Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 Langkah yang Diantar
Ada jarak yang sengaja dijaga, bukan karena menjauh, melainkan karena sedang belajar menunggu dengan cara yang paling dewasa.
—Aldivano Athariz—
Mobil itu melaju tenang, seperti seseorang yang berjalan di garis takdirnya sendiri—tidak tergesa, tidak pula ragu. Aspal malam terbentang lurus di depan, memantulkan cahaya lampu jalan yang berderet rapi, laksana untaian doa yang tak putus-putus dinaikkan ke langit. Di dalam mobil, hening menggantung. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang sarat makna, seperti jeda sebelum hujan turun.
Celine duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela. Lampu-lampu kota berlalu begitu saja, seperti kenangan yang datang dan pergi tanpa sempat digenggam. Wajahnya tenang, tapi di balik ketenangan itu, ada gelombang kecil yang berkejaran di dadanya. Ia masih belum terbiasa dengan jarak yang Aldivano ciptakan—jarak yang rapi, sopan, dan nyaris tak meninggalkan celah untuk disalahpahami.
Aldivano menyetir dengan kedua tangan mantap di kemudi. Pandangannya lurus ke depan, sesekali melirik spion, memastikan jalan aman. Ia tidak bertanya mengapa Celine menjauh. Tidak pula menyinggung perubahan sikap yang ia rasakan. Bagi Aldivano, menahan diri adalah bentuk cinta yang paling sunyi—seperti menutup payung agar hujan jatuh merata ke tanah, bukan hanya ke dirinya.
“Gimana kuliah?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan tenang, seperti aliran sungai di balik rimbun pepohonan. “Udah sejauh apa sekarang?”
Celine sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. Pertanyaan itu terasa aman, tidak menusuk, tidak memaksa. Seperti tangan yang disodorkan tanpa menarik.
“Alhamdulillah… tinggal beberapa tahap lagi,” jawabnya. “Proposal udah jalan, data mulai dikumpulin. Tinggal konsistensi sama doa.”
Aldivano mengangguk pelan. Ia mencatat tiap kata, tiap jeda. Bukan untuk menginterogasi, melainkan untuk menakar waktu. Untuk memastikan sesuatu yang besar—sesuatu yang ingin ia sampaikan kelak—tidak datang terlalu cepat, tidak pula terlambat.
“Bagus,” katanya singkat. “Kamu keliatan menikmati prosesnya.”
Celine tersenyum. “Capek sih, tapi… aku bersyukur. Lingkungannya mendukung.”
Aldivano kembali mengangguk. Di hatinya, ada rasa lega yang menetes pelan, seperti embun pagi yang jatuh ke daun. Ia tahu, memastikan kesiapan Celine bukan hanya soal waktu akademik. Ini tentang fase hidup, tentang ruang yang perlu dibersihkan dari keraguan sebelum kebenaran diletakkan di tengahnya.
Mobil berhenti di lampu merah. Aldivano melirik Celine sekilas—cukup untuk memastikan ia baik-baik saja. Tidak ada kata berlebih. Tidak ada tatapan yang menuntut. Hanya perhatian yang diletakkan di tempatnya, seperti menyimpan kaca berharga di kotak yang aman.
Saat lampu berubah hijau, mobil kembali melaju.
Gerbang kampus tampak ramai malam itu. Spanduk penyambutan study tour terbentang, lampu-lampu dekorasi menyala, dan suara tawa bercampur dengan langkah-langkah yang tergesa. Kedatangan bus-bus sekolah menambah semarak suasana. Kampus yang biasanya tenang, malam itu seperti alun-alun yang dipenuhi warna dan suara.
Mobil Aldivano memasuki area parkir. Begitu Celine turun, suasana seolah bergeser. Bisik-bisik muncul, seperti angin yang menyebarkan kabar. Banyak pasang mata tertuju—bukan hanya pada Celine, tetapi pada sosok lelaki yang mengantarnya.
“Eh… itu siapa?”
“Celine diantar cowok?”
“Jarang banget, deh.”
Kampus mengenal Celine dengan baik. Ia mahasiswi populer, bukan karena sensasi, melainkan karena konsistensi. Wajahnya memang memikat, seperti pagi yang cerah setelah hujan, tetapi prestasinya adalah cahaya yang membuat orang bertahan menatap. Ia dikenal ramah, aktif, cerdas—dan yang paling mencolok—nyaris tak pernah terlihat dekat dengan laki-laki, selain kakaknya.
Maka malam itu, kehadiran Aldivano terasa seperti komet yang melintas rendah—langka dan menyita perhatian.
Celine menyadari tatapan-tatapan itu. Punggungnya sedikit menegang, namun ia berusaha tetap tenang. Aldivano berdiri di sampingnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Sikapnya tenang, seperti penjaga yang tahu batas wilayahnya.
