Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang Mereka Anggap Tidak Berharga
Mobil hitam itu melaju menembus hujan.
Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, berubah menjadi garis-garis cahaya yang bergerak cepat seiring laju kendaraan. Di dalam mobil, suasana sunyi.
Rania duduk di kursi belakang.
Mantelnya masih sedikit basah oleh hujan tadi, rambut panjangnya menempel di bahu. Ia menatap ke luar jendela tanpa berkata apa-apa.
Rumah besar keluarga Adrian sudah jauh di belakang.
Namun anehnya, hatinya tidak terasa sesakit yang ia bayangkan.
Tiga tahun lalu, ketika ia pertama kali memasuki rumah itu sebagai seorang istri, ia sempat membayangkan banyak hal.
Ia membayangkan suatu hari Adrian mungkin akan tersenyum padanya dengan tulus.
Ia membayangkan makan malam bersama yang hangat.
Ia membayangkan rumah itu perlahan berubah menjadi tempat yang benar-benar bisa ia sebut rumah.
Namun semua itu tidak pernah terjadi.
Tiga tahun di rumah itu lebih terasa seperti hidup di tempat orang lain.
Pak Arman melirik ke kaca spion.
“Nona… apakah Anda ingin langsung ke bandara?” tanyanya hati-hati.
Rania tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya mengangguk pelan.
“Iya.”
Pak Arman menghela napas lega.
“Pesawat keluarga sudah siap sejak sore,” katanya. “Kami hanya menunggu Anda.”
Hujan di luar mulai mereda.
Lampu-lampu jalan membuat kota tampak seperti lautan cahaya.
Rania akhirnya bersandar sedikit di kursinya.
“Pak Arman,” katanya pelan.
“Iya, Nona.”
“Kakek… sudah tahu?”
Pak Arman tersenyum tipis.
“Tuan besar sudah menebaknya sejak lama.”
Rania mengerutkan kening sedikit.
“Menebak?”
Pak Arman tertawa kecil.
“Sejak Anda memutuskan menikah dengan Tuan Adrian tiga tahun lalu, beliau sudah berkata bahwa suatu hari Anda mungkin akan kembali dengan cara seperti ini.”
Rania menatap pria tua itu dari kaca spion.
“Dia benar-benar mengatakan itu?”
Pak Arman mengangguk.
“Tuan besar mengenal Anda dengan baik, Nona. Beliau tahu Anda keras kepala.”
Rania tersenyum kecil.
Keras kepala.
Mungkin memang begitu.
Tiga tahun lalu, ketika keluarganya menentang pernikahannya dengan Adrian, ia tetap bersikeras.
Ia ingin hidup sederhana.
Ia ingin dicintai bukan karena nama keluarganya.
Jadi ia menyembunyikan identitasnya.
Ia meninggalkan semua kemewahan yang biasa ia miliki dan hidup seperti wanita biasa.
Namun hasilnya justru… seperti ini.
Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang bandara pribadi keluarga Hartono.
Gerbang besi besar terbuka perlahan ketika mobil mereka mendekat.
Beberapa petugas keamanan langsung memberi hormat.
Rania turun dari mobil.
Udara malam terasa segar setelah hujan.
Di kejauhan, sebuah pesawat jet pribadi berwarna putih berdiri di landasan.
Lampunya menyala terang.
Pak Arman berjalan di sampingnya sambil membawa koper kecil Rania.
“Nona,” katanya, “Tuan besar pasti sangat senang Anda pulang.”
Rania menghela napas pelan.
“Sudah lama aku tidak pulang ke rumah.”
Ia berjalan menaiki tangga pesawat.
Begitu pintu pesawat tertutup, mesin mulai menyala.
Beberapa menit kemudian, pesawat itu meluncur di landasan dan terbang menembus langit malam.
Rania duduk di kursi empuk di dalam kabin.
Lampu di dalam pesawat hangat dan tenang.
Pak Arman duduk di seberangnya.
“Nona,” katanya hati-hati, “apakah Anda menyesal?”
Rania menatapnya.
“Menyesal?”
“Karena menikah dengan Tuan Adrian.”
