NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 Sabar

Sabar bukan berarti tidak terluka, tetapi memilih tetap taat meski hati berdarah.

—Aldivano Athariz—

Pagi datang tanpa suara, seperti cahaya yang menyelinap melalui celah pintu tanpa meminta izin. Sinar matahari jatuh di lantai apartemen Celine, membentuk garis panjang keemasan yang perlahan merangkak seperti tangan hangat yang mencoba membangunkan dunia.

Namun di sudut ruang tamu, Celine sudah terjaga sejak lama.

Ia duduk di lantai, bersandar pada sofa, dengan Al-Qur’an terbuka di pangkuannya. Jari-jarinya menelusuri huruf-huruf Arab itu perlahan, seperti seseorang yang meraba jalan dalam gelap. Bibirnya bergerak pelan, terbata-bata, sesekali berhenti untuk menarik napas panjang.

Belajar membaca Al-Qur’an kembali di usia dewasa terasa seperti belajar berjalan setelah lama lumpuh—memalukan, menyakitkan, tetapi juga penuh harapan.

Suara bacaannya tidak merdu. Bahkan sering keliru.

Namun ada ketulusan di sana… ketulusan yang membuat setiap huruf terasa berat sekaligus suci.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari, menetes di halaman mushaf seperti embun yang jatuh di atas kelopak bunga sebelum sempat menguap.

“Aku lambat banget ya, Ya Allah…” bisiknya.

Dadanya terasa sesak. Bukan karena sulitnya membaca, tetapi karena penyesalan yang datang bertubi-tubi seperti ombak yang tak pernah memberi jeda.

Seandainya ia lebih dulu belajar.

Seandainya ia tidak menyia-nyiakan waktu.

Seandainya masa lalunya tidak sekelam itu.

Pintu kamar terbuka pelan.

Aldivano keluar dengan langkah tenang, rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya lembut seperti langit subuh yang belum sepenuhnya terang. Ia berhenti ketika melihat Celine di lantai.

Untuk beberapa detik, ia hanya diam.

Tatapannya hangat, seperti seseorang yang melihat keajaiban kecil yang tidak ingin ia ganggu.

“Kamu dari tadi di situ?” tanyanya akhirnya.

Celine menoleh, sedikit terkejut. Ia buru-buru mengusap air matanya, seperti anak kecil yang ketahuan menangis.

“Iya… nggak bisa tidur.”

Aldivano mendekat, lalu duduk di lantai di sampingnya tanpa suara. Jarak mereka dekat, tetapi tidak menekan—seperti bayangan yang setia mengikuti tanpa pernah memaksa.

“Kamu baca apa?”

Celine menunduk.

“Masih iqra… belum lancar Qur’an.”

Nada suaranya pelan, nyaris seperti pengakuan dosa.

Aldivano justru tersenyum.

“Itu bukan ‘masih’. Itu ‘sudah mulai’.”

Celine mengerutkan kening.

“Tapi aku lambat banget.”

“Lebih baik lambat tapi sampai,” jawabnya tenang, “daripada cepat tapi berhenti di tengah jalan.”

Kalimat itu sederhana, namun terasa seperti air sejuk yang dituangkan ke dalam dada yang terbakar.

Celine menatap huruf-huruf di halaman itu lagi. Mereka masih tampak sulit, seperti teka-teki yang tidak mau dipecahkan.

“Aku takut…” katanya pelan.

Aldivano menoleh. “Takut apa?”

“Takut Allah kecewa sama aku. Aku baru mulai sekarang, setelah semua yang aku lakukan dulu.”

Suaranya bergetar, seperti kaca tipis yang hampir retak.

Aldivano tidak langsung menjawab. Ia mengambil mushaf di tangan Celine, menutupnya pelan, lalu mengembalikannya ke pangkuannya.

“Allah nggak pernah kecewa sama hamba yang kembali,” katanya.

“Yang ada… Allah senang.”

Celine menatapnya, ragu.

“Bener?”

Aldivano mengangguk.

“Kamu tahu kenapa orang yang bertaubat disebut ‘kembali’?” tanyanya.

Celine menggeleng pelan.

“Karena sebenarnya kita bukan datang ke tempat baru. Kita pulang.”

