Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAL-HAL YANG TIDAK BISA DISETEL ULANG
CHAPTER 25
Sirkuit itu tidak peduli siapa dirimu sebelum datang.
Tidak peduli kau baru pulang dari villa di pesisir Prancis,
tidak peduli kau anak konglomerat atau mantan pembalap miskin.
Begitu helm tertutup,
yang tersisa hanya kau dan mesin.
Julian kembali ke paddock dengan tubuh lebih segar.
Kulitnya sedikit lebih gelap oleh matahari laut.
Posturnya lebih rileks.
Langkahnya… tenang.
Terlalu tenang.
Beberapa mekanik melirik.
“Dia kelihatan santai,” gumam salah satu.
“Entah itu bagus… atau berbahaya.”
Sesi latihan bebas pertama dimulai.
Julian tidak langsung cepat.
Ia menggunakan tiga lap pertama hanya untuk merasakan motor—bukan mendorong. Menguji respons throttle, kestabilan rem, dan grip ban setelah perubahan kecil pada suspensi.
Engineer memperhatikan grafik.
“Dia belum push,” kata salah satu.
Elliot mengangguk.
“Dia sedang mengingat.”
Lap keempat.
Julian mulai membuka gas.
Bukan agresif.
Tapi presisi.
Ia menggunakan teknik progressive throttle layering—membuka gas bertahap dengan mikroadjustment kecil, menjaga traksi ban belakang tetap optimal di exit tikungan. Teknik ini jarang terlihat jelas, tapi efeknya nyata: kecepatan naik tanpa drama.
Waktu lap turun drastis.
P4.
Tanpa slipstream.
Tanpa tow.
Murni sendirian.
Di pit wall, beberapa orang dari tim lain mulai berdiri.
Satu di antaranya—pria berjas yang sama—mengamati tanpa ekspresi.
“Dia berubah,” katanya pelan.
“Lebih… utuh.”
Kualifikasi berlangsung ketat.
Julian tahu ini momen penting.
Ia memilih satu lap cepat saja.
Tidak memaksakan dua atau tiga percobaan.
Satu kesempatan.
Ia masuk lap terakhir dengan ban masih hidup, suhu ideal.
Di sektor dua, ia menggunakan rolling corner speed—menjaga kecepatan konstan tanpa pengereman keras, membiarkan momentum mengalir. Teknik ini menuntut kepercayaan penuh pada grip dan keseimbangan tubuh.
Risikonya besar.
Hadiahannya… waktu.
Julian mencetak P2.
Front row.
Ward Racing terdiam sepersekian detik.
Lalu… meledak.
“Dia serius,” kata Elliot sambil tertawa tak percaya.
Hari balapan tiba.
Cuaca cerah.
Lintasan panas.
Julian berdiri di grid, motor di bawahnya bergetar halus.
Ia tidak memikirkan kontrak.
Tidak memikirkan tawaran.
Ia hanya mengingat satu hal dari liburnya:
Balapan ini tidak perlu membuktikan apa pun.
Lampu padam.
Start bersih.
Julian menjaga RPM sempurna—tidak wheelspin, tidak kehilangan momentum. Ia masuk tikungan pertama sejajar dengan P1, tapi tidak memaksakan.
Ia berada di P2.
Lap demi lap, balapan menjadi duel sunyi.
Pembalap di depan agresif.
Julian… sabar.
Lap 9.
Kesempatan muncul.
Di tikungan cepat kanan, Julian menggunakan fake entry—sedikit membuka jalur seolah menyerang dari luar, memaksa lawan melebar, lalu memotong ke dalam di tengah tikungan.
Penonton berteriak.
Overtake bersih.
P1.
Namun memimpin… selalu punya harga.
Ban mulai turun.
Tekanan meningkat.
Julian mengubah gaya.
Ia tidak lagi mencari waktu tercepat.
Ia menjaga ritme.
Mengatur napas.
Mengatur jarak.
Lap terakhir.
Tekanan datang dari belakang.
Julian memilih defensive late braking—bukan mengerem lebih keras, tapi mengerem lebih pintar, memindahkan titik pengereman beberapa meter lebih dalam untuk menutup jalur ideal lawan.
Tidak indah.
Tapi efektif.
Garis finis.
P1.
Kemenangan pertamanya bersama Ward Racing.
Di parc fermé, Julian turun dari motor.
Tidak berteriak.
Tidak mengepalkan tangan.
Ia hanya menutup mata sebentar.
Seolah memastikan… ini nyata.
Di pit wall, Elliot menepuk pagar.
Marco menatap Julian dengan mata berkaca-kaca.
Dan di kejauhan, pria berjas itu tersenyum tipis.
“Sekarang,” katanya,
“dia berbahaya.”
Malam itu, Julian sendirian di kamar hotel.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Clara.
Aku lihat hasilnya.
Julian membalas singkat.
Aku balapan dengan tenang.
Balasan datang lama.
Aku senang kau menemukan itu. Bahkan jika bukan bersamaku.
Julian menatap layar lama.
Kemenangan terasa… mahal.
Di meja, kontrak itu masih ada.
Tim pabrikan.
Kali ini… mereka menunggu dengan sabar.
Karena sekarang mereka tahu:
Julian Ashford bukan lagi pembalap yang mengejar.
Ia adalah pembalap
yang diperebutkan.
