NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Berharga

Sorot matahari pagi memantul lewat celah kamar Aluna.

Cahaya itu menyilaukan matanya yang masih terpejam, ia masih enggan untuk mengangkat tubuhnya dari tempat tidur.

Rasanya seperti baru saja memejamkan mata, tapi kenapa matahari terlalu cepat muncul ke permukaan.

Aluna teringat dengan janjinya pada Revan—Mencari kerang di pantai.

Alasan itu yang akhirnya membuatnya bersemangat untuk memulai hari.

Ia bangkit dari ranjangnya, tangannya diangkat ke atas, meregangkan ototnya, lalu melangkah menuju jendela.

Ia membuka tirai yang masih tertutup, matanya menyipit, wajahnya tersorot hangatnya sinar matahari.

Udara sejuk pantai berhembus menyentuh kulitnya, Aluna menarik nafas panjang.

Sebelum ia menghembuskannya kembali, matanya tertahan oleh sesuatu diambang jendela.

Ponselnya.

Susu kotak rasa coklat dan secarik kertas.

Aluna mengerutkan keningnya heran.

Sejak kapan ada disini, gumamnya.

Ia meraih ponselnya, membuka layar, tidak ada apapun disana.

Tidak ada panggilan masuk dari Gavin, Aluna mendengus kesal.

Pandangannya beralih pada susu kotak, ia menusuknya dengan sedotan lalu meminumnya.

Tangannya meraih secarik kertas putih itu, membolak-balikkannya, kertas itu dijepit oleh stiker berbentuk hati.

Aluna meletakkan susu kotaknya, jarinya mulai membuka kertas itu.

Kamu berharga, Aluna.

Kalimat singkat namun membuat dadanya berdegup kencang.

Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Dia mulai berpikir, dibalik sikap buruknya Arka, ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Tok.. tok.

Lamunannya dikagetkan oleh ketukan pintu.

Aluna menghampirinya, "kak Revan."

Revan berdiri di depan pintu, "sudah siap untuk berburu?" Ia tersenyum manis.

***

Ombak pagi itu bergulung dengan tenang.

Cahaya matahari yang masih hangat menyentuh permukaan kulit.

Angin pantai sesekali menyibakkan rambut Aluna.

"Aluna," teriak Revan dari kejauhan.

"Apa?" Aluna sedikit memekik.

Revan berlari kecil menghampiri Aluna

"Aku punya sesuatu buat kamu," tangannya tersembunyi dibelakangnya.

"Ulurkan tangan mu dan tutup mata." Lanjutnya.

Aluna mengulurkan tangannya, matanya terpejam.

Revan meletakkan kelomang di telapak tangan Aluna.

"Sudah, bukalah," perintah pria itu.

Aluna membuka matanya, melihat ke arah tangannya. Reflek ia menjerit dan melemparkan kelomang itu.

"Loh.. kenapa dibuang?"

Aluna mengelus-elus telapak tangannya.

"Aku takut."

"Ya ampun, itu cuma makhluk kecil."

Revan terheran, ia lalu kembali mengambil kelomang itu.

Aluna langsung berlari menjauh, Revan mengejar Aluna.

Mereka menghabiskan sisa pagi dengan bermain di tepian pantai.

Peserta creative retreat sedang tidak ada jadwal sampai sore hari.

Beberapa orang menyempatkan diri untuk sekedar bersantai di area resort atau memilih tidur.

Aluna dan Revan duduk di pasir putih berkilau, sesekali ombak menghempaskan pelan tubuh mereka.

Beberapa kali Aluna terseret arus, Revan tertawa melihatnya.

Aluna.

Di mata Revan, ia adalah perempuan yang ceria kadang-kadang terlalu polos untuk hal-hal yang berat.

Ia menyukainya sejak pertama kali menjabat tangannya kala itu.

Namun perasaan itu harus terpendam karena kenyataannya perempuan yang ia sukai telah menjadi milik sah orang lain.

Baginya, mencintai adalah melihatnya bahagia.