Kata pulang membuat dada Celine bergetar hebat, seperti pintu lama yang tiba-tiba diketuk setelah bertahun-tahun sunyi.

Air matanya kembali jatuh.

“Aku takut kalau aku kambuh lagi… jadi aku yang dulu.”

Aldivano menatapnya dengan serius, tetapi lembut.

“Kalau kamu jatuh lagi, kita bangun lagi.”

“Kita?”

“Iya. Kamu nggak sendiri.”

Celine menggigit bibirnya. Hatinya terasa seperti kain kusut yang perlahan dirapikan oleh tangan yang sabar.

Di luar, suara kendaraan mulai terdengar. Kota telah bangun sepenuhnya. Dunia kembali sibuk, riuh, dan tak peduli pada pergulatan kecil di dalam sebuah apartemen di lantai tinggi.

Namun di dalam ruangan itu, waktu terasa berjalan lebih lambat—seperti jam yang sengaja ditahan agar dua hati yang lelah bisa bernapas.

“Mas…” Celine memanggil lagi.

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku nggak sekuat ini lagi… kamu masih mau di samping aku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti rahasia yang akhirnya tidak mampu disembunyikan.

Aldivano tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Celine dengan lembut. Hangat, kokoh, dan menenangkan—seperti seseorang yang berkata aku di sini tanpa perlu suara.

“Aku nikahin kamu bukan karena kamu kuat,” katanya pelan.

“Aku nikahin kamu supaya kita bisa saling menguatkan.”

Tangis Celine pecah lagi.

Kali ini bukan karena sedih.

Bukan karena takut.

Tetapi karena hatinya akhirnya merasa aman.

Ia menunduk, bahunya bergetar pelan, seperti daun yang gemetar disentuh angin pagi.

Aldivano tidak memeluknya. Ia hanya tetap menggenggam tangannya, memberi ruang bagi Celine untuk menangis tanpa merasa dikurung.

Tangisan itu mengalir seperti hujan yang membersihkan debu panjang musim kemarau.

Setelah beberapa saat, Celine menarik napas panjang. Udara terasa berbeda—lebih ringan, lebih bersih, seperti setelah hujan pertama.

“Aku mau terus belajar,” katanya lirih.

Aldivano tersenyum.

“Itu sudah cukup.”

Celine menggeleng pelan.

“Belum. Aku mau jadi istri yang baik buat kamu… dan hamba yang baik buat Allah.”

Kalimat itu keluar dengan ketulusan yang begitu murni hingga terasa hampir rapuh.

Aldivano menatapnya lama, lalu berkata pelan—

“Kamu sudah di jalan yang benar. Dan Allah lebih sayang sama orang yang berjalan tertatih-tatih daripada yang berlari tapi sombong.”

Celine memejamkan mata.

Di dalam dadanya, sesuatu terasa hangat… seperti api kecil yang tidak membakar, tetapi menghangatkan.

Harapan.

Ia membuka kembali mushaf di pangkuannya.

Huruf-huruf itu masih sama.

Masih sulit.

Masih menantang.

Namun kali ini… tidak lagi menakutkan.

Seperti gunung yang tetap tinggi, tetapi kini ia tahu ada seseorang yang akan mendaki bersamanya.

Celine mulai membaca lagi, pelan, terbata, tetapi mantap.

Suara bacaannya mengalun lembut di ruangan itu—tidak indah, tidak sempurna, tetapi jujur. Seperti doa anak kecil yang mungkin salah ucap, namun paling tulus di hadapan langit.

Di sampingnya, Aldivano tetap duduk, mendengarkan tanpa menyela.

Dan pagi itu…

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus berlari, ada dua manusia yang memilih berjalan pelan menuju Tuhan—langkah demi langkah, luka demi luka, harap demi harap.

Seperti matahari yang tidak pernah terburu-buru, tetapi selalu berhasil menerangi bumi pada waktunya.

Celine tersenyum kecil di sela bacaannya.

Untuk pertama kalinya, perjalanan ini tidak terasa seperti hukuman.

Melainkan seperti undangan pulang yang akhirnya ia jawab.

Malam turun perlahan, seperti tirai gelap yang ditarik dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan dunia. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berkelip dari kejauhan seperti bintang yang jatuh dan tersangkut di antara gedung-gedung tinggi.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!