NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Kabar putusnya Danesha dan Evangeline menyebar di kampus lebih cepat daripada api yang melalap jerami kering. Evangeline tidak terima.

Baginya, diputuskan oleh Daneshapria yang baru saja ia beri makan obat perangsang adalah penghinaan kasta tertinggi.

Senin pagi di koridor fakultas hukum yang ramai, Evangeline mencegat Danesha dan Pricillia yang berjalan berdampingan. Danesha tampak sangat berbeda; ia berjalan dengan tangan yang tertanam kuat di pinggang Pricillia, seolah sedang mendeklarasikan kepemilikan mutlak.

"Danesha! Berhenti!" teriak Evangeline. Matanya sembab, tapi penuh kebencian.

"Jadi ini alasan kamu? Kamu ninggalin aku cuma buat tidur sama sahabat kamu sendiri? Murahan banget ya kamu, Pris!"

Langkah Danesha terhenti. Suasana koridor mendadak mencekam. Mahasiswa lain mulai berkumpul, membentuk lingkaran drama.

Danesha tidak melepaskan rangkulannya. Ia justru menarik Pricillia sedikit ke belakang tubuhnya, melindunginya dari telunjuk Evangeline yang bergetar.

"Jaga mulut lo, Vang," suara Danesha rendah, bergetar karena amarah yang ditahan. "Satu-satunya yang murahan di sini adalah cewek yang kasih obat ke minum cowok karena nggak laku kalau pakai cara normal. Itu lo."

Evangeline tertawa histeris. "Kalian semua denger! Danesha ini cuma korban manipulasi cewek polos ini! Pricillia itu cuma parasit yang nggak mau kehilangan sumber duit dan perhatian!"

Danesha melangkah maju, menatap Evangeline dengan tatapan paling dingin yang pernah ada. "Lo salah. Pricillia bukan parasit. Dia adalah alasan gue masih waras sampai sekarang. Dan soal semalam? Gue yang mohon-mohon sama dia. Gue yang maksa dia buat nerima semua gairah gue karena gue jijik buat nyentuh lo."

Danesha mencondongkan tubuh, berbisik namun cukup keras untuk didengar orang-orang di depan. "Pricillia sekarang milik gue sepenuhnya. Luar, dalam, sampai ke jiwanya. Kalau lo berani hina dia sekali lagi, gue nggak akan segan-segan bawa kasus obat semalam ke dekanat. Lo mau dikeluarkan secara tidak hormat?"

Evangeline terbungkam.

Wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia baru saja membangunkan sisi gelap Danesha yang selama ini disembunyikan oleh senyum ramahnya.

Dua minggu berlalu sejak malam panas itu. Danesha menjadi sangat lengket. Ia tidak bisa jauh dari Pricillia. Candu itu semakin parah, ia harus mencium Pricillia sebelum masuk kelas, dan harus memeluknya setiap ada kesempatan.

Suatu pagi di rumah Pricillia, saat mereka sedang sarapan, Pricillia mendadak menutup mulutnya. Wajahnya pucat, dan ia berlari menuju kamar mandi bawah.

Huekk... huekk...

Danesha yang sedang asyik memakan rotinya langsung melompat kaget. Ia menyusul ke kamar mandi, memijat tengkuk Pricillia dengan cemas.

"My? Lo kenapa? Masuk angin?"

Pricillia duduk lemas di lantai kamar mandi, menatap Danesha dengan mata yang berkaca-kaca. "Gak tahu, Dan... dari tadi pagi pusing banget, terus bau kopi Papa bikin gue mual parah."

Danesha terdiam. Otaknya berputar cepat menghitung tanggal.

Sebuah senyum perlahan terukir di wajahnya, bukan senyum cemas, melainkan senyum penuh harap.

"My... jangan-jangan bibit gue waktu malam itu... mereka beneran jadi?" bisik Danesha, suaranya bergetar karena antusiasme yang luar biasa.

Ia berlutut, menempelkan telinganya ke perut datar Pricillia. "Halo? Ada orang di dalem? Ini Papa, Nak."

Pricillia tertawa di sela mualnya, memukul bahu Danesha pelan. "Danesha, jangan bego. Masih terlalu dini buat dipanggil Papa."

Hari itu juga, Danesha membeli sepuluh merk testpack yang berbeda. Ia menunggu di depan pintu kamar mandi dengan gelisah, mondar-mandir seperti orang gila. Saat Pricillia keluar membawa sepotong plastik kecil, Danesha langsung menyambarnya.

Satu garis merah.

Danesha mematung. Air mata jatuh dari sudut matanya. Ia langsung menggendong Pricillia dan memutarnya di udara. "Gue bakal jadi bokap! Pris, lo beneran hamil anak gue!"

"Dan, turunin! Gue pusing! Satu garis merah Ay" teriak Pricillia sambil tertawa.