Menjaganya dari kejauhan, menemaninya saat ia membutuhkan.

Semua itu cukup baginya, sampai kemudian...

Ia tahu satu hal.

Arka.

Bos yang ia kagumi, memperlihatkan sesuatu yang tidak biasa.

Tatapannya pada Aluna, perhatian kecil pada Aluna, dan malam itu...

Revan tahu ada sesuatu diantara mereka.

Sesuatu yang mungkin tidak bisa ia kendalikan.

Tapi bagaimanapun juga, Aluna adalah istri orang. Dan tidak ada siapapun yang bisa mengambilnya.

Bahkan Arka sekalipun, pikirnya.

"Aluna."

Aluna menoleh.

"Apa... Pak Arka mengganggu mu?"

Tanyanya ragu.

Aluna terdiam sesaat, "kenapa tanya begitu?"

"Aku melihat dari tatapan mu. Tatapan benci setiap kali melihatnya."

Deburan ombak memercik ke tubuh mereka.

"Kadang-kadang aku memang membencinya."

"Kalau kamu ada masalah, ceritakan saja padaku," Lanjutnya. "Aku siap jadi pendengar mu, Aluna."

Aluna tersenyum pada Revan. "Siap kak." Ia mengangkat tangan ke samping alis, memberi hormat seperti seorang prajurit yang menerima perintah.

***

Setelah puas bermain air dengan Revan, ia kembali ke Villa walaupun ia tidak berhasil membawa kerang, hanya cangkang-cangkang yang ia kumpulkan untuk dibawa pulang.

Karena seluruh tubuhnya basah, Aluna berniat masuk lewat jendela kamarnya, memotong jalan setapak dari samping villa.

Jalanan setapak itu sedikit bersemak. Patahan-patahan ranting yang berserakan di pasir membuat langkah Aluna sedikit terhambat.

Ia harus berjalan lebih pelan agar tidak terpeleset. Sesekali kakinya menginjak ranting kering yang patah dengan suara krek pelan.

Angin laut masih terasa lembap di kulitnya yang basah. Rambut panjangnya menempel di bahu, meneteskan air ke dress yang sudah setengah kering.

Aluna mempercepat langkahnya.

Ia tidak ingin ada orang yang melihatnya kembali dalam keadaan seperti ini—basah kuyup, dengan tangan penuh cangkang kerang yang bahkan bukan kerang utuh.

Tiba-tiba ia mendengar suara seorang perempuan, suara itu terdengar samar.

Aluna mendekati sumber suara itu ternyata—

"Helena?" ucap Aluna sedikit kaget.

Helena yang sedang memegang ponsel di telinganya, sontak kaget dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya.

Ia langsung cepat-cepat mengambilnya kembali.

"Eh.. kak Aluna."

Kalimatnya terbata.

"Kamu sedang apa disini?" tanya Aluna.

"Aku sedang menelepon."

Katanya gugup. "Kalau begitu.. aku balik ke dalam dulu kak."

Helena langsung meninggalkan Aluna.

Aluna merasa sedikit heran dengan tingkah temannya yang tidak biasa.

"Anak muda jaman sekarang. Kalau menelpon pacar harus sembunyi-sembunyi."

Gumam Aluna.

Ia pun kembali melanjutkan langkahnya.

Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Aluna hendak keluar dari kamar mandi, tangannya mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk.

Klik.

Pintu kamar mandi dibuka sampai tiba-tiba ia kaget karena sosok pria yang sedang duduk di ambang jendela, tubuhnya membelakangi daun pintu jendela.

Revan.

Seketika ia menoleh, "eh.. Aluna."

"Kak Revan, sedang apa disini?"

tanya Aluna yang masih merasa bingung.

Revan turun dari ambang jendela, posisinya berada diluar jendela kamar Aluna.

"Aku mau ajak kamu sarapan di kantin."

"Kan bisa telpon."

"Sudah, tapi nggak ada jawaban. Makanya aku kesini."

