NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam

Pagi harinya, Meira dan Ayara berjalan beriringan memasuki kelas, mereka mengamati keadaan sekitar. Ayara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjuk angka enam lebih lima menit. Masih sangat pagi. Tetapi suasana kelas sudah ramai dan semua orang di sana sibuk menulis.

"Lo ngerjain apa, Lan?" tanya Ayara saat sudah tiba di bangkunya.

"Tugas Kimia, Ay. Lo udah ngerjain?" jawab Lana tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.

Ayara membulatkan mulutnya seraya menggumamkan kata 'oh' panjang. "Udah, gue liat punya Meira semalem."

"Gue lihat, ya." pinta Lana, Ayara mengangguk cepat.

"Meira, gue pinjam catatan tugas lo boleh gak?" Meira menoleh pada Hesty.

"Gue juga ya, Mei." Haris ikut-ikutan.

"Apaan sih, lo, gue duluan." Hesty langsung menyela Haris.

"Barengan aja, dong, Ty." bujuk Haris. "Gue belum ngerjain sama sekali, lo mah kan tinggal separuh."

Hesty menolak. "Enggak, pokoknya gue duluan!"

"Kalian berdua berisik banget, sih. Belum tentu juga Meira mau ngasih, kan." sahut Ilham dari belakang.

Hesty dan Haris langsung menatap Meira dengan tatapan memohon. Meira yang ditatap seperti itu terkekeh pelan. "Boleh, kok." ucapnya. Ia membuka tas nya dan mengambil buku tugas miliknya.

"Makasih, Mei, cantiknya nambah satu level!" Hesty buru-buru merebut buku dari tangan Meira sebelum Haris yang mengambilnya duluan.

"Ada maunya doang dia, Mei." Ilham mencibir.

"Diem, lo."

Meira memandangi teman-temannya satu persatu. Kepalanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Ia berbalik kembali ke kursinya kemudian duduk disana. Tangannya merogoh saku kecil pada tas nya ketika mendengar satu notifikasi dari ponselnya.

1 pesan belum terbaca dari No Name.

No Name :

Terimakasih sudah mau menuruti perkataanku untuk pergi ke kota ini dan sekolah disini.

Ibumu masih hidup, percayalah.

Meira bergeming usai membaca pesan itu. Kerutan di keningnya tak berangsur menghilang. Sebenarnya siapa yang mengimiri pesan ini? Apa dia kenal dengan Ibu? pikiran Meira berkecamuk. Jujur saja, terbesit rasa senang bila memang Ibunya masih hidup. Namun, kenyataannya, ia sama sekali belum bertemu dengannya selama pindah kesini. Meira jadi belum yakin kalau Ibunya benar-benar masih hidup.

Brakk.

Meira hampir terlonjak mendengar suara gebrakan dari arah meja guru. Begitu pula dengan semua teman-temannya. Ia melihat ke arah depan dimana seorang cowok sudah berdiri tegak disana.

"Apaan sih, Rey. Lo ngagetin kita semua tahu gak. Caper banget!" pekik Lana sangat emosi. Ia sama kagetnya dengan Meira, sampai tak sengaja menimbulkan coretan pada tulisannya.

Cowok itu berdehem sekilas. Tanpa menghiraukan kekesalan teman-temannya, ia menulis sesuatu di papan tulis. Semua pasang mata memerhatikan ke arahnya.

"Ini soal paling sulit yang ada di ulangan Fisika kemarin lusa. Bahkan Bu Resma bilang kalau soal ini nggak ada di kurikulum kelas 11. Dia sengaja masukin buat ngecoh." jelasnya setelah selesai menulis. Cowok itu berdiri disamping papan tulis.

"Terus lo mau ngapain?" Haris menanggapi dengan gemas.

Tatapan Rey beralih pada Meira yang masih setia di tempat duduknya. Perlahan Rey berjalan mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari mata Meira yang kini juga sedang menatapnya dengan bingung.

"Hampir semua orang menjawab salah di soal itu, termasuk gue. Dan cuma lo satu-satunya orang yang jawab benar..." cowok itu menjeda ucapannya. "Jadi, harusnya lo bisa mengerjakannya, bukan? Gue udah ubah angka dan teorinya sedikit. Harusnya sih lo masih mampu kalau emang beneran bisa." Rey berkata tepat di hadapan Meira.

Meira hanya diam, membalas tatapan Rey yang tampak sangat jelas ingin menjatuhkan. Ia menumpukan sebelah tangannya di meja Meira, mensejajarkan wajahnya dengan cewek itu. Tangan sebelahnya menyodorkan spidol pada Meira. "Silahkan." katanya bernada perintah.

