NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA DI BALIK BRANKAS

Suasana di taman belakang konsulat itu mendadak membeku. Angin malam Melbourne yang tajam menusuk kulit bahu Vivien yang terbuka, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan tatapan mata Maximilian yang seolah mampu menembus batasan tengkoraknya. Tangan Vivien yang tersembunyi di balik lipatan gaun beludru hitamnya mulai berkeringat dingin, jari-jarinya meremas flashdisk kecil itu hingga plastik kerasnya terasa menyakitkan di telapak tangannya.

"Aku tidak menerima pengulangan, Vivien. Berikan tanganmu," suara Maximilian merendah, hampir menyerupai geraman predator yang sedang memojokkan mangsanya.

Vivien menelan ludah. Otaknya bekerja dengan kecepatan cahaya. Jika ia menyerah sekarang, maka misi ayahnya mati bersamanya. Namun, jika ia melawan secara fisik, ia tak akan menang melawan pria yang memiliki kekuatan dua kali lipat darinya.

"Kau menyakitiku, Max," bisik Vivien, mencoba menggunakan nada suara yang rapuh, berharap sisi protektif pria itu muncul meskipun kemungkinannya tipis.

"Jangan gunakan kerapuhan untuk menipuku. Kau sudah menggunakan kartu itu saat sarapan tadi," Maximilian melangkah maju satu langkah lagi, mengikis jarak hingga dada bidangnya yang terbungkus tuksedo mahal bersentuhan dengan gaun Vivien. Ia merayapkan tangannya ke belakang punggung Vivien, mencengkeram pergelangan tangan istrinya dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.

Vivien memekik pelan saat Maximilian menarik paksa tangannya ke depan. Jemari pria itu yang besar dengan mudah membuka kepalan tangan Vivien.

Kosong.

Maximilian tertegun sejenak. Ia menatap telapak tangan Vivien yang kemerahan, lalu menatap wajah istrinya yang kini menunjukkan ekspresi kemenangan yang samar.

"Apa yang kau cari, Maximilian? Kau pikir aku sedang melakukan transaksi narkoba di sini?" tanya Vivien dengan nada mengejek yang sangat tipis.

Tepat sebelum Maximilian muncul tadi, Vivien telah menjatuhkan flashdisk itu ke dalam celah kecil di antara akar pohon mapel tua yang tertutup tumpukan daun kering. Ia melakukannya dengan gerakan sangat halus saat berpura-pura memperbaiki posisi gaunnya.

Maximilian menyipitkan mata. Ia melepaskan pergelangan tangan Vivien dengan kasar. "Aku tahu aku melihat seseorang di sini. Baunya masih ada di udara. Siapa dia? Bara?"

Mendengar nama itu disebut oleh Maximilian, jantung Vivien mencelos. Maximilian benar-benar tahu segalanya. Ia tahu siapa yang dicari Vivien, ia tahu siapa yang menghilang.

"Aku tidak tahu siapa yang kau bicarakan," bohong Vivien, suaranya kini kembali tenang. "Aku hanya butuh udara segar karena suamiku terus memperlakukanku seperti pajangan mati di dalam sana. Sekarang, jika kau sudah selesai menginterogasiku, aku ingin kembali ke dalam sebelum aku mati kedinginan."

Maximilian menatap pohon di belakang Vivien, lalu beralih ke kegelapan taman yang luas. Ia tahu Vivien menyembunyikan sesuatu, tapi ia juga tahu bahwa memaksanya di tempat umum seperti ini akan merusak citra yang sedang ia bangun. Ia menarik napas panjang, merapikan kerah tuksedonya yang sama sekali tidak berantakan.

"Kita akan pulang. Sekarang," ucap Maximilian datar. "Acara ini sudah selesai bagimu."

Perjalanan pulang di dalam Rolls-Royce terasa jauh lebih menyesakkan daripada saat berangkat. Maximilian tidak lagi menyentuh ponselnya. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Ketegangan di dalam mobil itu begitu tebal hingga sang sopir pun tak berani melirik ke kaca spion tengah.

Begitu sampai di penthouse, Maximilian langsung menuju ruang kerjanya yang luas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Vivien, yang merasa memiliki sedikit waktu, segera berlari ke kamarnya. Ia tidak bisa mengambil flashdisk itu sekarang, tapi ia harus memastikan langkah selanjutnya.

Ia mengganti gaunnya dengan cepat, tangannya masih gemetar. Namun, rasa penasaran mengalahkannya. Mengapa Maximilian menyebut nama Bara? Mengapa Maximilian tampak begitu terobsesi dengan apa pun yang dibawa pria itu?

Vivien keluar dari kamarnya dengan langkah pelan. Ia menuju ruang kerja Maximilian, tempat yang biasanya terlarang baginya. Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Dari celah sempit, ia bisa melihat Maximilian sedang berdiri di depan sebuah brankas besar yang tertanam di dinding marmer hitam.

Maximilian menekan beberapa kode digit, lalu menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik. Brankas itu terbuka dengan desis halus. Dari tempatnya mengintip, Vivien melihat Maximilian mengambil sebuah map tua yang tampak kusam—berbeda jauh dengan dokumen-dokumen korporatnya yang selalu terlihat baru.

Maximilian membuka map itu dan menatap sebuah foto tua. Wajah pria itu, yang biasanya sedingin es, mendadak melunak. Ada kesedihan yang sangat dalam di sana, sebuah emosi yang belum pernah Vivien lihat sebelumnya.

"Sedikit lagi, Ayah," bisik Maximilian pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Semuanya akan berakhir."

