Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan Diujung Perpisahan
Hanya tinggal menghitung hari menuju kelulusan, masa depan yang sudah Kate bangun dengan cucuran keringat dan air mata mendadak berada di tepi jurang.
surat dari yayasan terasa seberat beton di tangannya. Namun, yang lebih mengerikan adalah pesan singkat yang masuk ke ponselnya beberapa menit kemudian dari nomor yang tidak dikenalnya,
"Temui aku di kafe biasa. Sendiri. Atau bibimu akan kehilangan tokonya sore ini juga." — Victoria Valerius.
Di sebuah kafe privat yang sepi, Victoria Valerius duduk dengan keanggunan yang mematikan. Tidak ada lagi senyum palsu. Tatapannya sedingin es saat menatap Kate yang duduk gemetar di depannya.
"Aku sudah mencabut beasiswamu," ucap Victoria tanpa basa-basi, sambil menyesap tehnya. "Dan dengarkan ini baik-baik, Katarina. Jika kamu tidak menghilang dari hidup Alarick sebelum hari kelulusan, aku akan memastikan tidak ada satu pun universitas atau perusahaan di negeri ini yang akan menerimamu. Kamu akan menjadi sampah masyarakat, sama seperti latar belakang keluargamu."
Kate mengepalkan tangannya di bawah meja. "Alarick mencintaiku, Nyonya. Anda tidak bisa mengatur perasaannya."
Victoria tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan pisau. "Cinta adalah hiburan bagi orang kaya, tapi bagi orang sepertimu, cinta adalah kutukan. Pilih, masa depanmu dan keselamatan bibimu, atau menjadi parasit di hidup putraku sampai dia bosan padamu?"
Kate tidak menceritakan ancaman itu pada Alarick. Ia ingin egois untuk beberapa malam lagi. Malam itu, Alarick kembali menyelinap ke kamarnya. Atmosfer di antara mereka terasa berbeda, lebih mendesak, lebih putus asa. Kate menyambut Alarick dengan ciuman yang begitu lapar, seolah ia sedang mencoba menghafal setiap rasa di bibir cowok itu.
Alarick, yang merasakan kegelisahan Kate, membawanya ke atas tempat tidur. Ia melepas kemejanya, membiarkan tubuhnya yang atletis bersentuhan langsung dengan kulit lembut Kate.
"Kate, ada apa? Kamu terlihat... berbeda," bisik Alarick, napasnya memburu di ceruk leher Kate.
"Jangan bicara, Al. Hanya... buat aku merasa kamu benar-benar milikku malam ini," rintih Kate.
Alarick tidak bertanya lagi. Gairah yang selama ini mereka jaga meledak lebih hebat dari malam-malam sebelumnya. Alarick kembali menjelajahi tubuh Kate dengan jarinya yang ahli, membuat Kate basah dan mengerang dalam kenikmatan yang menyakitkan. Namun kali ini, Kate lebih berani. Ia menarik tubuh Alarick, menuntun tangan cowok itu ke tempat-tempat yang paling sensitif.
"Aku ingin kamu, Al," bisik Kate di tengah cumbuannya.
Alarick mengerang, ia memposisikan dirinya di antara kaki Kate, namun ia tetap menahan diri untuk tidak melakukan penetrasi penuh. Sebagai gantinya, ia memberikan stimulasi yang begitu intens hingga Kate merasa dunianya hancur berkeping-keping. Mereka saling memuaskan dengan cara yang sangat intim, kulit bertemu kulit, peluh menyatu di bawah temaram lampu kamar. Alarick membiarkan Kate merasakan berat tubuhnya, membiarkan juniornya bergesekan dengan pusat gairah Kate yang sudah sangat sensitif, menciptakan percikan listrik yang membuat mereka berdua lupa pada dunia luar.
Di sela-sela napasnya yang berat, Alarick membisikkan janji yang membuat hati Kate hancur. "Setelah lulus, kita akan kuliah dikampus yang sama. Kamu milikku, Kate. Selamanya."
Saat matahari terbit, Alarick masih terlelap dengan tangan yang mendekap pinggang Kate dengan protektif. Kate menatap wajah damai itu untuk terakhir kalinya. Ia tahu, jika ia tinggal, Alarick akan berperang melawan ibunya sendiri dan kehilangan segalanya. Dan Kate tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Di sekolah, Maya mencari Kate ke sana kemari, namun yang ia temukan hanyalah pengumuman kelulusan di mana nama Katarina Ayudia seperti biasa berada di peringkat pertama Lulus.
Bara Mahendra dan Elara berdiri di depan mading, Tertawa puas melihat maya Seperti orang gila mencari Kate, Namun tawa mereka terhenti saat Alarick datang dengan mata merah dan wajah kalut. Ia menatap mading itu dengan tangan gemetar.
"Di mana Kate?" tanya Alarick, suaranya terdengar seperti raungan binatang yang terluka.
Maya mendekati Alarick dengan air mata mengalir. "Kate tidak ada Al."
Tiba-tiba Maya teringat Pemberian kate kemarin, menyerahkan sebuah plester bunga matahari yang sudah usang Pada Alarick, plester yang sama yang Kate berikan pada pertemuan pertama mereka di gang sempit.
Alarick meremas plester itu dalam genggamannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