Meskipun dua garis merah belum muncul, Danesha sudah berperilaku seolah Pricillia adalah harta karun yang paling rapuh di dunia.

Sejak malam itu, sifat Danesha berubah total. Dari seorang sahabat yang santai, ia bertransformasi menjadi pria yang sangat posesif dan haus akan afeksi.

Di kampus, Danesha tidak lagi peduli dengan citra mahasiswa keren. Ia lebih sering terlihat duduk di lantai koridor dengan kepala di pangkuan Pricillia, atau berdiri di belakang Pricillia sambil memeluk pinggangnya erat-erat saat gadis itu sedang mengobrol dengan teman-temannya.

"Dan, malu dilihat orang," bisik Pricillia saat tangan Danesha mulai masuk ke saku jaketnya hanya untuk menggenggam jemarinya.

"Biarin aja. Biar semua orang tahu lo punya siapa," jawab Danesha ketus. Matanya akan menatap tajam setiap pria yang berani memandang Pricillia lebih dari tiga detik.

Danesha benar-benar mengalami candu yang parah. Jika dalam beberapa jam ia tidak mencium atau menghirup aroma leher Pricillia, ia akan menjadi sangat rewel dan tidak fokus.

Sore itu di perpustakaan, Danesha sama sekali tidak menyentuh bukunya. Ia hanya memperhatikan Pricillia yang sedang serius belajar. Tangannya bergerak gelisah, lalu ia menarik kursi Pricillia agar merapat ke kursinya.

"My... kangen," rengek Danesha pelan.

"Dan, kita baru aja barengan dari pagi. Ini di perpus, jangan aneh-aneh," tegur Pricillia tanpa menoleh.

Danesha tidak peduli. Ia menyelinapkan wajahnya di antara rambut Pricillia dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Pricillia berdiri. "Gue kangen rasa bibir lo semalam. Di apartemen Evangeline tadi gue hampir muntah karena bayangin dia, tapi tiap liat lo, gue ngerasa haus terus. Sumpah, lo kasih gue ramuan apa sih?"

Pricillia hanya terkekeh, tangannya mengusap rahang tegas Danesha. Ia tahu ramuannya bukanlah obat, melainkan kenyamanan mutlak yang tidak bisa diberikan wanita manapun.

Malam harinya, mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke mal untuk menghilangkan penat. Danesha tampil sangat protektif, tangannya tidak pernah lepas dari bahu Pricillia. Saat mereka sedang mengantre di sebuah kedai kopi, mereka berpapasan dengan Evangeline.

Kondisi Evangeline tampak kacau. Matanya sembab dan ia terlihat jauh lebih kurus. Melihat Danesha yang begitu mesra dengan Pricillia, harga diri Evangeline kembali terluka.

"Kalian benar-benar menjijikkan," desis Evangeline saat mereka berpapasan di lorong. "Baru seminggu putus, Dan, dan kamu sudah memamerkan peliharaan kamu ini ke mana-mana?"

Danesha menghentikan langkahnya. Ia tidak marah seperti sebelumnya. Ia justru menatap Evangeline dengan tatapan kasihan.

"Vang, denger ya. Pricillia bukan peliharaan gue. Dia adalah alasan kenapa gue nggak pernah bener-bener nyentuh lo lebih jauh kemarin," ujar Danesha dingin. "Gue selalu ngerasa ada yang salah tiap kali bareng lo. Ternyata salahnya adalah... lo bukan dia."

Danesha kemudian menarik Pricillia lebih dekat dan mengecup bibirnya dengan sengaja di depan Evangeline, sebuah ciuman yang penuh klaim dan gairah, membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh.

"Jangan ganggu rumah gue lagi, Vang. Cari mangsa lain yang sama busuknya kayak lo."

Setiap malam, ritual menginap itu menjadi semakin intens. Meski belum ada tanda-tanda kehamilan, Danesha selalu memastikan bahwa ia menitipkan bibitnya berkali-kali di dalam rahim Pricillia. Ia seolah ingin mengunci takdir mereka lewat ikatan biologis yang paling dalam.

"My... kalau nanti lo nggak hamil bulan ini, kita coba lagi bulan depan ya?" bisik Danesha di tengah heningnya malam, setelah mereka kembali kelelahan karena gairah yang tak kunjung padam.

Pricillia hanya mengangguk, membiarkan Danesha memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Di dalam hatinya, Pricillia tersenyum puas. Ia tidak terburu-buru soal anak.

Baginya, melihat Danesha yang kini benar-benar menjadi budak cintanya dan tidak bisa berfungsi tanpa dirinya adalah kemenangan yang jauh lebih manis.

"Tidur, Dan. Besok ada kelas pagi," ujar Pricillia lembut.

"Gak mau. Mau cium lagi," balas Danesha manja, kembali menyerang bibir Pricillia seolah itu adalah oksigen baginya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!