"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. situsi makin kacau.
"Mirza sudah bertolak ke Jakarta. Berpesan agar ibunya jangan takut mengambil keputusan apapun. Terkait pernikahan papanya. Mirza akan mendukung. Dan jangan segan-segan meminta bantuan kepada Kenny. Kalau ada masalah.
"Ribka!" teriakan Raymond terdengar memecah keheningan rumah sore itu. RIbka yang sedang menyiapkan makan malam untuk ibu mertuanya. Berlari ke kamar.
"Mana kemejaku warna navy yang kupakai tiga hari lalu?" Ribka kaget, saat melihat kondisi kamar seperti kapal pecah.
Semua isi lemari pakaian Raymond telah kosong. Beberapa pakaiannya berserak di lantai dan tempat tidur. Namun, kemeja yang dicari belum juga ketemu.
"Apa-apaan ini Bang. Kenapa isi lemarimu jadi berantakan begini?"
"Apa kamu tuli, hah. Aku mencari kemeja warna navy. Tidak ada disini. Kamu simpan dimana?!" bentak Raymond berang.
Semenjak Mirza pergi. Raymond kembali memperlakukan Ribka dengan kasar.
"Tanya istrimu yang satu lagi. Bukankah isi lemarimu itu sudah banyak yang berpindah tempat?" Ribka balik membentak.
Raymond terdiam. Kok bisa lupa? Gak kepikiran menanyakan Khaty. Ribka langsung pergi. Melanjutkan tugasnya di dapur.
"Hei, mau kemana? Bereskan dulu ini." Raymond melangkahi pakaiannya yang berserak di lantai.
"Aku?" Ribka menunjuk dirinya.
"Ya, siapa lagi. Kamu kan istriku?"
"Lupa ya kalau.punya dua istri. Tadi semua itu rapi tersimpan di dalam lemari. Panggil saja istrimu itu membereskan semua ini."
"Kamu ngomong apa sih. Hei!" Raymond panik karena Ribka tidak mendengarkan perintahnya.
"Kalau begitu, kamu lanjutkan saja pekerjaanku di dapur. Jangan seenaknya bertingkah."
"Kamu?" Tubuh Ribka sudah berlalu dari hadapannya. Raymond meraih ponsel di atas nakas. Menekan nomor Khaty. Menanyakan kemeja yang dicarinya. Khaty mengiyakan ada di rumahnya. Raymond bungkam.
Tujuannya tadi, sengaja mencari kesalahan Ribka. Supaya Ribka lelah. Gak taunya malah salah sasaran. Raymond mengambil kemeja krem yang dicampakannya ke tempat tidur. Malam ini dia mau menghadiri undangan rekan sekantornya. Pesta ulang tahun pernikahan.
"Mau kemana?" sapa Bu Nora melihat Raymond berpakaian rapi.
"Ada undangan rekan kantor, Bu. Ibu makan malam saja. Gak usah nunggu Raymond.
"Trus yang ladeni Ibu makan siapa?"
"Kan ada Ribka, Bu. Minta sama dia saja."
"Kamu lupa ya? Sejak kejadian di rumah sakit kemarin. Mana mau lagi dia melayani Ibu."
"Benar begitu Bu? Maksudnya apa sih, berani-beraninya melawan sama Ibu."
"Makanya ceraikan saja dia. Biar Mirza bisa dekat sama kalian."
"Entahlah, Bu. Mirza itu sudah dicuci otaknya sama Ribka. Dia sudah berani membantah Papanya."
"Makanya, kamu urus saja perceraian kalian. Semakin cepat semakin baik. Kamu lihat sendiri kan, belum juga resmi cerai. Sudah mengubah penampilannya.Dasar menantu genit." hasut Bu Nora. Bagi Bu Nora, Khaty lah yang pantas dibanggakan. Secara dia keturunan orang kaya.
"Ibu yakin kalau aku nanti menceraikan Ribka. Gak berdampak sama Ibu?"
"Maksudmu?"
"Yah, kan gak ada yang merawat Ibu nanti. Khaty kan bekerja, Bu. Gak.mungkin dia punya waktu merawat Ibu."
"Iya ya. Tapi Khaty kan orang kaya. Dia pasti carikan pembantu menggantikan tugasnya. Mana dia royal lagi."
"Terserah Ibulah. Nanti aku akan urus perceraian kami."
"Dan ingat Ray, jangan sampai Ribka mendapat harta gono-gini. Keenakan dia nanti." geram Bu Nora.
Ribka mendengar semua pembicaraan itu. Segitunya ibu mertuanya menginginkannya pergi dari rumah ini. Oke, tidak masalah. Ribka mengambil ponselnya dari kantong celemeknya. Menghubungi nomor Kenny. Menanyakan apa dia dapat mencari rumah kontrakan.