Meira mengatupkan mulutnya. Dihelanya napas panjang, berusaha mengontrol emosi. Apa yang sebenarnya cowok ini inginkan darinya? Kenapa dia sangat tidak terima dengan nilainya yang tidak sengaja Meira kalahkan?

Meira bangkit berdiri dengan tatapan yang masih mengarah pada Rey. Pandangannya kemudian turun ke arah spidol yang dipegang cowok itu. Ia mengambil benda itu dengan santai.

Meira tersenyum sambil mengangguk. Kakinya melangkah mendekati papan tulis. Kepalanya kembali menoleh pada Rey yang sudah duduk di mejanya sambil melipat tangan di dada. Diarahkannya spidol pada papan, lalu mulai fokus mengisi soal.

Ayara dan teman-temannya yang lain melihat Meira yang mengisi soal tanpa berkedip sekalipun. Dua menit kemudian, Meira sudah berhasil menyelesaikan soal itu. Cewek itu mundur selangkah, baru kemudian berbalik. Bukan Meira Adisty namanya bila tidak bisa mengerjakan soal-soal yang berbau hitungan dan angka. Apalagi soal yang dikerjakannya ini terbilang cukup mudah baginya, karena ia sudah pernah membaca cara penyelesaiannya dari buku Fisika Umum.

"Udah?" Meira melangkah perlahan ke hadapan Rey. Kali ini cowok itu yang terdiam. Senyuman kecil mulai terbit di wajahnya sambil menatap Meira lekat.

"Ini masih permulaan." ucap Rey santai. "Pulang sekolah, gue pengen lo adu soal sama gue. Gimana?" tanya Rey dengan gaya santainya.

Meira semakin dibuat heran dengan cowok ini. Sebegitu tidak terima nya kah dia dengan kekalahannya? Bukan, sebenarnya tidak ada yang kalah disini. Hanya saja ini tentang ketelitian, jika cowok ini teliti dengan pekerjaannya, ia pasti tidak akan pernah keliru. Apalagi sampai memojokkan seseorang hanya untuk membuktikan kalau orang itu tidak lebih baik darinya.

"Gimana, lo terima tawaran gue?" Rey mengulang pertanyaannya.

Meira berpaling ke arah lain. Tingkah Rey benar-benar berhasil menguras kesabarannya. "Oke." putusnya kemudian.

Meira berjalan kembali ke tempat duduknya. Tidak menoleh lagi ke arah Rey. Ia kini justru malah terfokus pada ponselnya.

Rey mengangkat bibirnya, menampilkan seringaian kecil. "Kita lihat aja nanti siapa yang menang." gumamnya dengan sangat percaya diri. Seringaiannya tidak pudar sampai ia meninggalkan semua orang yang masih menatapnya dengan kening berkerut.

"Masih belum terima kayaknya dia." cibir Haris.

"Bener tuh, jangan terlalu di pikirin, Mei. Dia orangnya emang gitu." tambah Hesty.

"Ngomong-ngomong, jawaban Meira betul, guys. Pantes aja si kutub gak terima." Lana menunjukkan ponselnya pada semua orang, disana terdapat jawaban soal dari Rey yang didapatnya dari sebuah aplikasi belajar daring.

"Keep strong, Mei." Ayara menepuk bahu Meira.

Meira menatap teman-temannya dengan senyuman mengembang. "Iya." ucapnya.

"Duh, senyumannya berdamage banget." Haris memejamkan matanya sambil memegang dada.

"Dasar, buaya darat." Ilham menoyor kepala Haris keras.

Meira hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Haris dan Ilham, meski dalam hati kecilnya, ganjalan dari pesan No Name tadi masih terasa lebih berat daripada gertakan Rey.

Pelajaran berlangsung seperti biasa, namun atmosfer di kelas XI IPA 1 terasa sedikit berbeda. Gosip tentang adu mekanik antara Sang Ketua Kelas dan si Anak Baru menyebar cepat bak api di padang rumput kering. Meira berusaha fokus pada penjelasan guru, meski sesekali ia bisa merasakan tatapan tajam Rey dari barisan sebelah yang seolah sedang menghitung mundur waktu.

"Mei, beneran mau dijabanin?" bisik Hesty sambil mencatat materi dari papan tulis. "Si Rey itu kalau udah ambis bisa ngerjain soal olimpiade sambil merem, lho."

"Gak apa-apa, Ty. Kalau aku tolak, dia bakal terus-terusan ganggu aku." jawab Meira tenang.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!