Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elegansi di Balik Badai
Malam itu, lobi sebuah hotel bintang lima di kawasan SCBD tampak benderang oleh lampu kristal yang memantulkan kemewahan. Di salah satu ballroom privat, denting gelas sampanye dan tawa halus para profesional perbankan mengisi udara. Ini adalah reuni eksklusif para mantan eksekutif muda yang kini telah menduduki posisi-posisi strategis di berbagai bank multinasional.
Di tengah kerumunan itu, Gendis berdiri sebagai poros gravitasi. Ia mengenakan little black dress berbahan sutra satin yang memeluk tubuhnya dengan sopan namun tegas. Potongan leher sabrina menonjolkan tulang selangkanya yang indah, dipertegas dengan kalung mutiara tunggal yang melingkar di lehernya.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah rambut hitamnya yang kini menjuntai panjang hingga pinggang, ditata dengan gelombang hollywood waves yang berkilau setiap kali ia menggerakkan kepala.
"Gendis, kamu terlihat luar biasa. Seolah waktu berhenti berputar untukmu," puji seorang mantan koleganya, kini seorang Vice President di sebuah bank swasta besar.
Gendis menyesap sparkling water-nya perlahan, memberikan senyum yang tenang.
"Hanya mencoba menikmati hidup, Rehan. Terlalu sibuk dengan pikiran kadang membuat kita lupa bagaimana cara bernapas."
Suaranya rendah, stabil, dan penuh percaya diri. Tidak ada jejak wanita yang suaminya baru saja dipermalukan di lokasi proyek siang tadi. Baginya, masalah Indra adalah kotoran di sepatu yang akan ia bersihkan pada waktunya. Saat ini, ia adalah Gendis perempuan yang akan kembali menyandang gelar sang banker, bukan Gendis sang istri yang dikhianati.
Namun, di balik pilar besar dekat pintu masuk, sepasang mata mengawasi dengan kebencian yang mendidih. Cindy mengenakan mini dress ketat berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan suasana elegan ruangan itu. Ia terlihat seperti luka terbuka di tengah pameran seni yang rapi. Sejak Indra mulai mengabaikannya, bahkan membentaknya di lokasi proyek tadi siang, Cindy merasa dunianya terancam.
Ia adalah wanita yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau dengan kecantikannya yang berani dan terkesan murahan dibalik tawa genit. Ia adalah primadona di klub malam, LC yang selalu dikejar para pria berdompet tebal.
Namun, melihat Gendis dari dekat, nyali Cindy menciut.
Ia melihat bagaimana Gendis berbicara tanpa perlu meninggikan suara, bagaimana orang-orang menatap Gendis dengan rasa hormat, bukan nafsu murahan. Ada aura kekuasaan yang tidak bisa dibeli dengan uang atau operasi plastik. Itulah yang membuat Cindy semakin murka. Ia benci kenyataan bahwa ia merasa kerdil di hadapan istri sah Indra.
"Hanya wanita rumahan yang beruntung," bisik Cindy dalam hati, mencoba membesarkan hatinya sendiri. "Paling-paling dia hanya menang gaya. Aku akan buat dia malu di depan teman-teman hebatnya ini."
Dengan langkah yang disengaja, Cindy mengambil segelas jus jeruk dari nampan pelayan yang melintas. Ia berjalan menuju arah Gendis, berpura-pura sedang sibuk dengan ponselnya. Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, Cindy sengaja menyentakkan kakinya seolah-olah tersandung, dan...
PRANG!
Gelas itu jatuh ke lantai, dan cairan jingga pekat menyiram bagian samping dress hitam Gendis, membasahi kain sutra mahal itu hingga ke lutut. Suasana riuh di sekitar Gendis seketika sunyi. Semua mata tertuju pada mereka. Rekan-rekan Gendis terperangah.
"Aduh! Maaf! Maaf sekali, saya tidak sengaja! Lantainya licin sekali!" seru Cindy dengan nada yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kepuasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ia menunggu Gendis meledak, berteriak, atau setidaknya memandangnya dengan marah sehingga ia bisa membalas dengan akting sebagai korban yang teraniaya.
Namun, apa yang dilakukan Gendis sungguh di luar ekspektasi semua orang.
Gendis tidak terlonjak. Ia bahkan tidak berkedip karena terkejut. Dengan gerakan yang sangat lambat, santai dan anggun, ia hanya menunduk sedikit melihat noda di gaunnya. Kemudian, ia merogoh tas clutch-nya, mengambil sehelai tisu kain putih bersih yang selalu ia bawa dan mulai mengelap perlahan butiran jus yang meluncur licin dari gaun mahalnya.