Aluna mengambil handuk kecil yang jatuh, "yasudah kak Revan duluan saja. Nanti aku nyusul."

Revan berpikir sesaat, "oke."

Ia melangkah pergi namun tiba-tiba muncul kembali, "Aluna."

"Apa lagi?"

Aluna sedikit berteriak.

Revan terkekeh, "aku boleh lewat dari pintu kamar kamu, nggak?" Lanjutnya. "Biar lebih dekat."

Aluna mendengus kesal, "yasudah."

Revan meloncati jendela kamar Aluna, berjalan melewati Aluna yang tertunduk sambil memegangi erat handuk yang melilit tubuhnya.

***

Kantin resort sudah ramai sejak pagi.

Suara percakapan para peserta bercampur dengan denting piring dan sendok. Beberapa karyawan sibuk mengisi piring mereka, sementara aroma kopi hangat dan roti panggang memenuhi ruangan.

Dari jendela besar yang menghadap pantai, cahaya matahari pagi masuk bersama hembusan angin laut, membuat suasana sarapan terasa hangat dan hidup sebelum agenda hari itu dimulai.

Aluna mengambil piring dan mengisinya dengan menu nasi goreng.

Revan yang berada di belakang Aluna ikut mengantri.

Setelah dirasa cukup, mereka berdua mencari meja kosong.

Pandangan Aluna menyapu seluruh area kantin, seolah sedang mencari sesuatu, sebelum akhirnya ia mengangkat sendok ke mulutnya.

"Kak." Aluna memanggil Revan yang tengah makan soto ayam di hadapannya.

Revan hanya berdehem.

"Perasaan dari tadi, aku belum melihat Pak Arka."

"Memangnya kamu belum tahu?" tanya Revan.

"Tahu apa?" Aluna mulai penasaran.

"Pak Arka kan sudah kembali ke Jakarta, bersama calon tunangannya."

Aluna menghentikan sendoknya yang terangkat.

"Oh begitu."

Ia meletakkan kembali sendok yang hendak masuk ke mulutnya.

Ada perasaan aneh yang datang tiba-tiba, seperti sesuatu yang jatuh pelan di dalam dadanya.

Aluna tidak benar-benar tahu kenapa.

Bukankah memang seharusnya begitu?

Arka kembali ke Jakarta, bersama calon tunangannya. Itu hal yang wajar.

Ia menunduk menatap piring di depannya, mengaduk makanan yang bahkan belum sepenuhnya ia cicipi.

Suara percakapan di kantin masih terdengar ramai, tetapi entah kenapa semuanya terasa jauh.

Untuk sesaat, Aluna hanya duduk diam, mencoba menelan perasaan yang tidak bisa ia beri nama.

Setelah sarapan pagi itu selesai, Aluna memilih kembali ke kamarnya.

Ia membuka laptopnya, hendak mempersiapkan proposal untuk creative challenge yang akan diadakan siang nanti.

Di layar laptopnya hanya ada satu halaman kosong. Kursor kecil berkedip pelan, seolah menunggu sesuatu untuk dituliskan.

Tantangan kali ini terdengar sederhana—membuat slogan untuk kampanye produk baru. Namun justru kesederhanaan itu yang membuatnya sulit. Sebuah slogan harus singkat, tetapi cukup kuat untuk menempel di ingatan orang.

Aluna menyandarkan punggungnya ke kursi. Jari-jarinya mulai mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya lagi.

“Terlalu biasa…” gumamnya pelan.

Ia kembali menatap layar, mencoba merangkai kata-kata yang tepat—kalimat pendek yang bisa membawa seluruh pesan kampanye dalam satu tarikan napas.

Tiba-tiba ingatannya buyar.

Ia teringat pada sosok Arka yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

Aluna memukul-mukul kepalanya, "kanapa dia bisa muncul sih?" gumamnya kesal.

Aluna mengusap wajahnya, berusaha kembali fokus.

"CEO gila itu sudah pergi. Kalau begitu... Tidak akan ada lagi yang mengganggu ku."