“Terima kasih, Mas,” ucap Celine pelan. “Aku langsung ke dalam.”
Aldivano mengangguk. “Iya. Aku tunggu di mobil sebentar, terus pulang.”
Kalimat itu sederhana, namun mengandung satu hal yang membuat Celine berhenti sejenak: tidak ada tawaran berlebih, tidak ada keinginan ikut campur. Hanya hadir, lalu memberi ruang.
Celine menatapnya sesaat. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi lidahnya memilih diam. Ia mengangguk, lalu melangkah pergi.
Beberapa langkah kemudian, sorak kecil terdengar.
“CELIIINE!”
Reina, Alya, dan Nadhifa menghampiri dengan wajah berbinar. Mereka menarik Celine ke dalam lingkaran hangat persahabatan. Pertanyaan-pertanyaan meluncur, tawa pecah, kegugupan mencair seperti gula dalam teh hangat.
“Ini momen langka banget,” bisik Alya sambil tertawa.
“Serius,” sambung Nadhifa. “Kampus bakal ingat malam ini.”
Celine tersenyum kikuk. “Kalian lebay.”
Namun di balik senyumnya, ada perasaan aneh yang berdesir—antara canggung dan hangat. Ia melirik ke arah parkiran. Aldivano masih berdiri di dekat mobil, menatap ke arah lain, seolah sengaja tidak menyaksikan sorotan yang mengarah padanya.
Seperti simile yang sederhana namun dalam, Aldivano malam itu bagai bayangan pohon di bawah lampu—hadir untuk meneduhkan, bukan untuk dilihat.
Penyambutan study tour dimulai. Para dosen berdiri di depan, menyambut tamu dengan senyum dan sambutan hangat. Celine ikut membantu, bergerak lincah dari satu titik ke titik lain. Ia memandu, menjelaskan, tertawa bersama adik-adik sekolah yang datang dengan mata berbinar.
Salah satu dosen menepuk pundaknya. “Terima kasih, Celine. Kamu selalu bisa diandalkan.”
Celine menunduk sopan. “Sama-sama, Bu.”
Keseruan mengalir seperti sungai yang menemukan jalurnya. Kamera berkilat, dokumentasi berjalan, dan kampus terasa hidup. Celine tertawa lepas—tawa yang lama tak ia rasakan. Seolah kegelisahan yang mengendap di dadanya menemukan ventilasi untuk keluar.
Namun di sela tawa itu, ia kembali teringat pada satu hal: jarak.
Ia menyadari, Aldivano tidak masuk ke area keramaian. Ia tidak memperkenalkan diri. Tidak pula berdiri di dekatnya. Ia memilih tetap di luar, seperti pagar yang menjaga kebun agar bunga di dalamnya tumbuh tanpa tekanan.
Ketika acara hampir usai, Celine menoleh ke arah parkiran lagi.
Mobil itu sudah tidak ada.
Dadanya berdesir—bukan sedih, bukan kecewa. Lebih seperti rasa kehilangan kecil yang datang tiba-tiba, seperti menyadari payung tertinggal setelah hujan reda.
“Dia pulang,” gumamnya tanpa sadar.
Reina menatapnya, menangkap sesuatu yang belum Celine sadari sepenuhnya. Namun ia memilih diam. Beberapa hal lebih baik dibiarkan tumbuh sendiri.
Di jalan pulang, Aldivano menyetir dalam sunyi. Lampu kota kembali berderet, kali ini terasa lebih redup. Ia mengingat wajah Celine yang sibuk, tawa yang mengembang, dan jarak yang ia jaga dengan susah payah.
Di dalam dadanya, doa itu kembali berputar—doa yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jaga hatinya di setiap langkahnya. Jika aku memang bagian dari hidupnya, dekatkan aku dengan cara-Mu. Jika belum, kuatkan aku untuk menunggu tanpa mengganggu ketenangannya.”
Doa itu mengalir seperti air di celah batu—pelan, tapi terus.
Di kampus, Celine membereskan sisa acara. Malam semakin larut. Saat ia berjalan menuju gerbang, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk—bukan dari Aldivano, melainkan dari Calvin.
Hati-hati pulangnya.
Celine berhenti melangkah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ada rasa penasaran yang menggelitik, seperti halaman buku yang ujungnya terlipat—menjanjikan sesuatu di baliknya.
Ia menatap langit malam. Bintang bertabur, seperti mata yang mengintip dari kejauhan.
“Kenapa semua terasa… menggantung?” bisiknya.
Di kejauhan, dua jalan terbentang.
Satu menuju kebenaran yang belum diucapkan.
Satu lagi menuju jarak yang terus dijaga.
Dan di antara keduanya, ada waktu—
waktu yang sedang menyiapkan sebuah pengakuan.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...