NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: TEROR MALAM

Bruk!

Suara keras memecah malam. Kaca jendela kamar Risma pecah berhamburan. Batu sebesar kepalan masuk, jatuh di dekat tempat tidurnya.

Aku bangkit lari. Dewi teriak. Budi nangis. Risma... Risma diam. Tapi napasnya cepat. Sangat cepat. Matanya terbelalak ketakutan.

Kulihat ke luar jendela. Bayangan-bayangan berlari di kegelapan. Tawa kasar terdengar sebelum lenyap ditelan malam.

Ini sudah malam ketiga. Batu, coretan cat, teror telepon. Joko menepati janjinya. Kalah di pengadilan, ia balas dendam dengan cara kotor.

Dewi memeluk Budi. "Mas, kita gimana?"

Aku tak bisa jawab. Aku hanya memunguti pecahan kaca di dekat Risma. Satu per satu. Jari-jariku terluka. Berdarah. Tapi aku tak rasa sakit.

Risma menatapku. Matanya basah. Tangannya bergerak tak terkontrol. Mencari. Mencari pegangan.

Aku pegang tangannya. "Nak, Bapak di sini. Bapak nggak akan biarkan mereka lukai kamu."

Risma diam. Tapi genggamannya... genggamannya erat. Seperti bilang, "Aku takut, Pa. Tapi aku percaya sama Bapak."

Di luar, angin malam berhembus. Menerbangkan sisa-sisa kaca di lantai.

Malam ini, rumah kami bukan lagi tempat berlindung. Tapi medan perang.

---

Malam keempat.

Telepon rumah berdering jam 2 pagi.

Aku angkat. Suara serak di seberang. "Nikmatin malammu, Pak. Besok kami datang."

Aku marah. "JOKO! KAU KALAH DI PENGADILAN! TERIMA KALAH!"

Suara itu tertawa. "Pengadilan? Itu cuma kertas, Pak. Di sini, di jalan, aku yang menang."

Telepon ditutup.

Aku genggam gagang telepon. Tanganku gemetar.

Dewi keluar. Wajahnya pucat. "Mas, siapa?"

Aku diam. Tak bisa jawab.

Dari kamar, Budi nangis. Mimpi buruk lagi.

---

Setiap malam Budi nangis.

Tak mau tidur sendiri. Ia pindah ke kamar Risma. Tidur di lantai, di samping kakaknya. Aku gelar tikar, kasih bantal. Ia baru mau diam kalau dekat Risma.

Suatu malam, aku dengar Budi ngomong dalam tidur.

"Jangan... jangan lempar batu... Kakak takut..."

Aku pegang kepala sendiri. Gagal. Aku gagal melindungi anak-anakku.

Risma di kursi—sekarang kami selalu tidur di kamar yang sama, aku pindahkan kursi khusus Risma ke kamar Budi. Matanya ke Budi. Lalu tangannya bergerak. Menyentuh rambut Budi. Lembut. Pelan-pelan.

Seperti bilang, "Aku di sini, Dek. Jangan takut."

Aku lihat itu. Air mataku jatuh.

Risma yang tak bisa bicara, justru jadi penguat untuk adiknya.

---

Di tengah teror yang tak henti, Risma justru menunjukkan perkembangan.

Ia makin sering panggil "Pa". Jelas. Berkali-kali.

Setiap kali aku masuk kamar, Risma akan panggil, "Pa... Pa..."

Bukan cuma sepatah. Tapi dua kali. Jelas. Dengan mata yang menatapku.

Dewi bilang, "Mas, Risma makin sering panggil. Mungkin ini cara dia bilang, 'Aku butuh Bapak.'"

Aku pegang tangannya. "Bapak di sini, Nak. Bapak nggak ke mana-mana."

Risma tersenyum. Senyum tipis. Tapi cukup untuk membuat hatiku hangat di tengah dinginnya teror.

Budi yang lihat, ikut-ikutan. "Kak, panggil Budi dong. Budi juga di sini."

Risma lihat Budi. Mulutnya bergerak. Susah. Tapi berusaha.

"Bu... Bu..."

Budi senang. "Iya, Kak! Budi! Budi di sini!"

Mereka berdua tertawa. Tawa kecil di tengah malam yang mencekam.

Aku dan Dewi saling pandang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, kami tersenyum.

