Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminjam ibu sehari
Di sebuah kota yang sibuk. Ada seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan bunga mawar dan lili. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang yang tidak bisa bicara. Toko kecil miliknya menyajikan bunga-bunga segar yang di rangkai dengan tangan sendiri. Alunan musik santai menemaninya di dalam toko kecil itu.
Sudah dua tahun ia membuka toko bunga di tempat itu. Selain sebagai usaha mandiri nya. Toko itu juga seperti penyembuh atas luka masa lalu. Ya, dia adalah Sebria Adreeana Mahren. Tidak seperti tiga tahun lalu. Kini Sebria semakin dewasa dan bertambah cantik dengan rambut panjangnya.
Teng...
Lonceng mungil tergantung di atas pintu kaca berbunyi. Sebria membawa atensi nya ke arah sana bersiap menyambut dengan senyuman.
"Selamat datang." Sapanya lembut dari balik meja. Tatapannya jatuh pada seorang anak laki-laki berdiri di ambang pintu. Senyum Sebria memudar karena anak itu datang begitu murung.
Wajahnya tampan agak kemerahan. Cuaca pagi itu memang sedikit terik dari hari-hari sebelumnya. Sebria meletak gunting ke atas meja menghampiri anak laki-laki itu. Dari seragamnya Sebria bisa tahu jika anak itu bersekolah di seberang toko bunga nya.
"Ada yang bisa di bantu?" Sebria bertanya begitu lembut setengah membungkuk.
Anak laki-laki itu datang bukan untuk membeli bunga tapi membawa sebuah permohonan yang menggetarkan hati. Wajahnya terangkat dengan iris mata penuh harap. "Bolehkah aku pinjam waktu tante sebentar, jadi mamaku sehari saja."
DEG...
Jantung Sebria berdetak lebih cepat. Ia memberi jarak memperhatikan anak laki-laki itu. Permintaan anak ini cukup berat untuknya tidak hanya sedikit aneh tapi juga menggetarkan luka lama.
"Ayo Tante bantu kamu nyeberang." Sebria mengulurkan tangan nya.
Anak laki-laki itu tampak ragu namun tak urung membalas. Ada aliran darah yang berdesir ketika jari-jari halusnya menyentuh jari Sebria. Ada genggaman erat dari tangan kecil itu. Sebria menjadi kaku sejenak menenangkan perasaannya. Sejak tiga tahun lalu ia bisa disebut alergi berdekatan dengan anak-anak. Karena luka tiga tahun susah payah ia sembuhkan terasa retak dari kepingannya.
Tidak ingin tenggelam dalam suasana itu. Sebria membawa langkahnya keluar dari toko. Tepatnya dua tahun lalu ia sudah bisa berjalan normal kembali. Mereka menyeberang sambil bergandengan. Sebuah pemandangan yang indah di tengah zebra cross. Rambut panjang Sebria berayun di ikat satu membentuk ekor kuda. Mengenakan dress santai tubuh nya terlihat cantik. Sebelah tangannya menggenggam tangan anak laki-laki itu.
"Pak, antar dia ke dalam."
Sebria melepaskan genggamannya dan menyerahkan anak itu ke security. Ia berbalik menunggu untuk menyeberang. Sementara di belakangnya anak laki-laki itu menatap nanar punggung cantik yang menjauh perlahan. Anak laki-laki itu mengabaikan security lalu menyeret langkah lesu nya ke sisi pagar. Menatap sejenak ke arah toko bunga Sebria. Ia menunduk sambil menulis dengan jari-jari di atas paving. Mengabaikan permintaan security untuk menyuruhnya masuk.
Bukan pertama kali anak itu mencari sosok yang bisa menemaninya ke sekolah. Tapi hari ini tidak ada bantuan sama sekali yang datang. Ia sudah memberanikan diri untuk meminta bantuan tapi semuanya nihil. Wajahnya murung dan tertunduk. Keringat tipis membasahi ujung rambutnya.
Namun beberapa menit kemudian. Jari-jarinya terhenti bergerak ketika ada sepasang sepatu berdiri tepat di depannya. Ia mendongak ke atas masih di posisi duduk. Jari mungilnya terangkat menyentuh ujung dress seorang wanita tadi mengantarnya menyeberang.
"Kamu kenapa?"
"Boleh aku minta waktu tante sehari saja jadi mama ku." Kalimat itu terulang lagi. Wajahnya memohon harap. Tidak berkedip dalam kemurungan.
"Saya sudah menyuruhnya masuk tapi dia tidak mau."
"Ada acara apa di dalam?"
"Acara pemeran karya seni anak-anak dan orang tua di minta hadir."
Sebria berjongkok. "Mama kamu kemana? Kamu tidak memberikan undangannya sama orang tua kamu?"
Anak itu menggeleng kembali menunduk. "Aku tidak punya mama, cuma ada bibi tapi beliau kurang sehat hari ini. Jadi aku datang sendiri."