.
.
.
Kemenangan tidak selalu memberimu kebebasan.
Kadang…
ia justru mengundang lebih banyak tangan untuk ikut mengatur hidupmu.
Julian merasakannya saat ia kembali ke London.
Mobil keluarga Ashford meluncur tenang di jalanan kota. Kaca gelap. Tidak ada klakson. Tidak ada tergesa.
Di luar, orang-orang berlari mengejar jadwal.
Di dalam, Julian duduk bersandar, jas tipis rapi di tubuhnya—bukan pakaian balap, bukan seragam tim.
Ia jarang mengenakan ini.
Dan itu sudah cukup untuk mengingatkannya:
hidup ini punya lebih dari satu lintasan.
Gedung itu menjulang tenang.
Bukan mencolok.
Bukan mewah berlebihan.
Ashford Holdings.
Properti.
Perbankan.
Investasi lintas negara.
Balapan… bahkan tidak tercatat sebagai satu persen dari nilai grup ini.
Rapat keluarga bukan formal.
Tapi tetap berat.
Ayahnya duduk di ujung meja.
Ibunya di samping.
Beberapa penasihat senior hadir—diam, mencatat, menunggu.
“Kami bangga,” kata ibunya membuka pembicaraan.
“Kau menang dengan caramu sendiri.”
Julian mengangguk.
“Tapi,” lanjut ayahnya tenang,
“dunia mulai melihatmu bukan hanya sebagai pembalap.”
Julian tahu kalimat itu datang ke mana arahnya.
“Tim pabrikan menghubungi kami,” kata salah satu penasihat.
“Mereka melihat potensi jangka panjang. Bukan hanya di lintasan.”
Julian menatap meja.
“Brand. Pengaruh. Arah.”
Ayahnya melanjutkan,
“Kau membawa nama keluarga ini ke ruang publik yang tidak bisa kami kontrol.”
Bukan larangan.
Bukan ancaman.
Peringatan.
Julian akhirnya bicara.
“Ayah,” katanya pelan,
“aku tidak ingin balapan jadi alat.”
Ruangan hening.
Ayahnya menatapnya lama.
“Kami juga tidak ingin kau menjadi korban ambisi orang lain,” jawabnya.
Dua kebenaran berdiri saling berhadapan.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang mudah.
Malam itu, Julian menghadiri acara kecil.
Bukan pesta.
Bukan gala.
Jamuan tertutup.
Investor. Akademisi. Beberapa tokoh berpengaruh.
Julian berdiri dengan segelas minuman—lebih banyak mendengar daripada bicara.
Beberapa orang mendekat.
“Kami menonton balapanmu.”
“Pendekatanmu menarik.”
“Kau tidak terlihat haus sorotan.”
Julian tersenyum sopan.
Ia merasa… asing.
Di lintasan, ia tahu siapa dirinya.
Di sini… semua orang ingin menentukannya.
Di tengah keramaian itu, Julian keluar ke balkon.
Udara malam dingin.
London membentang sunyi.
Ia membuka ponsel.
Tidak ada pesan baru.
Clara masih di dunia yang berbeda.
Dan untuk pertama kalinya, Julian merasakan jarak itu… nyata.
Beberapa hari berikutnya, hidup Julian diatur nyaris sempurna.
Jadwal olahraga pribadi.
Latihan reaksi.
Fisioterapi.
Makan siang bisnis.
Pertemuan singkat dengan media—tanpa balapan.
Ia mulai lelah.
Bukan fisik.
Mental.
Suatu sore, Julian membatalkan semua jadwal.
Supir terkejut.
Asisten ragu.
“Aku mau jalan sendiri,” katanya singkat.
Julian mengemudi tanpa tujuan.
Mobil sport melaju tenang.
Tidak ngebut.
Tidak pamer.
Ia berhenti di satu kafe kecil.
Tidak ada yang mengenalnya.
Dan untuk satu jam…
ia hanya seorang pria muda yang duduk sendiri, minum kopi, dan berpikir.
Michael tidak pernah punya kemewahan ini, pikirnya.
Julian punya segalanya… kecuali kejelasan.
Dan mungkin…
itulah tantangan hidup keduanya.
Teleponnya bergetar.
Marco.
“Jul,” katanya, nadanya serius.
“Tim pabrikan kasih tenggat. Satu minggu.”
Julian menutup mata.
“Dan Ward Racing?”
Hening sejenak.
“Mereka menunggu. Tapi mereka tahu… posisi mereka lemah.”
Malam itu, Julian kembali ke rumah keluarga.
Duduk di kamar lamanya.
Trofi balap ada.
Buku kuliah lama ada.
Foto masa kecil… lengkap, hangat, utuh.
Berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Ia menyadari sesuatu yang pahit:
Di hidup ini, ia tidak berjuang untuk bertahan hidup.
Ia berjuang untuk memilih.
Dan pilihan…
selalu menyakiti satu sisi.
Julian berdiri di depan jendela.
Lampu kota berpendar.
Ia tahu:
Balapan berikutnya tidak akan menentukan juara.
Tidak akan menentukan gelar.
Tapi akan menentukan arah hidupnya.
Dan kali ini,
tidak ada setup,
tidak ada data,
tidak ada engineer
yang bisa membantunya mengambil keputusan itu.