---

Pagi harinya, aku ke warung beli susu Budi.

Ibu-ibu pada bisik-bisik. Begitu lihat aku, mereka diam. Tapi matanya... tajam. Menghakimi.

Aku ambil susu. Bayar. Mau cepat-cepat pergi.

Tapi salah satu berani bilang, "Pak, mending pindah aja. Kami nggak mau kena imbas."

Aku berhenti. "Maksud Ibu?"

Ibu itu tak berani tatap aku. "Ya... ini kan jadi ramai. Preman datang tiap malam. Warga jadi nggak nyaman. Anak-anak pada takut."

Aku diam. Pengen marah. Tapi marah ke siapa?

Ibu itu lanjut, "Keluarga Bapak... mungkin cari tempat lain aja. Biar kami aman."

Aku tarik napas dalam. "Ini rumah saya, Bu. Saya punya hak tinggal di sini. Anak saya cacat, susah dipindah-pindah."

Ibu itu diam. Tapi yang lain mulai bisik lagi.

Aku tinggalkan warung. Pulang dengan susu dan hati hancur.

Tetangga yang dulu baik, kini menjauh. Takut. Keluarga kami jadi sampah masyarakat. Hanya karena punya anak cacat dan dikejar preman.

Dewi lihat aku masuk. Wajahku pasti kelihatan.

"Mas, kenapa?"

Aku geleng. "Nggak apa-apa."

Tapi Dewi tahu. Ia peluk aku. "Kita kuat, Mas. Kita sudah lewati banyak hal."

Aku balas peluknya. Nangis di pundaknya.

---

Setiap malam, aku duduk di teras.

Sendirian. Kayu di sampingku. Siap lempar kalau ada yang datang.

Aku tak bisa tidur. Kantuk luar biasa, tapi aku paksakan. Risma dan Budi harus aman.

Malam kelima. Sepi. Tak ada teror. Aku curiga. Terlalu sepi.

Dewi keluar. Bawa kopi. "Mas, istirahat. Aku gantian."

Aku geleng. "Nggak bisa, Ri. Aku harus jaga."

Dewi duduk di sampingku. "Kita jaga bareng, Mas."

Kami berdua di teras. Menunggu fajar. Menunggu teror berikutnya.

Kopi di tangan. Dingin. Tapi hangat karena berdua.

"Mas, aku takut," bisik Dewi.

Aku pegang tangannya. "Aku juga, Ri. Tapi kita harus kuat. Buat Risma. Buat Budi."

Dewi angguk. Matanya lihat langit. "Mbah Kar... tolong kami."

Angin berhembus. Daun pintu berderit. Seperti jawaban.

---

Jam 3 pagi.

Aku setengah tidur di kursi. Dewi sudah masuk, gantian jaga Risma dan Budi.

Tiba-tiba.

Bau.

Bau apa?

Aku hirup. Bau asap.

Aku bangkit. Lihat ke belakang rumah.

Api!

Tumpukan kayu di belakang rumah terbakar. Api mulai merambat ke dinding dapur.

"KEBAKARAN! KEBAKARAN!"

Aku teriak sekencang-kencangnya. Ambil ember. Isi air. Siram.

Dewi bangun. Lari keluar. Bantu. Budi nangis. Risma di dalam, batuk-batuk.

Tetangga pada keluar. Ada yang bantu, ada yang cuma lihat. Ada yang malah ambil HP, rekam.

Api padam setelah 15 menit. Berkat bantuan beberapa tetangga yang masih peduli.

Tapi rumah bagian belakang hangus. Dinding hitam. Bau terbakar. Perabotan dapur rusak. Persediaan beras hangus.

Risma di kamar, batuk-batuk. Asap masuk ke dalam. Napasnya sesak. Cepat. Terlalu cepat.

"DEWI! BAWA BUDI! KITA KE RUMAH SAKIT!"

Aku gendong Risma. Lari ke luar. Cari angkutan. Sepi. Tak ada ojek. Tak ada taksi.

Tukang ojek langganan lewat. "Pak, kenapa?"

"Tolong, Mas! Antar ke rumah sakit! Anak saya!"

Ia lihat Risma yang batuk-batuk, wajah merah. "Cepat, Pak!"

Kami bonceng tiga. Risma di tengah, aku pegang erat. Budi dan Dewi nyusul naik ojek lain.

