Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan?
Mentari pagi sudah menyambut, namun sepasang kekasih yang akan menikah itu masih enggan untuk bangkit dari atas ranjang.
"Kau tidak akan bekerja?" Tanya Sarah pada Rovano yang masih bergelung di atas kasur sambil memeluknya, pria itu menenggelamkan wajahnya pada dada Sarah.
Posisi nyaman, hangat, membuat Rovano menikmatinya. Aroma tubuh Sarah yang ia rindukan, akhirnya bisa ia dekap semalaman.
"Hn," hanya itu yang terdengar dari Rovano, pria itu enggan bangkit, ia memeluk erat Sarah yang terbalut piyama berwarna merah maroon itu.
"Kalo begitu ayo bangun," ucap Sarah mencoba membujuknya, namun pria itu hanya mendongak untuk melihat wajah Sarah.
"Sudah bangun kok," ucap Rovano sambil menyeringai membuat Sarah segera menjitaknya.
"Bukan yang itu! Bodoh!" Sarah berseru kesal, Rovano terus menggodanya, padahal pria itu sendiri yang berdalih ingin menahan diri.
Sarah sendiri masih kuat dengan pendirian nya, tidak akan mengizinkan Rovano menyentuhnya lebih dari pelukan seperti ini saat tidur, pernikahan mereka masih minggu depan, inilah mengapa harusnya mereka jangan serumah dulu.
Ya, tapi keduanya juga sama-sama saling menginginkan untuk terus bersama.
"Hn, sebentar lagi," ucap Rovano kembali memeluk Sarah.
Mereka masih dalam posisi tersebut selama beberapa menit, tidak ada yang tidur, hanya berbaring bersama dalam posisi Rovano yang memeluk Sarah begitu erat. Sarah bisa merasakan napas Rovano yang hangat, berhembus terus-menerus menerpa dadanya.
Jika tadi semalam Sarah tidak datang ke rumah ini, mungkin hubungan mereka tidak akan berubah.
Sepertinya pria itu sedang mengumpulkan tenaga, jelas saja, ia baru saja kembali dari luar kota semalam, badannya masih lelah. Belum lagi, mentalnya juga sedang lelah karena kelakuan Ryan terus menguras pikiran Rovano.
"Aku sangat lelah, Sarah. Bukan hanya badanku, tetapi pikiranku juga, semua karena Ryan," ucap Rovano, ia kemudian melepas pelukan untuk menatap Sarah, berpindah posisi agar ia bisa melihat Sarah lebih jelas lagi.
"Di saat Ryan mengganggumu, ternyata ia juga mengirim orang untuk mengganggu pekerjaanku," lanjutnya, "Dia rela mengirim sekretaris nya untuk langsung mengganggu proyek yang sedang aku buat."
"Dia... benar-benar licik," ucap Sarah tidak percaya, "aku masih belum mengerti kenapa dia melakukan semuanya sejauh itu."
Benar, Ryan sangat licik. Sejak dulu seperti itu dan berpura-pura tidak tahu apapun yang terjadi di antara keluarganya. Rovano menghela napasnya sejenak, kembali menoleh pada Sarah seraya mengusap lengan gadis itu.
"Dia ingin menjadi seorang pewaris tunggal dan dia ingin memilikimu juga, namun takdir memang tidak berpihak padanya," ucap Rovano.
Rovano beranjak dari kasur, ia membuka tirai jendela kamar mereka agar cahaya mentari masuk, menyinari dua insan yang sedang kena mental breakdown itu.
"Sebenarnya aku tidak peduli akan perusahaan pada awalnya, namun setelah mendengar kalau ayah akan berusaha bersikap adil jika aku bisa berusaha sendiri untuk mendapatkan sedikit saja kesuksesan, ambisiku terketuk," ucap Rovano.
Sarah bangkit, gadis itu berjalan mendekati Rovano, mereka melihat pemandangan pagi yang cukup indah melalui jendela kamar mereka. Sarah mengamit lengan Rovano, dan menyandarkan kepalanya di sana.
