Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 7
"Bisa lepas nggak?" Kesal Ayana saat Gavin melingkarkan tangannya di pinggang Ayana.
"Mau bagaimana aku nggak pegangan, Orang kita naik motor beginian! Sudah nggak usah baper! Aku tak tertarik sama sekali kepada kamu. Bawa saja motornya cepat! Saya tak kuat pusing!" Jawab Gavin.
Ayana kesal sekali karena pria di belakangnya malah memeluk sambil menyenderkan kepalanya membuat dia sangat berat. Mana bawa motor besar seperti ini. Akhirnya Ayana membawa motornya dengan sangat kencang dan Gavin malah semakin mengeratkan pelukan tangannya di pinggang ramping Ayana. Dia bisa dengan jelas mencium aroma tubuh Ayana yang bercampur dengan keringat. Aromanya membuat dia lebih tenang dan rasa pusingnya tak begitu terasa.
"Turun!" Kesal Ayana kepada atasannya yang malah masih bersandar di punggungnya.
"Loh sudah nyampe?" Tanya Gavin yang merasa baru saja mereka naik motor kok sudah sampai di rumah lagi.
"Turun atau saya seret! Berat ini bonceng anak kongkong!" Kesal Ayana membuat Gavin mencebik dan akhirnya turun.
"Kamu tidak masuk dulu?" Tanya Gavin.
"Untuk apa? Anda sudah ada di rumah, jangan kelayapan lagi setelah ini. Karena saya tak akan mencari dan membantu anda lagi! Saya capek mau tidur!" Ketus Ayana dan pergi dari sana.
"Astaga, kenapa malah asisten pribadi lebih galak kepada atasannya? Harusnya aku kan yang lebih galak dan marah sama dia? Aneh sekali!" Kesal Gavin akhirnya masuk ke dalam rumah.
Gavin melihat ponsel, tak da pesan yang di kirim oleh Vania sedari sore. Biasanya Vania akan selalu mengirimkan pesan terus menerus untuknya.
"Mungkin dia benar-benar sedang istirahat dan mempersiapkan diri untuk acara besok. Aku juga harus tidur agar besok badanku lebih segar juga bisa tampil maksimal di acara pernikahanku dengan Vania," ucap Gavin kemudian merebahkan badannya.
Aroma dari parfum yang bercampur keringat Ayana tadi membuatnya merasa lebih tenang dan tidak terlalu pusing. Entahlah, bahkan dia bisa tidur dengan sangat nyenyak setelahnya tanpa perlu minum obat sakit kepala.
"Bangun! Kita sudah di tunggu kedua orang tua anda di hotel untuk bersiap-siap acara nanti," Ayana mengguncang tubuh Gavin yang masih terlelap di bawah selimut.
"Astaga! Aku baru saja tidur Ayana! Tak bisakah kamu membiarkan aku tidur lebih lama lagi?" rengek Gavin tanpa membuka matanya.
"Ya sudah kalau memang mau tidur lagi tidak apa-apa. Tinggal saya bilang kepada kedua orang tua Anda kalau pernikahannya ditunda sampai Anda bangun!" jawab Ayana membuat Gavin merengut dan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Cepatlah Pak Gavin! Nanti mami anda di sana mengomel!" Teriak Ayana di dalam mobil saat melihat Gavin berjalan dengan sangat santai.
"Aku belum minum kopi," Gavin merengut.
"Nih!" Ayana memberikan Tumbler yang berisi kopi miliknya.
"Belum saya minum, jadi jangan khawatir ji-jik!" jawab Ayana yang paham dengan mata Gavin yang menatap ke arah Tumbler tersebut.
"Tidak kamu beri racun atau obat jaha-nam seperti mereka kan?" tanya Gavin penuh selidik.
"Untuk apa? Yang ada Saya ingin segera terbebas dari pekerjaan saya ini! Bahkan Saya sudah menunggu dulu hari pernikahan ada. Karena dengan begitu besok saya sudah bebas dan bisa pergi kemanapun yang saya inginkan," jawab Ayana membuat Gavin mendelik.
Jalanan masih tak terlalu ramai karena mereka keluar dari rumah pukul lima pagi. Tangan Gavin sedari tadi tak lepas dengan ponsel. Dia terus mencoba mengirim pesan dan menghubungi Vania. Tapi tak ada jawaban apapun dari calon istrinya itu, bahkan nomornya juga tidak aktif. Perasaan Gavin mulai tak enak, tapi dia mencoba menepis dengan berfikir kalau Vania sudah ada di hotel dan sedang berdandan.