Di UGD, dokter periksa Risma. Wajahnya serius.

"Pak, anak Bapak menghirup asap terlalu banyak. Paru-parunya lemah sejak lahir. Harus rawat inap."

Aku diam. Risma di ranjang, pakai selang oksigen lagi. Lagi-lagi rumah sakit. Lagi-lagi selang.

Dokter lanjut, "Kami pasang infus dan oksigen. Observasi 2-3 hari. Lihat perkembangannya."

Aku mengangguk lemas.

Di samping Risma, Budi pegang tangan kakaknya. "Kak, jangan sakit. Budi takut."

Risma diam. Tapi tangannya... tangannya bergerak. Menyentuh tangan Budi. Lembut. Seperti bilang, "Kakak di sini, Dek."

Aku lihat itu. Air mataku jatuh.

Dewi peluk aku dari belakang. "Mas, Risma kuat. Dia pasti kuat."

Aku tak bisa jawab. Aku hanya bisa nangis.

---

Di luar, fajar mulai merekah. Langit timur berwarna jingga.

Tapi bagi aku, hari ini akan jadi hari terpanjang dalam hidupku.

Polisi datang ke rumah sakit. Minta keterangan.

"Siapa yang melakukan, Pak?"

Aku cerita. Tentang Joko. Tentang gugatan. Tentang teror berhari-hari.

Polisi itu catat. Tapi wajahnya ragu.

"Pak, kami akan selidiki. Tapi saksi... saksi sulit. Malam, gelap, semua pada tidur."

Aku marah. "SAKSI? TETANGGA SAYA BANYAK YANG LIHAT! MEREKA TAKUT! ITU MASALAHNYA!"

Polisi itu diam. Lalu pergi. Janji akan tindak lanjuti.

Aku tahu. Janji palsu. Joko punya uang. Polisi bisa diatur.

---

Risma di ruang rawat. Kelas tiga. Ramai. Tapi kami tak peduli. Yang penting ia dapat oksigen. Yang penting ia stabil.

Budi tidur di kursi plastik. Lelah. Dewi duduk di samping Risma, pegang tangannya.

Aku di luar. Telepon.

Mbah Tum. Satu-satunya yang mungkin bisa bantu.

"Mbah, maaf ganggu. Ini Aryo."

"Nak, ada apa? Suaramu aneh."

Aku cerita semua. Teror. Api. Risma opname.

Mbah Tum diam lama.

"Nak, jangan lawan mereka sendirian. Mereka preman. Hukum mereka tak takut."

"Jadi saya harus diam saja, Mbah? Rumah saya dibakar?"

"Jangan diam. Tapi jangan juga lawan dengan fisik. Cari cara lain. Kumpulkan bukti. Rekam. Foto. Lapor terus. Kalau perlu, ke media."

"Media?"

"Iya. Kadang preman takut sama sorotan. Kalau kasus ini naik ke berita, mereka bisa berpikir dua kali."

Aku diam. Mikir.

"Terima kasih, Mbah."

"Hati-hati, Nak. Jaga keluargamu. Itu yang paling penting."

Telepon ditutup.

Aku lihat ke dalam. Risma tidur dengan selang oksigen. Budi di kursi, tidur meringkuk. Dewi menatapku dari dalam.

Aku ingat kata Mbah Tum. Kumpulkan bukti.

Aku keluarkan HP. Foto kondisi rumah yang terbakar. Foto Risma di rumah sakit. Foto surat-surat gugatan. Foto coretan di dinding.

Semua kusimpan rapi.

Joko pikir dia bisa menang dengan preman. Joko pikir kami tak berdaya.

Tapi Joko lupa. Orang kecil juga punya cara.

Orang kecil juga punya Tuhan.

---

Malam di rumah sakit. Risma mulai stabil. Dokter bilang besok bisa pulang kalau kondisi membaik.

Budi bangun. Lapar.

Aku ke kantin. Beli bubur ayam dua bungkus. Satu buat Budi, satu buat Dewi.

Saat antri, HP berdering. Nomor tak dikenal.

Kuangkat.

"Pak Aryo?"

Suara itu. Suara yang sama. Suara serak.

"Selamat malam, Pak. Dengar rumah Bapak kebakaran? Maaf kami nggak bisa undang Bapak makan malam. Jadi kami anter makanan ke rumah aja."

