Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tujuh — Subjek Prioritas Gen ke 2
Selamat membaca semoga suka dengan cerita baruku yaa
Pintu tertutup tanpa suara, begitu mereka benar-benar berada di dalam, udara berubah. Lebih dingin dan lebih kering, serta berbau bahan kimia dan logam.
Lorong panjang membentang lurus di depan mereka, lantai mengkilap, dinding abu-abu gelap, dan di setiap sudut atas terpasang CCTV kecil dengan lampu merah menyala stabil. Arsya menahan nafas sesaat. “Terlalu banyak mata,” bisiknya hampir tanpa suara.
Jay mengamati cepat. Pola kamera berputar perlahan. Tidak statis. Ada jeda sejenak–sedetik saat kamera bergerak dari satu sisi ke sisi lain. “Kita gerak saat kamera transisi,” gumam Jay pelan. Mereka menyatu dengan bayangan dinding. Pakaian gelap membantu, tidak ada pantulan cahaya mencolok.
Setiap langkah diatur mengikuti irama putaran kamera.
Satu…. Dua… geser.
Berhenti,... tunggu.
Geser lagi.
Di ujung lorong, dua pria berjas putih berjalan berdampingan. Tablet transparan menyala di tangan mereka, memantulkan grafik-grafik bergerak. Mereka tidak menyadari keberadaan empat bayangan yang membeku di sudut.
“Subjek B-17 menunjukkan sinkronisasi saraf 82%,” kata salah satu dari mereka dengan nada puas.
“Melampaui proyeksi,” jawab yang lain. “Atasan mungkin akan sangat senang mendengar hal ini semua.”
“Itu sudah pasti.” salah satu dari mereka tersenyum tipis, senyum yang sangat jauh dari kata hangat, senyum seseorang yang melihat manusia sebagai angka keberhasilan.
Arsya merasakan rahangnya menegang. Jay memberi isyarat kecil agar tetap tenang. Percakapan itu berlanjut saat mereka berjalan melewati lorong samping. “Yang kelompok usia di atas empat puluh?”
“Tidak stabil, sebagian dieliminasi dari fase dua. Sisanya dipindahkan.”
“Ke bawah?”
“Ya.”
Langkah mereka menjauh, namun kata “ke bawah” menggantung di udara seperti beban. Vano menoleh sedikit ke arah Jay.
Jay sudah membaca arah mata Vano. Ruang bawah tanah… pusat eksperimen kemungkinan besar ada di sana. Niki mendekat setengah langkah, berbisik, “kita butuh akses ke sistem CCTV atau ruang server. Kalau tidak, kita akan ketahuan cepat atau lambat.”
Jay menunjuk ke papan petunjuk kecil di dinding. “Administrasi–level 1. Laboratorium–level 2. Fasilitas Penahanan–Sublevel.”
Sublevel.
Arsya merasakan dadanya bergetar halus.
Fasilitas penahanan, orang-orang yang dianggap tidak kompatibel, atau yang menolak. “Prioritas?” bisik Vano. Jay berpikir cepat, “server dulu. Kita butuh peta internal lengkap dan jadwal patroli. Setelah itu… turun.”
Arsya menatap ke arah lorong lain yang lebih gelap, di balik salah satu pintu logam tertutup, terdengar suara, namun tidak ada teriakan atau raungan. Hanya gesekan berat. Seperti sesuatu bergerak dengan bobot tidak wajar.
Ia menahan nafas, gedung ini bukan hanya pusat vaksin, melainkan sebuah pabrik. Dan mereka sekarang berada tepat di jantungnya. Jay memberi isyarat tangan lagi, mereka bergerak menyusuri lorong menuju administrasi.
Di belakang mereka, salah satu CCTV berputar sedikit lebih lama dari biasanya. Lampu merahnya berkedip, sekali, lalu kembali stabil. Tanpa mereka sadari, seseorang di ruang kontrol mungkin baru saja melihat bayangan yang tidak terdaftar dalam sistem.
Di balik beberapa lapis kaca gelap dan monitor yang tersusun rapi, seseorang memang melihat. Ruang kontrol itu remang, hanya diterangi cahaya layar biru kehijauan yang memantulkan garis-garis data dan sudut kamera dari seluruh gedung..
Satu layar menampilkan lorong administrasi. Empat bayangan bergerak cepat… terlalu cepat untuk warga biasa. Terlalu terlatih untuk sekedar pengungsi.
Pria yang duduk di kursi utama tidak langsung bereaksi, ia hanya sedikit memiringkan kepala, memperbesar rekaman dan mengulang dua detik terakhir. Bayangan itu terlihat lagi, sekilas pantulan kain gelap saat kamera bertransisi, sudut bibirnya terangkat.
Sangat tipis. Hampir tak terlihat.
“Menarik…” gumamnya pelan.
Di belakangnya, seorang operator lain masih fokus pada grafik stabilitas subjek uji coba. “Pak? Ada anomali?” tanya operator itu tanpa menoleh. Pria itu tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak pelan di atas panel kontrol.
Alih-alih menekan tombol alarm, ia justru mengalihkan satu kamera ke sudut berbeda. Menghapus jejak dua detik rekaman dari sistem utama.”Tidak,” jawabnya akhir dengan tenang.” Hanya glitch kecil, sistem kita belum sepenuhnya stabil.”
Operator itu mengangguk dan kembali bekerja. Pria di kursi utama menatap layar lain, kamera yang mengarah ke pintu barat. Dua penjaga yang seharusnya ada di sana… tidak terlihat. Ia menyandarkan tubuhnya, senyum tipis itu muncul lagi.
“Jadi… kalian benar-benar datang.”