"Halo Ma ada apa ya?" seru Kenny di
seberang. Ribka memandang ponselnya. Beneran Kenny menyebutnya Mama? Anak itu!
"Bisa Tante ketemu kamu, Kenny?"
"Sekarang? Oke Kenny bisa. Aku jemput Mama ya. Dimana alamat Mama?" Ribka menyebutkan alamat rumahnya. "Oke, sepuluh menit lagi, Kenny datang."
Ribka menghela nafas lega. Dia akan pergi dari rumah ini setelah bertemu Kenny. Tidak perlu menunggu resmi bercerai. Dia akan keluar dari rumah yang seperti neraka baginya.
Karena memang sudah selesai menyiapkan makan malam. Ribka berkemas hendak bertemu Kenny.
Semua hidangan Ribka taruh di atas meja. Tanpa memberitahu ibu mertuanya, Ribka keluar rumah.
Ribka berjalan ke ujung gang. Untuk menghindari omongan tetangga kalau dia dijemput seseorang.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di ujung gang. Ribka buru-buru masuk, saat melihat Kenny. Bersamaan dengan Alisya turun dari taxi grab.
'Eh, itu kan Kak Ribka. Mau kemana dia magrib begini. Siapa yang yang menjemputnya?' benak Alisya diliputi tanda tanya besar.
Sikap kakak iparnya akhir-akhir ini memang agak berbeda. sudah lebih peduli pada penampilan. Apa ini karena kedatangan Khaty saat ultah ibunya?
Alisya tidak sempat melihat siapa pengemudi mobil itu. Sejak kapan ya kakak iparnya berani keluar rumah? Meskipun sudah melihat Ribka. Tapi Alisya tetap ragu. Mungkin saja dia salah lihat.
Setibanya di rumah. Alisya mencari kakak iparnya di kamar. Tapi tidak ada. Alisya malah disuguhi pemandangan kamar yang berantakan. Apakah kakak iparnya berantem lagi? Alisya menggelengkan kepalanya.
Dicarinya di dapur. Tetap tidak ada.
Alisya mengira sedang di kamar ibunya. Mungkin memberi ibunya makan. Tapi tetap tidak ada. Jadi benar, yang kulihat tadi adalah Kak Ribka? Mau kemana dia itu?
"Bu, Kak Ribka dimana?" saking penasarannya, Alisya menanyakan keberadaan Ribka juga kepada ibunya.
"Lagi, masak di dapur."
"Gak ada Bu. Apa Bang Ray berantem lagi sama Kak Ribka? Kamar mereka kok berantakan, Bu?"
"Iya, tadi Ray ribut soal kemeja. Dia keluar karena ada tekan kerjanya ngundang makan malam. Apa Ribka mengikuti Ray?"
"Hem, bisa jadi, Bu. Wah, gawat ini, Bu kalau Kak Ribka sampai mengikuti Bang Ray. Pasti Bang Ray dan Kak Khaty pergi bersama." guman Alisya cemas.
"Beraninya Ribka keluar rumah tanpa minta izin sama Ibu. Dasar menantu sialan."
"Sudah Bu, aku mandi dulu. Mana capek lagi seharian di kampus."
"Ibu belum makan malam, Alis. Siapkan dulu makan Ibu ya."
"Aduh, Bu. Alisya udah capek ini. Mau mandi langsung istirahat. Aku lihat di meja sudah disiapkan Kak Ribka. Ibu ambilin sendiri saja." Alisya segera keluar dari kamar ibunya
"Huh, dasar anak tak berbakti. Disuruh ngambilin nasi saja udah gak mau. Ribka sialan itu kemana sih. Belum ngasih aku makan seenaknya saja keluar rumah." Bu Nora menekan tombol kursi rodanya.
Keluar dari kamar menuju ruang makan. Karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Ditunggunya Ribka membawakan makan malamnya ke kamar, gak kunjung datang. Ternyata dia diam-diam keluar rumah. Tanpa pamit lebih dulu.
Susah payah Bu Nora mengambil sepiring nasi dan lauk dari meja makan. Karena tidak bisa menjangkau lauk yang berada di tengah meja. Bu Nora tertarik akan isi panci di atas kompor.
Bu Nora sudah memanggil Alisya, minta bantuan. Tetapi tidak direspon. Akhirnya Bu Nora berusaha membuka tutup panci itu. Isinya ternyata sup yang masih mengepul panas,
Panci yang coba diraih Bu Nora, pegangannya masih panas. Refleks Bu Nora melepasnya karena jarinya kepanasan. Tak ayal lagi panci dan isinya tumpah mengenai tubuh Bu Nora.
Pranggg ...! ***