NovelToon NovelToon
GERBANG COSMIC

GERBANG COSMIC

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsyTamp

akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 – Dunia yang Lapar

Angin lembut berembus di padang rumput ruang dimensi.

Rey membuka matanya perlahan.

Langit biru tanpa awan menyambut pandangannya. Tubuhnya terasa ringan, jauh berbeda dari rasa nyeri dan sesak yang ia rasakan sebelum pingsan di pantai.

Ia bangkit dan mengepalkan tangan.

Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada rasa lemah.

“Tubuhku sudah pulih…” gumamnya.

Beberapa langkah darinya, Sila duduk di tepi sungai kecil, merendam kakinya di air jernih.

“Kak?” katanya sambil menoleh.

“Kakak sudah bangun?”

Rey mendekatinya.

“Kamu bagaimana?”

Sila tersenyum kecil.

“Aku sangat sehat. Malah… rasanya seperti habis tidur sangat lama.”

Rey menatap adiknya dengan perasaan campur aduk.

Di pantai kemarin, ia nyaris kehilangan Sila lagi.

Dan kali ini, justru Sila yang menyelamatkannya.

“Kamu terlalu memaksakan diri,” kata Rey pelan.

Sila menunduk.

“Aku cuma… nggak mau kakak mati lagi.”

Rey terdiam.

Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala adiknya.

“Kita hidup karena saling jaga,” katanya.

“Bukan karena saling mengorbankan diri.”

Sila mengangguk pelan.

Di depan mereka, layar status muncul.

[Kondisi: Pulih 100%]

[Lingkungan: Energi Tinggi]

Rey menarik napas panjang.

“Sepertinya kita sudah cukup lama di sini.”

Sila menatap sekeliling ruang dimensi.

“Di luar… pasti kacau.”

Rey mengangguk.

“Dan mereka pasti mengira kita menghilang.”

Ia berdiri tegak.

“Saatnya kembali.”

Di dunia nyata, markas khusus milik Unit Rey tampak jauh lebih suram dibanding sebelumnya.

Lampu-lampu redup. Beberapa jendela ditutup papan. Suara orang-orang berbicara dengan nada cemas terdengar dari dalam.

Leoni duduk di ruang pertemuan kecil, memeriksa senapannya.

Di sampingnya, seorang anak kecil duduk di kursi dengan kaki tidak sampai ke lantai.

Namanya belum diketahui.

Anak itu memeluk tas kecil berisi pakaian dan beberapa potong roti kering.

“Tenang saja,” kata Leoni lembut.

“Tempat ini aman.”

Anak itu menatap sekeliling dengan mata waspada.

“Kak… apa ibuku akan datang menjemputku ?”

Leoni terdiam sejenak.

“Tidak,” jawabnya jujur.

“Tapi kamu sekarang tidak sendirian.”

Anak itu menunduk.

Leoni menghela napas dan berdiri.

Ia berjalan ke ruangan lain, tempat Boy sedang duduk sambil memakan biskuit yang sudah hampir hancur.

“Stok tinggal berapa?” tanya Leoni.

Boy mengunyah pelan.

“Kalau kita hemat… mungkin cukup tiga hari.”

“Tiga hari?”

“Empat kalau nggak ada yang nambah.”

Leoni menatap langit-langit.

Di luar markas, suara ribut terdengar.

Beberapa orang berteriak.

Ada yang berlari sambil membawa karung.

Ada yang memukul pintu toko yang sudah kosong.

Kelaparan mulai terasa.

Pasokan makanan dari pemerintah terhenti sejak gelombang monster terakhir. Jalan distribusi rusak, gudang terbakar, dan banyak wilayah tidak bisa dijangkau.

Di jalanan, manusia mulai bertarung bukan melawan monster…

melainkan melawan manusia lain.

“Di sektor barat,” kata Boy,

“orang-orang mulai menjarah rumah kosong.”

“Dan yang masih punya makanan…” lanjut Leoni,

“jadi target.”

Ia melirik ke arah anak kecil itu.

“Kita nggak bisa biarkan dia keluar.”

Boy mengangguk.

“Dan Rey… ntah kapan kembali.”

Leoni mengepalkan tangan.

“Dia pasti kembali.”

Di luar markas, suasana semakin kacau.

Sebuah truk terbalik di tengah jalan.

Beberapa orang berebut karung beras yang tumpah.

“Ini punyaku!”

“Dorong dia!”

“Ambil sebelum habis!”

Tidak ada hukum.

Tidak ada aturan.

Hanya perut kosong dan ketakutan.

Salah satu anggota regu resmi lewat bersama timnya, mencoba menenangkan warga.

“Tertib! Pemerintah akan mendistribusikan makanan!”

Namun teriakan itu terdengar kosong di tengah kerumunan lapar.

Di markas khusus, anak kecil itu memejamkan mata.

Tangannya terangkat sedikit.

Sebuah cangkir di meja mendadak berhenti jatuh…

lalu bergerak lagi setelah beberapa detik.

Ia terengah.

“Aku capek…”

Leoni cepat mendekat.

“Kamu tidak perlu pakai kekuatanmu,” katanya.

“Aku cuma… mau bikin waktu berhenti,” kata anak itu lirih.

“Biar semuanya nggak rusak…”

Leoni menatapnya lama.

Kekuatan yang lahir dari rasa takut.

Dari kehilangan.

Dari dunia yang runtuh.

Ia mengusap kepala anak itu.

“Kalau Rey di sini… mungkin dia tahu harus bagaimana.”

Sore menjelang malam.

Leoni berdiri di depan pintu markas, menatap jalan kosong.

Angin membawa bau asap dan debu.

Boy berdiri di belakangnya.

“Kau yakin dia akan segera kembali?”

Leoni menjawab tanpa menoleh.

“Dia bukan tipe orang yang lari.”

“Dan dia punya alasan paling kuat buat kembali.”

Udara di depan pintu markas bergetar.

Cahaya seperti lipatan ruang muncul.

Leoni refleks mengangkat senapan.

Boy berdiri.

Anak kecil itu menatap dengan mata membesar.

Dari cahaya itu, dua sosok muncul.

Rey…

dan Sila.

“Rey…” gumam Leoni.

Boy tampak terkejut.

“Wah, akhirnya.”

Sila melangkah keluar, menatap markas yang berubah.

“Seperti… tidak ada kehidupan di markas ini.”

Rey menatap wajah-wajah di sekelilingnya.

Lelah.

Lapar.

Tegang.

“Apa yang terjadi… saat kami pergi?” tanya Rey.

Leoni menghela napas panjang.

“Dunia mulai kelaparan.”

“Dan kita… kehabisan makanan.”

Rey mengepalkan tangan.

Ia menoleh ke arah ruang kosong di belakangnya, tempat cahaya ruang dimensi masih samar terlihat.

Dalam benaknya, terlintas sungai jernih, tanah subur, dan ruang yang tidak tersentuh kehancuran.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Leoni dan Boy.

“Sekarang kita tidak hanya bertarung melawan monster lagi.”

“Kita juga harus menyelamatkan manusia… dari kelaparan.”

"Caranya?" tanya Boy.

"Tenang saja, kita punya banyak persedian"

Boy dan Leoni saling pandang dengan wajah bingung mereka.

Di sudut ruangan, anak kecil berkekuatan waktu menatap Rey dengan mata penuh harap.

Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal…

Ia merasa mungkin masih ada masa depan.

1
Mahlubin Ali
itu itu aja dialognya🤣🤣🤣. Bab lalu sama bab sekarang dialog hampir sama. novel aneh
EsyTamp: thanks bang koreksi ny, akan lebih sy perhatikan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!