Aluna mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu bersorak.

"Akhirnya... Aku bebas."

***

Pukul tujuh malam di aula resort.

Peserta Creative Retreat mengadakan Creative Challenge.

Semua orang sudah berkumpul.

Meja-meja bundar tersusun rapi, masing-masing ditempati oleh beberapa tim yang mulai membuka laptop, mencatat ide, atau sekadar berdiskusi pelan dengan anggota kelompok mereka.

Di bagian depan ruangan, sebuah layar besar menampilkan tema tantangan malam itu. Cahaya lampu yang hangat memantul di dinding kayu aula, menciptakan suasana yang terasa santai namun tetap penuh fokus.

Suara percakapan perlahan mereda ketika panitia mengambil mikrofon.

“Selamat malam semuanya. Malam ini kita akan mengadakan Creative Challenge.”

Beberapa peserta langsung menegakkan tubuh mereka, menatap ke arah depan dengan penuh perhatian.

“Setiap tim akan diberi waktu tiga puluh menit untuk membuat sebuah slogan kampanye dari produk yang sudah kami tentukan. Slogan harus singkat, mudah diingat, dan mampu mewakili pesan utama produk tersebut.”

Layar kemudian berubah, menampilkan nama produk yang menjadi tema tantangan.

Beberapa orang langsung mulai berbisik dengan tim mereka. Ada yang tertawa kecil, ada pula yang langsung mengetik ide pertama yang terlintas di kepala.

Di salah satu meja, Aluna menatap layar itu sejenak sebelum perlahan membuka laptopnya.

Malam itu, kata-kata akan menjadi senjata utama mereka.

Aluna fokus pada laptopnya, Revan sesekali memberiku ide padanya. Helena mencatat setiap ide yang tertuang.

Sampai kemudian nama tim kreatif dipanggil oleh panitia, "kita akan mulai dari tim kreatif. Silahkan salah satu orang mewakilkan timnya untuk maju ke depan mempresentasikan idenya."

Revan hendak berdiri dari duduknya, namun tiba-tiba kemejanya ditarik dari belakang.

Revan menoleh, lalu kemudian...

"Aluna. Kamu saja yang maju." Revan menyuruh Aluna untuk menjadi wakil timnya.

Aluna kaget karena dari awal tidak ada persiapan untuk menjadi wakil tim.

Mereka sudah sepakat bahwa Revan lah yang akan maju mempresentasikan slogan timnya.

Karena harus profesional, Aluna maju walau ragu.

Semua mata tertuju pada sosok Aluna.

Bukan karena ia terlihat pintar, tapi karena ada yang salah dengannya.

Saat Aluna menunduk ingin melihat layar laptopnya, sebagian helai rambutnya jatuh ke depan, menutupi sebagian wajahnya.

Tiba-tiba matanya terbelalak. Ujung rambutnya dipenuhi lilitan kertas-kertas kecil yang entah sejak kapan menempel di sana.

Aluna terdiam beberapa detik, tidak langsung mengerti bagaimana benda-benda itu bisa berada di sana.

Dari sekelilingnya terdengar bisikan pelan.

Seseorang menahan tawa.

Lalu satu suara kecil pecah di sudut ruangan, diikuti beberapa yang lain.

Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat wajah Aluna terasa panas.

Ia segera menarik potongan-potongan kertas itu dari rambutnya dengan gerakan kaku.

Saat kepalanya terangkat, pandangannya menyapu ruangan—mencari siapa yang mungkin melakukan hal konyol itu.

Namun semua orang tampak sibuk dengan tim mereka masing-masing.

Hampir semua orang.

Namun akhirnya.

Mata itu menemukan siapa pelakunya.

Arka.

Sedang duduk, tepat dibelakang kursi Aluna.

Sosok itu saat ini sedang menahan tawa dengan tangannya yang menutupi mulutnya.

Aluna menatap kesal pria itu.

Bagaimana mungkin, dia ada disini? Gumamnya.