Bicara mengenai ambisi, Sarah juga memilikinya. Ia berambisi ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia dan tidak pernah saling terpisah.
"Ambisimu begitu besar, lalu Ryan merasakan dirinya terancam karena ambisimu," ucap Sarah yang mulai memahaminya, "kurasa karena itu dia jadi menggila."
Rovano tersenyum kecil, pria itu mengangguk, kemudian menepuk puncak kepala Sarah, "dia juga jadi tambah gila karena kau akan menjadi istriku, jadi kita berdua harus berhati-hati dengannya."
“Sudah ku katakan, aku ini sangat menggoda,” bisik Sarah lalu tertawa pelan.
Rovano mendengus pelan, “lalu apa ambisimu?” tanyanya kemudian.
Sarah mengambil jeda sejenak, ia berpura-pura berpikir keras.
“Hm… memiliki keluarga kecil yang utuh dan bahagia?” jawabnya seraya menoleh pada Rovano lagi dengan mata yang sedikit berbinar, seperti anak kecil yang meminta sesuatu.
"Bisa di bilang, itu bukan ambisi, tapi impian ku."
Rovano terdiam untuk sesaat, ambisi Sarah lebih pada tujuan dalam hati kecilnya, pria itu mendekatkan wajahnya pada Sarah lalu mencium pipi gadis itu lembut.
“Akan ku usahakan itu untukmu,” jawabnya, ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Sarah menghela napasnya, ia meregangkan ototnya kemudian segera membereskan kamar mereka sebelum beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Hari ini mereka akan menikmati hari yang santai tanpa bayang-bayang persiapan pernikahan ataupun sikut menyikut bisnis dan perusahaan.
Rovano benar, aku harus lebih berhati-hati, Ryan semakin berani menggunakan cara kotor, Pikir Sarah.
Di rumah itu hanya ada dua manusia yang sedang di mabuk asmara tapi saling menahan diri hingga waktunya tiba, saling berbagi keluh kesah satu sama lain dan berusaha melindungi satu sama lain.
Sarah berharap jalan yang ia ambil kali ini adalah yang terbaik bagi hidupnya, karena bagaimanapun, Rovano sudah mengusahakan banyak hal untuknya, begitu juga dirinya, ia harus bisa mendukung pria itu seperti kata sang ayah.
Rovano sudah selesai bersiap, ia memakai setelan kasual yang membuatnya terlihat sangat tampan. Sarah yang belum mandi, merasa tenggorokan nya kering mendadak dan sedikit canggung.
Ia tidak mau jika Rovano tiba-tiba mendekat dan memeluknya yang masih kacau ini. Tapi pria itu tetap melakukan nya meski Sarah sudah mendorong nya.
"Sarah, bagaimana kalau hari ini kita berkencan sungguhan?" tanya Rovano.
"M-maksudmu?!"
"Kita jalan-jalan, seperti pasangan pada umumnya, aku belum pernah melakukannya." Jawab pria itu dengan polosnya.
"Wah! Ini sungguhan? Seorang Rovano mengajakku berkencan hari ini?!"
Sarah mundur beberapa langkah, dalam pikirannya, pria seperti Rovano ini mungkin pernah melakukan kencan buta ataupun kencan sungguhan.
Pria tampan dengan sikap baik seperti dia justru malah belum pernah melakukannya?
"Aku tidak seperti Ryan, hidupku hanya untuk fokus pada tujuanku jadi aku tidak ada waktu untuk hal seperti itu."
Sarah berkacak pinggang, "Jadi sekarang kau ada waktu untuk itu?"
Rovano mengangguk, "Ya, sekarang bukan cuma ada waktu, tapi ada pasangan nya juga." jawabnya.
Pria itu seperti anak remaja sekarang, menatap Sarah dengan penuh harap dan sedikit berbunga-bunga. Pria yang di mabuk cinta.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tanya Sarah, wajahnya sedikit menantang Rovano.
Rovano tak kalah menatapnya dengan menantang.
"Harus mau karena aku memaksa."