Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Kinan tertegun mendengar permintaan maaf Kyai Mansyur.
Air matanya yang semula deras perlahan mereda, digantikan rasa hormat yang luar biasa.
Ia memberanikan diri mendekat, lalu meraih tangan tua yang keriput itu dan menciumnya dengan khidmat.
Isak tangisnya kini berubah menjadi keharuan karena merasa benar-benar diterima oleh sosok ayah yang bijaksana.
"Terima kasih, Abah. Terima kasih," bisik Kinan parau.
Kyai Mansyur mengangguk tenang, matanya berkaca-kaca melihat ketulusan menantunya. Adnan segera bergerak sigap.
Ia memapah tubuh kurus istrinya, membimbingnya keluar dari lingkungan pesantren yang baru saja memberikan luka itu.
Dengan perlahan, Adnan membantu Kinan masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan gerbang pesantren dan tatapan penuh kebencian Fauziah yang masih terpaku di kejauhan.
Di dalam kabin mobil yang sunyi, Adnan menggenggam tangan Kinan dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengemudi.
"Sudah, jangan menangis lagi. Semua sudah berlalu," ucap Adnan lembut, sesekali melirik Kinan yang masih menyandarkan kepalanya di kaca jendela.
"Kita cari makan malam dulu ya. Dari tadi kita belum makan apa-apa karena keributan tadi. Mas lapar sekali, Sayang."
Mendengar kata "lapar" dan panggilan "Sayang" yang begitu tulus, perut Kinan seolah teringat bahwa ia memang belum menyentuh makanan sejak siang.
Ia mengangguk pelan, mencoba mengulas senyum kecil untuk menghargai usaha suaminya.
Adnan membelokkan setir dan menghentikan mobilnya di depan sebuah warung tenda di pinggir jalan yang cukup ramai namun terasa hangat.
Aroma gurih bumbu yang digoreng menusuk penciuman.
Sebuah papan kayu bertuliskan "Nasi Goreng & Mie Goreng Spesial Pak Kumis".
"Kita makan di sini saja ya? Lesehan di atas tikar. Angin malamnya segar," ajak Adnan.
Mereka turun dari mobil. Adnan memilih sudut yang agak tenang, jauh dari keramaian orang agar Kinan merasa nyaman.
Mereka duduk bersila di atas tikar plastik yang digelar di trotoar yang bersih.
"Mas pesan nasi goreng pedas satu, dan mie goreng godog satu ya untukmu. Biar badanmu hangat," ujar Adnan sambil memesankan makanan.
Kinan menatap suaminya yang duduk bersila di depannya. Adnan masih mengenakan baju koko tiga puluh lima ribuan pemberiannya.
Di bawah lampu neon warung tenda yang terang, Adnan tampak begitu tampan dan bersahaja.
Tidak ada raut malu sedikit pun di wajah sang Ustadz saat duduk lesehan di pinggir jalan bersama istrinya.
"Mas, terima kasih ya," ucap Kinan lirih di tengah riuh suara penggorengan.
"Untuk apa?" tanya Adnan sambil tersenyum.
"Untuk semuanya. Untuk tetap memegang tanganku saat semua orang ingin melepasnya."
Asap mengepul dari piring nasi goreng dan mie godog yang baru saja diletakkan penjual di atas meja pendek lesehan itu.
Aroma bawang putih dan ebi yang digoreng garing menyeruak, membangkitkan selera makan yang sempat hilang karena tangis.
Adnan mengambil sendok, lalu dengan teliti menyisihkan beberapa potongan cabai rawit dari piring mie milik Kinan.
Ia ingin memastikan istrinya makan dengan nyaman tanpa rasa pedas yang menyengat di perutnya yang masih lemah.
"Ayo dimakan, mumpung masih hangat," ucap Adnan lembut.
Kinan menyendok mie godog itu perlahan. Kuahnya yang kental dan gurih terasa menyapu kerongkongannya yang kering.
Kehangatan masakan sederhana itu seolah merambat ke seluruh hatinya yang sempat membeku karena cacian para santri tadi.
