“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 - CH 8 : SENI MANIPULASI DOSA
Waktu seakan melambat. Di mata Bara, ruangan pesta yang penuh sesak itu mendadak hening. Suara tawa tamu, denting gelas, dan alunan musik jazz dari band pengiring terdengar jauh, teredam oleh detak jantungnya sendiri yang memukul gendang telinga seperti drum metal.
"Mang Ojak, posisi block!" desis Bara.
Tanpa banyak tanya, Mang Ojak langsung memutar badannya yang gempal, merentangkan kedua tangannya seolah-olah sedang meregangkan otot, padahal tujuannya menutupi pandangan para tamu dari meja kue.
"Lintang, whipped cream di tangan kiri. Tisu di saku kanan. Jangan gemeter atau gue potong gaji lo lima puluh persen!"
"I-iya, Mas!" Lintang menjawab dengan suara mencicit, tangannya memegang piping bag plastik segitiga yang isinya tinggal seperempat.
Sarah, sang calon pengantin, masih sembilan meter jauhnya. Dia berjalan pelan karena kebaya ketat dan high heels sepuluh senti, didampingi ibunya yang auranya setara Jenderal bintang empat. Lima meter. Bagi orang normal, itu jarak dekat. Bagi Bara, itu adalah durasi waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh detik.
Cukup. Harus cukup.
"Korek!"
Api biru dari korek gas Mang Ojak menjilat ujung pisau ukir stainless nomor 0 milik Bara. Logam tipis itu memanas dalam sekejap, berubah warna sedikit kemerahan.
Bara menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya. Tangan kanannya bergerak dengan stabil, tanpa getaran sedikit pun. Ini bukan lagi soal memasak. Ini soal anatomi huruf. Ini soal Typography Surgery.
Sasaran pertama: Huruf M pada kata MONA.
Bara menusukkan ujung pisau panas itu ke kaki kiri huruf M. Cesss... Suara desis pelan terdengar saat cokelat beku itu menyerah pada panas. Aroma cokelat hangus menguar tipis. Dengan gerakan memutar pergelangan tangan yang presisi, Bara "memotong" kaki kiri dan kaki tengah huruf M, menyisakan lengkungan atasnya saja.
"Tisu!"
Lintang menyambar lelehan cokelat di pisau Bara dengan tisu dalam sepersekian detik. Kerja sama tim yang terbentuk dari ribuan jam sibuk di dapur ruko.
"Krim putih, titik tengah!" perintah Bara lagi.
Lintang menyemprotkan setitik kecil krim putih di bekas potongan kaki huruf M tadi. Tujuannya untuk "menghapus" jejak cokelat hitam di atas dasar kue yang putih. Sekarang, huruf M itu terlihat seperti cacing kepanasan yang cacat.
Bara memanaskan pisaunya lagi. Kali ini dia mengambil sisa lelehan cokelat dari pinggir dekorasi kue. Dengan gerakan cepat seperti pelukis kaligrafi Cina, dia menyambung sisa lengkungan huruf M tadi. Menarik garis ke bawah, melengkung ke kiri, lalu menarik ekor ke kanan.
Jadilah huruf S. Agak gemuk di bagian perut, dan sedikit serif berantakan di ujungnya. Tapi itu S. Mutlak S.
"Satu," hitung Bara dalam hati.
Sarah tinggal enam meter. Dia berhenti sebentar untuk menyapa seorang tamu VIP. Bagus. Terima kasih, basa-basi sosialita.
Sasaran kedua: Huruf O. Ini mudah. O adalah lingkaran. A adalah segitiga tanpa alas. Bara hanya perlu memotong bagian kanan atas lengkungan O agar terlihat lebih siku, lalu menarik garis horizontal di tengahnya. Sret. Sret. Jadi huruf A. Sedikit bulat kayak font Comic Sans, tapi terbaca A.
Sasaran ketiga: Huruf N. Targetnya harus jadi R. Ini tricky. Huruf N punya garis diagonal dan dua garis vertikal. Huruf R butuh kepala bulat di atas.
"Krim lagi, tutup kaki kanan N!" Lintang menyemprot. Crooot. Kebanyakan! "Bego! Dikit aja!" umpat Bara tertahan. Dia buru-buru meratakan krim itu pakai jari kelingkingnya yang (semoga) bersih.
