Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Aspal Dingin dan Hati yang Hangat
Malam telah merayap jauh melewati pukul sepuluh, namun aspal hitam yang membelah hutan karet menuju pinggiran kota itu seolah tak berujung bagi Nika. Di kursi penumpang, wadah berisi rendang paru yang masih menyisakan kehangatan itu terikat rapi dengan sabuk pengaman, seolah-olah itu adalah penumpang paling berharga dalam hidupnya. Nika mencengkeram kemudi dengan jemari yang sedikit kaku. Ini adalah pertama kalinya ia menyetir sejauh ini sendirian, menembus kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu jauh mobilnya.
"Sedikit lagi, Nika. Hanya dua jam lagi," bisiknya menyemangati diri sendiri. Suara radio sengaja ia kecilkan agar ia bisa mendengar deru mesin mobilnya, yang entah kenapa, sejak sepuluh menit lalu terdengar sedikit berbeda. Ada suara ketukan halus yang semakin lama semakin nyaring. Tuk... tuk... tuk...
Tiba-tiba, sebuah sentakan keras terasa dari bawah kap mobil. Asap putih tipis mulai menyelinap keluar dari sela-sela mesin, terlihat jelas tertimpa cahaya lampu depan. Setir mobil mendadak terasa sangat berat, dan indikator suhu di dasbor langsung melonjak ke zona merah yang mengerikan.
"Oh, jangan sekarang! Kumohon, jangan sekarang!" Nika panik. Ia menginjak pedal gas, namun mesin mobilnya justru terbatuk-batuk sebelum akhirnya mati total dengan suara helaan napas mekanis yang menyedihkan.
Mobil itu meluncur pelan karena sisa momentum sebelum akhirnya berhenti tepat di bahu jalan yang gelap gulita. Di sebelah kanan adalah tebing kecil, dan di sebelah kiri adalah barisan pohon karet yang tampak seperti siluet raksasa dalam kegelapan. Keheningan yang mencekam langsung menyergap. Nika mencoba memutar kunci kontak berkali-kali, namun mesin hanya mengeluarkan suara tek-tek-tek yang lemah.
Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Sinyal di sudut layar hanya menunjukkan satu batang yang timbul tenggelam. Ia mencoba menghubungi Devan. Panggilan pertama... dialihkan. Panggilan kedua... tidak ada jawaban.
Rasa takut mulai menjalar ke tengkuknya. Nika mengunci seluruh pintu mobil, meringkuk di kursi pengemudi sambil memeluk lututnya. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan: Bagaimana jika ada orang jahat? Bagaimana jika ada binatang buas? Atau yang lebih menyakitkan, bagaimana jika Devan benar-benar tidak peduli padanya lagi?
Setelah mencoba sepuluh kali, akhirnya nada sambung terdengar.
"Halo? Nika? Ada apa menelepon jam begini?" Suara Devan terdengar serak, khas seseorang yang baru saja terlelap karena kelelahan kerja.
"Mas..." Nika terisak, suaranya pecah oleh rasa takut yang memuncak. "Mas, tolong aku. Mobilku mati di tengah jalan. Aku tidak tahu aku di mana, di sini sangat gelap..."
Hening sejenak di seberang sana, disusul suara gesekan kain yang terburu-buru. "Apa?! Kamu di mana? Kenapa kamu ada di jalan jam segini?! Bukankah aku bilang aku menginap?" Suara Devan kini penuh dengan kepanikan yang murni, bukan lagi kemarahan yang dibuat-buat.
"Aku... aku mau kasih kejutan. Aku bawa rendang untukmu. Aku di jalan lintas lama, setelah pom bensin yang tutup itu," Nika menjelaskan sambil menangis sesenggukan.
"Tetap di dalam mobil! Kunci semua pintu! Jangan keluar untuk alasan apa pun, mengerti?!" Devan berteriak lewat telepon. "Nyalakan lampu darurat dan bagikan lokasimu lewat pesan sekarang juga. Aku berangkat!"
Nika melakukan semua perintah Devan. Ia menunggu dalam kegelapan yang terasa abadi. Setiap menit terasa seperti satu jam. Ia terus menatap wadah rendang di sampingnya. Hanya demi sepotong daging dan sambal, aku membahayakan nyawaku sendiri. Betapa bodohnya aku, pikirnya. Namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa ketakutannya saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan ketakutan kehilangan Devan selamanya.