Aku marah. "JOKO! KAU KEPARAT!"

Suara itu tertawa. "Tenang, Pak. Itu baru pemanasan. Masih panjang jalan kita. Besok-besok kami kasih kejutan lagi."

Telepon ditutup.

Tanganku gemetar. Bubur di tangan hampir tumpah.

Aku kembali ke ruang rawat. Berusaha tenang. Dewi lihat wajahku.

"Mas, siapa?"

Aku geleng. "Nggak papa. Makan dulu. Risma besok pulang."

Tapi Dewi tahu. Ia tak tanya lagi. Ia hanya pegang tanganku.

Budi makan lahap. Tak tahu apa yang terjadi. Risma tidur, napas teratur.

Aku lihat mereka bertiga. Dewi, Risma, Budi.

Mereka adalah alasan aku bertahan. Mereka adalah alasan aku tak boleh menyerah.

Joko boleh punya preman. Joko boleh punya uang.

Tapi aku punya keluarga. Aku punya cinta. Aku punya Tuhan.

Itu lebih dari cukup.

---

Besok paginya, Risma pulang.

Dokter bilang harus jaga kebersihan udara. Hindari asap. Hindari debu. Kalau perlu, beli alat pembersih udara.

Aku cuma bisa mengangguk. Beli alat pembersih? Uang buat makan aja pas-pasan.

Di rumah, keadaan masih berantakan. Dinding belakang hitam. Bau terbakar masih kuat. Tetangga pada lihat dari jauh. Tak ada yang bantu bersihkan.

Aku ambil sapu. Mulai bersihkan sendiri.

Dewi bantu. Budi bantu angkat sampah kecil. Risma di kursi, di teras, pakai masker. Matanya lihat kami.

Tiba-tiba, suara motor.

Beberapa preman lewat. Pelan. Lihat ke rumah kami. Tertawa. Salah satu tunjuk.

Aku berhenti menyapu. Lihat mereka.

Mereka tertawa makin keras. Lalu pergi.

Dewi pegang tanganku. "Mas..."

Aku tarik napas. "Lanjut bersihkan, Ri. Jangan hiraukan."

Kami lanjut bekerja. Rumah harus bersih. Risma harus aman.

Tapi dalam hati, aku tahu. Ini belum selesai.

Joko masih di luar sana. Dengan dendam yang tak pernah padam.

Dan malam, malam akan segera datang lagi.

---

Malam itu, aku pasang lampu tambahan. Beli 5 lampu LED terang. Pasang di depan, samping, belakang.

Aku juga beli kunci rantai. Kunci pagar dari dalam. Kalau mau kabur lewat pintu darurat yang sudah kupasang.

Budi tidur di kamar Risma. Tikar di lantai. Aku di sampingnya. Dewi di kursi dekat jendela, jaga.

Kami bergantian. Sistem ronda sendiri.

Jam 11 malam. Aku jaga. Sepi.

Jam 12. Masih sepi.

Jam 1. Ada suara motor lewat. Tapi hanya lewat.

Jam 2. Sepi.

Jam 3. Aku hampir terlelap. Tiba-tiba.

Suara langkah. Banyak. Di luar pagar.

Aku bangkit. Ambil kayu. Bangunkan Dewi. "Ri, jaga anak-anak. Aku lihat."

Dewi mengangguk takut.

Aku ke pintu. Lihat dari celah.

Di luar, 5 orang. Bawa kayu. Bawa batu. Satu pegang bensin dalam botol.

Jantungku berhenti.

Mereka lihat ke rumah. Tertawa. Lalu satu orang maju. Mau lempar botol.

Aku tak bisa diam. Aku buka pintu. Lari keluar.

"BERHENTI!"

Mereka kaget. Lihat aku.

Pemegang botol tertawa. "Wah, bapaknya keluar. Kami kira tidur."

Aku berdiri di depan pagar. Sendirian. Lawan 5 orang.

"JOKO KIRIM KALIAN?"

Mereka tertawa. "Bapak terlalu banyak bertanya."

Satu maju. Bawa kayu.

Aku siap-siap. Tangan gemetar. Tapi aku harus lawan. Demi keluarga.

Tiba-tiba.

Sorot lampu. Banyak.

Motor. Banyak motor.

Kami semua menoleh.

10 motor berhenti di depan rumahku. Yang turun... tetangga. Laki-laki. Bawa apa saja. Kayu. Parang. Golok.

