NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dipaksa pulang Kerumah...

Setelah selesai berdandan, Laura menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun selutut berwarna navy itu membalut tubuhnya dengan pas, memberikan kesan elegan namun tetap santai. Rambutnya yang biasa hanya dicepol asal, kini terurai indah dengan gelombang alami di ujungnya.

​"Sempurna," bisiknya pelan, sejenak melupakan beban pikiran tentang Lexi.

​Ia menyambar tas kecil dan ponselnya, lalu melangkah turun. Di ruang tamu, Bik Nah tampak sedang merapikan bantal kursi.

​"Nyonya mau pergi? Cantik sekali," puji Bik Nah tulus, matanya berbinar melihat perubahan penampilan majikannya.

​"Iya, Bik. Mau ketemu teman lama, Iren. Tolong kalau ada apa-apa atau kalau... pria itu menelepon ke rumah, bilang saja aku sedang keluar sebentar cari angin," pesan Laura. Ia sengaja tidak menyebut nama Lexi.

​"Baik, Nyonya. Hati-hati di jalan."

​Laura memesan taksi online. Tak butuh waktu lama, mobil yang dipesannya tiba. Sepanjang perjalanan menuju kafe yang lokasinya sudah dibagikan oleh Iren, jantung Laura berdegup kencang. Ada rasa antusias yang sudah lama tidak ia rasakan—rasa kebebasan.

​Sesampainya di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan, mata Laura menyapu ruangan. Di pojok dekat jendela, seorang wanita dengan gaya modis melambaikan tangan dengan penuh semangat.

​"Laura! Di sini!" seru Iren.

​Laura mempercepat langkahnya. Keduanya berpelukan erat, melepas rindu yang tertahan selama tiga tahun.

​"Ya ampun, Ra! Kamu berubah banget, makin cantik! Aura pengantin barunya masih kerasa ya," goda Iren setelah mereka duduk.

​Laura hanya tertawa hambar. "Bisa saja kamu, Ren. Kamu sendiri gimana? Lulusan luar negeri pasti sekarang sudah jadi bos, ya?"

​Obrolan mengalir lancar. Mereka memesan minuman dan camilan, menertawakan masa-masa SMA yang konyol. Namun, saat Iren mulai bertanya lebih dalam tentang suaminya, Alex, senyum Laura perlahan memudar.

​"Jadi, Alex itu orangnya gimana? Dingin-dingin romantis atau tipe yang manja?" tanya Iren penasaran.

​Baru saja Laura hendak menjawab, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk. Nama yang tertera membuat darah Laura seolah berhenti mengalir.

​Lexi.

​Laura menelan ludah. Ia melirik Iren yang menatap ponselnya dengan dahi berkerut.

​"Siapa, Ra? Kok nggak diangkat? Suamimu ya?" tanya Iren polos.

​Tangan Laura gemetar. Jika ia tidak mengangkatnya, Lexi pasti akan curiga dan bisa berbuat nekat. Tapi jika ia mengangkatnya, Iren akan melihat pria itu—bukan Alex, melainkan kakak iparnya yang sedang "menguasainya".

​Drrrttt... Drrrttt...

​Panggilan itu mati, namun sedetik kemudian muncul pesan masuk yang terpampang di layar kunci:

​(Angkat, Laura. Atau aku kirim orang ke posisimu sekarang juga. Aku tahu kamu tidak di rumah.)

​Wajah Laura pucat pasi. Lexi benar-benar mengawasinya.

​"Eh, maaf Ren, aku ke toilet sebentar ya. Penting," pamit Laura terburu-buru.

​Ia setengah berlari menuju area toilet yang sepi, lalu dengan berat hati menekan tombol hijau saat panggilan video itu kembali masuk. Layar ponselnya langsung menampilkan wajah tegas Lexi yang terlihat sedang berada di sebuah ruangan mewah, mungkin hotel tempatnya menginap.

​"Lama sekali," suara berat Lexi menggelegar di speaker ponsel. Matanya menyipit tajam menatap penampilan Laura. "Sedang di mana kamu? Dan... kenapa dandan secantik itu? Untuk siapa?"

​Laura mendesis kesal, berusaha meredam suaranya. "Aku sedang bertemu teman lama, Lexi! Bisa tidak sehari saja jangan menggangguku?"

​"Teman? Laki-laki atau perempuan?" cecar Lexi tanpa peduli protes Laura. "Tunjukkan padaku siapa orangnya. Sekarang,Jangan membantah, Laura. Putar kameranya sekarang atau aku anggap kamu sedang bersama laki-laki lain," suara Lexi merendah, namun setiap katanya terdengar seperti ancaman yang nyata.

​Laura mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia perempuan, Lexi! Namanya Iren, teman SMA-ku. Apa aku bahkan tidak boleh punya kehidupan sosial sedikit pun?"