Sekarang huruf N itu kehilangan kaki kanannya. Sisa garis tegak dan diagonal. Bara memanaskan pisau lagi sampai maksimal. Dia mengambil bongkahan cokelat serut dari hiasan pinggir kue, melelehkannya di ujung pisau, lalu "menambal" bagian atas huruf N. Dia membentuk lengkungan kepala huruf R.
Panas pisau mulai merambat ke gagang kayu, membakar ujung jari Bara. Tapi dia tidak peduli. Rasa sakit adalah ilusi. Yang nyata adalah tatapan Ibu Jenderal yang semakin dekat.
Jadilah huruf R. Agak penyok, kayak huruf R yang ditulis anak TK yang lagi belajar nulis sambung.
Sekarang masalah terbesar. Matematika ruang. Nama asli: M-O-N-A (4 Huruf). Nama target: S-A-R-A-H (5 Huruf). Bara sudah mengubah M-O-N jadi S-A-R. Sisa satu huruf asli: A. Tapi dia butuh dua huruf lagi: A dan H.
Jarak yang tersisa di permukaan kue cuma sekitar 2 sentimeter sampai ke pinggir kue. Kalau dia maksa nulis dua huruf, bakal jatoh ke lantai dasar kue.
"Mas... Sarah udah jalan lagi! empat meter!" Lintang panik, tangannya meremas kantong krim sampai pecah.
Bara melihat huruf A terakhir (dari nama Mona). Dia nggak bisa nambah huruf H di sebelahnya. Nggak muat. Otaknya berputar. DKV mode on. Kerning. Tracking. Spacing. Persetan dengan teori. Ini waktunya improvisasi jalanan.
Bara memutuskan langkah gila. Dia tidak akan menulis huruf H di sebelah A. Dia akan menumpuknya.
"Mang, geser dikit! Gue butuh angle!"
Bara memotong huruf A terakhir itu. Dia membuang garis horizontalnya. Lalu dia menarik dua garis vertikal panjang di sisi kiri dan kanan bekas huruf A itu.
Jadilah huruf H. Loh, terus huruf A-nya mana?
Dengan sisa cokelat terakhir dan nyali setebal tembok ruko, Bara menulis huruf A kecil di atas huruf H. Kecil banget. Kayak pangkat dalam matematika (H pangkat a). Atau kayak logo brand distro indie yang sok edgy.
Jadi tulisannya sekarang terbaca: S - A - R - H ᵃ. Bacanya: SARAH. (Kalau dipaksain).
"Selesai!" Bara menarik pisaunya.
Tepat saat itu juga, Sarah berdiri di depan meja. Aroma parfum melatinya yang mahal langsung menabrak aroma cokelat hangus dan keringat Bara.
Bara mundur selangkah dengan gaya dramatis, menyembunyikan pisau lengket itu di balik punggung. Lintang menyembunyikan tangan penuh krim di belakang pantat. Mang Ojak kembali ke pose istirahat di tempat.
"Selamat datang, Mbak Sarah," sapa Bara dengan napas terengah, tapi berusaha tersenyum profesional (yang jatuhnya malah kayak senyum psikopat).
Sarah menatap kue itu. Alisnya yang terukir sempurna bertaut. Dia melihat huruf S yang gemuk. Huruf A yang bulat. Huruf R yang penyok. Dan huruf H yang punya 'anak' huruf a kecil di atasnya.
"Ini..." Sarah menunjuk kue itu dengan kuku jari yang dimanikur. "Konsep tulisannya memang begini?"
Jantung Bara berhenti. Adrian di pojokan sana sudah memejamkan mata, pasrah menunggu kiamat. Ibu Jenderal memajukan wajahnya, matanya menyipit curiga. "Kok berantakan? Ini font apa?"
Bara menelan ludah. Waktunya mengeluarkan jurus terakhir: Bual Manis Marketing DKV.
"Oh, ini bukan berantakan, Bu. Ini teknik tipografi Rustic Grunge Handwritten," jawab Bara lancar, seolah-olah istilah itu ada di buku teks. "Sengaja dibuat tidak simetris dan teksturnya kasar untuk melambangkan perjalanan cinta yang tidak selalu mulus, penuh liku, dan raw. Tapi pada akhirnya..." Bara menunjuk huruf H yang aneh itu, "...membentuk satu kesatuan rumah tangga yang kokoh. H untuk Home. Dan A kecil di atasnya untuk Asmara yang selalu dijunjung tinggi."