Tanpa menatap wajah Cindy sedikit pun, seolah-olah Cindy hanyalah sebuah benda mati yang tidak sengaja berada di sana. Gendis tetap menyeka noda itu dengan gerakan tenang. Ia bahkan membungkuk sedikit untuk mengambil sapu tangan yang terjatuh di dekat kaki Cindy, lalu menggunakannya untuk menepuk-nepuk sisa cairan di permukaan kainnya. Benar-benar tidak melihat sedikitpun kepada Cindy.
"Gendis, kamu tidak apa-apa?" tanya salah satu temannya dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Gendis dengan suara yang tetap merdu, seolah-olah tumpahan minuman itu hanyalah embun pagi yang tidak berarti. Ia tetap menunduk, fokus membersihkan gaunnya dengan ketelitian yang menyakitkan untuk dilihat. "Sutra hitam punya cara unik untuk menyembunyikan noda, bukan? Sama seperti karakter seseorang, ia akan terlihat saat terkena tekanan."
Gendis kemudian berdiri tegak. Ia merapikan sedikit gelombang rambutnya. Dan di sinilah puncaknya, ia melewati Cindy begitu saja tanpa memberikan kontak mata. Ia tidak memarahi, tidak mencaci, bahkan tidak menganggap Cindy ada. Bagi Gendis, memarahi wanita seperti Cindy adalah penurunan martabat yang tidak akan ia biarkan terjadi.
Cindy berdiri mematung. Wajahnya yang tadi merah karena puas kini berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa. Ia merasa seperti hantu. Ia telah mencoba menyerang, namun serangannya menembus udara karena lawannya tidak menganggapnya sebagai ancaman, melainkan hanya sebagai gangguan kecil yang tak kasat mata.
Penolakan Gendis untuk "melihatnya" adalah tamparan yang jauh lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik mana pun.
Dari sudut ruangan yang agak gelap, di lantai mezanin yang menghadap langsung ke arah kerumunan, seorang pria berdiri dengan segelas minuman dingin di tangan.
Baskara. Ia telah mengikuti Gendis secara diam-diam sejak sore tadi, bukan untuk mengganggu, tapi untuk memastikan tidak ada lagi tangan-tangan kotor yang menyentuh wanita itu. Ia menyaksikan seluruh kejadian tadi, mulai dari masuknya Cindy yang kikuk hingga reaksi Gendis yang luar biasa elegan.
Baskara tertawa kecil, suara tawa yang rendah dan penuh kekaguman.
"Luar biasa," bisik Baskara pada dirinya sendiri. "Kamu benar-benar telah tumbuh menjadi dewi perang, Gendis."
Ia ingat Gendis remaja yang dulu menangis di pojok perpustakaan karena ulahnya. Melihat Gendis yang sekarang, yang mampu melumpuhkan lawan hanya dengan ketenangan, membuat Baskara merasakan gelombang rasa bersalah sekaligus pemujaan yang semakin dalam. Ia sadar, Gendis tidak butuh diselamatkan. Gendis butuh sekutu, dan ia akan melakukan apa pun untuk menjadi satu-satunya orang yang dipercaya wanita itu.
Baskara meminum habis minumannya, matanya tetap terkunci pada sosok Gendis yang kini kembali berbincang dengan rekan-rekannya seolah tidak terjadi apa-apa. Di matanya, noda di gaun Gendis justru terlihat seperti lencana kehormatan yang menunjukkan siapa pemenang sebenarnya malam itu.
Sementara itu, Cindy yang merasa diabaikan dan dihina secara tidak langsung, melangkah pergi dengan langkah serampangan. Ia keluar dari hotel dengan rasa murka yang mencapai ubun-ubun. Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Indra.
"Indra! Istrimu itu, aku tidak suka dia! Dia benar-benar wanita iblis! Aku akan menghancurkannya! Kalau kamu tidak datang ke apartemenku sekarang, aku akan mengirimkan semua video kita ke semua teman perbankannya!" teriak Cindy saat telepon diangkat.
Di ujung telepon, Indra yang sedang duduk lemas di kantornya yang gelap, hanya bisa memijat pelipisnya. Ia terjepit di antara dua wanita yang kini menyeretnya ke jurang. Juga mulai merasa cemas karena Cindy pasti sudah mulai berani menunjukkan diri ke hadapan Gendis.
Namun, satu hal yang Indra sadari dengan ngeri, Gendis yang tenang jauh lebih menakutkan daripada Cindy yang histeris.
Gendis pulang malam itu dengan perasaan ringan. Ia melirik gaun hitamnya di cermin kamar mandi. Noda itu masih ada, sedikit membekas jika dilihat dari dekat.
"Barang yang sudah ternoda memang harus dibuang," gumam Gendis.
Ia melepaskan gaun mahal itu, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja, lalu melangkah masuk ke dalam shower. Ia membiarkan air hangat membasuh tubuhnya, sambil membayangkan kejutan-kejutan besok pagi.
Permainan ini hampir berakhir, dan Gendis sudah menyiapkan peti mati yang sangat mewah untuk karier dan harga diri Indra.