"Baik, Aluna. Silahkan dimulai."

Panitia memecah keheningan sesaat.

Dengan perasaan yang kesal dan malu, Aluna membuka suaranya, menjelaskan ide slogan yang sudah ia rancang bersama timnya.

Walaupun rambutnya masih dipenuhi lilitan kertas-kertas, namun perempuan itu tetap terlihat profesional.

Arka—Memperhatikan Aluna dengan tatapan yang tenang.

Kadang-kadang terlihat senyuman muncul dari bibirnya.

Presentasi Aluna diakhiri dengan tepuk tangan semua peserta.

Ia lalu kembali ke tempat duduknya.

"Kalian berdua, sudah tahu dari awal kan?" Aluna menatap Revan dan Helena. "Lalu kenapa tidak memberitahu ku?" Lanjutnya.

"Maaf Aluna. Tapi.. Pak Arka menahanku."

Bisik Revan setengah menyesal.

Helena hanya tersenyum canggung karena merasa bersalah.

***

Creative Challenge malam itu akhirnya berakhir dengan kemenangan tim kreatif.

Tepuk tangan terdengar memenuhi aula sebelum acara perlahan ditutup oleh panitia.

Setelah itu, seluruh peserta diarahkan menuju halaman resort untuk Bonfire Night.

Api unggun besar telah menyala di tengah halaman yang menghadap laut.

Cahaya jingganya menari di wajah para peserta yang duduk santai mengelilinginya, sebagian memegang gelas minuman, sebagian lagi berbincang ringan sambil tertawa.

Angin malam dari pantai berhembus pelan, membawa suara ombak yang bergulung dari kejauhan, membuat suasana terasa hangat dan tenang di bawah langit yang dipenuhi bintang.

Aluna duduk di kursi kayu yang berada tidak jauh dari kegiatan api unggun.

Matanya fokus ke sebuah buku yang ia baca.

"Hai kak, sedang baca apa?"

Helena datang sambil membawa cemilan.

"Novel terbaru ku."

Wajah Aluna terlihat senang karena buku novel yang ia tunggu-tunggu akhirnya mendarat di tangannya.

"Aku boleh lihat, gak?

Tanya Helena sambil mengintip sedikit cover bukunya.

"Kamu pegang bukunya, aku ambil minuman dulu, ya."

Aluna menyerahkan bukunya pada Helena, ia pergi mengambilnya minuman di meja.

Helena membolak-balik buku itu, tiba-tiba seseorang duduk disampingnya.

Ia menoleh kaget, "Pak Arka?"

Aluna berjalan membawa segelas bir ditangannya, lalu uduk disamping Helena, "bukunya mana?" tanyanya saat ia melihat Helena tidak lagi memegang buku miliknya.

Sebuah senyum tipis muncul di bibir Helena, namun ada kegugupan yang jelas terselip di baliknya.

"Bukunya... Disana."

Tangannya menunjuk ke arah pria di sebrang, yang sedang berdiri memegang buku milik Aluna.

Aluna menoleh dan...

"Pak Arka." Wajahnya terlihat heran.

"Kenapa bukunya kamu kasih ke dia?" Nadanya terdengar marah.

"Aku tidak..." Kalimatnya terputus, Helena menggaruk kepalanya.

"Pak Arka mau meminjam bukunya. Masa aku tolak?"

Aluna menyenderkan tubuhnya di kursi, ia terlihat pasrah dengan situasinya saat ini.

Matanya menatap Arka yang sedang membaca buku miliknya.

Lalu tiba-tiba Arka melirik Aluna, Ia hanya menoleh singkat, dagunya bergerak memberi tanda ke arah luar.

Isyarat diam yang jelas: ikut aku.

Arka melangkah pergi meninggalkan halaman resort menuju Villa.

Aluna mengerti maksud yang ditujukan bosnya.

Namun ia ragu untuk mengikutinya, tetapi buku novel itu sangat berarti baginya.

Bahkan ia belum membaca seluruh isi novel itu.