Hampir empat puluh menit berlalu ketika sepasang lampu depan yang sangat terang muncul dari arah berlawanan. Sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan suara decitan ban yang kasar. Devan melompat keluar bahkan sebelum mesin mobilnya mati sempurna. Ia berlari menghampiri mobil Nika, mengetuk kaca jendela dengan keras.
"Nika! Buka!"
Nika segera membuka kunci pintu dan menghambur ke pelukan Devan. Ia menangis sejadi-jadinya di dada suaminya, menghirup aroma sabun dan keringat Devan yang terasa sangat menenangkan di tengah hutan sepi itu.
"Aku takut, Mas... aku benar-benar takut," isak Nika.
Devan memeluknya sangat erat, tangannya mengusap punggung Nika dengan gemetar. Napas Devan masih terengah-engah, wajahnya pucat karena kekhawatiran yang luar biasa. "Kamu gila, Nika. Kamu benar-benar gila. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Rendang itu tidak lebih penting dari nyawamu!"
Devan melepaskan pelukannya sejenak, memegang kedua bahu Nika, menatap matanya dengan tajam namun penuh kasih yang meluap-luap. "Jangan pernah lakukan ini lagi. Jangan pernah mengejarku sampai membahayakan dirimu sendiri. Mengerti?"
Nika mengangguk pelan, air matanya masih mengalir. "Aku cuma mau menunjukkan kalau aku serius ingin berubah, Mas. Aku mau belajar mencintaimu dengan benar."
Devan menghela napas panjang, kekakuannya seolah luruh bersama angin malam. Ia menarik Nika kembali ke dalam dekapannya, kali ini lebih lembut. Ia mengecup puncak kepala Nika berkali-kali. "Aku tahu, Ni. Aku sudah melihatnya. Tapi tolong, jangan dengan cara seperti ini."
Devan kemudian membantu Nika memindahkan barang-barangnya ke mobilnya, termasuk wadah rendang yang masih sedikit hangat. Ia memanggil mobil derek untuk mengurus mobil Nika dan membawa istrinya menuju hotel tempatnya menginap.
Di dalam kamar hotel yang tenang, Devan duduk di tepi tempat tidur sementara Nika duduk di kursi sambil memperhatikannya membuka wadah rendang itu. Aroma rempah yang kaya segera memenuhi ruangan yang dingin oleh AC. Devan mengambil sepotong paru, menyuapnya ke mulut, dan terdiam cukup lama.
"Mama yang mengajarimu?" tanya Devan, suaranya sedikit serak.
"Iya. Tapi aku yang mengulek bumbunya sendiri. Sampai tanganku pegal semua," jawab Nika sambil menunjukkan telapak tangannya yang sedikit merah.
Devan meraih tangan Nika, mencium telapak tangan itu dengan penuh perasaan. "Terima kasih, Nika. Rasanya... rasanya seperti cinta yang sebenarnya."
Malam itu, di kamar hotel yang sederhana, jarak di antara mereka benar-benar hilang. Tidak ada lagi draf cerai, tidak ada lagi gengsi, tidak ada lagi masa lalu yang pahit. Yang ada hanyalah dua orang yang sedang belajar untuk saling menghargai kesempatan kedua yang diberikan semesta.
Namun, saat Nika hendak beristirahat, ia melihat sebuah tas kecil di atas meja kerja Devan yang terbuka sedikit. Di dalamnya, ia melihat kotak beludru biru yang ia temukan di laci rumah kemarin. Rupanya, Devan membawanya ke mana-mana.
"Mas..." panggil Nika pelan. "Apakah kotak itu untukku?"
Devan menoleh, melihat ke arah tasnya, lalu tersenyum tipis—senyum paling tulus yang pernah Nika lihat. Ia mengambil kotak itu, berjalan mendekati Nika, dan berlutut di depannya.
"Tadinya aku mau menunggu sampai proyek Bali selesai. Tapi sepertinya, setelah kejadian malam ini, aku tidak mau menunggu satu detik pun lagi," ucap Devan sambil membuka kotak itu. Cincin klasik itu berkilau indah di bawah lampu hotel. "Arunika, maukah kamu menikah denganku lagi? Kali ini, bukan karena orang tua kita, tapi karena kamu menginginkan aku sebagai rumahmu?"
Nika tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kuat-kuat sambil menangis bahagia, membiarkan Devan menyematkan cincin itu di jari manisnya—sebuah simbol bahwa pondasi yang baru saja mereka bangun, kini telah benar-benar kering dan siap menyangga beban hidup bersama.