"Enak?" tanya Adnan sambil menatap wajah istrinya dengan binar penuh perhatian.
Kinan tertegun sejenak, lalu menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia menyeka sudut bibirnya yang terkena kuah, lalu tersenyum tipis.
"Enak sekali, Mas. Terima kasih," bisik Kinan.
Mereka makan dalam diam yang menenangkan, hanya ditemani suara bising kendaraan yang lewat dan denting sudip yang beradu dengan wajan di depan tenda.
Di bawah lampu neon warung kaki lima itu, Adnan tetap terlihat berwibawa meski hanya memakai baju koko murah pemberian Kinan.
Bagi Adnan, makan lesehan di pinggir jalan seperti ini terasa jauh lebih mewah daripada jamuan di aula pondok, karena di sini, ia bisa melihat istrinya mulai tenang.
Setelah selesai makan dan membayar, Adnan kembali membimbing Kinan masuk ke dalam mobil.
Perjalanan berlanjut menyusuri jalanan kota yang mulai lengang.
Lima belas menit kemudian, mobil melambat dan berbelok masuk ke sebuah area perumahan yang asri dan tenang.
Adnan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah pagar besi hitam yang menjulang.
Adnan turun sebentar untuk membuka pagar, lalu memajukan mobilnya ke dalam halaman yang cukup luas.
"Kita sudah sampai," ucap Adnan sambil mematikan mesin.
Kinan turun dari mobil dengan ragu. Ia mendongak, menatap bangunan di depannya.
Matanya seketika membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Di hadapannya berdiri sebuah rumah tingkat bergaya minimalis modern yang tampak sangat kokoh dan elegan.
Cat dindingnya yang berwarna krem dipadu dengan lampu-lampu taman yang hangat membuatnya terlihat sangat mewah namun tetap nyaman.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Kinan terbata-bata sambil menatap Adnan dengan tatapan tidak percaya.
Adnan berjalan mendekat, merangkul pundak Kinan yang masih tampak mungil dalam balutan gamisnya.
"Ini rumah kita, Kinara," jawab Adnan lembut, suaranya mantap.
"Mas membelinya dengan hasil tabungan mengajar dan sedikit warisan dari mendiang Ibu. Tadinya Mas siapkan untuk masa depan dan ternyata, masa depan itu adalah kamu. Mulai malam ini, tidak akan ada yang bisa menghinamu di sini. Di sini, kamu adalah ratunya."
Kinan masih terpaku, menatap rumah megah itu dengan hati yang bergetar.
Ia merasa seperti sedang bermimpi di tengah siang bolong.
Lampu taman yang berpendar hangat menyinari wajah Kinan yang masih terpaku.
Ia melangkah ragu, mengikuti Adnan yang baru saja memutar kunci pintu utama yang terbuat dari kayu jati kokoh.
Begitu pintu terbuka, semilir aroma pengharum ruangan yang lembut menyambut mereka.
Kinan melangkahkan kaki pertama kalinya ke dalam rumah itu.
Lantai granit yang dingin dan bersih mengkilap memantulkan bayangannya.
Ruang tamunya luas dengan langit-langit yang tinggi, memberikan kesan megah sekaligus tenang. Kinan merasa seperti masuk ke dalam istana yang hanya pernah ia lihat di televisi.
Ia berjalan perlahan, jemarinya menyentuh dinding yang dicat dengan warna krem lembut.
Ada sofa empuk di sudut ruangan, namun sebagian besar sudut rumah itu memang masih terasa kosong.
Belum banyak pajangan atau perabotan yang mengisi setiap jengkal ruangannya.
"Mas, rumah ini terlalu bagus untukku," bisik Kinan, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.
Adnan berjalan di belakangnya, menatap punggung kurus istrinya dengan tatapan penuh perlindungan.
Ia meletakkan kunci mobil di atas meja kecil dekat pintu.
"Rumah ini milikmu sekarang, Kinara. Mas sengaja belum mengisi semuanya," ucap Adnan sambil mendekat.
Ia menyadari tatapan Kinan yang terpaku pada sudut-sudut ruangan yang masih melompong.