Pak RT maju. "ADA APA DI SINI?"

Preman-preman itu kaget. Mundur.

Pak RT lihat mereka. "INI RUMAH WARGA SAYA! KALIAN SIAPA? BERANI TEROR DI SINI?"

Preman itu cuma bisa diam. Satu coba melawan. "Kau jangan ikut campur, tua!"

Pak RT tak takut. "CAMPUR! SAYA RT! INI TANGGUNG JAWAB SAYA!"

Warga yang lain mulai turun. Mengerumuni preman itu.

5 lawan 20. Mereka kalah jumlah.

Pemegang botol buang botolnya. "Kita pergi!"

Mereka lari. Naik motor. Kabur.

Pak RT ke arahku. "Pak Aryo, maaf. Kami baru bergerak sekarang."

Aku nangis. Pegang tangan Pak RT.

"Pak RT... terima kasih..."

Pak RT usap pundakku. "Kami malu, Pak. Selama ini diam. Tadi bapak-bapak pada rapat. Sepakat nggak akan biarin preman main di sini lagi."

Aku lihat warga. Mereka yang kemarin menjauh, sekarang di sini. Bawa senjata seadanya. Siap lawan.

Bu RT keluar dari kerumunan. "Pak Aryo, kami jaga bergantian malam ini. Bapak istirahat. Jaga keluarga."

Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya nangis.

---

Malam itu, 10 warga jaga di depan rumahku. Bergantian. Ronda sampai subuh.

Aku di dalam. Duduk di samping Risma.

Risma bangun. Lihatku. Matanya bertanya.

"Nak, kita nggak sendirian. Tetangga kita baik. Mereka jaga kita."

Risma tersenyum. Lalu tangannya menunjuk ke luar jendela.

Di luar, lampu-lampu menyala. Bayangan warga mondar-mandir jaga.

Aku pegang tangannya. "Mbah Kar dengar doa kita, Nak."

Risma angguk pelan. Lalu tidur lagi. Tenang.

Budi di sampingnya, tidur dengan nyenyak. Mimpi indah, bukan mimpi buruk.

Dewi di kursi, sudah terlelap. Lelah. Tapi senyum di wajahnya.

Aku lihat mereka semua. Lalu lihat ke luar.

Langit mulai cerah. Fajar.

Joko kalah lagi. Bukan di pengadilan. Tapi di sini. Di hati warga.

Ia pikir dengan uang dan preman bisa menang. Ia lupa, warga juga punya hati. Warga juga bisa marah kalau diganggu.

Aku tersenyum.

Tapi senyum itu hilang saat HP berdering.

Nomor tak dikenal. Lagi.

Kuangkat.

"Selamat pagi, Pak Aryo. Selamat atas kemenangan kecil Anda."

Suara Joko. Tenang. Terlalu tenang.

"Tapi ingat, Pak. Kemenangan kecil bukan akhir. Masih panjang jalan kita. Masih panjang."

Telepon ditutup.

Aku diam. Pegang HP erat.

Di luar, warga masih jaga. Lampu masih menyala. Tapi kata-kata Joko... menusuk.

Dewi bangun. Lihat wajahku. "Mas, siapa?"

Aku diam sebentar. Lalu jawab, "Nggak papa, Ri. Joko cuma bisa ancam. Kita sudah punya tetangga. Kita sudah punya warga."

Dewi angguk. Tapi matanya cemas.

Aku tahu. Joko tak akan menyerah. Orang seperti dia tak kenal kalah.

Tapi kali ini, kami tak sendiri.

Kali ini, kami punya desa.

Dan desa... desa tak pernah kalah lawan preman.

Aku pegang tangan Dewi. "Kita kuat, Ri. Kita kuat."

Di luar, matahari naik perlahan. Warga mulai pulang satu per satu. Pamit. Bilang akan jaga lagi malam nanti.

Aku ucapkan terima kasih berkali-kali. Sampai mereka bosan dengar.

Tapi di balik semua itu, bayangan Joko masih menghantui.

Perang ini belum selesai. Mungkin baru dimulai.

Tapi setidaknya, untuk hari ini, kami menang.

Untuk hari ini, Risma bisa tidur tenang.

Untuk hari ini, Budi tak mimpi buruk.

Untuk hari ini, itu cukup.

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!