Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.
tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar hitam yang manis. Satria mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Alana yang tampak terpaku menatap bangunan di hadapan mereka. Ini bukan sekadar bangunan; ini adalah saksi bisu rencana-rencana yang mereka bisikkan di kursi pojok kafe dulu.
Saat Alana hendak melangkah masuk, Satria tiba-tiba menghadang di depan pintu utama. Ia tersenyum jahil, lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Alana dalam gendongannya.
"Eh! Satria, turunkan! Malu dilihat tetangga," seru Alana sambil tertawa dan refleks mengalungkan lengannya ke leher Satria.
"Tradisi, Lan. Pengantin baru harus masuk ke rumah baru dengan cara begini agar keberuntungan selalu mengikuti kita," jawab Satria mantap. Ia membuka pintu dengan satu tangan yang bebas, lalu melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang masih beraroma cat baru dan kayu.
Begitu kakinya menyentuh lantai, Alana berkeliling dengan mata berbinar. Ruang tamunya luas, dengan jendela besar yang membiarkan cahaya sore masuk dengan bebas. Di sudut ruangan, ia tertegun. Satria benar-benar menepati janjinya. Ada sebuah kursi kayu panjang dengan meja kecil, persis seperti sudut kafe tempat mereka bertemu.
"Kamu... benar-benar menyiapkannya?" tanya Alana haru, jemarinya mengusap permukaan meja kayu itu.
Satria berdiri di belakangnya, memeluk pinggang Alana dari belakang. "Aku ingin kamu selalu merasa punya tempat untuk pulang, bahkan saat kamu sedang berada di dalam rumah sendiri."
Mereka menghabiskan sore itu dengan duduk di lantai, membuka koper-koper yang berisi pakaian dan barang-barang pribadi. Suasana rumah yang tadinya sunyi kini mulai terisi dengan suara tawa dan perdebatan kecil tentang di mana harus meletakkan vas bunga atau foto pernikahan mereka.
"Sat, jangan letakkan jam dinding itu di sana, terlalu tinggi," protes Alana.
"Biar tidak cepat mati baterainya karena tidak terjangkau debu," kilah Satria asal, yang langsung dibalas dengan lemparan bantal kecil oleh Alana.
Malam Pertama di Rumah Sendiri
Malam jatuh dengan cepat. Mereka memesan makanan karena dapur belum sepenuhnya siap. Sambil duduk lesehan di karpet ruang tamu, mereka makan dari kotak plastik, namun rasanya jauh lebih nikmat daripada hidangan hotel bintang lima kemarin.
"Besok kita belanja kebutuhan dapur?" tanya Satria sambil menyuapkan potongan terakhirnya.
Alana mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Satria. "Dan jangan lupa beli kopi. Aku ingin mencoba kursi pojok itu besok pagi."
Satria mengecup pelipis Alana. Di rumah baru ini, di antara kotak-kotak yang belum rapi dan dinding yang masih polos, mereka baru saja meletakkan batu pertama untuk istana kecil mereka. Sebuah rumah yang dibangun bukan hanya dari semen dan batu bata, tapi dari setiap Selasa yang mereka lalui bersama.
*****
Malam pertama di rumah baru terasa sangat berbeda dari hotel. Tidak ada lagi layanan kamar atau keramaian keluarga besar, hanya ada suara jangkrik di luar dan deru napas mereka yang bergema di ruangan yang masih agak kosong.
Satria berjalan berkeliling memastikan semua kunci pintu sudah terpasang. Alana mengikutinya dari belakang, memegang ujung kaus Satria seperti anak kecil yang takut tersesat di rumahnya sendiri.
"Kenapa? Takut?" goda Satria sambil berbalik, membuat Alana menabrak dadanya.
"Hanya merasa... aneh. Biasanya jam segini aku sudah di kamarku sendiri, mendengar suara Ibu mematikan TV di bawah," jawab Alana pelan.
Satria merangkulnya, membawa Alana ke arah jendela besar di ruang tengah. "Sekarang, suara yang akan kamu dengar adalah suaraku. Dan TV-nya... nanti kita beli yang paling besar supaya kamu tidak kesepian kalau aku sedang lembur.
Mereka naik ke lantai dua, menuju kamar utama yang hanya berisi ranjang besar dan beberapa tumpukan kardus pakaian. Alana duduk di tepi ranjang, memerhatikan Satria yang sedang sibuk memasang sprei baru yang mereka beli jauh-jauh hari.
"Sini, aku bantu," kata Alana. Mereka menarik ujung-ujung sprei bersamaan, sebuah kerja sama tim pertama di rumah ini yang diakhiri dengan tawa karena Satria sempat tergulung di dalam selimut.
Sebelum benar-benar tidur, mereka berdiri sebentar di balkon kecil kamar. Satria menyampirkan lengannya di bahu Alana, menatap deretan lampu jalanan perumahan yang tenang.
"Lan, terima kasih sudah mau memulai dari nol di rumah ini denganku," bisik Satria. "Mungkin belum banyak isinya, tapi aku janji akan mengisinya dengan kenangan yang penuh."
Alana menyandarkan kepalanya, menghirup udara malam yang segar. "Isinya tidak penting, Sat. Selama ada kamu di dalamnya, ini sudah jadi rumah bagiku."