Matanya beralih ke monitor yang memperlihatkan wajah Jay sekilas saat melintas cahaya redup. Ia memperbesar gambar itu, mata pria itu menyipit. “Anak itu…”
Ia pernah melihat wajah itu sebelumnya. Dalam berkas lama, dalam daftar keluarga yang “tidak kompatibel.” ia berdiri perlahan dari kursinya, tidak menekan alarm maupun memanggil penjaga tambahan.
Sebaliknya, ia memastikan satu demi satu kamera di lorong administrasi selama tiga puluh detik ke depan. Cukup waktu untuk empat penyusup bergerak lebih dalam.
“Kalau kalian ingin tahu kebenarannya…” gumamnya lirih. “Maka buktikan jika kalian layak menemukannya.” ia bukan sekedar ilmuwan, ataupun sebagai pengawas. Tentu juga bukan orang yang sepenuhnya setia pada sistem.
Matanya menyimpan sesuatu yang lain, rasa ingin melihat runtuhnya kebohongan yang selama ini ia bantu bangun.
Sementara itu, di lorong administrasi, Jay berhenti mendadak. “Kamera mati,” bisiknya. Niki langsung waspada, “itu bukan kabar baik,” Arsya menatap ke langit-langit, lampu merah CCTV padam.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Jay merasakan firasat aneh, “kita sedang diberi jalan,... atau sedang dipancing.”
Dan jauh di ruang kontol, pria itu kembali duduk. Menunggu.
Ingin melihat apakah empat bayangan itu hanya percikan kecil atau api yang benar-benar bisa membakar Kota Abadi dari dalam.
“Kita bergerak cepat,” bisik Jay tegas. “Anggap ini bantuan.”
“Bantuan yang bisa berubah jadi jebakan,” balas Niki pelan.
“Kalau kita diam, kita tetap kalah,” jawab Jay singkat.
Tak ada lagi perdebatan, mereka memanfaatkan tiga puluh detik tanpa mata. Langkah mereka berubah lebih cepat, lebih rendah, tetap terkontrol. Arsya membuka jalur di depan, Vano mengawasi sisi kanan, Niki memantau belakang, Jay menghitung waktu dalam kepala.
Lorong administrasi berada di ujung sayap gedung. Pintu kaca buram dengan tulisan: CONTROL & DATA CORE - AUTHORIZED ONLY. Terkunci sidik jari.
Jay langsung berlutut di panel kecil di samping pintu, “dua menit,” gumamnya. “Katamu kita cepat,” bisik Niki. “Cepat itu relatif.”
Vano berdiri tepat di sisi dinding, siap jika ada yang muncul. Arsya mengamati persimpangan lorong. Jantungnya berdetak keras, tapi pikirannya tetap jernih.
Jay mengeluarkan kartu identitas penjaga yang tadi mereka ambil. Ia membuka casing kecilnya, mengambil chip tipis di dalamnya, lalu menyelipkannya ke celah panel akses.
Lampu panel berkedip, merah.
Merah.
Hijau.
Klik.
Pintu terbuka sedikit, Jay mendongak. “Masuk.” mereka menyelinap ke dalam. Ruang kontrol lebih luas dari dugaan mereka. Dinding penuh monitor. Grafik detak jantung, peta kota, serta feed kamera dari berbagai sudut gedung.
Di tengah ruangan– seorang pria berdiri membelakangi mereka. Tangannya terlipat di belakang punggung, seolah sudah menunggu kedatangan mereka. Arsya langsung mengangkat tongkatnya, Niki mengarahkan pistol.
Vano bergerak ke sisi kiri untuk sudut aman. Jay tetap diam beberapa detik. Pria itu perlahan berbalik dengan wajah tenang, tidak terkejut dan tentunya tatapan yang tajam. “Kalian lebih cepat dari yang saya perkirakan,” katanya pelan.
Arsya menegang, “jangan bergerak.”
Pria itu mengangkat kedua tangannya perlahan. “Saya tidak menekan alarm.” Jay menatap layar di belakangnya, benar, tidak ada indikator darurat aktif. “Kau yang mematikan kamera,” kata Jay. bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
Pria itu tersenyum tipis, “aku hanya ingin melihat.. Apakah masih ada orang yang cukup berani untuk masuk ke sini tanpa diundang?” Niki tidak menurunkan senjatanya. “Kenapa membantu kami?”
Pria itu melirik sekilas ke monitor yang menampilkan ruang penahanan sublevel. “Karena sistem ini tidak lagi menyelamatkan manusia.” Arsya menatapnya tajam, “lalu apa yang dilakukannya.”
“Memilih,” jawab pria itu dingin. “Siapa yang dikendalikan dan siapa yang dibuang.” Jay melangkah satu langkah maju. “Sebenarnya kamu siapa?” pria itu terdiam sesaat. “Seseorang yang terlalu lama melihat angka… dan lupa bahwa itu manusia.”
Layar di belakangnya berubah. Ia menekan satu tombol, peta internal gedung muncul. Termasuk jalur menuju sublevel. “Kalau kalian mencari jawaban,” katanya pelan, “itu ada di bawah.”
Jay merasakan sesuatu menguat dalam dadanya, firasat nya benar. Ada yang muak dan juga ada yang retak di dalam sistem ini. Namun tetap, ia belum sepenuhnya percaya pada pria di depannya. “Kenapa kami?” tanya Jay pelan.
Tatapan pria itu berubah lebih dalam, “karena namamu ada di daftar.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
“Daftar apa?” Tanya Arsya.
Pria itu menatap langsung ke arah Jay, “Daftar subjek prioritas generasi kedua, kau telah diincar sejak lama Jay.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya, Jay merasa bahwa Kota Abadi bukan hanya sebuah pusat eksperimen saja melainkan tempat yang sudah lama menunggu kedatangannya.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri like dan votenya yaa...