"Apa Vania dan keluarganya sudah datang ke hotel?" tanya Gavin. Ayana menaikkan kedua bahunya pertanda tak tahu. Gavin hanya berdecak saja.
"Jam berapa acara pernikahan aku di mulai?" tanya Gavin.
"Jam delapan pagi, makanya sedari pagi buta kita harus sudah bersiap. Apalagi itu acara sakral kalian, bukankah ini adalah acara yang selalu kalian tunggu selama ini?" jawab Ayana.
"Setelah tiba di hotel tolong cari tahu apakah Vania dan keluarganya sudah datang atau belum. Karena nomornya sampai sekarang belum bisa dihubungi," ucap Gavin membuat Ayana mengerem mobil secara mendadak.
Ciiiiitttttt
"Astaga! Kamu apa-apaan sih mengerem mendadak? Kalau kita berdua celaka bagaimana?" Kesal Gavin kaget bukan main.
"Maaf saya refleks karena kaget mendengar calon pengantin wanita nomornya tidak aktif. Coba anda hubungi nomor orang tuanya!" jujur Ayana dan mulai kembali menjalankan mobilnya.
Gavin menurut dan mulai mencoba menghubungi nomor kedua orang tua Vania. Mereka pun tidak ada yang aktif nomornya, Gavin mulai terlihat gelisah. Dia segera menghubungi Cakra, pria itu baru saja tiba di hotel tempat acara pernikahan mereka diadakan.
"Percepat jalannya, Ayana!" pinta Gavin yang mulai panik.
"Baiklah! Sebentar lagi kita tiba di sana!" jawab Ayana.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di hotel dan Cakra sudah menunggu mereka di depan lobby hotel. Wajahnya terlihat sedikit panik, dan hal itu bisa dilihat oleh Davin dan juga Ayana.
"Bagaimana Cak?" tanya Gavin.
"Kita temui dulu kedua orang tua kamu!" jawab Cakra.
"Ah elah, akan ada drama apalagi ini? Jangan sampai aku masih harus bekerja menjadi asisten pribadi pria itu? Aku harus segera menyelesaikan tugas dan pekerjaanku yang lebih penting. Dari hanya sekedar menjadi asisten pribadi Gavin!" Batin Ayana.
Dia berjalan di belakang mengikuti langkah besar Gavin dan Cakra yang terburu-buru. Mereka tiba di kamar hotel tempat Papi Evan dan Mami Tanisa berada.
"Apa yang sudah kamu lakukan Gavin? Apa kamu bodoh? Kamu malah memberikan perhiasan untuk maharmu kepada Wanita itu?" Tanya Mami Tanisa tanpa aba-aba.
"Iya mi, kata Vania akan di masukan ke dalam kotak perhiasan yang sudah dia beli dan perhiasan itu dia simpan di WO," jawab Gavin.
"Maaf Pak, kami tidak pernah menerima perhiasan yang akan digunakan untuk mahar disimpan di kami. Untuk mahar dan benda-benda berharga lainnya disimpan pada keluarga mempelai laki-laki. Baru saat acara akan dimulai diberikan kepada kami,"ucap salah satu pengurus WO yang sudah ada di sana.
"Apa? Mana mungkin?" tanya Gavin.
"Mana mungkin, mana mungkin! Kenapa kamu bo-doh sekali. Cinta boleh buta tapi otak harus kamu pake! Sekarang bagaimana? Sampai saat ini juga wanita itu dan keluarganya masih belum ada yang memperlihatkan batang hidungnya di sini! Hari sudah mulai siang!" Kesal Mami Tanisa memukul bahu anaknya.
"Vania belum ada datang mi? Aku juga tidak bisa menghubungi dia dari sejak malam. Aku kira dia sedang istirahat dan sudah tiba di sini,"jawab Gavin dengan tangan gemetar mengambil ponsel dan mencoba menghubungi kembali nomor Vania dan juga kedua orang tuanya. Dan hasilnya nomor mereka tidak bisa dihubungi.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Sudah tapi katakan kalau kamu harus bertanggung jawab dengan pilihanmu sendiri! Kamu terlalu ceroboh dan gegabah Gavin!" Tanya Papi Evan. Gavin memijit pelipisnya pusing.
"Cak, kirim orang untuk pergi ke rumah orang tua Vania. Mungkin saja terjadi sesuatu di rumah mereka,"perintah Gavin yang masih berusaha positif.
"Baik Pak!" Jawabnya.
Sedangkan Mami Tanisa sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Dua jam lagi acara akan di mulai. Sedangkan keberadaan pengantin wanita masih belum di ketahui.