Malam itu, mereka tidur tanpa bantal yang tertata rapi atau selimut mewah. Mereka tidur di atas kasur yang baru saja dipasang, di tengah aroma kayu dan cat yang masih segar. Namun, Alana merasa ini adalah tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan.
Saat ia memejamkan mata, ia tahu bahwa besok pagi, ia tidak perlu lagi berpamitan untuk pulang. Karena ia sudah berada di sana.
******
Sekitar jam satu pagi, Alana terbangun karena haus. Ia lupa bahwa letak dapur tidak lagi sama dengan rumah orang tuanya. Dengan mata setengah terpejam, ia justru menabrak lemari pajangan yang masih kosong.
Prak!
"Alana? Kamu tidak apa-apa?" Satria muncul di ambang pintu kamar dengan rambut acak-acakan dan wajah panik, bahkan ia masih memegang bantal sebagai 'senjata' karena mengira ada penyusup.
Alana tertawa sambil memegangi keningnya. "Aku lupa ini rumah kita, Sat. Aku mencari dapur tapi malah menabrak lemari."
Satria menghela napas lega, lalu tertawa kecil. Ia mendekat, menuntun Alana menuju dapur yang hanya diterangi lampu kecil di atas kompor. "Pelan-pelan, Nyonya. Kamu harus menghafal setiap sudut istanamu sekarang."
Alih-alih langsung kembali tidur, mereka justru duduk di kursi makan yang baru saja dirakit sore tadi. Satria menuangkan air untuk Alana, lalu mereka duduk berhadapan dalam temaram lampu kuning.
"Rasanya aneh ya," gumam Satria, jemarinya mengetuk meja kayu yang masih beraroma pernis. "Hanya ada kita berdua. Tidak ada suara Ibu yang memanggil untuk sarapan besok pagi, atau suara Ayah yang membaca koran."
Alana menyesap airnya, menatap Satria lekat-lekat. "Tapi ini yang kita inginkan, kan? Memulai cerita dari kertas yang benar-benar bersih."
Satria meraih tangan Alana di atas meja. "Besok pagi, aku akan mencoba menyalakan kompor itu untuk pertama kalinya. Kalau hangus, kita pesan antar saja ya?"
Alana tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Satria yang terasa kokoh. "Asalkan kopinya tidak hangus, aku tidak keberatan."
Mereka duduk di sana selama beberapa menit, menikmati keheningan rumah baru yang kini mulai terasa hangat. Bukan karena perabotan yang lengkap—karena memang belum ada—tapi karena kehadiran satu sama lain yang mengisi setiap ruang kosong di hati mereka.
Malam semakin larut di rumah baru itu, namun kantuk sepertinya enggan datang. Alana dan Satria memutuskan untuk melakukan tur kecil terakhir sebelum benar-benar memejamkan mata, hanya untuk memastikan setiap inci rumah itu benar-benar milik mereka.
Mereka berjalan ke arah halaman belakang yang kecil. Di sana hanya ada rumput yang baru ditanam dan satu lampu taman yang berpijar redup. Satria duduk di undakan pintu belakang, lalu menepuk tempat di sampingnya agar Alana ikut duduk.
"Di sini," Satria menunjuk ke arah langit yang bersih dari awan, "nanti kita bisa letakkan kursi santai. Kalau malam sedang gerah, kita bisa duduk di sini sambil melihat bintang."
Alana menyandarkan kepalanya di bahu Satria. "Aku tidak menyangka pria 'kaku' yang kutemui di kafe itu punya rencana seromantis ini untuk rumah kita."
Saat kembali masuk ke dalam, mata Alana tertuju pada satu kotak kardus kecil yang tergeletak di sudut ruang tamu. Ia membukanya perlahan. Ternyata itu adalah kado dari ibu Satria—sebuah set cangkir keramik buatan tangan dengan inisial A & S.
"Lihat, Sat," Alana mengangkat cangkir itu.
"Ibumu tahu kalau kita berawal dari kopi."
menimbangnya di tangan. "Berarti besok pagi, ini akan jadi penghuni pertama rak dapur kita yang masih kosong itu."
Mereka akhirnya kembali ke kamar lantai atas. Sebelum mematikan lampu, Satria memandang Alana yang sedang merapikan selimut. Suasana rumah yang tadinya terasa asing dan "dingin" karena belum banyak perabotan, tiba-tiba terasa penuh.
"Lan," panggil Satria pelan.
"Ya?"
"Terima kasih sudah mau mengisi rumah ini. Kalau cuma aku, tempat ini hanya akan jadi kotak beton yang sepi. Tapi ada kamu... sekarang ini jadi rumah."
Alana tersenyum, mendekat dan menggenggam tangan suaminya. "Kita yang akan membuatnya jadi rumah, Sat. Satu demi satu barang, satu demi satu tawa."
Malam itu, di tengah tumpukan kardus yang belum dibongkar dan aroma kayu yang segar, mereka tertidur dengan perasaan paling tenang yang pernah mereka rasakan. Tidak ada lagi janji temu minggu depan, karena setiap hari kini adalah milik mereka berdua.