"Masih banyak yang belum Mas beli. Rumah ini baru saja selesai direnovasi bulan lalu, dan Mas belum sempat berbelanja perabotan yang lengkap," Adnan tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang tadi sempat tegang di pondok.
Kinan berbalik, menatap Adnan yang masih mengenakan baju koko tiga puluh lima ribuan pemberiannya.
Di tengah kemewahan rumah ini, baju murah itu justru membuat Adnan terlihat jauh lebih mulia di mata Kinan.
"Tapi ini sudah sangat lebih dari cukup, Mas. Aku bahkan tidak pernah bermimpi bisa tidur di tempat seindah ini."
Adnan memegang kedua bahu Kinan, menatap matanya dalam-dalam.
"Besok, setelah Mas selesai urusan sebentar di pondok, kita ke mall ya? Kita belanja semua kebutuhanmu. Mulai dari isi dapur, hiasan kamar, sampai baju-baju baru yang lebih banyak lagi. Mas ingin kamu sendiri yang memilih warnanya. Mas ingin kamu merasa bahwa ini benar-benar rumahmu."
Kinan menunduk, bibirnya bergetar menahan haru.
"Tapi uang Mas nanti habis..."
"Rezeki suami itu ada karena doa istrinya, Kinan," potong Adnan lembut.
"Jangan pikirkan soal uang. Pikirkan saja bagaimana cara agar kamu bahagia di sini. Sekarang, ayo Mas tunjukkan kamarmu di lantai atas. Mas sudah siapkan tempat tidur yang paling nyaman untukmu istirahat."
Adnan membimbing Kinan menaiki anak tangga kayu yang kokoh menuju lantai dua.
Suasana rumah baru ini terasa begitu tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk dan ketegangan di pondok pesantren tadi sore.
Di atas, Adnan membuka sebuah pintu ganda yang menuju ke kamar utama.
Kamar itu sangat luas, dengan sebuah tempat tidur besar berbalut seprai putih bersih yang tampak sangat empuk.
Di salah satu sisinya, terdapat jendela besar yang langsung menghadap ke arah taman belakang, membiarkan cahaya bulan masuk menyinari ruangan.
"Ini kamar kita, Kinan," ucap Adnan lembut.
Kinan terpaku di ambang pintu. Ia merasa seolah-olah masuk ke dalam mimpi.
Kamar ini begitu wangi, bersih, dan sangat terhormat.
Jauh berbeda dengan kamar-kamar sempit dan pengap yang pernah ia tinggali sebelumnya.
Adnan mendekat, lalu dengan lembut tangan kasarnya merapikan bantal untuk istrinya.
"Ayo, istirahatlah. Tubuhmu sudah sangat lelah hari ini. Kamu baru saja sembuh dari sakit, dan batinmu juga pasti sangat letih setelah kejadian tadi."
Kinan perlahan duduk di pinggir ranjang. Rasanya sangat empuk, seolah memeluk tubuh kurusnya yang sedang rapuh.
Adnan kemudian duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat agar Kinan tidak merasa tertekan, namun cukup dekat untuk memberikan rasa aman.
"Mas tidak tidur?" tanya Kinan lirih.
"Mas akan menemanimu sampai kamu terlelap," jawab Adnan sambil tersenyum menenangkan.
"Jangan pikirkan apa pun lagi. Besok adalah hari baru. Tidak ada lagi santri yang menghina, tidak ada lagi orang jahat. Di sini hanya ada Mas yang akan menjagamu."
Adnan menyelimuti tubuh Kinan hingga sebatas dada.
Kemudian ia mengusap puncak kepala istrinya yang masih tertutup hijab instan itu.
Di bawah temaram lampu tidur, Adnan mulai membacakan doa-doa perlindungan dengan suara rendah yang sangat merdu, seolah sedang menyanyikan nina bobo suci untuk jiwa Kinan yang sedang terluka.
Kinan memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar bisa tertidur tanpa rasa takut akan hari esok.
Di sampingnya, suaminya yang masih mengenakan baju koko tiga puluh lima ribu itu adalah tembok kokoh yang menjaganya dari kerasnya dunia.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