Pertanyaan itu menggantung beberapa detik.
Rania akhirnya menggeleng pelan.
“Tidak.”
Pak Arman tampak sedikit terkejut.
“Tidak?”
Rania menatap keluar jendela pesawat.
Di bawah sana, kota hanya terlihat seperti bintik-bintik cahaya kecil.
“Aku belajar banyak dari tiga tahun itu,” katanya.
“Belajar apa?”
Rania tersenyum tipis.
“Belajar bahwa tidak semua orang bisa menghargai ketulusan.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan,
“Dan belajar bahwa… aku tidak perlu terus tinggal di tempat yang tidak menginginkanku.”
Pak Arman mengangguk pelan.
Beberapa jam kemudian…
Pesawat itu mendarat di sebuah kota besar.
Begitu pintu pesawat terbuka, beberapa mobil mewah sudah menunggu di landasan.
Di antara mereka berdiri seorang pria tua dengan tongkat perak.
Rambutnya putih seluruhnya, tapi sorot matanya masih tajam.
Tuan Hartono.
Kakek Rania.
Begitu melihat cucunya turun dari pesawat, wajah tua itu langsung melembut.
“Rania.”
Rania berjalan mendekat.
“Kakek.”
Tanpa ragu, pria tua itu memeluknya.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu.
“Kau kurus,” kata Tuan Hartono setelah melepaskan pelukannya.
Rania tertawa kecil.
“Kakek selalu bilang begitu.”
Pria tua itu menatap wajah cucunya beberapa detik.
“Apa mereka menyakitimu?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi suaranya berat.
Rania menggeleng pelan.
“Tidak.”
Ia berhenti sebentar.
“Setidaknya… tidak lebih dari yang bisa aku tanggung.”
Tuan Hartono mengetukkan tongkatnya pelan di tanah.
“Kalau saja aku tahu mereka memperlakukanmu seperti itu…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun semua orang di sekitar mereka tahu satu hal.
Jika keluarga Hartono benar-benar marah, banyak orang bisa hancur dalam semalam.
Rania menyentuh lengan kakeknya.
“Sudahlah, Kek.”
Ia tersenyum kecil.
“Sekarang aku sudah pulang.”
Pria tua itu menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Ia berbalik ke arah para asistennya.
“Mulai besok.”
Semua orang langsung memperhatikan.
“Umumkan bahwa cucuku telah kembali ke perusahaan.”
Beberapa orang tampak terkejut.
Pak Arman bahkan mengangkat alisnya sedikit.
Rania juga menatap kakeknya.
“Kakek…”
Tuan Hartono tersenyum tipis.
“Sudah waktunya dunia tahu siapa kau sebenarnya.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Dan aku ingin melihat ekspresi orang-orang yang pernah meremehkanmu.”
Sementara itu…
Di rumah keluarga Adrian.
Malam sudah semakin larut.
Clara duduk di sofa dengan segelas anggur di tangannya.
“Rumah ini terasa berbeda sekarang,” katanya.
Veronica tersenyum puas.
“Tentu saja. Gangguan sudah pergi.”
Namun Adrian berdiri di dekat jendela.
Ia menatap halaman yang basah oleh hujan.
Entah kenapa rumah itu terasa lebih sunyi.
Clara berjalan mendekatinya.
“Adrian.”
Pria itu menoleh sedikit.
“Kau tidak menyesal, kan?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berkata,
“Tidak.”
Namun jauh di dalam hatinya…
ada sesuatu yang terasa aneh.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia tidak tahu bahwa pada malam yang sama—
wanita yang baru saja ia usir dari rumahnya sedang kembali ke dunia yang sangat berbeda.
Dunia tempat namanya dihormati.
Dunia tempat satu keputusan darinya bisa mengguncang banyak orang.
Dan suatu hari nanti…
ketika Adrian mengetahui siapa sebenarnya Rania,
ia akan menyadari satu hal yang terlambat.
Wanita yang dulu berdiri diam di ruang tamunya dengan koper kecil itu, bukan wanita biasa.
Ia adalah seseorang yang bahkan keluarga Adrian tidak akan pernah mampu sentuh.