​Lexi menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran di kamar hotelnya, menatap layar dengan tatapan intimidasi yang membuat bulu kuduk Laura berdiri. "Kehidupan sosialmu adalah urusanku selama kamu mengandung anakku. Aku tidak peduli dia teman lama atau bukan. Kalau dia membawamu ke pengaruh buruk atau membuatmu kelelahan, aku akan memastikan kalian tidak akan pernah bertemu lagi."

​"Kamu gila!" bisik Laura tajam.

​"Aku berkuasa, Laura. Itu bedanya," potong Lexi cepat. "Sekarang kembali ke mejamu. Tunjukkan wajah temanmu itu padaku. Kalau aku tidak melihatnya dalam sepuluh detik, aku akan menelepon anak buahku untuk menjemputmu paksa dari kafe itu. Kamu tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."

​Laura memejamkan mata sesaat, menahan sesak di dadanya. Ia tahu Lexi adalah tipe pria yang akan meruntuhkan seluruh gedung hanya untuk menemukan satu orang. Dengan langkah gontai dan wajah yang berusaha dinetralkan, Laura kembali ke meja tempat Iren menunggu.

​"Lama banget, Ra? Siapa sih yang telepon? Suami kamu ya?" tanya Iren penasaran saat melihat Laura duduk kembali.

​Laura memaksakan senyum kaku. Ia mengarahkan ponselnya seolah sedang bercermin, namun sebenarnya lensa kamera itu menangkap sosok Iren dengan jelas.

​"Iya, Ren. Dia... dia sedikit posesif," jawab Laura pelan, matanya melirik layar kecil di pojok ponselnya.

​Di seberang sana, Lexi mengamati Iren dengan tatapan menilai yang dingin, seolah sedang memindai apakah wanita di depan Laura itu merupakan ancaman bagi "propertinya".

​Setelah merasa cukup, Lexi kembali berbicara tanpa mempedulikan situasi Laura. "Sudah cukup. Sekarang matikan teleponnya, dan aku beri waktu tiga puluh menit. Setelah itu, kamu harus sudah berada di dalam taksi menuju rumah. Kalau lewat satu menit saja, jangan salahkan aku kalau besok pagi temanmu itu kehilangan pekerjaannya."

​Klik.

​Sambungan diputus secara sepihak. Lexi bahkan tidak memberikan kesempatan bagi Laura untuk memprotes.

​"Ra? Kok mukamu pucat gitu? Ada masalah?" Iren menyentuh tangan Laura yang dingin.

Iren tidak mendengar kata kata Lexi,karena Laura sengaja mengecilkan volume ponsel nya hingga temannya itu tidak bisa mendengar nya.

​Laura menatap Iren dengan rasa bersalah yang mendalam. Kebahagiaannya bertemu teman lama seketika sirna, digantikan oleh bayang-bayang otoritas Lexi yang mencekik.

​"Ren, maaf banget... sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap Laura terbata. "Suamiku... maksudku, ada urusan mendadak di rumah yang tidak bisa ditinggal."

​"Hah? Baru juga sebentar, Ra! Masa suamimu se-protektif itu sih?" Iren tampak kecewa.

​Laura hanya bisa meringis pahit sambil menyambar tasnya. Di dalam hatinya, ia mengutuk setiap tetes darah Lexi yang mengalir. Pria itu benar-benar menganggapnya sebagai tawanan, bukan manusia.

​"Lain kali kita bertemu ya? kamu masih lama kan dijakarta?" Laura tersenyum sebinar mungkin,meski saat ini hatinya sangat dongkol.

"Aku ada waktu 2 minggu di jakarta,,bagaimana kalau besok kita jalan jalan seharian? pasti seru kan?" ajak Iren berharap.

Laura seketika menyentuh perutnya yang mulai samar kelihatan buncit.

"Kamu sedang hamil ya? astaga,,aku bahkan tidak tahu akan hal itu,," Iren mengulurkan tangannya menyentuh perut Laura.

Laura mengangguk pelan.

"Pantas saja suamimu protektif,,ternyata kamu mengandung buah hatinya,,anak pertama biasanya sangat rentan keguguran,,yasudah lain kali saja kita jalan jalan,kita bertemu besok untuk makan siang saja bagaimana?" tawar Iren terlihat bahagia masih mengusap usap perut Laura.

"Boleh juga,tapi aku nggak janji ya? kalau suamiku mengijinkan baru aku bisa keluar,,tadi aku nggak ijin makanya suamiku marah," Laura tertawa menutupi kepahitan hatinya.

"Wajar dong suami marah karena kamu nggak ijin keluar,bagaimana kalau aku mengantarkan mu pulang?" tawar Iren lagi.

"nggak perlu,,aku bisa pulang sendiri,lagipula aku masih ke kantor suamiku sebentar," tolak Laura cepat.

bisa panjang urusannya kalau Iren sampai tahu lika liku kehidupannya.

Suaminya adalah Alex,tapi yang memegang kendali hidupnya adalah Lexi.

Aneh bukan? tapi itulah kenyataan nya.

bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!