Vivien menahan napas. Ayah? Ayah Maximilian, sang pendiri Alfarezel Group, dikabarkan meninggal karena serangan jantung sepuluh tahun lalu, tepat sebelum perseteruan besar dengan keluarga Aksara memuncak. Namun, nada suara Maximilian barusan tidak terdengar seperti seorang putra yang merindukan ayahnya, melainkan seorang prajurit yang sedang menyelesaikan misi terakhir.

Tiba-tiba, Maximilian menutup brankasnya dengan suara dentuman pelan. Ia berbalik ke arah pintu. Vivien segera mundur ke kegelapan lorong, jantungnya berdegup kencang. Ia berlari kembali ke kamar, pura-pura tertidur sebelum Maximilian masuk.

Beberapa jam kemudian, saat suasana apartemen sudah benar-benar sunyi, Vivien terbangun. Ia menoleh ke samping. Maximilian tidak ada di sana. Cahaya lampu dari ruang kerja masih terlihat di bawah celah pintu kamar.

Vivien tahu ini gila. Tapi ia harus tahu apa yang ada di dalam brankas itu. Ia harus tahu apa hubungan antara "misi" Maximilian dan kehancuran ayahnya.

Ia bangkit dari tempat tidur, bergerak seperti bayangan. Ia melintasi ruang tamu menuju ruang kerja. Maximilian sepertinya sudah tertidur di sofa ruang kerjanya, kelelahan setelah hari yang panjang.

Vivien mendekati brankas marmer hitam itu. Ia menatap pemindai biometriknya. Ia tahu ia tidak akan bisa membukanya dengan sidik jarinya sendiri. Namun, ia teringat sesuatu yang Maximilian lakukan setiap pagi: Maximilian menggunakan krim tangan khusus yang meninggalkan residu minyak yang samar pada benda-benda yang disentuhnya.

Dengan menggunakan cahaya senter dari ponselnya, Vivien melihat jejak sidik jari Maximilian di atas bantalan pemindai. Ia mengeluarkan selembar isolasi bening kecil yang ia ambil dari laci dapur tadi. Dengan sangat hati-hati, ia mencoba mengangkat sidik jari itu.

Itu adalah teknik kuno yang ia pelajari dari film detektif yang sering ia tonton bersama ayahnya dulu. Tangannya gemetar hebat. Jika Maximilian bangun sekarang, nyawanya mungkin terancam.

Klik.

Suara kecil itu terdengar seperti ledakan di telinga Vivien. Brankas itu terbuka.

Vivien segera mengambil map tua yang tadi dilihatnya. Di dalamnya, ia tidak menemukan laporan keuangan atau bukti sabotase. Ia menemukan surat-surat tulisan tangan yang ditujukan kepada ayahnya, Aksara. Surat-surat itu tertanggal dua puluh tahun yang lalu.

“Aksara, mereka sudah mencium rencana kita. Jika terjadi sesuatu padaku, tolong jaga Maximilian. Dia tidak tahu apa-apa tentang Benang Merah yang sebenarnya.”

Vivien terbelalak. Surat itu ditandatangani oleh Alaric Alfarezel, ayah Maximilian.

Surat itu membuktikan bahwa dua puluh tahun lalu, ayah mereka sebenarnya adalah sahabat dekat, bahkan sekutu dalam sesuatu yang rahasia. Jadi, mengapa Maximilian menghancurkan keluarga Aksara? Mengapa Maximilian bersikap seolah-olah ayah Vivien adalah pembunuh ayahnya?

"Menarik, bukan?"

Suara itu datang dari arah belakang. Vivien membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang bisa membunuh.

Maximilian tidak sedang tidur. Pria itu berdiri di sana, mengenakan kemeja putih yang tidak dikancingkan, matanya berkilat di bawah lampu redup.

"Kau baru saja melanggar pasal kerahasiaan paling suci di rumah ini, Vivien," ucap Maximilian, suaranya terdengar sangat pelan, sangat tenang, dan itulah yang membuatnya sepuluh kali lebih menakutkan.

Maximilian melangkah masuk ke ruangan, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya dengan bunyi 'klik' yang mematikan harapan Vivien untuk lari.

"Sekarang," Maximilian mendekati Vivien hingga mereka hanya berjarak beberapa inci. "Karena kau sudah tahu terlalu banyak, aku tidak punya pilihan selain membuatmu mengerti alasan sebenarnya kenapa kau ada di sini."

Maximilian merampas surat itu dari tangan Vivien, lalu membakarnya dengan pemantik gas yang ada di meja kerjanya. Vivien hanya bisa menatap abu surat itu dengan nanar.

"Pernikahan ini bukan untuk menghancurkanmu, Vivien," bisik Maximilian, matanya kini merah karena amarah atau mungkin luka yang sudah lama dipendam. "Pernikahan ini adalah cara satu-satunya agar aku bisa memburumu tanpa ada yang curiga. Karena ayahmu tidak menjaga ayahku. Ayahmu membiarkannya mati demi menyelamatkan kerajaan Aksara."

"Itu bohong!" teriak Vivien.

"Akan kubuktikan padamu seberapa dalam kebohongan yang kau tinggali selama ini," Maximilian mencengkeram bahu Vivien. "Mulai besok, kau tidak akan lagi menjadi pajangan. Kau akan ikut denganku ke markas lama Aksara yang sudah aku sita. Kau akan melihat sendiri bagaimana ayahmu mengkhianati benang merah kita."

Malam itu, rahasia besar mulai terkuak. Benang merah yang patah ternyata tidak hanya menghubungkan Maximilian dan Vivien dalam dendam, tapi juga dalam sebuah konspirasi besar yang melibatkan darah ayah mereka.

Vivien menyadari bahwa musuh yang ia hadapi mungkin bukan hanya Maximilian, tapi juga masa lalu yang tidak pernah ia ketahui.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!