Hening. Adrian melongo. Lintang melongo. Mang Ojak garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
Sarah terdiam. Dia menatap kue itu, lalu menatap Bara, lalu menatap kue itu lagi. Perlahan, senyum merekah di bibirnya.
"Ih... so deep..." gumam Sarah, matanya berkaca-kaca. "Mas Adrian! Kamu denger nggak? Filosofinya dalem banget! H untuk Home! Kamu pesen ginian khusus buat aku?"
Adrian yang nyawanya baru kembali ke badan langsung gagap, "I-iya dong, Sayang! Aku tau kamu suka seni yang... yang abstract gitu kan?"
Ibu Jenderal mendengus, tapi wajahnya sedikit melunak. "Ya sudah. Agak aneh selera anak muda zaman sekarang. Tapi kalau Sarah suka, Mama oke aja."
"Hufffhhh..." Suara napas lega Bara, Lintang, Mang Ojak, dan Adrian terdengar serempak, seperti paduan suara dadakan.
"Terima kasih, Mas Koki. Kuenya unik banget," kata Sarah sambil menggandeng lengan Adrian. "Nanti tolong dipotongin ya buat suap-suapan."
"Siap, Mbak. Dengan senang hati," jawab Bara sambil membungkuk.
Mereka pun selamat dan operasi plastik berhasil. Pasien (kue) selamat, nyawa Adrian selamat, dan yang paling penting: bayaran Bara aman.
Bara menoleh ke Adrian, memberikan tatapan tajam: 'Mana duit tambahan gue?' Adrian mengedipkan mata, memberikan kode jempol gemetar dari balik punggung Sarah.
"Gila lo Mas..." bisik Lintang saat mereka mundur ke pojok ruangan dekat sound system. Kakinya lemas kayak jeli. "Rustic Grunge Handwritten? Lo ngarang dari mana istilah itu?"
"Dari skripsi temen gue yang nggak lulus-lulus," jawab Bara sambil mengelap pisaunya yang lengket ke tisu. "Sekarang fokus, kita tunggu acara potong kue, abis itu kita cabut, cairin duit, makan nasi padang pake tunjang."
Suasana pesta kembali meriah. MC mulai berbicara di mikrofon. Lagu romantis 'Perfect' dari Ed Sheeran mulai diputar. Semuanya tampak sempurna. Kue "SARAH" berdiri megah di tengah ruangan, menjadi saksi bisu kebohongan terbesar hari ini.
Namun, hukum alam di Bara's Kitchen itu mutlak: Jika satu masalah selesai, masalah yang lebih besar sedang antre di pintu.
Baru saja MC bilang, "Mari kita sambut pasangan berbahagia...", tiba-tiba pintu utama rumah mewah itu terbuka dengan bantingan keras.
BRAKKK!
Semua orang menoleh. Musik berhenti mendadak.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan dress merah menyala yang sangat ketat, kacamata hitam oversized, dan rambut blonde yang berkibar dramatis kena angin AC. Di tangannya ada clutch mahal yang digenggam seolah itu batu bata siap lempar.
"ADRIAN!"
Suara wanita itu melengking, membelah keheningan pesta.
Bara menyipitkan mata. Dia nggak kenal siapa cewek itu. Tapi Adrian... wajah Adrian yang tadi sudah mulai merah merona, sekarang kembali berubah jadi abu-abu mayat.
"Mona?" cicit Adrian, suaranya lebih pelan dari kentut semut.
Lintang menyenggol lengan Bara. "Mas... jangan bilang itu..."
"Iya," desis Bara. "Itu pemilik nama asli di atas kue tadi."
Mona melangkah masuk dengan bunyi heels yang mengintimidasi: TAK. TAK. TAK. Dia membuka kacamata hitamnya, menatap Sarah dan Adrian bergantian dengan tatapan laser.
"Jadi ini alesan kamu nggak bales WA aku dari subuh, Adrian? Kamu bilang nenek kamu meninggal lagi?! Nenek kamu ada sembilan apa gimana?!"
Keriuhan pecah. Bara menepuk jidatnya. Operasi plastik kuenya sukses, tapi operasi penyelamatan nasibnya... baru saja dimulai.