Dengan berat hati, Aluna melangkah menjauh dari kerumunan.

Ia masuk ke Villa, mengikuti Arka yang lebih dulu pergi.

Dari kejauhan, Aluna melihat tubuh Arka masuk ke sebuah ruangan dan menghilang dibalik pintu.

Aluna mempercepat langkahnya, sebelum ia membuka pintu itu, matanya menyapu seluruh area untuk memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya.

Pintu itu terbuka, Aluna perlahan masuk.

Ruangan itu ternyata sebuah kantor, ada kursi dan meja di tengah ruangan itu.

Lemari besar berdiri disamping dengan banyaknya buku yang berjejer.

Aluna menutup pintu itu.

Ia menemukan Arka sedang berbaring di sofa panjang, sambil membaca buku miliknya.

Wajahnya tertutup oleh buku, menyisakan tubuhnya yang kekar.

"Apakah kehidupan asmara mu seindah novel romance ini, Aluna?"

Tanya Arka dengan wajah yang masih bersembunyi dibalik buku.

Aluna hanya berdiri dibalik pintu.

Ia terlalu takut untuk berinteraksi pada Arka.

"Kenapa diam?" tanya Arka berusaha memancing.

Tiba-tiba Aluna teringat kalimat terakhirnya pada Arka sewaktu di yacht.

Saat ia berkata bahwa setelah kejadian itu, tidak akan ada lagi rasa takut dalam dirinya untuk menghadapi seorang Arka.

Aluna menarik nafasnya sebelum akhirnya menjawab, "tentu saja, Pak. Saya membersamai orang yang saya cintai."

Arka menjatuhkan perlahan buku itu dari wajahnya. Matanya langsung menatap Aluna yang masih saja berdiri.

"Oh ya? Apa kamu bisa menjamin jika orang yang kamu cintai tidak akan melukai mu?"

Sudut bibir Aluna terangkat, "setidaknya, orang yang saya cintai tidak pernah merenggut harga diri saya, tidak pernah mempermalukan saya."

Arka mengangkat tubuhnya bangun dari sofa.

"Kalau begitu, saya ingin memberimu satu pertanyaan." Arka melangkah mendekati Aluna.

"Jika orang yang telah mempermainkan mu itu, berubah." Lanjutnya.

"Apa kamu mau memaafkannya?"

Kini jarak diantara mereka hanya sejengkal.

"Tapi, monster tidak bisa berubah menjadi baik, Pak."

Aluna menatap dada Arka. Matanya terlalu takut untuk melihat wajah pria itu.

Arka terdiam sesaat.

Tatapannya jatuh pada perempuan di hadapannya, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak mudah diucapkan.

“Pernah menonton Beauty and the Beast?” suaranya terdengar rendah.

Aluna mengerutkan kening pelan, namun tidak menjawab.

Arka melanjutkan dengan tenang, “Di cerita itu… semua orang juga menganggap monster tidak bisa berubah.”

Ia menundukkan sedikit wajahnya, mencoba menangkap pandangan Aluna yang terus menghindar.

“Lalu Belle datang.”

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, samar dan hampir tidak terlihat.

“Dan entah bagaimana… monster itu belajar mencintai.”

Tatapan Arka kembali jatuh pada Aluna.

“Masalahnya sekarang,” suaranya melembut namun terasa berat, “apakah Belle itu percaya… bahwa monster bisa berubah?”

Kepala Aluna akhirnya terangkat, matanya menatap wajah Arka.

Mata mereka akhirnya bertemu.

Arka menundukkan wajahnya sedikit. Aluna bisa melihat bayangan dirinya di mata pria itu. Jarak di antara mereka perlahan menghilang, hingga hanya tersisa satu tarikan napas sebelum bibir mereka bertemu.

Namun di detik terakhir, Aluna tiba-tiba memalingkan wajahnya.

Tangannya terangkat, menahan dada pria itu agar tidak semakin mendekat.

Bibir pria itu hanya berhenti di udara kosong.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!