya.
Fatimah sedang berdiri di depan kompor, menggoyangkan wajan dengan cekatan.
"Baru pulang, Nin? Cuci tangan dulu, Ibu buatkan nasi goreng kesukaanmu. Pakai telur mata sapi setengah matang," ujar Fatimah tanpa menoleh.
Nina tertegun. Ia meletakkan tasnya dan duduk di kursi kayu dapur. Tak lama kemudian, sepiring nasi goreng panas tersaji di depannya. Fatimah duduk di seberangnya, hanya memperhatikan Nina mulai menyuap nasi itu pelan-pelan. Rasa gurih dan hangat nasi goreng buatan ibunya entah kenapa membuat pertahanan Nina runtuh. Ia makan sambil menahan isak tangis.
"Enak, Bu," bisik Nina.
Fatimah menghela napas panjang. Ia mengusap sisa air mata di sudut mata putrinya dengan jempolnya yang kasar karena sering tertusuk jarum.
"Nina... Ibu ini yang melahirkanmu. Ibu tahu kapan kamu benar-benar bahagia dan kapan kamu sedang memakai topeng," suara Fatimah terdengar sangat tenang, sangat keibuan.
Nina berhenti mengunyah. Ia menunduk dalam.
"Ibu tahu apa yang terjadi di Jakarta kemarin. Mas Arya menelepon Ibu dua hari yang lalu. Dia minta maaf karena belum bisa menjagamu dari kemarahan maminya," lanjut Fatimah.
Nina terperanjat. "Kak Arya cerita semuanya?"
"Tidak semua, tapi Ibu bisa merasakannya. Orang tua itu, Nin, setinggi apa pun pangkatnya, tetap saja manusia yang punya rasa takut dan gengsi. Apalagi seorang Ibu yang merasa dunianya terancam oleh kehadiran orang baru."
Fatimah meraih tangan Nina, menggenggamnya erat. "Nin, dengerin wejangan Ibu. Cinta itu sifatnya membangun, bukan merusak. Kalau cinta yang kamu jalani sekarang mulai merusak hubungan seorang anak dengan ibunya, atau merusak ketenangan batin orang tuamu, berarti ada yang salah. Cinta sejati tidak akan meminta seseorang untuk menjadi durhaka."
Nina merasa jantungnya mencelos. "Jadi... maksud Ibu, Nina harus menyerah?"
Fatimah menggeleng pelan. "Bukan menyerah. Tapi jangan memaksakan diri untuk mendobrak pintu yang dikunci dari dalam. Biarkan pemilik kunci itu yang membukanya sendiri. Kamu tidak boleh menjadi alasan Arya melawan maminya secara kasar. Karena bagaimanapun, Ibu Lastri adalah orang yang memberikan Arya untuk dunia ini. Jika kamu merusak hubungan mereka, suatu hari nanti, sisa-sisa kerusakan itu akan menghantui hubunganmu sendiri."
Nina terdiam seribu bahasa. Kata-kata ibunya sangat dalam, jauh lebih bijak daripada semua teori yang pernah ia pelajari.
"Lalu Nina harus bagaimana, Bu? Tante Lastri sangat membenci Nina karena Nina cuma anak bintara."
Fatimah tersenyum bangga. "Tunjukkan pada dunia, bukan dengan kata-kata, tapi dengan siapa kamu sebenarnya. Ayahmu dulu tidak pernah melawan atasan dengan makian, tapi dengan prestasi kerja yang tak terbantah. Kamu seorang penari, kan? Maka menarilah seolah-olah seluruh dunia harus melihat bahwa martabatmu tidak ditentukan oleh pangkat ayahmu, tapi oleh keindahan jiwamu."
Fatimah berdiri, mencium ubun-ubun Nina. "Selesaikan nasi gorengnya, lalu tidur. Jangan biarkan air mata merusak kelenturan tubuhmu untuk festival nanti. Biarkan Mas Arya menyelesaikan urusannya di Jakarta. Tugasmu adalah tetap bersinar di sini. Kalau kalian memang berjodoh, Tuhan akan menggerakkan hati yang paling keras sekalipun tanpa perlu kamu yang memukulnya."
Nina menatap piring nasi gorengnya yang kini tinggal separuh. Hatinya yang tadi hancur berkeping-keping, perlahan mulai terasa utuh kembali. Ia menyadari satu hal: ibunya benar. Menjadi alasan seorang anak melawan ibunya bukanlah cara yang terhormat untuk mencintai. Ia harus membuktikan bahwa dirinya adalah anugerah bagi Arya, bukan musibah yang memecah keluarga.
Malam itu, Nina tidur dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di dalam mimpinya, ia tidak lagi berada di ruang makan Menteng yang dingin, melainkan di atas panggung besar yang bermandikan cahaya, di mana ia menari dengan bebas—tanpa beban kasta, tanpa bayang-bayang status, hanya ada dirinya, jiwanya, dan cinta yang sedang diuji oleh waktu.