Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Alsannya apa?
Setelah Revan mendapat pertanyaan tentang pengesahan pernikahannya dengan Amel secara negara, mendadak Revan jadi terdiam.
Dia yang sudah sangat tertarik dengan Amel dan ingin benar-benar menjalani rumah tangga itu dengan baik tentu tapi Revan terkendala surat-suratnya yang masih tertahan di rumah besar itu.
Revan mengacak rambutnya kasar, dia tak mungkin kembali ke rumah besar itu. Tak akan mungkin!
"Ney, aku keluar sebentar sama si Eza ya, kamu di sini dulu nggak papa kan?" tanya Revan.
Amel mengangguk pelan, agak canggung saat melihat Revan yang terlihat berbeda setelah Amel tadi melemparkan pertanyaan tentang pendaftaran nikah mereka.
"Kenapa, Van?" tanya Eza saat mereka sudah berada di taman dekat tempat usaha mereka.
"Gue bisa pindah kartu keluarga nggak ya?" tanya Revan tiba-tiba.
"Emang kenapa lo tanya itu?" Eza gantian bertanya.
"Amel nanya pernikahan kita mau didaftarin ke negara atau nggak!"
"Emang lo nggak mau, tapi lo nggak enak hati sama Abel gitu?" tanya Eza penasaran.
"Kok lo bisa kepikiran gue nggak mau?" Revan bingung dengan pertanyaan Eza itu.
"Lha terus alesan apa selain lo nya nggak mau?"
Revan menghela nafas panjang. Iya, memang Eza itu lebih pinter dan multitasking daripada Abel tapi kadang-kadang pikiran Eza itu terlalu cetek untuk hal-hal yang kayak gini.
"Gue mau ngurus pemisahan diri dari kartu keluarga bokap gue karena gue mau daftarin pernikahan gue sama Amel ke negara!"
"Emang nikah pakai kartu keluarga segala ya? Kirain cuman jabat tangan wali nikah selesai!"
Plak! Revan benar-benar kesal dengan pola pikir Eza yang ajaib.
"Aelah, nggak elo, nggak Abel, hobi banget sih mukulin kepala gue!" Eza kembali mengusap kepalanya yang panas.
"Dikeplakin mulu biar pinter ini malah tambah bego!" Revan menggerutu pelan.
"Lo kenapa bingung sih?! Timbang pecah KK aja sulitnya dimana? Sini ya gue kasih tahu, lo hacker mumpuni, timbang masuk ke komputer mereka lalu langsung ubah KK lo sendiri mah itu gampang! Atau lo mau jalur resmi? Palsuin aja tandatangan pihak yang berwenang dan lo bisa melenggang segampang itu!" ucap Eza serius.
"Ya udah kalau gitu urusan itu gue serahin ke lo!" ucap Revan santai.
"Yah, gue juga yang kena tiban! Nangsip emang!" gerutu Eza sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
Sementara itu Abel yang baru kelar menghadap dosen pembimbingnya kembali ke kedai kopi itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
Ceklek! Abel celingukan ketika mendapati hanya Amel yang berada di ruangan itu.
"Revan mana, Mel?" tanya Abel sembari duduk di kursinya.
"Keluar sama Eza tadi! Bel, sini deh gue mau tanya sesuatu!" Amel melambai memanggil Abel untuk mendekat ke arahnya.
"Merinding badan gue kalau lo panggil kayak gitu!" Abel pura-pura bergidik sambil meraba tangannya yang pura-pura bergidik.
"Abel, ahhh!" Amel cemberut
"Ada apa kakakku sayang!" Akhirnya Abel mendekat dan duduk di samping Amel.
Abel meletakkan kepalanya di sisi meja yang ditenpati Amel dengan beralaskan siku tangannya.
"Kenapa sih?" tanya Abel mendadak serius.
"Lo kenapa waktu itu ngedorong Revan untuk nikahin gue?" tanya Amel penasaran.
"Oh itu, ya karena yang gue ajakin buat nemenin kondangan waktu itu si Revan, andai Eza yang gue ajakin ke kawinan lo waktu pasti Eza yang gue suruh!" ucap Abel santai.
"Oh jadi nggak ada alesan khusus ya?" gumam Amel mendadak patah hati.
"Gue kan nggak mau lo dipermalukan kayak gitu, Mel! Mana tamu udah dateng dan pernikahan lo batal, duh gue nggak tega lihat reputasi lo hancur!" ucap Abel masih santai.
"Tahu gitu gue nggak mau kemarin Revan ngegantiin Doni kayak gitu, mending batal ya biarin batal aja!" gumam Amel sedih.
"Gue tahu sih Revan tuh anaknya baik dan bertanggung jawab banget, apalagi memang tipe ceweknya itu ya yang kayak lo gitu!"
"Tapi gue jadi ngerasa bersalah menarik orang dalam masalah gue!" ucap Amel membuat Abel jadi menatap Abel serius.
"Lo kenapa, Mel?" tanya Abel mulai menatap sepupunya itu awas.
"Gue rasa Revan waktu itu kepaksa deh, Bel!" gumam Amel lagi.
"Ya emang agak terpaksa sih, gue yang maksa dia!"
"He em. Gue tadi sempet tanya ke dia, mau dicatatin ke negara nggak pernikahan ini!"
"Terus jawaban dia apa?" Abel mulai tertarik dan fokus dengan pembahasan yang dibicarakan oleh Amel.
"Dia nggak jawab apa-apa, Bel! Malah habis itu dia diem aja dan sekarang malah pergi sama Eza!" jawab Amel tambah sedih.
"Sejauh mengenal selama lima tahun ini, Revan tuh bukan tipe orang yang mudah dipaksa dan mengelak dari tanggung jawabnya sih. Kalau dia bilang mau nikahin lo dia pasti bakalan komitmen dengan keputusan yang dia buat!"
"Iya sih, wakti itu dia juga ngomong kalau pekerjaan dan pernikahan ini adalah masalah yang paling penting buat dia, tapi kenapa dia malah menghindar gitu sekarang." Amel mendesah frustasi.
"Ntar aja lo omongin ama dia baik-baik dan pelan-pelan aja, pokoknya pesen gue jangan lo push kalau dia belum mau ngomongin masalah itu!" nasihat Abel dengan sayang.
"Lo tahu orang tuanya nggak, Bel?" tanya Amel tiba-tiba.
"Lo nanyain ke dia masalah orang tuanya?" Abel langsung melotot tak percaya.
"Ya bagaimanapun gue kan udah nikah ama dia, Bel! Gue berniat mengajak dia silaturahmi dan minta doa restu ke orang tuanya!"
"Terus jawaban dia apa?" tanya Abel tiba-tiba dadanya deg-degan mendengar ucapan Amel tadi.
"Dia bilang, gue nggak punya orang tua, gue lahir dari batu! Gitu katanya!" jawab Amel menirukan suara bariton Revan.
"Lain kali nggak usah nanya masalah yang satu ini!" perintah Abel pelan.
"Oh jadi bener dia lahir dari batu mirip Gatotkaca gitu?" gumam Amel terdengar jelas di telinga Abel.
Abel tertawa terbahak. "Itu cerita pewayangan, ya kali hari gini ada orang lahir dari kawah gunung gitu?! Lo ada-ada aja, Mel!" ledek Abel membuat Amel keki.
"Kalian selingkuh di belakang gue ya?!"