Nyes...
Perasaan Sebria rasa diremas. Ada ngilu yang menyelinap di dalam hatinya. Anak ini hanya butuh seseorang yang menemani nya. Sebria berdiri sambil membenarkan dress nya.
"Jaga dia sebentar."
Setelah menutup toko nya. Sebria menyebrang kembali sambil menenteng tas. Setiba di depan anak itu ia mengulurkan tangan. "Ayo ! Siapa nama kamu?"
"Levin." Sahut anak itu mulai ceria menggenggam erat tangan halus wanita disampingnya.
Perasaan Sebria menghangat dan terselip bahagia. Mereka bak sepasang anak dan ibu. Langkah mereka terayun tegas masuk ke halaman sekolah. Di sana stand bazar pameran sudah berjejer dan dihadiri banyak wali murid. Sebria cukup takjub melihatnya. Di depan kelas masing-masing anak-anak di tugaskan menjaga stand pameran.
"Levin, kamu baru datang, Nak?" Ibu wali kelas menghampiri. "Terimakasih Bu sudah datang. Ini hasil karya anak kelas kita dan ini milik Levin."
Sebria tersenyum canggung sambil mengamati karya milik Levin. Miniatur rumah dari stik es krim. Cukup rapi dan bagus untuk umur Levin yang mengerjakannya. "Pameran ini apa bisa di beli?"
"Tentu saja, ibu bisa pilih. Tujuannya memang untuk di jual tapi untuk stand kelas kami tidak boleh ya bu karena anak ibu ada di kelas ini. Ibu bisa memilih karya lain."
Sebria mengangguk lalu lanjut melangkah. Sementara Levin duduk menggantikan temannya menjaga stand.
"Mama kamu cantik sekali, Vin." Ujar Nino memuji.
Levin tersenyum. "Itu lain mama ku, No. Itu pemilik toko bunga di seberang jalan. Aku meminta bantuan tadi karena bibi Merry tidak bisa ikut sedang sakit."
"Oh, maaf aku tidak tahu. Mama kamu sibuk kerja ya."
Levin hanya tersenyum sambil mengamati tujuan Sebria. Tidak lama wanita itu datang menghampiri dengan miniatur mobil-mobilan dari kardus. Sebria membeli beberapa karya anak-anak sebagai pajangan di toko nya. Dia bisa berada disana karena identitas wali Levin.
...----------------...
Matahari merangkak naik acara sudah selesai. Sebria membiarkan Levin berpamitan dengan guru nya untuk pulang. Anak laki-laki itu berlari dengan wajah senang. Ia menggandeng tangan Sebria ke depan sekolah.
"Terimakasih tante sudah membantu ku hari ini."
"Kamu sudah di jemput?" Sebria bersiap untuk kembali ke toko.
"Belum, boleh aku menunggu ditoko tante. Nanti Om Adi jemputnya langsung disana saja."
"Boleh." Sebria menghampiri security untuk melaporkan kalau Levin menunggu di toko nya.
Kini mereka sudah tiba di toko bunga Sebria. Dinginnya ac sangat menyegarkan dari hawa panas di luar. Sebria mengambil air mineral dari dalam kulkas pendingin dan menuangkan untuk Levin.
"Kamu lapar?"
Levin mengangguk. "Aku bawa bekal tadi tapi tidak sempat di makan." Ujarnya mengeluarkan bekal dari dalam tas.
"Apa masih bisa dimakan?" Sebria memastikan makanannya tidak basi. "Masih bisa. Kamu makan saja sambil nunggu jemputan."
Levin mengeluarkan sendok untuk makan. Tidak lupa memperhatikan isi toko itu. Tempat yang nyaman menurutnya. "Maaf membuat tante repot hari ini."
Sebria menghentikan pergerakannya yang menata beberapa karya yang di beli tadi. "Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu mama kamu kemana?"
"Mama sudah meninggal saat aku masih bayi. Aku tinggal sama papa dan bibi Merry pengasuh aku." Levin menutup kotak bekalnya karena sudah kosong.
"Maaf tante tidak tahu." Sebria menggeser paper bag warna coklat. "Buat kamu."
Levin berbinar setelah melihat isinya. Miniatur mobil yang tadi di pegang Sebria. Kegiatan kecil dan pertemuan dengan sebuah permohonan tapi memberikan kesan yang indah membekas di hati mereka masing-masing.
Roda empat berwarna hitam terlihat mewah berhenti di depan toko. Levin menoleh melihat Adi turun dari mobil.
"Itu jemputan ku. Pulang dulu ya tante."
"Hati-hati di jalan. Langsung bersih-bersih dan istirahat." Pesan Sebria.
Levin mengangguk sambil melambaikan tangan. Sebria merasakan sunyi kembali setelah badan mobil menghilang. Harinya sedikit berwarna hari ini.