"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Tiga belas tahun telah berlalu sejak janji suci di kapel kecil di Swiss itu diucapkan. Kini, keluarga Teldford telah kembali ke pusat hiruk-pikuk New York. Nickholes kini menjadi pelatih kepala tim football ternama, sementara Nadine mengelola yayasan seni miliknya sendiri. Namun, pusat semesta mereka kini bukan lagi sekadar romansa masa lalu, melainkan sosok Daven Teldford.
Daven tumbuh menjadi remaja laki-laki yang mewarisi garis rahang tegas dan mata biru ayahnya, namun memiliki kelembutan hati ibunya, meskipun sifat jahilnya tetap 100% murni turunan Nickholes.
Di koridor sekolah menengah swasta elit di Manhattan, suasana pagi itu mendadak riuh. Daven berjalan dengan gaya santai, menyampirkan tas punggungnya di satu bahu, persis seperti gaya Nick saat masih di kampus dulu. Namun, matanya sedang mencari satu target tetapnya, Cheryl Alton.
Cheryl adalah antitesis dari ketenangan. Gadis itu sedang berdiri di depan lokernya dengan wajah panik, membongkar tasnya yang berantakan.
"Di mana kunci lokerku? Aku yakin aku menaruhnya di dekat roti lapis... atau di dalam kotak pensil? Duh, kenapa aku bisa lupa lagi!" gerutu Cheryl sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Cheryl memiliki pipi yang sedikit tembem dan kemerahan saat ia marah, sebuah pemandangan yang bagi Daven jauh lebih menarik daripada pelajaran sejarah.
Puk!
Tanpa aba-aba, Daven sudah berdiri di sampingnya. Dengan kecepatan tangan seorang atlet, ia mendaratkan dua jarinya di pipi kanan Cheryl dan menariknya dengan gemas.
"Aduh! Daven! Lepaskan!" jerit Cheryl, wajahnya langsung memerah padam.
"Pagi, Bakpao," goda Daven dengan cengiran lebar yang sangat mirip dengan Nick.
"Lupa lagi? Kunci lokermu itu tidak hilang, Cheryl. Kau memakainya sebagai gantungan kunci di tasmu sendiri. Lihat itu."
Daven menunjuk sebuah kunci yang menggantung tepat di depan mata Cheryl. Cheryl terpaku sejenak, lalu mendengus kesal. "Aku... aku sengaja menaruhnya di sana untuk mengetes ingatanmu! Dasar pengganggu!"
"Alasan yang bagus. Tapi pipimu ini memang didesain untuk dicubit setiap kali kau mulai pikun," ucap Daven sambil mencubit pipi kirinya pula, membuat Cheryl hampir meledak.
Sore harinya, Daven pulang ke penthouse mereka dengan wajah berseri-seri. Di ruang tengah, ia mendapati Nick sedang mencoba membantu Nadine memasang bingkai foto baru.
"Ayah, Ibu, aku pulang!" seru Daven.
Nick menoleh, melihat binar di mata putranya. "Kenapa wajahmu begitu? Habis memenangkan pertandingan basket, atau habis menjahili gadis Alton itu lagi?"
Daven melemparkan dirinya ke sofa. "Dia sangat lucu, Yah. Cheryl itu benar-benar pemarah. Tadi dia lupa membawa buku tugasnya, lalu dia menyalahkan tasnya karena dianggap terlalu kecil. Pipinya langsung mengembung seperti ikan balon."
Nadine keluar dari dapur sambil membawa segelas jus, ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Daven, jangan terlalu sering menjahilinya. Nanti kalau dia benar-benar marah dan tidak mau bicara padamu, kau akan menangis di depan pintu rumahnya seperti Ayahmu dulu."
Nick tersedak ludahnya sendiri. "Hei! Itu rahasia negara, Nadine! Jangan rusak reputasiku di depan anak kita."
"Tapi Ibu benar, Yah," sahut Daven sambil terkekeh. "Tadi dia hampir melempar sepatunya padaku karena aku terus-menerus memanggilnya 'Bakpao'. Tapi anehnya, setelah itu dia malah memberikan setengah cokelatnya padaku karena dia lupa dia sedang menjalani diet."
Sifat protektif dan riweh Nick ternyata menurun drastis pada Daven. Saat mereka sedang makan malam, ponsel Daven bergetar.
Sebuah pesan dari Cheryl yang berisi, 'Daven, besok ada ulangan matematika ya? Aku lupa mencatat jadwalnya.'
Daven langsung meletakkan garpunya dengan wajah serius. "Ayah, Ibu, maaf. Aku harus menelepon Cheryl. Gadis itu bisa stres berat kalau tidak tahu jadwal ulangan. Dia pelupa tingkat akut, bisa-bisa dia membawa raket tenis besok bukannya kalkulator."
Nick memperhatikan putranya yang kini sibuk mondar-mandir di balkon sambil menelepon Cheryl dengan nada yang meskipun masih mengejek terdengar sangat khawatir.
"Dia benar-benar anakmu, Nick," bisik Nadine sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Cara dia mengkhawatirkan Cheryl... itu persis cara kau mengkhawatirkan ku saat di Swiss dulu."
Nick merangkul pinggang Nadine, mengecup pelipisnya. "Setidaknya dia tidak sebrengsek aku dulu, Nadine. Dia tahu cara menjaga gadis itu sejak awal, meski lewat cubitan pipi."
Keesokan harinya, Cheryl kembali dalam mode pemarah. Ia kehilangan pulpen kesayangannya dan mulai menuduh kursi kelasnya menyembunyikan barangnya.
"Daven! Jangan tertawa! Ini serius!" teriak Cheryl saat melihat Daven hanya bersandar di meja sambil memperhatikannya.
Daven berjalan mendekat, lalu dengan lembut ia menyelipkan sebuah pulpen baru ke tangan Cheryl. "Pakai ini dulu, Pemarah. Dan tenanglah, napasmu mulai sesak. Kau tidak mau pingsan dan membuatku harus menggendong mu ke UKS, kan? Meskipun aku tidak keberatan sih."
Cheryl terdiam, menatap pulpen itu lalu menatap mata biru Daven. "Kenapa kau selalu punya cadangan barang yang aku lupakan?"
Daven mendekat, lalu mencubit pipi Cheryl untuk kesekian kalinya hari itu. "Karena kalau aku tidak riweh mengurus mu, siapa lagi yang akan melakukannya? Kau itu beruntung punya teman sekelas sepertiku."
"Kau itu menyebalkan, Daven Teldford!"
"Dan kau merindukanku kalau aku tidak masuk sekolah satu hari saja, Cheryl Alton," balas Daven santai sambil berjalan menuju kursinya, meninggalkan Cheryl yang sedang memegangi pipinya yang panas dengan jantung yang berdegup tidak karuan.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